Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 363_Daddy


"Baik dokter William. Sekali lagi aku berterima kasih atas kesediaan dokter datang kemari," jawab Yuna. Dokter William mengangguk. Dia masih ingin berbincang sebenarnya tetapi waktu tak memungkinkan. Ada jadwal lagi yang harus dilakukan.


Seseorang berjas hitam datang menghampiri dokter William dan berkata, "Selamat pagi dokter William," seseorang itu membungkukkan badannya, "Jemputan khusus Anda dari Perdana menteri sudah siap," lanjutnya. Dokter William mengangguk. Dia memperhatikan Leo sebentar dari jendela kaca kemudian tersenyum pada Yuna.



"Ingat, kita harus bertemu lagi setelah ini," ucap dokter William pada Yuna.


Yuna mengangguk, "Aku pasti akan memberitahu Leo jika ada dokter cerdas yang datang untuknya," jawab Yuna. Ya, saat Leo sembuh nanti, dia akan mengajaknya untuk bertemu dengan dokter cerdas nan tampan ini.


Dokter William mengangguk dengan senyum, "Senang bisa bertemu dengan mu Yuna," ucapnya. Kemudian, dokter William pamit dan segera pergi meninggalkan rumah sakit. Namun, pada ujung koridor langkahnya terhenti, ia membalik badannya untuk melihat Yuna sekali lagi.


"You have beautiful eyes, Yuna," (Kamu memiliki mata yang indah, Yuna) ucap dokter William tiba-tiba. Hanya itu. Lalu dia kembali melangkah dan benar-benar meninggalkan rumah sakit dengan pengawalan dari pasukan Perdana menteri.


Yuna diam tidak menanggapi ucapan sang dokter. Dia menoleh ke arah jendela kaca. Meletakkan kedua telapak tangannya disana. Menatap Leo dengan senyum di bibirnya.


"Sehat selalu sayang. Kau telah melewati ini dengan hebat," ujar Yuna pelan.


___ Disana. Neva kembali ke ruangan rawat Leo dulu. Dia dan Vano melangkah masuk pelan dengan membawa sarapan tetapi ternyata Papanya sudah tertidur di atas sofa. Neva mengatur kembali suhu ruangan, lalu mengambil selimut dari dalam lemari. Mereka semua lelah, semalaman terjaga tanpa bisa memejamkan mata sama sekali. Saat ini, mereka bisa bernafas dengan lega karena operasi Leo berhasil.


Neva memakaikan selimut untuk papanya dengan hati-hati. Kemudian ia duduk di sofa satunya berdampingan dengan Vano. Ia langsung menyandarkan kepalanya di bahu Vano dan melingkarkan tangannya untuk memeluk Vano.


"Bagaimana jika kita pulang dulu," kata Vano. "Kau harus istirahat. Nanti sore kita kesini lagi," lanjut Vano.


"Tapi aku ingin menunggu Kak Lee," jawab Neva.


"Nanti sore kita kesini lagi. Kita pulang dulu, istirahat dan menemani Mama di rumah. Kak Dimas pasti juga ingin kemari," ucap Vano. Dan pada akhirnya Neva mengangguk setuju untuk lebih dulu pulang. Dia meninggalkan memo di atas meja untuk papanya.


__________________


Dua jam kemudian, Yuna dipersilahkan oleh perawat.


Yuna membawa langkahnya pelan masuk ke dalam ruang Leo. Air matanya menggenang menatap Leo yang masih terbaring dan masih terpejam, tangan kanannya menyentuh tangan Leo, menggenggamnya dengan hangat.


"Sayang," panggilannya. Tangan sebelahnya mengusap kedua pipi Leo dengan halus. "Hai, Tuan tampanku ..." tangan Yuna dengan menyeluruh mengusap wajah Leo yang terlihat pucat. Kemudian dia duduk dengan masih mengenggam tangan Leo. "Ummm, aku ingin bercerita padamu, ini sesuatu yang lucu. Malam itu ... malam sebelum kau masuk ruang operasi, apa kau tahu apa yang terjadi. Kau tidak tahu bukan? Hmm sini, ku bisikkan ...." Yuna mendekatkan bibirnya ke telinga Leo. "Aku naik helikopter bersama Perdana menteri," bisik Yuna. Kemudian ia kembali duduk dan menatap Leo.


