Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 82. Pelaku Balas Dendam


Tiara dan kedua sahabatnya sedang asik menikmati tahu isi dan pisang goreng di depan mereka.


Rutinitas setiap hari mereka saat jam istirahat di sekolah. Dilengkapi minuman dingin kesukaan ketiganya .


" Eh Hes, Ra, tadi ada kejadian apa waktu jam olahraga di lapangan?" tanya Dhilla sambil mencomot tahu isi kesukaannya.


Matanya serius menatap lekat ke arah dua sahabatnya sambil mengunyah tahu dengan mulut yang mulai mengkilap karena berminyak.


" Apa ya, perasaan nggak ada deh". jawab Tiara yang saling tatap dengan Hesti.


" Iya, setahu aku nggak ada apa-apa. Em sebentar deh. Tadi malah Ara yang jatuh sampai lututnya berdarah". jawab Hesti.


" Kok bisa jatuh Ra?" tanya Dhilla.


" Tadi rasanya ada yang sengaja nabrak aku dari belakang. Tapi orangnya ngelak gitu, biasalah si Sandra. Tahu sendiri kan, mereka nggak suka banget sama aku". Tiara menjelaskan kronologi kejadian tadi dengan santainya efek sudah terbiasa dengan kelakuan mereka.


Dhilla manggut-manggut mendengarkan.


Nampak sedang berusaha memikirkan sesuatu.


" Ah ya, mungkin ini ada hubungannya dengan itu". tebak Dhilla yakin.


" Maksudnya gimana la ?" tanya Hesti.


" Kalian ingat nggak, dulu di kantin waktu mangkok baksonya Ara pecah? berikutnya hal yang sama menimpa Nenek lampir itu. Lebih parah malah karena kuah baksonya sampai di bagian paha ".


" Ya ela . . . kebetulan aja maybe ". tandas Tiara yang tak mau berpikir kejauhan.


" Oke, tadi kamu bilang habis didorong Sandra kan waktu jam olahraga? kamu tahu nggak apa yang menimpa Sandra hari ini?"


Hesti dan Tiara kompak menggeleng.


" Barusan aku nggak sengaja dengar dari teman-teman sekelasnya bilang kalau si Sandra itu ditabrak seseorang setelah selesai jam olahraga".


" Hah? serius?" Hesti dan Tiara nampak kaget mendengarnya.


" Iya beneran, tapi syukurlah nggak fatal. Nenek lampir itu hanya luka-luka ringan". jelas Dhilla.


" Nggak boleh gitulah Hes ". ucap Tiara.


" Hehehe, habisnya kesal banget sama tuh orang. Ada aja ide jahat yang nongol di kepalanya ". balas Hesti tanpa rasa bersalah dengan ucapannya.


" Doain aja biar dia dan teman-temannya diberikan hidayah oleh Allah SWT, biar dirubah hatinya jadi baik ". ucap Dhilla layaknya seorang ustadzah yang biasa menyampaikan kultum pagi di stasiun televisi.


" Tunggu dulu, apa hubungannya kecelakaan Sandra dengan kejadian tadi waktu olahraga?" tanya Tiara mulai penasaran.


" Kalau aku pikir - pikir, sepertinya ada yang sengaja membalas perbuatannya sama kamu Ra' . . . seperti balas dendam gitu ".


" Masak sih ? repot banget tuh orang yang mau ngelakuin hal itu ". ucap Tiara dengan nada tak percaya.


" Yah, mungkin aja tuh orang cinta banget sama kamu Ra' sampai nggak rela melihat kamu disakiti sama orang lain ".


" Hem . . . bener juga tebakan kamu La ". tambah Hesti antusias.


" But who ?" Tiara mulai mencoba menebak dalam hati.


" Menurut kalian siapa?"


" Kalau menurut aku sih mungkin kak Ilham ". jawab Dhilla agak ragu.


" Siapa lagi kalau bukan kak Zian?" celetuk Hesti dengan mata berbinar.


Tiara menggeleng menolak pendapatnya Hesti.


" Nggak ah, nggak mungkin ".


" Coba deh Ra, kamu pikir baik-baik. Yang selalu muncul di saat kamu bermasalah itu siapa?" Hesti berusaha meyakinkan sahabatnya.


Tiara terdiam sesaat mencoba mencerna kata-kata Hesti.


" Masuk akal juga sih ". jawabnya kemudian.


\*\*\*\*\*