
Tiara melangkah pulang dengan tergesa agar bisa menghindari Ilham. Ia tak mau lagi berpapasan dengan cowok itu yang sudah pasti akan pulang bergandengan lagi dengan tunangannya. Sungguh, itu akan menjadi pemandangan yang sangat menyakitkan baginya.
Jalanan yang dilewatinya masih basah. Sisa-sisa aroma hujan menyeruak di sela rongga penciuman.
Di beberapa permukaan tanah berlubang, air terjebak hingga menjadi genangan dangkal. Para pengendara mulai berlalu-lalang di jalanan melanjutkan kembali aktivitas yang tadi sempat tertunda.
Tak terasa Tiara sampai juga ke rumah.
Setelah mandi dan berganti pakaian, iapun menikmati makan siangnya yang sudah di sisihkan kakak sepupunya agar tak dimakan penghuni lain. Yah, begitulah keadaan di rumah itu. Semuanya serba pas-pasan.
Terkadang adik-adik sepupunya mengabaikan kehadirannya di rumah itu hingga tak peduli dengan urusan perutnya. Beruntung ada kak Nia yang selalu memisahkan bagiannya agar ia bisa makan seperti mereka.
Selesai makan siang, ia duduk mengobrol dengan kak Nia tentang banyak hal sekedar memberi waktu untuk perut mencerna makanan yang barusan masuk.
Tiara sangat dekat dengan kakak sepupunya itu. Namun ia tak pernah menceritakan apapun yang berkaitan dengan hubungannya dengan Ilham.
Lain halnya dengan kak Nia yang selalu terbuka dengannya. Tak heran kak Nia sering bercerita tentang kisah percintaannya kepadanya. Dan seperti biasa, Tiara akan menjadi pendengar yang baik untuknya.
Puas bercerita, Tiara pun pamit ke dalam kamarnya. Rasa kantuknya mulai menyerang hingga ia menguap berulang kali.
Tapi bukannya tidur, pikirannya malah sibuk ke sana kemari. Memikirkan hubungan segitiga antara dirinya, Ilham dan Nayla.
"Memang sih kalau dipikir-pikir aku yang harusnya mundur. Bodohnya aku membiarkan rasa suka ini terus tumbuh. Mestinya dari awal ku sembunyikan saja rasa suka ini bukannya menyambut pernyataan cintanya. Aku nggak tahu apalagi yang bakalan terjadi besok ". keluhnya seraya menarik napas panjang dan membuangnya dengan berat.
Perlahan matanya mulai terpejam setelah penat dengan semua masalah yang membebani benaknya.
\*\*\*\*\*
Entah berapa lama sudah Tiara tertidur hingga akhirnya terbangun oleh panggilan masuk di handphonenya. Dengan malas menggeliat dan mengerjapkan matanya beberapa saat barulah ia meraih handphone yang sedari tadi tergeletak begitu saja di atas meja.
Kak Ilham memanggil.
" Angkat nggak ya ?" tanyanya pada diri sendiri.
" Kalau nggak diangkat, entah kegilaan apalagi yang bakal dilakukannya besok ".
Terpaksa diangkat juga.
" Hai Ra' lagi ngapain?" terdengar suara Ilham di seberang sana.
" Tadinya sih lagi tidur tapi kebangun gara-gara panggilan dari kakak . . " jawab Tiara lemas.
" Oh, sori aku nggak tahu kalo lagi tidur". dari suaranya sih merasa bersalah gitu.
" Nggak apa-apa kok, lagian ini udah mo Maghrib juga jadi udah seharusnya bangun kan ?"
Jeda pun tercipta.
" Ra' . . .?" kak Ilham kembali memanggil.
" Ya kak . . ?"
" Maaf ya untuk yang tadi". ucap Ilham pelan.
Tiara hanya diam mendengarkan.
Ah, andai kakak tahu . . luka di hati ini semakin membiru. Kalau saja memutuskan sebuah ikatan itu begitu mudah, mungkin saja sudah aku lakukan sekarang. Tapi aku nggak yakin apakah mampu menjauh dari kakak?
Ia menarik napas dengan berat.
" Ra . . ! Maafin aku. Tadi pagi tuh bukan niatku ke sekolah bareng dia. Pagi-pagi sekali mamanya menelepon minta tolong menjemput Nayla di rumahnya. Karena sopir pribadinya sedang pulang kampung menengok anaknya yang lagi sakit. Aku nggak bisa menolaknya begitu saja dan . . . .
" Kak ! Udah Ara ngerti kok dengan situasi kakak saat ini. Ara nggak marah sama kakak. Cuma kayaknya Ara pengen sendiri aja dulu soalnya bentar lagi ulangan semester. Ara nggak mau pikiran Ara terbagi dan akibatnya nggak fokus belajar. Takutnya nilai Ara bisa kacau. So . . boleh nggak sementara kita break aja dulu ?" Tiara membuat alasan yang kira-kira masuk akal dicerna Ilham.
Keduanya terdiam lagi sejenak.
" Ya udah Ra' nanti dilanjutkan di sekolah ya ". Ilham terkesan menghindari saran Tiara.
Panggilan pun terputus begitu saja.
\*\*\*\*\*