Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 340_Diskusi Malam


"Kak, tidak bolehkah aku kesana malam ini?" tanya Yuna dengan khawatir. Dia menatap Dimas dengan pandangan mata memohon.


Dimas menghela nafas berat. "Kau ada Baby Arai, dia lebih membutuhkanmu. Disana sudah ada Papa yang menjaganya. Lee baik-baik saja Yuna, kau tak perlu cemas. Dia hanya menjalani serangkaian pemeriksaan dan dokter memutuskan untuk mengobservasi keadaannya untuk mengambil tindakan yang tepat. Percayalah, dia baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja," ucap Dimas dengan perhatian. Yuna mengangguk samar.


"Malam ini, tidur di kamar Mama saja ya," ajak Mama. Tangan hangat beliau mengusap lengan Yuna pelan. Mama tahu betapa khawatirnya Yuna saat ini. "Ada Papa yang menjaga Lee disana. Ada kak Dimas juga. Setelah ini, Kak Dim balik kesana," Mama turut membujuk dan menenangkan hati Yuna.


"Tapi aku ingin kesana Ma, menemani dia. Berada disampingnya, menggenggam tangannya dan memberinya semangat," ucap Yuna


"Tapi kau juga harus memikirkan Baby Arai, nak. Dia juga membutuhkanmu. Tidak mungkin kita bawa dia kesana," sambung Mama. "Lee baik-baik saja, percayalah," Mama menggenggam tangan Yuna. Pada akhirnya, Yuna menyetujui untuk tidak ikut ke rumah sakit malam ini. Dia akan sabar menunggu esok hari.


Malam terasa begitu panjang dan sunyi. Senyap dan berkarat. Mengusik hati dengan kecemasan. Bantal lembut bersarungkan kain sutra tak bisa melelapkan matanya. Yuna beranjak dari tempat tidurnya, dia melangkah menuju balkon. Udara lebih dingin dari pada di ibu kota, tetapi langit yang ia pandang malam ini adalah langit yang sama yang ia pandang saat di ibu kota. Kerlip bintang itupun sama. Dia diam disana hingga hampir satu jam.


"Yuna," panggilan Mama menarik Yuna dari semu lamunannya. Dia segera menoleh.


"Ya, Ma," jawab Yuna. Dia tersenyum melihat mama yang sudah menggendong Baby Arai.


"Dia bangun," kata Yuna sambil berjalan masuk ke dalam menghampiri Mama yang berdiri di ambang pintu. Dia membungkuk dan mencium pipi anaknya. "Dari tadi Ma?" tanya Yuna menanyakan kapan anaknya terbangun.


"Baru saja, mungkin dia mau ASI," jawab Mama. Kemudian, Yuna mengambil Baby Arai dari gendongan Mama.


_Pagi hari setelah sarapan. Mama mengajak Yuna jalan santai dipagi hari. Cuacanya sejuk meskipun matahari bersinar cerah. Celoteh lucu yang menggemaskan mengiringi langkah kaki mereka. Suara imut itu terdengar nyaring dengan gerakan tangan dan kaki mungilnya. Beberapa pengguna jalan terkadang berhenti hanya untuk menyapa Baby Arai.


"Hi, you are so cute. What's your name," puji seseorang dengan mengusap lengan Baby Arai lembut.


"My name is Arai, miss. Hu'um, I inherited it from my Dad's good looks," dengan senyum, Yuna yang menjawab mewakili Baby Arai. Seseorang itu tersenyum lebar dan bilang jika penasaran dengan Ayah dari bayi ini. Kemudian, mereka berpisah setelah bertukar beberapa kata.


Celoteh lucu dari bibir mungilnya masih terdengar. Gerakan imut dan sangat menggemaskan membuat seseorang menyapanya lagi. Mengusap kaki Baby Arai yang berkaus kaki.


"Umm... What an adorable baby. I want to take you home with me," ujarnya dengan mencubit pipi Baby Arai gemas. Yuna dan Mama langsung tertawa kecil mendengar ucapan itu. Membawa Baby Arai pulang? Ada-ada saja. Mereka saling bertukar gurauan dengan hangat. Sejenak, Yuna sedikit lupa akan kegelisahan hatinya.


