Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab129_Jangan melihat ku


'Ck... aku sudah menebaknya, dia pasti akan diam.'


"Umm... sayang, apa kau ingin makan sesuatu? Kita mampir makan dulu, okey."


Tak ada jawaban. Leo diam dan segera melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah.


Dia keluar mobil dan membukakan pintu untuk Yuna. Namun, dia diam dengan ekspresi dingin.


"Sayang...," Yuna menggandeng lengannya untuk masuk kedalam. Mereka memberi salam pada Nenek dan Ayah yang berada di ruang keluarga, kemudian segera masuk ke dalam kamar. Leo langsung menghilang di balik kamar mandi setelah mereka masuk ke kamar.


Yuna berdiri di depan pintu kamar mandi. "Sayang... kenapa kamu diam?" tak ada jawaban. Jika Leo sudah dalam mode diam, itu sungguh membuat Yuna pusing setengah mati. Dia tetap berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu Leo keluar.


Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka pelan dan Leo keluar dengan menggunakan jubah handuk. Dia memperlihatkan wajah terkejut ketika melihat Yuna berdiri di depan kamar mandi, padahal sesungguhnya dia tahu jika Yuna menunggunya di depan pintu.


"Ohh, ada Tuan Putri," ucapnya dengan nada terkejut. "Dimana pangeran mu? Apa dia tidak lagi mengenggam tangan mu? Hah... Tuan Putri pasti sangat merindukannya bukan?" lanjutnya. Yuna mengerucutkan bibirnya namun tidak bisa menjawab apa-apa. "Permisi," tangan Leo mengulur dan menyingkirkan Yuna kesamping. Tak mau kalah... Yuna segera berdiri lagi di depannya.


"Hei, itu hanya kisah masa lalu, kau tak perlu membesar-besarkannya!"


"Bukankah impian mu adalah menikah dengannya? Haahaa aku pasti menjadi orang yang menghancurkan impian mu. Aku minta maaf," tangan Leo mengulur lagi dan menyingkirkan Yuna kesamping. Dia kemudian mengganti bajunya dan merebahkan dirinya di kasur, ia langsung memejamkan matanya.


Yuna menepuk keningnya berkali-kali. Dia berpikir keras untuk membujuk Tuan pecemburu ini. Yuna naik keatas kasur dan menghadap ke arahnya.


"Sayang, itu hanya pikiran seorang anak kecil. Kenapa kau marah dengan itu?"


"Aku tidak marah, aku hanya merasa, aku telah menghancurkan satu mimpi mu," Leo menjawab dengan masih terpejam, suaranya lebih dingin dari es di kutub. Yuna ingin menangis darah mendengar ucapannya. 'Menghancurkan satu mimpi?'


"Sayang, bukan seperti itu. Itu hanya masa anak-anak ku, okey. Impian ku saat ini adalah bersama mu, okey." Yuna masih mencoba merayunya. Namun, Leo masih saja memejamkan matanya.


"Itu karena aku terlanjur menikahi mu. Aku bahkan tidak mampu membuatkan mu sebuah istana seperti yang kau impikan bersama pangeran mu. Berarti aku telah mengambil dua impian mu, aku minta maaf."


"Leo... tolong jangan kekanak-kanakan. Itu hanya lucu-lucuan masa kecil dan kau langsung marah, itu hanya keisengan masa kecil dan kau begitu mempercayainya, kau sangat menyebalkan kau tahu. Berapa detik kita bertahan untuk tidak saling bertengkar?" Yuna menggerak-gerakkan lengan Leo. Namun, tak ada jawaban. Dia masih saja diam ketika Yuna menunggunya selama sepuluh menit. Dia menarik nafasnya panjang, ini cara terakhir untuk membujuk Tuan pecemburu ini, jika ini gagal maka dia tidak punya cara lain lagi


"Aku ingin bercerita pada mu, tapi jika kau tidak perduli, tidak apa-apa. Umm... kemarin aku mengupas mangga dan jari ku terkena pisau," Berhasil.... Leo langsung membuka matanya.


"Berikan tangan mu," pintanya. Yuna langsung memberikan tangannya dengan patuh dan dengan ekspresi sedih. Leo memperhatikannya dan mengusapnya. 'Kenapa jari ini sampai terluka, kenapa dia kembali memegang pisau,'


"Kenapa kau ceroboh? Kau sudah berjanji untuk tidak ceroboh!" tanyanya dan mencium tangan Yuna penuh kasih.


"Karena aku merindukan mu," jawab Yuna. Leo segera memiringkan badannya dan memeluk Yuna.


"Kenapa kau memeluk ku? Bukankah kau kesal padaku?" Kini Yuna yang menjawab dengan dingin.


"Siapa yang bilang aku kesal pada mu?"


"Kau mendiamkan ku, itu artinya kau kesal pada ku."


Leo merenggangkan pelukannya, dia menatap Yuna dan kemudian memencet hidung dengan gemas.


"Apa kau tahu... aku sangat sedih jika kau mendiamkan ku, apapun alasannya," ucap Yuna. Leo mengusap pipinya dengan lembut.


"Maafkan aku sayang."


"Jangan ulangi."


"Okey," Leo menjawab dan mengangguk dengan patuh.


Kemudian, dia beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama, dia keluar dan langsung menggendong Yuna.


"Mandi... aku sudah menyiapkan air hangat," ucapnya. Dia membawa Yuna ke dalam kamar mandi. Leo kemudian kembali dan membiarkan Yuna membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian, Yuna keluar dan mengganti bajunya, ia merangkak naik keatas tempat tidur dan segera menarik selimut. Dia membelakangi Leo.


