Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 123_Ini hukuman mu


Mata Leo berkaca-kaca, dan dengan cepat air mata itu jatuh. Dia sangat bersalah...


"Apa kau pernah sadar waktu aku menangis ketika aku menemukan puluhan chat mu dengan Kiara? Apa kau pernah sadar ketika aku menangis ketika kau sakit dan Kiara datang ke rumah? Kau tidak pernah tahu rasa sakit yang ku rasakan. Apa kau pernah sadar ketika aku menangis, ketika kau sibuk berbisik dengan Kiara saat kita nonton? Nggak kan? Dan malam itu... aku sudah meminta mu untuk jangan pergi, tapi apa? Kau tetap pergi untuk menemuinya dan meninggalkan ku. Kenapa? Kenapa kau tetap memilih meninggalkan ku dan menemuinya?" air mata Yuna tidak terbendung lagi, hatinya tercabik mengucapkan setiap kata dari mulutnya. Dia ingat semuanya, ingat ketika Leo meninggalkannya.


Leo menatapnya dengan air mata penyesalan. Dia diam tidak menjawab sekalipun.


"Siapa yang ada bersama ku ketika kau terus menyakiti ku? Dia... dia yang selalu ada untuk ku. Jika yang kau maksud adalah Vano... maka memang benar, aku sering menemuinya di belakang mu. Dia selalu ada untuk ku ketika kamu menyakiti ku, Vano selalu ada ketika aku merasa rapuh. Kau jangan pernah menyalahkannya, karena aku yang datang padanya. Aku yang membuat dia selalu ada untuk ku, tapi kau bodoh jika kau memiliki pemikiran seperti yang kau ucapkan tadi. Kau sangat bodoh," Yuna menunduk dan terisak. Leo memang sengaja memancingnya. Dia ingin Yuna marah, ia ingin Yuna mengeluarkan apa yang dia pendam selama ini, ia ingin Yuna berteriak padanya. Dan akhirnya dia tahu semuanya.


"Kau begitu mudah menyakiti ku, kemudian berlaku baik pada ku, lalu menyakiti ku lagi. Kau pikir aku apa? Apa karena aku bisa dengan mudah memaafkan diri mu, hingga kau semena-mena pada perasaan ku? Aku masih punya hati Leo, kau tidak berhak menyakiti ku terus menerus. Aku lelah dengan sifat mu Leo. Jika kau masih mencintai Kiara, lepaskan aku, kita berpisah saja."


Leo tidak perduli lagi dengan penolakannya. Dia segera menarik Yuna dan memeluknya, dia tidak perduli dengan pemberontakan Yuna, ia terus memeluknya. Air matanya menetes, dia menangis dalam penyesalan.


Yuna akhirnya berhenti memberontak, dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Leo. Dia benci laki-laki ini, laki-laki yang dengan mudah mempermainkan perasaannya.


Leo memeluknya dengan hangat, ia mengusap punggungnya dengan perhatian, ia mencium rambut Yuna dengan tangis dan rasa menyesal yang memenuhi hatinya. Setelah Yuna mulai tenang, Leo melepaskan pelukannya. Dia memegang pipi Yuna dengan kedua tangannya, ia dengan lembut mengusap air mata Yuna. Tidak ada penolakan meskipun Yuna tidak mau menatapnya.


"Biarkan aku pulang," Yuna berucap pelan. Suaranya sangat serak, hidungnya merah. Dia kemudian segera berbalik dan melangkah. Namun, Leo dengan cepat memeluknya dari belakang.


"Sayang, jangan pergi," ucapnya. Suaranya serak dan dalam. Tangannya memeluk Yuna dengan erat. "Ku mohon jangan pergi. Sayang... aku tahu, aku sangat mengecewakan mu. Aku tahu, aku sangat keterlaluan pada mu, aku minta maaf. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku mencintai mu, hanya mencintai mu. Tidak ada dia, tidak ada siapapun, hanya ada kamu. Yuna... aku sangat merindukan mu, kau hampir membunuh ku dengan rindu mu," Leo berbicara dan terus berbicara. Dia tidak memberi kesempatan pada Yuna untuk berhasil mengeluarkan kata dari bibirnya.


