Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 50. Titik Sulit


Rumah keluarga Wiraguna#


Di dalam kamarnya Ilham terlentang di atas ranjang empuknya. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar.


Matanya mulai mengabur.


" Sepertinya kita udah nggak punya harapan lagi Ra, maafin aku ". gumamnya pelan.


Ia menarik napas gusar. Ia tak menyangka telah sampai di titik yang teramat sulit.


Dua hari lalu adalah hari terberat di dalam hidupnya. Hari di mana ia lebih memilih melepaskan Tiara.


Setelah sebelumnya ia berdebat dengan ayahnya.


" Pa, aku nggak mau pergi ke undangannya Nayla". ujar Ilham ketika sedang sarapan dengan adik dan kedua orangtuanya.


" Mau berapa kali papa jelaskan sama kamu? keluarga kita masih membutuhkan bantuan mereka". ujar papanya dengan raut wajah kesal.


" Oh, jadi ceritanya aku dijual nih demi perusahaan". balas Ilham dengan nada sinis.


" Ilham !" bentak mamanya yang mulai ikut emosi.


Suasana meja makan yang tadinya adem berubah memanas.


Adiknya Ilham segera beranjak dari tempat duduknya. Ia tak ingin melihat keributan yang sama hampir setiap harinya.


" Ma, aku udah selesai". ucapnya seraya berlalu menuju ke kamarnya.


Mama hanya mengangguk mengiyakan.


" Ilham, yang sopan ya kalau ngomong sama orang tua". tambah mamanya mulai memelankan volume suaranya.


" Mama dan papa bisa nggak ngertiin Ilham?


Ilham nggak mau menikah dengan gadis yang Ilham nggak cinta. Apalagi gadis seperti Nayla ".


Ayahnya mulai memijit dahinya dengan gusar.


" Papa nggak mau tahu, lusa kamu harus pergi ke undangannya Nayla. Kamu harus meneruskan pertunangan kalian. Papa nggak mau bahas ini lagi !" bentak papanya tiba-tiba.


" Nggak ! Ilham nggak mau jadi pecundang lagi !" balas Ilham.


" Pa !" mama terkejut lalu dengan cepat menahan tubuh suaminya agar tak membentur lantai.


Ilham yang melihat kondisi ayahnya pun segera membantu mamanya membaringkan tubuh ayahnya di sofa.


" Cepat telpon dokter Indra !" seru mamanya panik.


" Iya ma". jawab Ilham seraya mengambil handphonenya dan mulai menyentuh nomor dimaksud.


Adiknya yang mendengar keributan tadi pun datang mendekat.


" Papa kenapa ma?" tanyanya dengan wajah khawatir.


" Tadi tiba-tiba saja papa pingsan nak". jawab mamanya lemah.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dokter Indra datang. Ia segera memeriksa kondisi ayahnya Ilham.


" Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya mama dengan wajah cemas.


" Pak Wiraguna terkena gejala serangan jantung. Saya sarankan, minum obatnya dengan teratur. Dijaga pola makannya, beristirahat yang cukup dan ingat jangan membuat beliau mengkhawatirkan sesuatu yang berlebihan. Ataupun membuatnya marah karena hal itu akan memicu penyakitnya kambuh lagi". jelas dokter panjang lebar.


Mama dan adiknya serta merta menatap Ilham seolah penjelasan dokter tadi ditujukan untuknya.


" Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu kalau ada apa-apa, telpon saja. Assalamualaikum". pamit dokter Indra.


" Baik dok, terimakasih. Waalaikum salam ".


" Ilham ! cepetan nak ! papa nggak mau terlambat nih !" teriak mamanya dari lantai bawah.


Cepat-cepat ia hapus cairan bening yang hampir menyeruak dari matanya lalu bangkit dari ranjang menuju ke lemari pakaian mengambil setelan.


" Ilham !" teriak mamanya lagi karena tidak ada sahutan dari putranya.


" Iya ma ! dikit lagi udah selesai !" jawab Ilham dan dengan cekatan memakai setelannya.


Beberapa saat kemudian, iapun turun ke lantai bawah menemui kedua orangtuanya.


Bersiap untuk pergi ke rumah tunangannya.


\*\*\*\*\*