
"Kita mampir sebentar oke," ujar Vano.
"Kemana?" Tanya Arnis.
"Beli sesuatu," jawab Vano. "Untuk pacarku," sambungnya segera. "Dia suka ice cream."
Mendengar itu, Arnis langsung menoleh ke arah Vano. "Pacar?" Tanyanya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia sering memperhatikan akun sosial media milik Vano. Dan Vano tidak pernah memposting foto dia dan seseorang yang dia sebut sebagai pacar.
Vano mengangguk, "Iya," jawabnya. "Neva."
Arnis menekuk wajahnya mendengar itu. Wajahnya seketika berubah menjadi muram. Ia menunduk dengan sedih.
'Ternyata mereka berdua sudah jadian,' Batinnya dalam hati.
"Kau tidak keberatan bukan jika kita mampir sebentar," tanya Vano.
"Emmm, tidak masalah," jawab Arnis pelan. "Selamat Vano," lanjutnya. Hatinya terasa sakit ketika menguncupkan dua kata itu. Pada akhirnya, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bisa masuk kedalam hati Vano.
"Terima kasih," Vano menjawab dengan senyum.
Tak lama, mobilnya belok di kedai ice cream kesuksesan Neva.
"Kau mau ikut turun atau menunggu disini?" Tanya Vano sebelum membuka pintu mobil.
"Ikut dong. Kau pikir Neva saja yang ingin kau traktir?" Jawab Arnis.
Kemudian, mereka berdua keluar dari mobil dan langsung melangkah untuk masuk ke dalam.
"Vano," panggil Arnis setelah mereka ada di dalam dan menunggu antrian.
"Ya," jawab Vano.
"Bagaimana jika kita nikmati disini? Lalu nanti baru beli untuk Neva," usul Arnis. Vano diam sejenak untuk berfikir sebelum menyetujui usulan Arnis.
"Ok," jawabnya. "Eit, bentar. Pejamkan matamu," kata Vano.
Menurut, Arnis segera memejamkan matanya. Tangan Vano mengulur dan mengambil sesuatu di pipi Arnis dengan sangat pelan.
"Sudah," ujarnya. Lalu Arnis kembali membuka matanya. Ia menatap Vano.
"Apa?" Tanyanya. Vano memperlihatkan semut kecil ditangannya. Arnis tertawa melihat itu. Dia memang merasakan geli di pipinya tapi dia pikir itu karena sehelai rambut yang terjatuh. "Terima kasih," ucapnya.
"Kau mau pesan yang rasa apa?" Tanya Vano.
"Rasa yang pernah ada dan harus pupus begitu saja," jawab Arnis dan langsung membuat Vano tertawa. "Kau jahat," Arnis meninju bahunya pelan dengan kesal. "Ok, silahkan pilih meja. Aku mau ke toilet dulu," kata Arnis dan langsung meninggalkan Vano yang masih sedih tertawa.
Seseorang diujung tempat duduk sana dengan tidak sengaja melihat mereka berdua. Dia menarik senyum dibibirnya. Wajahnya seketika menjadi sendu dengan rasa yang begitu menusuk dihatinya. Rasa rindu yang ia simpan seketika hilang dan bertebaran. Ia menunduk. Jemarinya bersatu dibawah meja, seolah memberinya kekuatan. 'Romantis sekali mereka, Kak Vano bahkan mengusap pipinya dengan lembut. Mereka berdua tertawa dengan begitu bahagia.
"Kenapa?" Tanya Raizel menyadari perubahan wajah Neva. Neva masih menunduk, ia bahkan tidak mendengar pertanyaan Raizel. "Kenapa?" Ulang Raizel. Dia menghitung satu sampai lima sebelum dia mengulangi pertanyaannya lagi. "Kenapa, Neva?" Ulang Raizel. Kali ini dengan sentuhan ringan di pundak Neva.
"Eh, apa?" Neva kaget dengan sentuhan itu. Dia mengangkat wajahnya.
"Kenapa?" Raizel mengulangi pertanyaan yang sama. Neva nyengir memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
"Tidak apa-apa," jawabnya. Kemudian dia menyendok ice cream miliknya. "Sekali lagi, selamat ulang tahun Raizel," ucapnya. Lalu melahap satu sendok ice cream. Dia mempertahankan pandangannya agar tidak melihat kearah Vano.
