
Vano ada meeting mendadak dan tidak bisa di tunda. Dia menyuruh sekertaris Mayla untuk menunggu Neva di depan.
"Hai, Kak May. Selamat siang," sapa resepsionis seksi.
"Siang," jawab Mayla singkat padanya.
"Bakal ada tamu istimewa ya?" Tanya Resepsionis berponi.
"Iya," jawab Mayla singkat.
Kemudian, dua resepsionis kepo itu saling berbisik. Mereka berdua membahas Sang Boss dan membuat tebakan, kemana gerangan Sang Boss melabuhkan hatinya.
"Jika aku adalah putri dari keluarga konglomerat, maka aku sudah pasti daftar menjadi calon pacarnya," ucap resepsionis seksi.
"Dan kau akan di tolak bahkan sebelum kakimu berhasil menginjak lantai rumah keluarga Mahaeswara," jawab resepsionis berponi. Resepsionis seksi tertawa mendengar itu.
"Kamu terlalu jujur kawan," ujar Resepsionis seksi.
"Hahaha, aku harus menghempaskan mu dari impian mu yang tinggi itu," jawab Resepsionis berponi.
"Berhenti menggunjing," Mayla menegur mereka. Resepsionis seksi dan resepsionis berponi itu saling melihat dan menahan tawa masing-masing.
Kemudian, mereka saling berbisik.
"Jangan-jangan, sekertaris Mayla juga naksir ama Boss," bisik resepsionis seksi.
"Pufffhh," resepsionis berponi menahan tawanya.
_Di dalam mobil milik Neva.
Dia membuka chatnya dan ada pesan dari Vano.
"Kau sampai di mana?" Tanyanya dalam pesan.
"Sebentar lagi sampai Kak," balasnya. Tak lama mobil yang dia tumpangi belok dan parkir di depan pintu utama. Neva mengeluarkan kaca dari dalam tas miliknya. Dia memperhatikan wajah sebentar.
"Wajah ku tidak kusam bukan?" Tanyanya pada diri sendiri. Kemudian, dia memasukkan kaca itu kembali. Dia keluar dari mobil setelah supir pribadinya membukakan pintu untuknya.
Sekertaris Mayla yang menyadari kedatanganya langsung menyambutnya dengan senyum.
"Selamat datang, Nona," sapanya dengan ramah. "Selamat siang," lanjutnya. Dia sedikit membungkukkan badannya untuk Neva.
"Selamat siang Kakak, tidak perlu begitu formal," jawab Neva.
Kamera tersembunyi langsung mengabadikan tamu istimewa ini.
"Direktur meminta saya untuk menjemput anda di sini, Nona. Beliau menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa menyambut langsung kedatangan anda. Beliau meminta maaf karena ada meeting mendadak," jelas Sekertaris Mayla dengan sopan dan ramah.
"Ah, dia ini. Kenapa menjadi begitu formal," jawab Neva. "Tidak masalah Kakak, aku akan menunggu nya." lanjut Neva. Dua Resepsionis kepo langsung berdiri begitu Neva melangkah masuk.
"Selamat siang Nona," Sapa mereka berdua dengan ramah penuh senyum.
"Siang Kakak," jawab Neva dengan ramah pula.
"Mari saya antar ke ruangan beliau Nona," kata sekertaris Mayla.
"Ah, tidak perlu Kak. Saya bisa menunggu dia di situ," ucap Neva sambil menunjuk ruang tunggu yang biasanya dia menunggu jika datang kesini tanpa Nyonya besar Mahaeswara.
"Beliau memerintahkan saya untuk menjemput anda dan mengantar anda ke ruangannya," jelas Sekertaris Mayla.
Neva mengangguk, "Baik," jawabnya. Kemudian, dia mengikuti Mayla menuju lift khusus untuk sampai di ruangan Vano.
Sementara yang terjadi di meja depan adalah, dua resepsionis kepo itu semakin kepo.
"Apakah pada akhirnya, Boss kita berlabuh pada gadis tadi?" ujar Resepsionis berponi.
"Entahlah," resepsionis seksi mengangkat bahunya. "Nona tadi, bukankah dia adalah adik ipar Nona Yuna?"
