Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 192_Laki-laki Gendut


Raizel masih saja di kejar oleh pertanyaan-pertanyaan seputar dirinya dan Neva. Dia hanya memberikan jawaban sekali dan selanjutnya diam.


Dia ada jadwal syuting pagi ini. Syuting film terbaru garapan sutradara terkenal. Dan film yang diadaptasi dari Novel terkenal. Jalanan macet adalah makanan harian.


"Bro... lampu merah belok," pintanya sama supir pribadinya.


"Baik," jawab Bro supir mengangguk patuh.


"Lurus," asisten Raizel memerintahkan Bro supir untuk lurus. Riazel langsung menoleh ke arahnya.


"Apa-apaan kau?" ucapnya kesal.


"Jalan ke lokasi syuting itu lurus...," asistennya memberi jawaban.


"Ck. Bro... belok," perintah Raizel.


"Lurus."


"Belok."


"Lurus."


"Diam atau ku pecat," ucap Raizel. Dan langsung menang...


"Kau kejam." Asistennya menggerutu. Dia pasti akan kena omelan Mak Cuty nanti jika Raizel sampai telat datang ke lokasi syuting.


"Baru tau kau bung...," Raizel tertawa meledeknya. Akhirnya... Bro supir membelokkan mobilnya dan melaju menjauh dari lokasi yang akan didatangi.


"Berhenti di depan kampus," pintanya pada Bro supir.


"Siap," jawab supir dan langsung mencari parkir yang aman.


"Dasar gila," komentar asisten setelah tahu tempat yang di tuju Raizel, "Kau mau menemui gadis itu?" tanyanya.


"Yup. Diam kau..." Raizel kembali mengancamnya. "Tugas mu hanya melindungi ku, kawan," sambungnya.


"Melindungi dan menghalau omelan Mak Cuty," ucap asistennya. Raizel tertawa kecil lalu memakai jaket dan maskernya. "Kau harus membayar ku dobel untuk ini, artis gila...," ucapnya dengan memberikan topi milik Raizel.


"Siap Boss," jawab Raizel terkekeh. "Biarkan masa remaja ku berjalan dengan santai hari ini. Okey," lanjutnya. Kemudian, ia memencet ponselnya dan menghubungi Neva.


"Ya?" jawab Neva di sebrang sana.


"Kau di mana?" tanya Raizel.


"Lagi menuju kampus. Kenapa?" tanya Neva.


"Akan ada bodyguard yang menjaga mu nanti," jawab Raizel.


"Hahaa... yang benar saja," ucap Neva dengan tawa.


"Serius," jawab Raizel meyakinkan. Kemudian, dia membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Dia tidak memakai kaca mata hanya memakai jaket, masker dan topi. Dia menyebrang jalan dan kemudian berdiri di samping gerbang utama kampus Neva.


"Aku hampir sampai," ucap Neva.


"Bagus. Bodyguard mu sedang menunggu di samping gerbang utama mu," jelas Raizel dengan suara kecil. Akun gosip terhitz itu punya banyak sekali mata jadi dia harus hati-hati.


"Serius?" tanya Neva dengan sedikit tawa tak mempercayai ucapan Raizel. Dan tak lama... mobilnya telah sampai di depan gerbang utama kampus. Matanya menyisir area gerbang utama, dia mencari sesosok yang Raizel bicarakan. Matanya tidak menemukan siapapun, hanya ada mahasiswa yang berlalu lalang.


Dalam bayangannya... sosok bodyguard yang Raizel bicarakan adalah sosok yang tinggi, kekar, memiliki aura wajah yang menakutkan.


"Tidak ada bodyguard," ucap Neva dalam sambungan ponselnya. Iya, memang sedari tadi panggilan itu tidak terputus.


"Mobil mu di mana?" tanya Raizel. Dia sedikit mengangkat wajahnya.


"Di depan gerbang kampus, sebelah kanan," ucap Neva menjelaskan keberadaannya. Kemudian, Raizel mengeja plat mobil Neva. "Iya bener," jawab Neva.