Saat ini, Vano mulai duduk dan sedang memilih menu ice cream.
"Raizel," panggil Neva.
"Ya," jawab Raizel.
"Ice cream ini sangat lezat. Aku ingin segera menghabiskannya," kata Neva dengan semangat. Sejujurnya ada rasa kesal yang teramat dalam hatinya. Dia tidak pernah memiliki rasa kesal ini sebelumnya. Kesal yang teramat sangat, bahkan rasanya kepalanya terus berdenyut memikirkan sesuatu yang tidak-tidak. Dia dengan lahap dan cepat menghabiskan ice cream itu. Dia ingin segera pergi dari sini.
Raizel dengan pandangan mata yang bertanya-tanya terus menatapnya. Sangat terlihat jika gadis ini sedang kesal. Apa dia sedang datang bulan, hingga membuat mood nya cepat berubah. Batin Raizel.
Di meja sana. Vano mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Neva tetapi tidak ada jawaban. Panggilannya tidak terjawab. Kemudian, matanya menangkap sosok gadis yang dia cari. Vano segera berdiri dan melangkah menuju gadis yang tengah menyeka bibirnya setelah menghabiskan ice cream.
"Sayang," Vano menyapanya dengan senyum setelah sampai di samping meja sang gadis. Dia rindu gadis ini. Neva mendongak dan menatapnya. Tatapan mata yang kecewa.
"Kak Vano, hai," balasnya dengan kesal. Balasan sapaannya dingin, lebih dingin dari air es.
"Aku mampir kesini untuk membelikan mu ice cream, tapi ternyata kau sudah ada di sini," ujarnya. Tanpa dipersilahkan, Vano duduk di samping Neva.
"Membelikan ku? Atau untuk yang lain?" Ujar Neva dengan nada kesal. Ada senyum dibibirnya tapi itu bukan senyum yang indah tetapi senyum ketidaksukaan.
"Untuk mu," jawab Vano. Neva memalingkan wajahnya. Sangat pandai berakting, batinnya.
Vano memperhatikan seseorang yang duduk di depannya. Kaca mata tebal dan kotak, model rambut yang berponi, gigi yang maju. Kemudian, dia memperhatikan tangan dari pemilik wajah culun itu.
"Raizel," ucapnya. Raizel dan Neva dengan kompak langsung menatapnya. Seolah tak percaya bahwa Raizel dikenali, itu artinya bisa saja pengunjung lain juga bisa mengenali Raizel.
"Kakak tahu jika dia Raizel?" Tanya Neva dengan cemas.
Vano mengangguk, "Gelangnya," jawab Vano memberi penjelasan kenapa dia bisa tahu bahwa cowok culun itu adalah Raizel.
"Hai Kak Vano," sapa Raizel.
"Hai," balas Vano. Kemudian, Vano memperhatikan meja mereka. Masih ada sisa kue ulang tahun dengan lilin-lilin kecil. Dia mengangguk samar dengan senyum.
"Selamat ulang tahun Raizel," ucapnya pada Raizel.
"Terima kasih Kak Vano," jawab Raizel.
"Raizel, keberadaan mu tidak aman lagi." ucap Neva mencari alasan untuk pergi. "Ayo pergi," dia menggeser duduknya dan berdiri. Ia melangkah dari belakang tempat duduk Vano dan berdiri di samping Raizel.
"Ok," jawab Raizel menyetujui. Dalam hati, dia memiliki pertanyaan tapi dia sedikit geli dengan pertanyaannya. 'Apakah pasangan ini sedang bertengkar' Raizel berdiri dan menggandeng tangan Neva dengan sengaja.
"Kau mau kemana," tanya Vano dengan lembut. Tangannya mengambil tangan Neva yang satunya. Neva langsung menarik tangannya dari Vano tapi Vano kembali meraih tangannya lagi dan mengenggamnya dengan kuat. "Kenapa?" Tanya Vano. Dia menyadari Neva sedang kesal dengannya.
"Kenapa apanya," jawab Neva. Dia masih mencoba untuk menarik tangannya.
"Kamu marah?"
"Tidak, aku hanya tidak mau mengganggu kebersamaan kalian," jawab Neva. Vano mengernyitkan dahinya, ia berfikir sejenak. 'Kebersamaan kalian?'
"Arnis?" Tanyanya. Dia langsung menyadari bahwa Neva melihatnya dengan Arnis.