"Uhum ... bagaimana? Istri mu ini keren bukan, bisa satu helikopter bersama Perdana Menteri," ucap Yuna dengan senyum sombong tapi kemudian wajahnya berubah menjadi sedih.


"Segera buka matamu Leo," ucapnya pelan.


______


Telapak kakinya berlari diatas pasir pantai yang masih terasa dingin. Gelap tanpa cahaya, sinar surya belum menyapa, ia membiarkan dua hati saling terjaga tetapi tidak memberinya kesempatan untuk menyapa. Sepasang kaki itu terus berlari seolah tanpa ujung. Dalam gelap pandangan matanya yang tak mampu melihat apapun, indera pendengarnya menangkap suara kedua orang tuanya, kakak, adik, Yuna dan suara imut milik anaknya.


Ingatannya kembali pada sore terakhir ia membuka mata. Baby Arai yang merayap di ujung ranjang, kepala Baby Arai yang hampir terbentur lantai. Kemudian, ia dengan nafas tersengal berteriak memanggil nama anaknya.


"Arai ...."


Kelopak mata indahnya terbuka dengan perlahan. Menatap sayu ruangan putih ini. Nafasnya tersengal, seolah ia baru saja berlari dari jarak yang begitu jauh. Tangannya menggenggam jemari halus. Dia membawa sepasang bola matanya untuk menatap pemilik jemari ini.


Air mata menetes dari ujung matanya, "Yuna," ucapnya sangat pelan memanggil nama sang isteri. Rasanya lama sekali ia terpisah dari wanita cantik ini.


Yuna mengangguk tanpa bisa menjawab panggilan Leo. Ia menangis bahagia dalam lantunan syukur mengagungkan kebesaran Tuhan dalam hatinya, kemudian ia segera menyeka air mata Leo yang terjatuh.


"Aku panggil dokter dulu," ucap Yuna. Dia berdiri dan memencet tombol yang berada di dinding. Setelah itu, ia kembali menatap Leo dan mencium keningnya. "I love you," ucapnya dengan air mata yang seolah tidak ingin berhenti.


Tak lama dokter dan tim perawat datang. Mereka meminta Yuna untuk keluar ruangan lebih dulu.


Yuna keluar ruangan dan langsung disambut tatapan mata Papa padanya. Yuna mengangguk, dan langsung menghambur ke dalam pelukan Papa. Dia menangis bahagia.


"Leo sudah membuka matanya Pa. Dia telah melewati ini," ucap Yuna terbata. Tuan besar Nugraha mengangguk-angguk pelan dengan tangis bahagia dari mata senjanya.


"Kau bisa lihat sendiri Yuna, dia kuat. Dia bertahan untuk kita, untuk anaknya yang masih kecil. Dia tidak akan membuat anaknya menjadi yatim," Tuan besar Nugraha menangis dengan menatap Leo yang tengah diperiksa oleh tim dokter dan perawat.


Beberapa saat kemudian, dokter keluar dan mengabarkan jika Leo sudah bisa dijenguk. Yuna lebih dulu mempersilahkan Papa untuk masuk bertemu dengan Leo. Sementara dia mengikuti dokter hingga ruangannya. Dia dengan detail menanyakan keadaan Leo.


"Hanya tinggal pemulihannya saja Nyonya," jawab Sang dokter setelah menjelaskan panjang lebar tentang kondisi Leo. Yuna mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak berhenti untuk mengucapkan syukur pada Tuhan semesta alam.


Yuna segera keluar dari ruangan dokter dan kembali berjalan menuju ruangan rawat Leo. Masih ada Papa disana. Yuna melangkah pelan dengan senyum di wajahnya.


Leo berkedip pelan lalu membawa pandangannya pada Yuna. Mata mereka bertemu, saling menyapa mengungkapkan rindu, saling menyapa menyampaikan cinta. Tanpa kata, Yuna semakin mendekat. Tangan kanan Leo dengan lemah menyambutnya, Yuna menahan genangan air matanya agar tidak terjatuh.


Pelan, tangan Yuna menyambut uluran tangan Leo. Menggenggamnya dengan hangat. Kedua tangan itu bertemu membawa beribu pesan dari hati.


____________


Catatan penulis πŸ₯°πŸ™


Terima kasih yang dengan sabar menunggu kelanjutan kisah ini. Padamu kesayangan. Luv luv.


Jangan lupa jempolnya digoyang... Like komen. Okey mbeb kesayangan. Tengkyu... 😘😘


Lanjuuut.... Bersambung ....