"Hmm, iya benar," jawab resepsionis berponi. Dia menjentikkan jarinya.
"Jangan bilang jika direktur mendekati dia hanya untuk agar bisa dekat dengan Nona Yuna. Aaaaa, aku tidak bisa membayangkannya," resepsionis seksi membayang salah satu cerita sinetron televisi lokal. Resepsionis berponi memukul bahunya pelan.
"Singkirkan otak sinetron mu itu. Direktur bukan orang yang seperti itu," ujar resepsionis berponi.
__Disana. Neva telah sampai di ruangan Vano. Sekertaris Mayla mempersilahkannya duduk.
Kemudian, dia kembali lagi dengan membawa minuman untuk Neva.
"Terima kasih," ucap Neva pada sekertaris Mayla.
"Sama-sama Nona," jawab sekertaris Mayla. "Sebentar lagi direktur selesai dengan meeting siangnya. Apa ada yang Nona inginkan?"
"Tidak ada Kak, terima kasih," jawab Neva sopan. h
Tepat setelah itu, pintu ruangan Vano terbuka dengan pelan dan memperlihatkan seseorang yang membukanya. sekertaris Mayla langsung membungkuk memberinya salam. Sementara Neva langsung berdiri dan tersenyum menyapanya. Baru beberapa jam tidak bertemu saja rasanya begitu rindu. Wajah tampan itu terus hadir dalam otaknya.
Vano melangkah masuk kedalam dan tersenyum menyapa Neva.
"Kau sudah sampai sayang. Maaf membuat mu menunggu," ucap Vano dengan lembut. Mata Sekertaris Mayla melebar, otaknya membeku. Apa? Sang Boss menyebut gadis ini dengan panggilan sayang, mereka berdua sepasang kekasih? Sungguh kah? Akhirnya, hati sang Boss menemukan labuhannya. Akhirnya, Sang Boss tidak lagi jomblo. Sekertaris Mayla mengucap syukur. Dengan pelan dia menarik dirinya lalu segera keluar dari ruangan. Dia tidak ingin menjadi pengganggu antara dua insan ini.
"Tidak, aku baru saja sampai," jawab Neva. Kemudian, mereka duduk berdampingan. Jantung Neva memompa dengan cepat, di dekat Vano membuat jantung nya terus saja berdetak dengan tidak normal. Vano mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Mayla bahwa setelah makan siang ini dia tidak kembali ke kantor. Neva menatapnya dari samping, memperhatikan wajah tampan itu. Begitu teduh dan sangat manis.
Setelah mengirim pesan pada sekertaris Mayla, Vano memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya. Dia menoleh ke arah Neva dan mata mereka saling bertemu.
"Hai Nona cantik," ucapnya dengan senyum. Neva langsung memalingkan wajahnya. Dia merona dan menahan senyumnya. Tangan Vano mengulur dan menyentuh pipinya. "Sayang, di pipi mu ada debu yang menempel," ucapnya pelan. Tangannya mengusap pipi itu dengan lembut.
mendengar itu, Neva segera mengangkat wajahnya dan menatap Vano.
"Benarkah?" Tanyanya sangat khawatir. Dia berada di dalam mobil selama perjalanan, lalu dari mana debu itu. "Apakah sekarang aku terlihat sangat kusam?" Tanyanya dengan nada sedih. Tangan Vano masih mengusap pipinya dengan lembut. Mata mereka bertemu.
"Padahal aku tidak membuka kaca mobil sama sekali, bagaimana bisa debu itu menempel di pipi ku," ujar Neva. Vano terkekeh.
"Tidak ada debu, aku bohong," ucap Vano dengan senyum lebar. Neva langsung mengerucutkan bibirnya dan memukul bahu Vano dengan pelan. "Itu hanya trik ku untuk bisa mengusap pipi mu," lanjut Vano.
"Dasar, kau," Neva kembali memukul bahu Vano lagi. Tapi kali Vano menangkapnya dan menggenggamnya.
