
Tiara mengingat kembali beberapa kejadian yang menimpanya. Yah, hanya Zian yang selalu ada di sekitarnya. Walaupun tak terlihat oleh mata, namun anehnya cowok itu selalu muncul di saat ia membutuhkan bantuan.
Tiara menghembuskan nafas berat. Ia merasa dilema.
Kalau mau jujur, ia juga mulai menyukai Zian tapi ia berusaha meyakinkan hatinya berulang kali bahwa semua itu tak mungkin.
Ia bukanlah Cinderella dalam dongeng yang suka ia baca. Ia hanya seorang gadis biasa yang tak punya apa-apa dibandingkan seorang anak dari keluarga kaya raya.
Satu yang pasti, ia tak mau menyusahkan Zian yang pastinya bakal ditentang orang tuanya bila dekat dengan gadis miskin seperti dia. Ia tidak mau terluka lagi untuk yang kedua kalinya.
" Hei ! melamun aja !" seru Hesti membuyarkan semuanya.
" Oh, gimana, gimana . . . ?"
" Makanya jangan melamun terus kerjaannya". sahut Dhilla tersenyum.
Hehehehe
Tiara terkekeh seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dari arah pintu nampak Rio dan Zian memasuki kantin.
Seketika tatapan semua gadis yang ada di situ tertuju ke satu arah.
Keduanya berjalan menuju ke arah mbak Sri untuk memesan. Setelah itu mereka mencari tempat duduk di pojokan yang berlawanan arah dengan tempat duduknya Tiara.
Kedua cowok tampan itu terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius.
Namun pandangan Rio sesekali tertuju ke arah Hesti yang terlihat melakukan hal yang sama dengannya.
"Lo udah jadian ya sama Hesti?" tanya zian seraya melirik ke arah Rio yang sedari tadi mencuri pandang ke arah tempatnya Hesti.
" Iya". jawabnya pelan.
" Sebentar, gue ambil makanannya dulu". ucapnya kemudian beranjak pergi saat melihat Mbak Sri melambaikan tangannya.
Tak lama iapun kembali dengan pesanan mereka.
Ilham, Nayla dan rombongannya juga tak ketinggalan. Zian hanya melirik sebentar ke arah mereka. Tak peduli seperti biasa.
Ketika melewati tempat duduknya Tiara dan kedua sahabatnya, Nayla sengaja bergelayut manja di lengan Ilham sambil berceloteh dengan genitnya.
" Sayang, kita duduk di pojokan aja ya biar bisa mesra-mesraan gitu ".
Ilham hanya mengangguk mengiyakan, mulutnya terkunci rapat apalagi saat menyadari maksud dari ucapan Nayla tadi.
Ia tahu Nayla sengaja agar didengar oleh Tiara.
Dasar Nayla sinting! umpatnya dalam hati.
" Dasar genit !" tanpa sadar ucapan Hesti didengar oleh Nayla yang baru beberapa langkah lewat di samping mereka.
Tanpa menunggu lama, Naylapun berbalik.
" Apa lo bilang barusan? gue genit ? heh ! nggak salah ngomong kan ?" bentak Nayla seraya mendekati Hesti.
" Emang bener kok !" balas Hesti mulai terpancing emosi. Tak terima dibentak.
" Lah suka-suka gue dong, tunangan gue juga kenapa lo yang sewot?"
" Semua orang juga tahu tunangan lo tapi setidaknya jaga sikap, ini di sekolah bukannya rumah lo !" Hesti tak mau kalah.
" Hes, udah diam aja ". ucap Tiara dan Dhilla yang sudah mendekati Hesti.
" Heran gue, lo pada nggak ngaca ya siapa di sini yang sebenarnya genit?" ujar Nayla seraya tersenyum licik.
" Nih orang yang paling genit. Udah tahu Ilham udah punya tunangan, masih aja mau dipacarin, hahahaha!" ujar Nayla sambil menunjuk ke wajah Tiara yang seketika pias menahan malu dan marah.
Kini mereka menjadi bahan tontonan di kantin.
" Jaga omongan lo, nenek lampir!" bentak Hesti geram, tangannya mengepal.
\*\*\*\*\*