Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 318_Sapaan Pagi


Pada pagi yang sama di kota yang berbeda.


Vano masih memejamkan matanya. Mimpi masih mengajaknya untuk terbuai dalam dunia fatamorgana.



Namun, pada akhirnya dia bangun setelah dering alarm berbunyi dengan nyaring. Tangannya mengulur untuk mematikan alarm. Dia melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya. Kemudian, ia mengambil ponselnya diatas meja. Dia memencet sebuah nomor.


"Ya," sapa suara diseberang sana.


"Sudah bangun?" tanya Vano rendah. Suaranya masih serak karena dia belum minum air putih setelah bangun tidur.


"Sudah dong," jawab Neva ceria. Pagi hari disambut suara sang kekasih. Sapaan pagi yang membahagiakan. "Umm biar ku tebak. Kau pasti baru bangun, ya kan?"


"Hhhhh, iya," jawab Vano terkekeh diseberang sana. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil segelas air putih yang sudah tersedia di meja. Vano duduk di sofa dan mengganti panggilan menjadi panggilan video.


"Haii ...." sapa Neva dengan senyum setelah panggilan video terhubung.



Vano tersenyum melihat wajah cantik diseberang sana. "Kau sudah mandi?" tanyanya. Dia menyandarkan punggungnya di sofa.


Neva meletakkan ponselnya di atas kasur. "Belum, heheee," jawabnya sambil memamerkan barisan giginya.


"Tapi sudah cantiiiiikkk," puji Vano. Neva langsung menutup wajahnya dengan bantal.


"Jangan memujiku ... aku bisa melayang," teriaknya dalam bekapan bantalnya sendiri. Vano tersenyum lebar dan bahkan wajahnya memerah. Itu karena ... ketika bantal itu pindah ke wajah Neva, sesuatu yang mulus terlihat olehnya. Neva hanya memakai hotpants saat ini.


"Sayang," panggil Vano pelan. Dia menelan ludahnya.


"Apa, kau mau menggombal? Ini masih sangat pagi," ujar Neva dengan masih menutup wajahnya dengan bantal.


"Tidak," jawab Vano. Batinnya bergejolak, dia menunduk sebentar dan memejamkan matanya. "Jangan tutupi wajahmu." lanjutnya sambil mengangkat wajahnya kembali. Dia menatap layar ponsel itu lagi. Tangannya terangkat, jemarinya mengepal dan memukul-mukul keningnya pelan.


Neva diam dan tersenyum dibalik bantal. Kemudian, dengan perlahan dia membuka wajahnya lagi. Bantal itu kembali pada tempatnya semula. Lalu Neva menyadari sesuatu.


"Aaaaaa," dia berteriak. Lalu menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. "Kau melihatnya?" tanya Neva dengan sangat malu, wajahnya semakin merah padam.


Vano tertawa ringan mengetahui jika Neva sadar bahwa bagian tubuhnya terlihat oleh Vano.


"Melihat apa?" Vano pura-pura tidak paham. Dia bertanya dengan wajah polos dan meyakinkan. Neva menatapnya dengan tajam.


"Sungguh kau tidak melihatnya?" tanya Neva.


"Melihat apa?" Vano masih dengan suara lugunya. Neva mengedipkan mata cepat dan menghembuskan nafasnya lega mendengar jawaban Vano. Dia sungguh tidak melihatnyakan? Batin Neva.


"Buruan mandi," ujar Vano mengalihkan. "Kau cantik tapi kau bau," lanjutnya. Vano menutup hidungnya.


"Hahaa memang bisa tercium sampai situ?"


"Tidak, tapi aku bisa menebaknya. Sana buruan mandi."


Neva mengarahkan ponselnya pada wajahnya dan dengan pelan dia membuka mulutnya, "Haaaaaahhhhhh ...." dia menghembuskan nafasnya yang belum sikat gigi. "Serangan bau ...." Neva tertawa kecil setelah memberikan serangan itu.


"Serangan diterima, muach, cium nih," goda Vano dengan senyum lebar. Dia bak remaja yang kasmaran. Bibirnya terus melengkung dengan rasa bahagia.


"Kyaa ... kau," wajah Neva kembali memerah. Neva pun sama. Dia adalah gadis yang tengah begitu kasmaran.


"Oke, matiin telponnya Nona," ucap Vano.


"Nggak, kau saja yang matiin," jawab Neva. Dia enggan mematikan ponselnya.


"Kau saja," tolak Vano.


"Kau saja," tolak Neva. Dan mereka berdebat hanya tentang siapa yang mematikan telpon.


"Ok, aku temani kau mandi," ucap Vano dengan sengaja. Dan benar apa yang dia pikirkan, gadisnya pasti akan berteriak.


"Aaaa ... kau mulai mesum," teriak Neva. Klik. Neva memutus panggilan. Dia merasa sangat malu. Kemudian dia segera beranjak dan masuk kamar mandi.


______________________


Siang hari setelah jam kerja, pada jam istirahat.


Vano melangkah dan masuk ke dalam lift, tepat saat itu juga seseorang masuk ke dalam satu lift bersama Vano. Seorang wanita cantik dengan baju kantor yang rapi. Dia melempar senyum pada Vano. Dan Vano membalasnya dengan senyum juga.


"Hai Tuan muda Vano. Masih ingat saya?" tanya wanita cantik itu dengan ramah.


"Devia?" kata Vano. Wanita itu tersenyum dengan puas karena Vano mengingat dirinya.


"Hhhmm syukurlah Tuan muda masih mengingat saya. Senang bisa bertemu kembali," ucapnya.


"Kau sedang apa disini?" tanya Vano.


"Aku tinggal di Kota ini. Dan ... siang ini aku yang mewakili perusahaan papa untuk meeting. Aku baru saja dari ruangan Om Mahaeswara," jelas Devia.