"Kau mau makan siang di mana?" Tanya Vano. Neva menaikkan alisnya untuk berfikir sejenak sebelum memberi jawaban.
"Kak Vano tahu restoran di kita B? Restoran yang berbentuk kapal, kapal yang terdampar," ucap Neva.
Neva mengangguk, "Jika Kak Vano tidak keberatan," jawabnya.
"Okey, kita kesana," Vano menyetujui. Kemudian, mereka berdua keluar dari ruangan. Di dalam lift, Vano memeluk pinggang. Dia sedikit menunduk dan berbisik di telinga Neva, "Apa kau merindukan ku?"
Bisikan lembut di telinganya membuat Neva merinding. Dia menoleh ke arah Vano. "Menurut mu?" Jawabanya dengan balik bertanya.
"Menurut ku, kau sangat, sangat merindukan ku," jawab Vano. Neva tersenyum. "Aku benar bukan?" Tanya Vano lagi.
"Hmmm, salah," jawab Neva.
"Jadi kau tidak merindukan ku?" Tanya Vano. Dia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Neva.
"Aku sangat sangat sangat sangat merindukan mu," jawab Neva dengan senyum lebar. Dan Vano langsung mencium pipinya dengan singkat. Membuat wajah Neva memerah dengan degupan jantung yang memompa dengan cepat.
Lift terbuka. Tangan Vano berpindah ke tangan Neva. Dia menggenggam jemarinya dengan manis. Mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan mesra, dengan senyum indah yang menghiasi bibir mereka.
Dua resepsionis kepo melebarkan matanya. Mereka mematung melihat adegan manis itu. Hingga lupa pada kamera pengintai diam-diam. y
Mobil Vano sudah siap di depan. Dengan asistennya yang telah membukakan pintu untuk dia dan Neva. Kemudian, mobil itu perlahan menjauh dari area.
"Mereka pacaran?" Tanya dua Resepsionis kepo itu saling memandang dan saling bertanya. Tepat saat itu, sekertaris Mayla lewat di depan mereka berdua.
"Kak May," resepsionis seksi menghentikan langkah sekertaris Mayla.
"Ada apa?" tanya Mayla ketus. Lama-lama dia bosan dengan dua resepsionis kepo ini dengan segala rumpiannya.
"Aaa, Kak May, galak amat," ujar resepsionis berponi. Dua Resepsionis itu begitu kompak.
"Kak May, tanya dong," resepsionis seksi mencoba merayu Mayla untuk mendapatkan berita terbaru.
"Apa? Tentang Nona tadi? Hubungan Direktur dan dia?" Mayla langsung bisa menebak apa yang akan dua resepsionis ini tanyakan.
"Aaa, Kak May, kau begitu hafal pada kami," sahut resepsionis berponi.
"Jadi, apa jawabannya Kak May?" sambung resepsionis seksi.
Mayla menarik nafasnya panjang dan menatap dua resepsionis kepo ini satu persatu secara bergantian.
"Ya, mereka sepanjang kekasih," jawab Mayla pasti.
Dua Resepsionis kepo itu melebarkan matanya dan menjadi hening sesaat sebelum akhirnya mereka berdua toss.
"Puas?" Tanya Mayla.
"Iya," jawab mereka kompak.
"Sangat puas Kak May, terima kasih," ucap resepsionis berponi. Kemudian, Mayla kembali melangkah dan meninggalkan mereka berdua yang menjadi girang bukan main.
Dua Resepsionis kepo itu langsung membagikan kabar bahagia pada grup tertutup mereka. Kabar yang di sambut sorak Sorai semua anggota grup.
"Ayo kita rayakan ini," komentar salah satu penghuni grup.
___Sementara di sana di rumah sakit. Tuan besar Nugraha duduk dengan tenang di samping ranjang Tuan Wijaya. Temannya itu sudah siuman.
"Terima kasih sudah menolong ku, Nugraha," ucap Tuan Wijaya. Matanya menatap Tuan besar Nugraha dengan sorot mata yang menderita.
"Aku melakukan ini bukan untuk mu Wijaya tapi untuk putraku. Aku yang akan menebus dosanya," jawab Tuan Nugraha.
