
" Kalian pada belum pulang?" terdengar suara berat dan dalam khas cowok.
Hesti dan Dhilla menoleh ke arahnya, berbeda dengan Tiara yang cuek bebek.
Padahal dalam hatinya tersenyum senang mendengarnya.
" Eh kak Zian, udah mau pulang nih, ya kan la?". jawab Hesti tersenyum nakal seraya melirik ke arah Tiara.
Sayangnya, yang dilirik sibuk sendiri memainkan sepatunya.
" La, pulang bareng aku aja. Tiara biar diantar kak Zian". ucap Hesti kemudian bangkit berdiri diikuti Dhilla yang sudah paham arti kedipan mata sahabatnya.
" Eh, kok gitu sih?" protes Tiara sebal.
Matanya membulat gemas ke arah sahabat - sahabatnya.
Hesti menahan tawanya melihat wajah cemberut di depannya.
Zian yang melihat pemandangan di depannya terkekeh geli.
Hahahaha
" Hesti lo tuh ya suka bener kalo ngomong. Udah pulang aja bareng Dhilla, kucing nakal ini biar gue aja yang nganterin". balas Zian seraya berjalan mendekati Tiara.
Tiara mendelik ke arah Zian yang hanya menatapnya dengan hangat.
Sedangkan Dhilla dan Hesti keburu ngeloyor pergi dari situ.
Tiara hanya bisa pasrah melihatnya.
" Yok berangkat, udah lapar banget nih!" ujar Zian seraya menarik tangan Tiara agar berjalan mengikutinya.
Motor Zian membawa mereka sampai ke rumahnya.
Sebenarnya dari tadi Tiara sudah protes panjang lebar di belakangnya tapi dasar Zian, pura-pura saja tak mendengar.
Tiara sengaja memasang wajah cemberutnya ketika turun dari motor.
Zian yang melihat itu malah mengacak rambutnya lembut.
" Woy, jangan cemberut aja. Entar mulutnya jadi kayak mulutnya nya ikan buntal. Hahahaha ". goda Zian dan dibalas Tiara dengan pukulan di lengannya. Alhasil Zian meringis juga.
" Rasain tuh !" ujar Tiara seraya tersenyum menang.
" Eh ada non Tiara rupanya ". bibi Ratih tiba-tiba muncul mendengar suara berisik di depan.
" Hehehe, assalamualaikum bibi ". ucap Tiara tersenyum kikuk.
" Iya, makasih bi Ratih ". jawab Tiara.
Zian kemudian mengajak Tiara masuk ke dalam rumah megah itu.
Tiara masih merasa asing memasuki rumah itu walaupun ini bukan pertama kali baginya.
" Nggak apa-apa, masuk aja Ra' lagian ortu gue nggak ada. Makanya gue sengaja bawa lo ke sini biar temani gue makan". ucap Zian.
Tiara mengangguk mengerti. Sesampainya di ruang tengah, ia mendaratkan bokongnya di sofa empuk yang tertata rapi di ruangan itu.
Zian meninggalkannya di ruangan itu.
"Ternyata jadi anak orang kaya ada nggak enaknya juga ya". gumamnya lirih.
Ia mulai memikirkan kondisi Zian yang mungkin saja kesepian karena selalu ditinggal sendirian di rumah megah itu.
" Hei, mikirin gue ya?" Zian muncul tiba-tiba membuat gadis itu tersentak kaget.
" Ih apaan sih, bikin kaget aja !"
" Tuh kan ketahuan, mukanya sampe merah gitu".
" Ngapain juga mikirin kak Zian, nggak penting tau !" elak Tiara sambil menoleh ke arah lain.
" Terserah deh, yang jelas lo nggak boleh mikirin yang lain lagi, kecuali gue".
" Ih maksa banget, otak punya aku terserah dong mau mikir apaan".
" Pokoknya nggak boleh, titik!"
Bi Ratih yang muncul di ruangan itu tersenyum senang melihat tuan mudanya bahagia.
" Maaf tuan muda".
" Oh iya bi' kenapa?"
" Makanannya udah siap. Bibi tinggal dulu ya".
" Oke bi' makasih ya".
Bibi mengangguk dan pergi dari situ.
\*\*\*\*\*