Mama mengajaknya berkeliling dengan berjalan kaki. Udara sejuk, bangunan-bangunan yang berjejer rapi, jalanan tidak padat, bunga-bunga tertanam dengan cantik di sepanjang jalan, dan yang pasti, ini sangat bersih. Tidak ada satupun sampah yang tercecer dijalanan. Tatanan kota yang apik.


Pada pukul sepuluh pagi mereka kembali kerumah.


"Bersiap-siaplah, sebentar lagi Kak Dimas datang," ujar Mama. Yuna tersenyum dengan senang. Dia sudah tidak sabar lagi untuk mengunjungi Leo. Yuna sudah menyiapkan stok ASI di kulkas.


Beberapa menit kemudian, Dimas datang dan mengajak Yuna untuk ke rumah sakit.


"Mommy pergi sebentar ya sayang. Jadi anak manis, okey. Jangan rewel sama Oma," Yuna mencium anaknya. Kemudian, dia pamit pada Mama.


Dimas membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia memberitahu Yuna jika keadaan Leo baik-baik saja. Ini ... agar Yuna tidak begitu kaget saat nanti masuk ke dalam ruangan dan menemukan Leo dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit. Dimas langsung mengajak Yuna untuk naik ke lantai enam.


Jantung Yuna berdegup. Dia membawa langkahnya dengan perasaan yang optimistis. Ini adalah usaha untuk kesembuhan Leo. Ya, Leo pasti sembuh. Yuna menghembuskan nafasnya dengan lembut. Tepat saat mereka sampai di depan ruangan, dokter dan beberapa tim medis baru saja keluar dari ruangan bercat putih itu.


Pelan, tangannya membuka pintu kamar ruangan dimana Leo dirawat. Dengan senyum dia menyapa Leo yang menoleh kearahnya saat pintu terbuka.


Leo langsung merentangkan tangannya.


"Kemari," ucapnya pelan. Yuna dengan kepiluan hatinya melangkah mendekat dan langsung memeluk suaminya.


"Alatnya sudah dilepas?" tanya Dimas pada papanya, dia memperhatikan Leo.


"Baru saja," jawab Papa. "Akan ada observasi lain lagi setelah ini," jelas Papa. Dimas mengangguk. Kemudian, mereka berdua pamit keluar ruangan.


"Apa kau sudah makan?" tanya Yuna setelah melepaskan pelukannya. Dia duduk di sisi ranjang. Tangannya mengusap pipi Leo.


"Sudah, kau sudah?" jawab Leo sekaligus bertanya. Yuna mengangguk.


"Apa kau tidak tidur? Nyonya jelek sekali dengan mata panda," ejek Leo dengan tawa kecil.


"Aku bahkan akan lebih jelek dari ini jika kau tidak segera kembali ke rumah," jawab Yuna. Kedua tangan mereka saling bersatu, menggenggam dengan erat. "Segeralah sembuh dan kembali kerumah," ucap Yuna.


"Pasti," jawab Leo. Kemudian, dia meminta Yuna untuk membuat panggilan video pada mamanya. Dia rindu pada anaknya.


"Daddy .... Hallo," Tangan Baby Arai dengan lucu melambai diseberang sana, digerakkan oleh Mama. Suara Mama mewakilinya menyapa Leo.


"Hallo tampannya Daddy," sapa Leo. Matanya dipenuhi kelembutan saat menatap wajah imut anaknya.


_______________


Malam hari di Ibu Kota.


Neva duduk di karpet halus di ruang tengah. Dia dengan ditemani Joe berdiskusi tentang apa yang hari ini mereka kerjakan lalu berdiskusi tentang apa yang akan mereka kerjakan untuk besok. Neva hampir tidak memiliki waktu istirahat. Ternyata memang sangat melelahkan.


"Joe, apa kau lapar?" tanya Neva disela-sela diskusi malam ini.


"Tidak," jawab Joe.