"Putramu, itu ...."
"Simpan kata kotor mu jika kau ingin menjatuhkan putraku lagi," Tuan Nugraha memotong ucapan Tuan Wijaya. Beliau melanjutkan ucapannya sebelum Tuan Wijaya mampu untuk membuka mulutnya.
"Ku harap kau selalu mengingat kejadian ini. Selamanya, jangan pernah mengusik kehidupan orang lain. Terlebih keluarga ku. Jika kau sampai berani mengusik mereka maka tanganku sendiri yang akan membuat mu menderita. Kau pikir aku tidak tahu, bagaimana kau berusaha untuk menemui Yuna? Ya, orang-orang ku yang menggagalkan mu dengan cara halus. Karena aku masih menghargai mu sebagai teman ku Wijaya. Aku tidak menceritakan ini pada Lee, karena aku tahu dia tidak akan melepaskan mu jika kau berani mengusik wanitanya," Kata Tuan Nugraha dengan teratur. Memang benar, setelah Tuan Wijaya gagal meyakinkan Tuan Nugraha atas cerita bohongnya maka target selanjutnya adalah Yuna. Tetapi, dia selalu saja gagal untuk bisa menemui wanita itu.
"Aku baru saja menghubungi keluarga mu, mungkin sebentar lagi mereka datang. Aku datang kesini disiang ini hanya untuk memperingatkan mu Wijaya. Bahwa, jika kau ingin hidup dengan tenang berhentilah dengan semua otak kotor mu. Dan satu lagi, jangan sampai ada yang tahu jika ini adalah perbuatan Lee, ingat itu. Aku akan menanggung semua biaya rumah sakit dan biaya hidup keluarga mu selama kau sakit. Sekali lagi, ini bukan untuk mu, tetapi untuk putraku," ujar Tuan Nugraha. Kemudian, beliau beranjak dan berdiri. "Ini peringatan yang pertama dan terakhir dari ku Wijaya. Semoga tanganku ini tidak sampai benar membuat mu menderita," Ujar Papa lagi. Ucapannya sangat tenang, suaranya sangat lembut tetapi penuh dengan penekanan.
"Aku permisi, semoga kau lekas sembuh teman," ucap Tuan Nugraha pamit. Kemudian, dia membalik badan dan melangkah keluar. Di luar ruangan ada dua orang yang menunggu nya.
"Terus awasi dia," ucap Papa pada salah satu dari dua orang itu.
"Baik Tuan besar," jawab seseorang itu dengan sigap. Kemudian, Tuan Nugraha melangkah meninggalkan ruangan itu dengan satu pengawal di belakangnya. Beliau masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area rumah sakit. Tak lama, ponselnya berdering dan ada panggilan masuk dari seseorang yang setiap hari mengawasi Yuna.
"Ada berita apa?" Tanyanya dengan cemas. Orang suruhan ini hanya akan menghubunginya jika ada kabar tentang Yuna.
"Nona Yuna di bawa kerumah sakit," jawab seseorang di seberang sana. Klik. Tuan Nugraha langsung memutus panggilannya. Beliau langsung membuat panggilan pada Leo.
"Ya, Pa," jawab Leo di seberang sana.
"Apa benar Yuna di rumah sakit?" Tanya Papa dengan cemas. Beliau tahu Yuna belum waktunya untuk melahirkan, lalu kenapa dia?
"Ya, jawab Leo," jawab Leo. "Papa tahu darimana?" Tanya Leo. Karena dia tidak memberi tahu siapa pun.
Papa sedikit gelagapan dengan pertanyaan ini.
"Dion," jawab Beliau cepat, "Dari Dion," ulangnya.
Leo mengerutkan keningnya. Dan menatap Dion yang berdiri di depannya.
___
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Masih betah dirumah??
Semangat. ππ
#DiRumahSaja.
Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk do'a, penyemangat dan dukungannya pada Nanas manise (Haha ada tambahan manise ππ)
Semoga inspirasi nya selalu luber ber ber.
Jempol di goyang ya kawan. Luv luv. Aku pada mu.
PLAGIAT JANGAN MAMPIR SINI π π€