Leo segera menaruh buku yang dia baca. Dengan hati-hati, tangannya mengangkat kepala Yuna dan menaruh dibahunya, dia memeluknya.


"Sayang, aku lelah dan sangat mengantuk," Yuna langsung memberi garis pada Leo agar tidak macam-macam.


"Memangnya kenapa?" Leo menjawab dengan menggerakkan tangannya yang sudah menyusup kedalam baju Yuna.


"Umm, tolong singkirkan tangan mu."


"Tidak, jika kau mengantuk, tidur saja," Leo menjawab dengan keras kepala.


"Tapi tangan mu...,"


"Tidak akan macam-macam, hanya ingin menyentuhnya saja, tidurlah. Tapi... kau harus ingat, kau masih punya hutang hadiah pada ku."


"Umm... sayang, besok kita harus bangun pagi dan kembali ke Ibu kota, okey."


"Iya, okey," Leo akhirnya menarik tangannya dan memeluk Yuna. Tapi, kemudian dia meraih tangan Yuna dan menggenggamnya. Yuna menyadari ada sesuatu dalam genggaman tangannya.


Pelan, Leo melepas cincin yang melingkar di jari manis Yuna dan menggantinya dengan yang baru. Yuna ingin segera membalik badannya namun Leo menahannya.


"Jangan melihat ku," Leo berbisik. Dia mendekap Yuna dengan hangat. "Sayang... aku mencintai mu, sangat mencintai mu. Aku tidak tahu berapa kali aku mengucapkan ini tapi tetap saja, aku ingin terus mengucapkannya. Ini bukan hanya dari bibir ku, ini bukan hanya sebatas kata, ini bukan hanya sebuah ungkapan, ini adalah semua cinta yang ada pada diri ku. Aku tidak pandai merangkai kata cinta, aku tidak pandai bersikap romantis, namun... aku adalah diriku yang mencintai mu," Leo berkata dengan tulus dari hatinya yang terdalam. Dia mengecup rambut Yuna penuh kasih. Yuna mengenggam tanganya erat. "Sayang... apa kau tahu, ketika kau pergi dariku, aku tidak mampu melihat dengan benar, semua yang ada dalam pandanganku adalah kamu. Aku bahkan tidak bisa bernafas dengan teratur, aku memikirkan mu setiap helaian nafas ku. Aku ingin mengukum diri ku, aku sungguh menyesal dengan semua luka yang ku berikan pada mu. Aku sungguh tidak ada niat untuk menyakiti mu. Aku tidak tahu... mata sembab malam itu karena kau menemukan chat dalam ponsel ku, aku tidak tahu... tangis mu ketika kita nonton adalah karena aku yang berbisik dengannya, aku tidak tahu... luka dalam hati mu ketika dia datang kerumah. Aku sungguh payah dan bodoh bukan?"


Leo mendekapnya. Jemari mereka saling memegang erat. "Sayang... sekali lagi, aku minta maaf pada mu," suara Leo berubah menjadi berat dan serak. Dia menunduk dan menyandarkan kepalanya di punggung Yuna. "Sayang... ku mohon jangan tinggalkan aku, ku mohon jangan pergi lagi dari ku, ku mohon teruslah bersama ku. Aku sungguh mencintai mu Yuna."


Yuna melepas genggaman tangannya. Dia menyeka air matanya yang menetes. Kemudian, dia membalik badan dan menatap Leo, ia memegang pipi Leo dengan kedua telapak tangannya, ia menyeka air mata Leo dengan jarinya.


"Sayang... ada seseorang yang bilang pada ku bahwa Tuhan mengirim mu untuk membuat serangkaian peristiwa dalam hidup ku. Aku bersyukur, Tuhan mengirim mu untuk ku dan bukan orang lain. Jika aku terluka untuk mendapatkan cinta mu, itu berarti Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang indah dalam luka itu bukan? Jika aku melewati banyak kekecewaan dalam mendapatkan cinta mu, itu berati... Tuhan telah menyiapkan sebuah kebahagiaan di belakangnya bukan? Aku telah melewati setiap luka itu, aku telah melewati setiap kekecewaan itu. Dan kini... bukankah saatnya aku bahagia? Bahagia bersama mu. Kamu... seseorang yang telah Tuhan hadirkan dalam hidup ku. Sayang... aku juga mencintai mu," ucap Yuna sedikit terbata. Dia tersenyum dengan setitik air mata kebahagiaan, begitu juga dengan Leo. Dia langsung membungkus Yuna dalam peluknya, hatinya dibajiri rasa syukur dalam kebahagiaan.


"Sayang...," suara Leo memanggil Yuna dengan sangat seksi, suaranya mengandung godaan yang mematikan. Dia merenggangkan pelukannya dan mencium bibir Yuna, menciumnya dengan lembut namun dalam, ia membawa Yuna terbang melihat keindahan cinta, membawa perasaannya dalam dunia yang penuh dengan warna tentang cinta. Tangan hangatnya menjelajahi setiap lekuk keindahan istrinya.


Yuna merasakan suhu tubuhnya meningkat. Dia merasakan degupan yang dahsyat pada jantungnya dan dia bahkan merasa kesulitan untuk bernafas. Ini lebih menderu dari yang kemarin. Yuna termanjakan dan meleleh oleh kelembutan sentuhan Leo. Hingga... mereka menjadi satu dan akhirnya berubah menjadi bintik-bintik embun yang sejuk.


***@***