"Keluarlah...," ucap Raizel.


"Okey," jawab Neva. Kemudian, dia keluar dari mobil dan melangkah menuju gerbang kampus. Ia melihat seorang yang berdiri menggunakan jaket berwarna merah, dia gendut. Tidak... tapi super gendut, si gendut memakai masker dan topi. Neva melihatnya sekilas dan bergidik ngeri.


"Kau lihat Bodyguard mu?" tanya Raizel. Ia menatap Neva dari tempatnya berdiri. Memperhatikan gadis itu berjalan anggun menuju gerbang kampus.


"Tidak," jawab Neva. Dia menggeleng dan kemudian mencari sosok bodyguard yang di ceritakan Raizel.


Raizel memutuskan panggilan teleponnya dan kemudian membawa kakinya untuk melangkah menghampiri Neva yang juga melangkah menuju gerbang. Langkah mereka seirama... satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, dan pada langkah ke lima mereka saling berhadapan.


Neva menahan nafasnya ketika berhadapan dengan makhluk super gendut ini. Ia membatu beberapa saat sebelum akhirnya sedikit menarik mundur langkahnya.


"Ini aku," ucap Raizel membungkuk dan membuka maskernya. Kelompok mata Neva langsung berkedip dengan normal dan menghembuskan nafasnya dengan pelan. Dia pikir laki-laki super gendut ini adalah laki-laki penjahat wanita.


"Hufff..., kau membuatku tegang," ucap Neva setelah Raizel memakai maskernya lagi. Raizel memakai softlens jadi memang mata tajam khasnya tidak terlihat. "Jadi... bodyguard yang kau maksud adalah diri mu?" tanya Neva dengan tawa renyah.


Raizel mengangguk, "Karena aku yang menyebabkan kekacauan, jadi... aku sendiri yang akan melindungi mu," ucapnya yang membuat Neva langsung tertawa. Adanya Raizel bersamanya itu malah akan semakin menambah kekacauan, batinnya.


"Nona...," Lula tiba-tiba datang dan merangkul pundaknya. Neva gugup setengah mati, karena takut keberadaan Raizel akan ketahuan.


"Hmm," Neva menjawabnya dengan hanya 'hmm'.


"Eh, siapa dia?" tanya Lula melirik laki-laki super gendut di depan Neva. Neva diam dan memikirkan jawaban.


"Saya mahasiswa baru di sini Kakak. Mohon bimbingannya," ucap Raizel sambil membungkukkan badannya. Dia memakai alat pengubah suara. Sejujurnya Neva sedikit terkejut mendengar suara Raizel yang berubah tapi dia tahu jika itu adalah bagian dari penyamarannya.


Lula mengangguk, "Hallo...," ucapnya. Dan kemudian mereka bertiga berjalan menuju kelas. Kelas mereka ada di lantai empat.


Raizel dengan sopan meminta bangku milik Lula. Dengan alasan yang saaangat banyak untuk membujuk Lula. Akhirnya Lula bersedia memberikan bangkunya dan dia pindah ke belakang.


Banyak mata yang menatap laki- laki super gendut ini dengan pandangan aneh dan ngeri. Hingga kelas di mulai.


Dosen tahu keberadaan Raizel, itu karena Asistennya sudah lebih dulu masuk dan meminta izin.


Raizel meletakkan kepalanya di atas meja dan menghadap ke arah Neva. Dia memperhatikannya lagi dan lagi.


"Berhenti memperhatikan ku," ucap Neva berbisik.


"Kenapa?" tanya Raizel dengan masih terus memperhatikan Neva.


"Bola mata mu hampir lepas," jawab Neva masih dengan suara pelan.


"Pufffhh," kini Neva yang menahan tawanya. "Aku akan menyesatkan mu," ucapnya.


"Tersesat ke dalam hati mu," jawab Raizel.


"Pufffhh," Neva kembali menahan tawanya lagi. "Dasar artis tukang gombal. Teks halaman berapa yang kau baca?" tanya Neva dengan terkekeh.


