
"Dokter William ingin bertemu sekali lagi," kata Yuna setelah ia selesai menceritakan sosok dokter William pada Leo. Leo tengah duduk bersandar di ranjangnya. Dia baru selesai minum obat.
"Bertemu sekali lagi? Denganmu?" tanya Leo masam. Namun tidak, dia langsung membuang jauh pikiran itu. "Hmmm aku harus bertemu dengan dokter William. Aku akan mengucapkan terima kasih padanya," Leo penasaran dengan dokter ini. Dokter dengan banyak penghargaan, dokter cerdas yang tidak bisa di datangkan dengan uang. Dia pernah membaca dan melihat berita tentang dokter ini. Namun tidak ada yang tahu alasan sebenarnya kepada dokter ini tidak tertarik dengan iming-iming uang untuk membuatnya datang.
Yuna mengangguk, dia duduk di samping Leo, di satu ranjang.
"Ya, kau harus berterima kasih kepada dokter William secara langsung," sambung Yuna setuju. Leo menatap Yuna, memperhatikan wajah istrinya. Dia memiliki beberapa pertanyaan dalam pikirannya. Kenapa dokter William mau hadir untuk melakukan operasi padanya? Sungguhkah pengaruh dari Perdana menteri, atau ada hal lain yang ia inginkan? Leo menampik pikiran jeleknya itu. Ia berpaling.
"Aku tahu tentang dokter William dari televisi, sepertinya dia masih muda," ujarnya kemudian dengan suara pelan. Yuna mengangguk lagi.
"Hu'um. Dia masih muda dan sangat tampan," ucap Yuna yang langsung membuat Leo menoleh ke arahnya.
"Apa?" tanyanya dengan sorot mata yang tajam.
Yuna terkekeh, dan membalas tatapan mata Leo, "Ya, dokter William sangat tampan ... eh tapi bohong," ucap Yuna. Dia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah rumit Leo saat cemburu. "Haaa ... haaa ... kau lucu saat cemburu yang tidak jelas," Yuna mencubit pipi Leo dengan gemas. "Hmm kau Tuan tampanku, tak ada yang lebih tampan dari mu," lanjut Yuna.
Leo memegang tengkuk Yuna dan langsung mencium manis bibir Yuna. Pelan lalu semakin dalam. Yuna memejamkan matanya, menyambut kecupan lembut nan manis di bibirnya. Merasakan hembusan nafas hangat pada wajahnya.
Dan, pintu ruang terbuka tanpa ketukan pintu. Sebenarnya, ada dua ketukan pintu tetapi mereka tidak mendengarnya. Leo segera menyudahi ciumannya setelah mendengar pintu terbuka.
Saat Neva dan Vano sampai di samping ranjang rawat Leo, nafas Yuna masih belum teratur. Ia seperti baru saja selesai berlari.
"Kak Lee," Neva langsung menghamburkan pelukannya pada Leo.
"Kapan kau tiba disini?" tanya Leo. Dia mengusap punggung Neva pelan. Meninggalkan ciuman ringan di kepala Neva.
"Setelah Kakak mengalami koma," jawab Neva. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Leo. "Bagaimana keadaan Kak Lee, segeralah sembuh," ucap Neva.
"Aku sudah lebih baik," jawab Leo. Neva tersenyum dan kembali memeluk kakaknya lagi.
"Kakak harus segera sehat, ok," ujar Neva.
"Baik gadis kecil," jawab Leo. Kemudian Neva melepaskan pelukannya dan berdiri di samping Vano.
"Aku kesini dengan dia," ujar Neva dengan bahagia. Dia mengapit lengan Vano.
"Kau ikut kesini Vano?" tanya Leo rendah.
Vano mengangguk pelan, "Ya, kita akan menghabiskan akhir tahun disini," jawab Vano. "Lekas sembuh Leo," lanjut Vano. Vano mengulurkan tangannya dan Leo menyambutnya. Mereka melakukan salaman ala laki-laki.