"Raizel ayo," ajak Neva. Dia berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Vano.
"Kita tidak sengaja bertemu," Vano menjelaskan tanpa diminta.
"Alasan yang terlalu pasaran Tuan muda," sahut Neva. "Itu mungkin sering ada dalam dialog film Raizel," lanjutnya. Dia tersenyum dengan sinis. Apakah mengusap pipi juga bagian dari ketidaksengajaan? Heh, alasan yang sangat menyebalkan. Batin Neva.
Raizel melepaskan genggaman tangannya. Dia tahu, Neva sedang cemburu pada seorang wanita yang di sebut Arnis. Dia tidak ingin masalahnya menjadi semakin rumit jika dia dengan sengaja mengajak Neva untuk pergi saat ini.
"Raizel," Neva menatapnya.
"Sepertinya kalian butuh waktu untuk bicara," jawab Raizel. Neva tau Raizel berniat meninggalkannya dengan Vano. Tidak boleh, Neva menggeleng. Dia sangat kesal dengan Vano, dia sedang tidak ingin bicara apapun.
Genggaman tangan Vano mengendur di pergelangan tangan Neva lalu Neva dengan segera menarik tangannya agar terlepas dari Vano. Dia langsung melangkah dengan sangat cepat untuk keluar. Vano segera berdiri dan menepuk pundak Raizel pelan. Lalu dia segera menyusul Neva. Mengejarnya dan meraih lengannya. Mereka berdua ada di pinggir jalan.
"Dengarkan aku," ujarnya setelah berhasil menangkap Neva.
"Lepaskan, aku mau pulang," pinta Neva. Dia tidak mau menatap Vano.
"Kamu salah paham," ucap Vano dengan lembut. Dia meraih tangan Neva yang satunya lagi dan mengenggamnya. "Aku dan dia tidak sengaja bertemu," jelasnya lagi seperti tadi. Neva tidak menatapnya. Matanya memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang. Vano membawanya untuk masuk ke dalam mobil. Mereka tidak mungkin bertengkar di pinggir jalan.
"Apa kau mau mendengar ku?" Tanya Vano. Tidak ada jawaban. Neva memalingkan wajahnya. Dia melihat sendiri ketika tangan itu mengusap pipi Arnis.
Vano menjalankan mobilnya dengan perlahan. Mereka saling diam beberapa saat bahkan lebih dari 10 menit.
"Apa kau tidak lelah menghadap kesitu terus?" Tanya Vano. Tidak ada jawaban. "Lehermu bisa kaku lho," lanjutnya dengan bergurau. Tidak ada jawaban. "Gadis," panggilannya dengan lembut. Tidak ada jawaban. Pelan, Vano menepi dan menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa berhenti?" Tanya Neva tanpa merubah posisi. Dia masih saja berpaling.
"Menurut mu?" Jawab Vano membalikkan pertanyaan.
"Tidak tahu," jawab Neva singkat.
"Menoleh sebentar saja kesini," ujar Vano.
"Untuk apa? Nggak penting."
"Sebentar saja," ujar Vano.
"Nggak," jawab Neva.
"Sebentaaar saja, gadisku," pinta Vano.
Dan pada akhirnya Neva menyetujui untuk menoleh sebentar ke arah Vano.
"Apa?" tanyanya. Cup ... Bibir Vano langsung mengunci bibir Neva. Tangannya memegang tengkuk Neva dengan pelan tetapi tidak dibiarkan untuk lolos dari ciumannya. Neva berusaha untuk mendorongnya tetapi tidak bisa, hati menghianatinya. Pada kenyataannya, dia sangat merindukan Vano.
"Gadis, aku merindukan mu," bisik Vano halus di telinga Neva setelah menyudahi ciuman. Neva mengulum senyumnya. Ada rona dikedua pipinya. Dia menunduk dan mengusap bibirnya.
"Aku bilang jangan mencium ku," Neva memprotes.
"Kau menggemaskan jika cemburu," jawab Vano. "Kau salah paham, dengarkan aku," lanjutnya.
____
Catatan Penulis
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini π₯° Padamu kesayangan π₯°π
Jan lupa like komen ya kesayangannya Nanas π₯° Yang ada poin Vote juga... ππ Luv luv π₯°ππ Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta πΉ Padamu π₯°