"Siapa yang bilang itu bagian dari teks. Ini tulus dari hati ku," ucap Raizel.


"Pufhh, sepertinya itu bagian dari lagu," ucap Neva. Tak ada balasan dari Raizel. Dia mengangkat kepalanya dan duduk dengan benar. Kemudian, ia membawa pandangannya untuk menatap ke atas.


"Haacchuum...," suara bersinnya sangat nyaring di dalam kelas yang sepi. Refleks, dia mengambil sapu tangannya dan membuka maskernya. Dia menyeka bibirnya. Daaaaann......


"Raizel.....," para wanita histeris memanggil namanya. Teriakan mereka menggema. Raizel membeku beberapa saat dan kemudian tanpa persetujuan, dia langsung menarik tangan Neva untuk keluar. Dia membawa Neva berlari... sementara para wanita mengejar mereka dan meneriakkan nama Raizel. Ponsel-ponsel milik fans pastinya tidak ketinggalan untuk mengabadikan momen gendut Raizel. Tangan kanan Raizel menggenggam jemari Neva sementara tangan kirinya membuka resleting jaket gendut samarannya dan membuangnya begitu saja. Jaket gendut membuat dirinya tidak bisa lari dengan lincah.


Neva mengikutinya berlari. Dia memperhatikan ke belakang dan sudah ada banyak mahasiswa yang mengejar mereka berdua. Teriakan nama Raizel semakin menggema, mereka semakin bertambah dan bertambah.


Kejar-kejaran seperti ini, bukan pertama untuk Raizel. Ini sudah sangat biasa untuknya tapi ini adalah yang pertama untuk Neva. Di kejar banyak orang.


Mereka menuruni tangga ke dua. Okey satu tangga lagi. Raizel semakin menggenggam erat jemari Neva dan semakin cepat membawa langkahnya. Tapi ah... sial. Mereka memblokir jalan utama.


"Raizel...,"


"Pangeran ku...," teriakan-teriakan itu semakin menjadi. Terpojok... tidak ada jalan lagi. Neva tertawa melihat Raizel kebingungan. Namun saat matanya berkedip, tangan Raizel memegang pinggangnya dan entah seperti apa gerakannya, Neva terpelanting ke halaman dengan melompati tembok pembatas pendek sedada. Raizel dengan cepat menyusulnya dan kembali menariknya untuk berlari.


"Mobil," ucapnya setelah memencet alat kecil di sakunya.


"Siap," jawab Bro supir. Tanpa perintah Raizel pun mobil ini sudah siap menyambutnya. Itu karena Asistennya sangat paham dan tahu betul apa yang akan terjadi. Artis muda memang selalu merepotkan.


Dan... akhirnya mobil artis meninggalkan area kampus. Asisten yang sudah berpindah di bangku depan langsung memberi air mineral pada Raizel yang terlihat ngos-ngosan. Raizel membuka tutupnya dan memberikannya pada Neva.


"Terima kasih," ucap Neva menerima air mineral dari tangan Raizel. Kemudian, Raizel membuka satu lagi untuknya.


"Hai, Nona Neva," Asisten menyapa Neva dengan ramah.


"Hai," jawab Neva ramah dengan senyum.


Sementara di kampus. Jaket gendut milik Raizel menjadi rebutan.


Lula terbengong memahami apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Sang artis idola beranda di depannya dan bahkan mereka sempat bicara.


"Aaaaaa...," Lula menjadi histeris sendiri. "Kenapa aku tidak mengenali Raizel. Kenapa....?" dia berteriak penuh penyesalan.


___Sore hari


"Sayang, aku pulang telat," pesan Leo pada Yuna. Markas besar memintanya datang. Papa baru saja kembali dan langsung memintanya untuk datang ke markas besar.


Yuna menekuk wajahnya membaca pesan ini. Wajahnya semakin muram. Dia ingin Leo segera kembali. Detik demi detik dia merasa tidak tenang. Bagaimana keadaan Leo di kantor? Dia sedang tidak enak badan dan tetap masih berangkat kerja. Pada jam istirahat, Yuna ingin menyusulnya tapi asisten Dion bilang jika Bossnya sedang rapat di luar.