"Terima kasih," jawab Leo.
Yuna beranjak untuk mengambil minuman dan buah-buahan di kulkas. Kemudian ia meletakkan di atas meja, mempersilahkan dengan sopan Neva dan Vano.
"Apa kau tahu anggur ini dari siapa?" tanya Yuna bergurau pada Neva.
"Siapa, siapa?" tanya Neva balik dengan penasaran.
"Dari perdana menteri," jawab Yuna dengan bangga.
"Wah, wahhh ... ini anggur langka. Aku harus mencobanya," seru Neva dan langsung mengambil satu. Mereka berempat berbincang dengan seru. Neva dan Vano duduk di sofa di samping ranjang rawat. Sementara Yuna kembali duduk disamping Kep. Neva menanyakan bagaimana Yuna bisa bertemu dengan Perdana Menteri hingga bisa membawa dokter William.
"Wooohhh, tidak ada yang kebetulan di dunia ini," seru Neva setelah mendengar kisah dengan lengkap. Timbal balik setiap langkah yang kita ambil pasti ada. Kemudian mereka fokus menyaksikan berita di televisi. Yang lebih mendominasi adalah Leo dan Vano, mereka berdua saling menyahut tentang bisnis. Kemudian, berita beralih ke perkiraan cuaca.
Yuna menyuapi Leo anggur Ruby Roman buah tangan dari Perdana menteri tadi sore. Saat ini mereka tengah menyaksikan berita di televisi.
"Sepertinya salju akan turun lebih awal dari biasanya," ujar Vano setelah memperhatikan siaran langsung berita di televisi. Neva mengangguk membenarkan. Leo sudah memikirkan itu dari jauh hari, awalnya dia bahagia karena salju akan turun lebih awal dari biasanya itu artinya Yuna bisa segera menyaksikan salju. Namun, saat ini ia gelisah dan tidak suka jika salju turun lebih awal. Dia masih dalam pemulihan. Rumah sakit pasti tidak akan mengizinkan untuk keluar. Itu artinya, dia tidak bisa menemani Yuna untuk menyaksikan salju pertama kali turun.
Dan yang lebih parahnya lagi jika Yuna enggan untuk melihat salju jika tanpa Leo. Pasti, wanita itu pasti akan tetap memilih menemani Leo. Yuna pasti lebih memilih di rumah sakit saja bersama Leo dan melewatkan momen saat salju pertama kali turun.
Dan memang benar, perkiraan cuaca memprediksikan jika salju akan turun tiga hari lagi.
"Nah kan benar," seru Neva setelah siaran langsung berita mengumumkan secara luas prediksi itu. "Yeyyyy," Neva bertepuk tangan.
Yuna diam ikut memperhatikan siaran televisi. Dia tidak kecewa juga tidak bahagia. Tak apa jika dia melewatkan momen itu. Kebersamaan dengan cintanya adalah hal yang luar biasa untuknya. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada itu.
Yuna ikut memakan anggur itu.
"Tiga hari lagi," ucap Leo.
"Ya, tiga hari lagi," sambung Vano.
Leo menunduk sebentar lalu membawa pandangannya pada Yuna. Menatap wanita itu dengan penuh kasih. Tiga hari lagi ... itu artinya tepat pada tanggal sembilan belas Desember.
_____________
Catatan penulis π₯°π
Hmmm hayo siapa yang ingat. Tanggal sembilan belas Desember hari apakah itu??
Up tengah malam nihh... Kasih sun manjah jempol yess. Jangan lupa like komen ya kawan tersayang π₯° Terima kasih π padamu.
Oh ya. Novel ini masih on going ya kawan tersayang, jadi memang harus nunggu Othor Up tiap harinya. Ok. Tengkyu yang ekstra sabar nunggu kelanjutan kisah ini. luv luv