Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 52. Maaf


Detik demi detik berlalu. Tak ada seorangpun yang berniat menolong Tiara. Semuanya hanya berdiri seolah penasaran dengan apa yang bakal terjadi selanjutnya. Miris memang, tapi begitulah manusia jaman modern ini. Perlahan hati nurani mereka mulai terkikis oleh angkuhnya harta dan kekuasaan.


Emosi Ilham semakin memuncak hingga napasnya tersengal, ia tak bisa menahan diri lebih lama lagi. Dengan sekuat tenaga ia melepaskan diri dari cengkeraman ayahnya namun baru saja ia hendak mendekati kolam, tiba-tiba . . .


Byur !


Seseorang telah mendahuluinya melompat masuk ke dalam kolam. Langkahnya pun terhenti seketika.


Zian?


Ilham ternganga saat melihat sosok Zian keluar dari kolam sambil menggendong tubuh Tiara yang sudah tak sadarkan diri.


"Kalian semua sakit ya? ada orang tenggelam satupun nggak ada mau nolongin ! dasar gila !" bentak Rio di hadapan semua tamu yang ada.


Mendengar itu mereka pun tertunduk entahlah mungkin malu atau karena enggan memperlihatkan wajah angkuh mereka.


Tadinya Rio dan Zian sedang ngobrol di gerbang depan. Awalnya ia dan Zian sudah mendengar suara ribut-ribut di dekat kolam tapi keduanya masih terlibat pembicaraan serius. Setelah itu barulah keduanya mendekat tapi betapa kagetnya mereka saat menyadari siapa yang hampir tenggelam di kolam itu.


Tanpa menunggu lama Zian segera berlari menyelamatkannya tepat di saat Ilham hendak mendekati kolam.


Zian yang panik segera meletakkan tubuh Tiara di pinggiran kolam. Ia berusaha memberikan pertolongan pertama dengan menekan dada Tiara untuk mendorong keluar air yang tertelan namun belum berhasil juga.


" Maaf Ra, gue harus lakuin ini". desisnya pelan sembari menundukkan kepalanya mendekat ke wajah Tiara. Zian akhirnya memberikan nafas buatan kepadanya sambil sesekali menekan dadanya. Dan akhirnya . . .


Uhuk . . uhuk . .uhuk


Gadis itu ter batuk dan mengeluarkan air dari mulutnya.


" Syukurlah lo dah sadar". ucap Zian sambil memeluk Tiara. Wajahnya yang tadi terlihat khawatir kini berubah tenang kembali.


" Kak . . " panggil Tiara lemah .


" Nggak usah ngomong dulu. Ayo kita pergi dari tempat kotor ini". ujar Zian dengan nada dingin.


Ia kembali menggendong tubuh Tiara berjalan keluar dari halaman rumahnya Nayla menuju ke mobil yang sudah terparkir di depan.


Rupanya Rio sudah menghubungi sopir pribadi papanya Zian beserta beberapa orang bodyguard.


Zian tak mempedulikan Ilham yang sedari tadi memperhatikannya.


Ilham sendiri tak bisa berbuat banyak melihat orang yang dicintainya dibawa pergi begitu saja. Meskipun di dalam hatinya berbagai macam rasa bergemuruh hebat.


Setelah mobil Zian menjauh Ilham segera membalikkan badannya.


" Aku mau pulang pa". ujarnya dengan wajah kesal.


" Tunggu dulu dong sayang". bujuk Nayla sembari memegang lengan Ilham namun cepat dihempaskan Ilham dengan kasarnya.


" Cukup Nayla, bukankah pertunjukannya sudah berakhir? kamu puas kan sekarang? dasar gila !" umpat Ilham kemudian berjalan menuju ke mobilnya.


Kedua orangtuanya hanya bisa mengikutinya dari belakang setelah berpamitan dengan Nayla dan kedua orangtuanya.


Tamu yang lain pun mulai berpamitan pulang. Tinggallah Nayla dan kedua sahabatnya. Meskipun sudah berhasil mengerjai Tiara namun hal itu tak membuat Nayla puas.


Ia mendorong meja di depannya dengan kesal mengingat perlakuan terakhir Ilham kepadanya. Tak ayal lagi, semua yang tadinya berada di atas meja berhamburan kemana-mana.