"Tapi aku lapar," kata Neva.


"Biar ku belikan untuk Nona. Nona mau apa?" tanya Joe.


"Aaaah, tidak perlu keluar. Kita lanjut diskusi saja. Aku pesan makan online saja," jawab Neva. Joe mengangguk. Kemudian, Neva memilih makanan yang ia inginkan. Memesannya dua.


Diskusi berlanjut, dan beberapa menit kemudian pesanan makanan Neva datang. Joe yang mengambilnya kedepan.


"Ini untukmu," Neva memberikan satu untuk Joe.


"Terima kasih Nona," ucap Joe. Mereka menepikan laptop dulu dan menghabiskan satu burger. "Biasanya wanita sangat takut untuk makan tengah malam," ujar Joe.


"Hahaa aku tidak bisa menahan lapar Joe," jawab Neva. "Aku akan berolahraga rajin agar tubuhku selalu ideal," lanjutnya.


Joe mengangguk, dia tidak menanggapi karena ada burger didalam mulutnya.


"Apa laki-laki suka wanita seksi Joe?" tanya Neva yang membuat Joe terbatuk kecil. Dia segera menyedot minumannya. Joe menatap Neva sebelum memberikan jawaban.


"Laki-laki suka dengan wanita yang membuatnya nyaman," jawab Joe. Neva membalas tatapan matanya.


"Jadi, apa laki-laki memang tidak suka dicemburui?" tanya Neva lagi.


"Tergantung cemburunya seperti apa Nona. Jika cemburu mengarah pada posesif akut, biasanya lelaki tidak suka model cemburu yang seperti itu," jawab Joe. "Tapi itu aku Nona. Mungkin berbeda dengan pacar Nona," sambung Joe segera. Neva mengangguk. Dia menyelesaikan kunyahan terakhir dimulutnya.


"Tapi bukankah cemburu itu tanda sayang yang begitu besar Joe. Muncul posesif karena khawatir ditinggalkan," ucap Neva. Dia menatap Joe.


"Memeluk seseorang dengan erat tetapi hangat itu berbeda dengan memeluk seseorang dengan erat dan teramat erat, Nona. Pelukan erat tetapi hangat itu membuat nyaman. Sedangkan pelukan erat dan sangat erat itu membuat kita kesulitan untuk bernafas, pada akhirnya dia akan berusaha untuk melepaskan pelukannya yang membuatnya kesulitan untuk bernafas. Bukankah itu malah membuat mereka terpisah?" jawab Joe memberikan perumpamaan. Neva mengangguk-angguk. Dia tersenyum.


"Kau keren Joe," ujarnya dengan memberikan dua jempol pada Joe.


"Hahaa Nona bisa aja," jawab Joe dengan malu. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa kau sudah punya pacar?" tanya Neva kemudian. Joe terbatuk lagi dengan pertanyaan ini.


"Putus tiga setengah tahun yang lalu," jawab Joe jujur.


"Selama itu? Kau tidak mencari gantinya?"


"Aku berfokus mengabdikan diriku pada Tuan besar Nugraha," jawab Joe.


"Totalitasmu keren Joe, tapi kau tidak harus mengorbankan diri dan masa depanmu."


"Justru Tuan besar Nugraha yang membuatku berani melihat kemasa depan lagi Nona," ucap Joe. "Hahaa lupakan," sambung Joe. Neva mengangguk samar. Dia penasaran sebenarnya dengan apa yang baru saja Joe ucapkan. Tetapi dia tidak ingin ikut campur masalah orang lain.


"Hmmm, aku mulai ngantuk," ucap Neva. Kemudian, dia pamit.


"Nona, izinkan saya yang mengantar Nona besok pagi," ujar Joe. Dia menatap Neva. Neva memicingkan matanya untuk berfikir sejenak. Sebelum akhirnya dia mengangguk.


"Ok," jawabnya.


_________________


Catatan penulis.


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 🥰 Jika berkenan mohon untuk vote vote 🥰🙏 Terima kasih kesayangan 🥰 Luv luv.