"Sayang... aku bersalah, sangat bersalah pada mu. Kau boleh menghukum ku, apapun hukuman mu, aku akan menerimanya, tapi ku mohon jangan ucapkan kata perpisahan. Aku tidak ingin kehilangan, aku tidak mampu kehilangan mu," Leo berkata dari hatinya dengan tulus dan pilu. "Sayang... aku mencintai mu, sangat mencintai mu, hanya kamu. Ku mohon, beri aku kesempatan. Aku akan menebus semuanya. Aku menyesal atas semua tindakan ku yang melukaimu. Aku akan menghapus setiap luka yang pernah kau rasakan karena ku. Sayang... aku janji akan memperbaiki semuanya, aku janji," Leo semakin mendekapnya. "Ku mohon maafkan aku. Maaf telah mengabiakan mu, maaf telah membuat mu terluka, maaf telah sering menyakiti mu, maaf karena membuat mu begitu kecewa pada ku. Sayang... aku sungguh menyesal, ku mohon maafkan aku."


Yuna memejamkan matanya. Bisakah dia percaya janji Leo? Bisakah Leo benar-benar memenuhi janjinya?


"Simpan kata manis dan janji mu itu Leo. Jangan mencoba untuk membujuk ku, aku sungguh lelah dengan sifat mu. Berapa kali kau berucap manis padaku, kemudian, kau menyakiti ku? Bisakah kau menghitungnya? Beritahu aku, bagaimana caranya aku memaafkan ku? Lepaskan aku dan biarkan aku pulang."


Leo menggeleng dengan air matanya yang penuh dengan penyesalan.


"Sayang, ku mohon maafkan aku. Aku sungguh menyesal. Teramat menyesal, ku mohon maafkan aku. Aku tahu kau begitu kecewa pada ku, aku akan memperbaiki semuanya, aku janji." ucapnya.


Leo, dengan air mata yang masih bercucuran berpindah dihadapan Yuna dan berlutut di depannya, memegang kedua tangannya dan menciumnya. Hatinya teramat sakit, dadanya terasa sangat sesak, ketakukan merayap dan mencabik-cabik hatinya, teramat sakit. Dia takut Yuna tidak kembali padanya, dia takut Yuna meninggalkannya.


"Yuna, aku memohon maaf pada mu, ku mohon maafkan aku. Aku begitu menyakiti hati mu, membuat mu terluka dan kecewa, maaf atas semua luka yang ku berikan padamu. Aku sungguh menyesal sayang, aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku janji. Kau boleh membenci ku tapi ku mohon jangan tinggalkan aku, aku sungguh tidak mampu. Hukumlah aku, tapi ku mohon jangan tinggalkan aku, ku mohon. Sayang, aku mencintaimu bahkan lebih dari diri ku sendiri. Maafkan aku Yuna..., maafkan aku. Ku mohon maafkan aku, maafkan aku. Sayang, aku sungguh menyesal dan aku janji akan memperbaiki semuanya, aku janji. Sayang, ku mohon maafkan aku, ku mohon jangan tinggalkan aku, ku mohon...," Leo menangis menunduk dengan penyesalan. Tangannya masih terus memegang kedua tangan Yuna.


Yuna menangis... hatinya terasa sakit. Sejujurnya... perasaan cinta dalam hatinya tidak pernah berubah, rasa itu masih sangat indah. Namun, Yuna lelah dengan sifat Leo yang tidak bisa lepas dari Kiara. Dia merasa lelah dengan hubungan yang seperti itu.


"Bisakah aku memegang janji mu Leo?" Yuna berkata dengan pasti. Leo melepeskan pegangan tangannya, wajahnya mendongak dan menatap Yuna.


"Kau boleh membunuh ku jika aku melanggar janji ku," jawab Leo dengan kesungguhan hati.


"Dengan senang hati. Aku pasti akan melakukan itu. Jika kau mati, aku akan mewarisi semua harta mu dan aku akan mencari laki-laki yang lebih tampan dari mu, yang lebih mencintai ku dari pada kamu, yang lebih kaya dari pada kamu. Aku...," Yuna kembali menahan isaknya, dan Leo langsung berdiri memeluknya.