Kedua sahabatnya tak berani bersuara, mereka hanya diam menunggu perintah selanjutnya.


Di sisi lain, Zian membawa Tiara ke rumahnya.


" Kak, kenapa kemari? ini rumah siapa?" tanya Tiara saat mobil yang membawa mereka berhenti di depan rumah yang lebih mewah di bandingkan dengan rumah Nayla tadi. Halamannya juga sangat luas.


" Nggak apa-apa, ini rumah gue". jawab Zian sambil menggendong Tiara kembali.


Baru saja Tiara hendak bersuara Zian sudah mendahuluinya.


" Malam ini lo istirahat aja dulu di sini. Tenang aja, tadi Rio udah minta tolong sama Hesti buat ngasih kabar ke rumah lo".


" Hesti udah minta ijin dengan alasan lo nginap di rumahnya untuk temani dia karena ortunya lagi ke luar kota".


" Kalian . . ?"


" Apa?" tanya Zian dengan suara beratnya mendadak mendekati nya.


Tiara jadi salah tingkah dibuatnya. Dia tak jadi melanjutkan pertanyaan barusan. Ia menggeleng dengan cepat.


Zian tersenyum seraya memberikan baju kaos miliknya untuk Tiara.


" Nih ganti baju dulu, besok gue bakal minta Hesti bawain bajunya buat lo".


Tiara hanya mengangguk mengiyakan padahal ia masih penasaran ada hubungan apa antara Zian dan Hesti.


" Udah nggak usah kebanyakan mikir. Sekarang ganti baju dulu". ujar Zian sambil. menunjukkan kamar mandi yang ada di dalam kamar tamu.


Tiara hanya diam menuruti. Pikirannya sibuk sendiri merasakan perbedaan seorang Zian saat ini.


Setelah itu Zian kembali ke ruang tengah. Ia kembali memikirkan kejadian yang menimpa Tiara tadi.


"Hem . . nggak salah lagi. Pasti ini alasannya Nayla ngundang bocah itu ". gumamnya.


" Makan malamnya sudah bibi siapkan tuan muda". ujar bi Ratih yang sudah berdiri di belakangnya.


" Oh, iya bi nanti Zian turun dikit lagi".jawab Zian.


" Temennya diajak sekalian ya tuan muda". tambah bibi Ratih yang tadi sempat melihat Zian menggendong Tiara masuk ke dalam rumah.


" Hee iya bi". jawab Zian tersipu.


" Ya udah, bibi ke dapur dulu ya mau beres-beres".


"Oke bi, makasih". balas Zian.


Di sisi lain, Tiara masih terbengong melihat kamar tamu dan kamar mandi yang dimasukinya.


Ia terkagum-kagum sendiri dan mulai membanding-bandingkan luas kamar itu yang ukurannya sebanding dengan luas rumah tantenya. Kamar mandinya saja seluas kamar tidurnya hehehe.


"Dasar orang kaya!" gumamnya sambil nyengir kuda.


Setelah puas mengukur luas sekelilingnya iapun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Isi dalam kamar mandi juga berbeda dengan kamar mandi di rumahnya yang hanya menggunakan gayung untuk mengambil air di bak.


Butuh beberapa menit barulah ia bisa menggunakan shower yang tersedia di sana.


" Jadi orang kaya kok ribet ya". gumamnya konyol.


Zian pun pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya yang tadi ikutan basah. Setelah itu ia kembali ke ruang tengah menunggu Tiara yang sedari tadi belum keluar juga dari kamarnya.


Mulutnya mulai menguap diserang kantuk.


Perlahan ia mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Tiara yang baru saja keluar dari kamar celingukan mencari sosok Zian. Eh ternyata yang dicari sedang rebahan di sofa.


Tiara masih berdiri menatap sosok di depannya. Sosok yang random perilakunya, hehehe.


" Udah puas ngeliatin gue?" suara berat Zian tiba-tiba menyadarkannya.


" Eh, nggak ". sahutnya salah tingkah.


" Ayo kita makan, gue dah lapar banget nih". ujar Zian kemudian menuju ke meja makan. Tiara yang juga merasakan hal yang sama hanya mengikuti ajakannya.


\*\*\*\*\*