"Sayang, apa kau masih pusing? Apa kau masih mual? Jaga kesehatan mu, okey. Apa kau sudah makan?" balasnya. Dia menunggu satu detik, dua detik, tiga menit dan itu terasa sangat lama sekali.


"Kenapa Yuna?" tanya Alea perhatian setelah melihat Yuna tidak tenang. Ia mengambil air hangat dan memberikannya untuk Yuna.


"Terima kasih, Alea," ucap Yuna kemudian menyesapnya sedikit. Leo tidak pernah lama dalam membalas pesannya. Yuna semakin panik dan tidak tenang.


Dia segera melakukan panggilan.


"Ya sayang," suara khas yang serak dan lembut di sebrang sana langsung menentramkan hatinya. Yuna bernafas dengan lega.


"Kenapa tidak segera membalas pesan ku?" tanyanya dengan kesal tetapi lega dalam hatinya.


"Aku bersama Papa. Jari ku baru saja bersiap mengetik untuk membalas pesan mu. Apa ada yang Nyonya inginkan?" tanyanya.


"Aku merindukan mu," ucap Yuna. Wajah Leo langsung memerah mendengar itu, ia tersenyum malu dan langsung menyembunyikannya dari Papa. Dia menunduk dengan senyum tertahan di bibirnya.


"Aku akan segera pulang," ucapnya dengan memelankan suaranya.


"Okey," jawab Yuna dan panggilan berakhir.


"Maaf Pa," ucap Leo setelah meletakkan ponselnya di atas meja. Papa mengangguk dengan senyum. Putranya sangat manis sekali ketika berbicara dengan wanita yang dia cintai.


"Kita lanjutkan besok saja," ucap Papa dan mematikan laptop miliknya. Leo mengangguk menyetujui keputusan Papa dengan bahagia. Sejujurnya ia ingin memprotes Papanya karena aroma Papanya sangat menggangu hidupnya. Kenapa semua orang menjadi bau kecuali Yuna? Batinnya. Ketika bersama Yuna, dia bahkan ingin terus mengendusnya. Dia adalah Vampir yang haus darah ketika bersama Yuna. Dia merasa benar-benar tergila-gila pada gadis itu.


"Papa dan Mama akan berkunjung ke rumah mu nanti malam," ujar Papa dengan menatap putranya.


Leo mengangguk, "Baik, Pa...," jawabnya. Kemudian, dia mengingat sesuatu. "Pa...,"


"Ya," jawab Papa.


"Apa Mama sudah memberi tahu tentang keinginan Neva?" tanyanya.


Papa mengangguk.


"Bagaimana menurut Papa," tanyanya lagi.


"Papa belum bertemu langsung dengan Neva." jawab Papa singkat.


"Okey."


Leo kembali ke rumah pukul 18.27.


Yuna langsung menghambur begitu Leo kembali.


"Hmm, sepertinya ada yang rindu," ucap Leo membalas pelukan Yuna. Yuna mengangguk. Hidung Leo langsung mengendus bagian leher Yuna, mengambil nafasnya dengan sangat dalam dan membiarkannya sejenak. Aroma Yuna sungguh menggiurkan, bibirnya mulai terbuka dan bersiap untuk menggigit tetapi itu langsung terhenti karena Yuna melepaskan pelukannya. Tangan Yuna langsung menyentuh kening Leo sebentar.


"Kenapa?" tanya Leo sambil membawa Yuna masuk ke dalam.


"Kau tidak enak badan tadi pagi. Aku takut kau demam," jawab Yuna.


"Aku sudah berjanji pada mu untuk selalu baik-baik saja," jawab Leo. Ia mengusap rambut Yuna penuh kasih. "Papa dan Mama akan kesini nanti malam," ujarnya yang membuat Yuna tersenyum lebar dan senang.


"Oh ya?"


"Huum," Leo mengangguk.