"Aku tidak akan membiarkan mu mencari laki-laki yang lebih tampan dari ku, tidak akan membiarkan mu mencari laki-laki yang lebih mencintai mu dari pada aku, tidak akan membiarkan mu mencari laki-laki yang lebih kaya dari pada aku. Yuna... kau hanya milik ku," Leo mendekapnya dengan erat. Nafasnya menjadi terasa lega, hatinya mulai hangat dan kembali indah. "Biarkan Tuhan langsung mencabut nyawa ku saat itu juga, jika aku melanggar janji ku. Sayang, aku sungguh mencintaimu."


Yuna tahu, Leo tulus. Dia tidak pernah melihat ekspresi Leo yang teramat sedih. Leo adalah laki-laki dan dia menangis untuknya, Yuna tahu itu tulus. Wajah Leo sangat halus, Yuna tahu jika dia pasti tidak tidur dengan baik, dan sebenarnya Leo tidak tidur sama sekali. Lingkaran hitam dimatanya terlihat jelas di wajahnya yang bersih.


"Ini dari Papa... dan ini dari Vano."


"Bagus, aku senang mereka mengjajar mu. Itu masih belum seberapa, kau masih beruntung karena Kak er ada di luar negri, wajah tampan mu pasti akan hancur jika dia turun tangan."


"Kau sungguh tega sayang, aku kesakitan dan kau membela mereka."


"Kau pantas mendapatkannya."


"Iya...," jawab Leo mengakui.


"Sini... aku akan mengompres wajah mu."


Leo langsung mengangguk dengan patuh dan sangat bahagia. Mereka kemudian duduk di sofa. Yuna dengan hati-hati mengompres wajah Leo. Mata Leo terus menerus memperhatikannya. Dia sangat rindu Yuna, dia benar-benar hampir gila karena setiap helaian nafas adalah rindu untuk istrinya.


"Apa kau tidak tidur dengan benar? Sekarang kau lebih mirip panda," Yuna mengomentari lingkaran hitam di bawah matanya. Leo mengangguk seperti anak kecil.


"Sayang... aku merindukan mu," Leo berucap dengan tulus. Dia memegang tangan Yuna yang berada di wajahnya, ia mengambil kompres yang Yuna pegang, kemudian menaruhnya di atas meja. Dia menatap Yuna dengan perasaan rindu yang mendalam, dengan perasaan cinta yang membuncah.


Dia menarik Yuna dalam pelukannya dan dengan anggun, dia menunduk untuk mencium bibir Yuna. Kali ini tidak ada penolakan, rindu itu menderu dalam dada keduanya, rindu itu membuat pertemuan menjadi sangat berharga dan indah. Mereka saling membalas ciuman.


Kemudian, Leo menggendong Yuna dan membawanya ke ranjang. Dia dengan lembut menghujani istrinya ciuman penuh cinta dan perasaan yang teramat merindu.


Ciuman yang lembut membawa kehangatan bagi keduanya. Di bawah rasa rindu yang menggebu Leo berhasil menanggalkan apa yang ada di tubuh Yuna dan juga apa yang ada pada dirinya. Leo memiliki bentuk tubuh yang indah, itu membuat mata, otak dan hati Yuna meleleh secara bersamaan, dia merasakan debaran dahsyat pada jantungnya dan langsung mati kutu.


Leo kembali menghujaninya dengan ciuman, namun kali ini dengan nafas yang terdengar seksi dan memburu. Tangannya pelan namun pasti menjelajahi setiap lekuk yang tidak pernah dia ketahui.


"Sayang...," Yuna memeluknya dan beberapa detik kemudian dia mendorong Leo dengan kuat. Yuna segera berdiri dan menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Ini hukuman mu." ucapnya dan langsung berlari ke kamar mandi. Leo menatapnya dan langsung membatu.


"Ini hukumannya? Siaaaallll....," dia meninju kasur dengan sangat kesal.


"Kau sangat pandai mencari hukuman untuk ku, Yuna...," dia berteriak dengan kencang, membuat Yuna tertawa di dalam kamar mandi.


****


Catatan GaJe penulis.


Mereka udah baikan lhoo. Apakah pembaca terpuaskan...😊 LIKE NYA MANA?? 😉 KOMENT jangan lupa😘


"Maafkan atas hukuman yang tak berperasaan😋" sabar ya bang😂