"Ooo," Vano mengangguk. Memang ada meeting setelah jam istirahat nanti.


"Emmm kebetulan, aku bertemu dengan Tuan muda, aku sangat bahagia," ujar Devia dengan senyum cerah. "Emm apa Tuan muda Vano, mau kemana?" tanyanya kemudian.


"Makan siang," jawab Vano. Dan pintu lift terbuka. Vano segera keluar begitu juga Devia, dia berjalan disamping Vano.


"Tuan muda, bolehkah saya ikut?" tanya Devia dengan pelan dan dengan nada yang sedih. Vano menoleh ke arahnya sebentar dan kemudian mengangguk.


Mereka berdua, Vano dan Devia duduk berhadapan di salah satu meja restoran samping kantor Vano.


"Selamat untuk pertunangan Anda Tuan muda Vano. Saya turut bahagia," ucap Devia. Dia menatap Vano.


Vano mengangguk, "Terima kasih Devia," jawab Vano. Dia mulai memakan makanannya.


Devia dengan diam-diam mengambil foto Vano beberapa kali.


"Kenapa tidak memakan makananmu Devia?" tanya Vano setelah sadar jika Devia hanya memperhatikan dirinya dan tidak memakan makanannya.


"Eh, iya," jawab Devia. Kemudian, dia mulai memakan makanannya.


Beberapa saat kemudian, mereka telah selesai makan.


"Maaf Tuan muda ...." Devia dengan ragu ingin mengutarakan niatnya.


"Ya, kenapa?" jawab Vano.


"Emm ... bolehkah saya minta foto bersama?" tanya Devia pelan dan sedikit ragu.


"Silahkan," jawab Vano mempersilahkan. Kemudian, Devia mendekatkan dirinya pada Vano. Dia mencondongkan tubuhnya. Lalu, tersimpanlah beberapa gambar dalam ponselnya.


"Terima kasih," ucapnya yang dijawab anggukan oleh Vano.


Setelah mendapat foto itu. Devia langsung menguploadnya di akun sosial media miliknya. Dia dengan sengaja menandai akun Vano.


Terima kasih makan siang hari ini, Tuan muda Mahaeswara.


Seperti itu caption yang dia bubuhkan untuk melengkapi unggahannya.


Setelah istirahat, mereka kembali kekantor dan langsung meeting. Vano sama sekali tidak menyentuh ponselnya.


___ Sore hari di Ibu Kota. Neva dan Lula bertemu di sebuah cafe. Mereka berdua berbincang seru sambil menikmati pancake.



Kemudian, saat Neva memainkan ponselnya, dia melihat unggahan itu. Unggahan seorang gadis yang tengah makan siang dengan Vano.


Neva melebarkan matanya dengan jantung yang berdebar kencang, dengan hati yang merasakan sesuatu. "Ini sungguh dia?" gumamnya. Mata Neva tak dibiarkan berkedip, dia terus memperhatikan empat foto yang diunggah beberapa jam yang lalu. Dia tahu gadis itu, gadis dalam foto itu adalah gadis yang tadinya akan dijodohkan dengan Vano, gadis pilihan Tuan besar Mahaeswara.


Sesuatu yang menusuk terasa dalam hati Neva. Ucapan Mamanya terngiang kembali. Seseorang yang ditunggu akan kalah dengan seseorang yang telah siap. Neva menggeleng dan merapatkan bibirnya.


"Kenapa Nona?" Lula memegang lengan Neva. Tak ada jawaban. Neva memberikan ponselnya pada Lula, isyarat agar Lula melihat postingan itu sendiri.


Neva menunduk dan menyembunyikan sedihnya.


Lula merangkulnya.


"Mungkin mereka berteman lalu bertemu dan makan siang. Apa mau ingat, kita pernah bertemu Tuan muda Vano diCafe malam itu, dia yang bersama cewek. Kita salah tebakkan? Ya kan?" Lula berusaha menghibur Nonanya. Neva mengangguk. Dia mengangkat wajahnya. "Apalagi sekarang kalian sudah tunangan. Aku yakin Tuan muda menjaga hatinya untuk mu Nona," lanjut Lula. Neva mengangguk lagi.


___________


Catatan Penulis πŸ₯°


Pertanyaan dari Readers.


Rancy


Vano,kamu sebenarnya dah move on bener belum dari Yuna..πŸ˜€


# tanya vano


Jawab.


Vano, "Hahaaaa ...." Vano tertawa kecil mendapat pertanyaan itu. Dia memijit keningnya pelan. "Ummm Si Spongebob ya? Kita masih berteman dengan baik. Itu saja yang bisa ku bocorkan tentang perasaanku. Terima kasih."


Diah


Bang Lee , mungkinkan kamu berpaling dari Yuna , dan melirikku sedikiit saja


#TanyaLeo


Jawab.


Leo, "Aku telah mengabdikan seluruh cintaku untuk Yuna istriku. Tak akan ada yang lain."


Vetty


Author asli mana?


#TanyaAuthor.


Jawab.


Othor Nanas, "Umm ... jawabannya ada pada bab Rumah makan. Naahh makanan khas kota manakah itu? πŸ™ˆπŸ€— Aku asli sana Kak πŸ₯°πŸ™ Terima kasih."


Itu tiga pertanyaan yang terpilih. Yang pertanyaannya belum terjawab, sabar ya ... πŸ₯°


Yuukk, Silahkan yang mau kirim pertanyaan lagi. JANGAN LUPA TAGAR. Okey 😍πŸ₯°πŸ˜˜


Biasa ya kesayangan, kita goyang jempolnya. Like komen. Terima kasih ilupyu semuanyaa. 🌹