
Di rumah besar keluarga Nugraha.
William baru saja keluar kamar mandi setelah menyikat giginya berkali-kali dan berkumur dengan obat kumur untuk menghilangkan bau tidak sedap dari mulutnya. Kemudian, dia kembali bergabung bersama keluarga besar Nugraha.
Mereka semua tengah menantikan detik-detik pergantian tahun.
Lima
Empat
Tiga
Dua
"Happy new year," seru semuanya. Setelah selesai acara itu, William segera pamit untuk kembali.
"Terima kasih sudah mengundang ku, Leo," ucap William setelah pamit pada semuanya.
"Jika ada waktu, seringlah berkunjung kesini. Aku masih harus berada di sini beberapa minggu," jawab Leo. William tersenyum dan mengangguk.
Setelah mengantar William, Leo kembali ke rumah. Semua sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Leo masuk ke dalam kamar dan tidak menemukan Yuna ada disana.
"Sayang, kau di dalam?" tanyanya memastikan seperti biasanya.
"Iya," sahut Yuna dari dalam. Kemudian Leo duduk di sofa dan menyalakan televisi. Hampir semua stasiun televisi menyiarkan acara malam puncak pergantian tahun. Leo mengecek ponselnya. Ada pesan masuk dari Asisten Dion.
"Selamat tahun baru Boss," pesan Dion pada Leo. Dan dibawahnya ada banyak sekali do'a yang ia panjatkan untuk Bossnya.
"Aamiin. Terima kasih," balas Leo. Disana ... Asisten Dion melompat dari tempat duduknya mendapat balasan dari Sang Boss. Ini sangat istimewa, lebih istimewa dari pada saat pacarnya membalas pesan. Kemudian, Dion segera membalas lagi tapi dia harus kecewa karena ternyata pesannya hanya centang satu. Leo sudah menonaktifkan ponselnya.
Yuna mengikat rambutnya keatas model cepol. Dia memakai baju tidur panjang kali kali. Itu untuk menghindari gairah Tuan suami saat menyentuhnya. Yuna melangkah dan duduk di samping Leo.
Tangan Leo langsung memeluknya, bibirnya dengan cepat mencium pipi Yuna. Wangi.
"Aku jadi ingat, malam pergantian tahun saat kau datang bak pangeran berkuda yang menyelamatkan sang putri dari kejaran," ucap Yuna. Leo mengangguk.
"Sayangsekali kau tidak mengenaliku," jawab Leo dengan nada kecewa.
"Hahaa kaciiiaaannn," ujar Yuna. Kemudian dia dibuat takjub dengan pemandangan api yang disiarkan ulang oleh stasiun televisi. "Waaah indahnya," ucap Yuna. "Sayang apa kau pernah kesitu?" tanya Yuna. Leo diam, tidak memberi jawaban. Dia tidak juga mengangguk. Dia diam seperti patung. Dalam hati dan pikirannya ia bingung harus menjawab apa. Pasti akan ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan mengikutinya. Jika dia jujur, maka Yuna pasti akan cemburu lalu ngambek. Karena tempat itu adalah tempat yang dulu biasanya ia datangi dengan Kiara untuk menghabiskan malam pergantian tahun.
"Sayang," panggil Yuna.
"Ya."
"Apa nama tempat itu?" tanya Yuna.
"Tidak tahu," jawab Leo singkat. Hmm pada akhirnya dia berbohong. Yuna mengerutkan alisnya. Dia menoleh ke arah Leo. Mustahil jika Leo tidak mengetahuinya, batin Yuna.
"Kau tidak pernah kesana?" tanya Yuna lagi yang langsung dijawab anggukan oleh Leo. Yuna semakin mengerutkan alisnya.
"Bagian dunia mana lagi yang tidak kau ketahui?" kejar Yuna. Tiba-tiba ia menjadi kesal. Hatinya berkecamuk. Meskipun jika benar Leo tidak pernah datang kesana, tapi Yuna tidak yakin jika Leo tidak mengetahui nama lokasi itu.
"Sudah dini hari, ayo tidur," ajak Leo.
"Bagian dunia mana lagi yang tidak kau ketahui?" Yuna mengulang pertanyaannya. "Kau menjelajah dunia dengan mata dan pemahaman mu. Kau menjelajah dunia dengan buku," ucap Yuna. Dia menyingkirkan tangan Leo yang berada di pinggangnya. Leo memiliki firasat buruk dengan ini.
"Aku menjadi tahu, tempat itu pasti menyimpan kenangan terindah mu dengan dia. Hahaaa ... kenapa? Kenapa tidak mau mengakuinya? Takut baper? Takut teringat dengan dia lagi?" Yuna dengan kesal menatap Leo.
"Hei, bukan seperti itu," jawab Leo. Dia mengulurkan tangannya lagi. Tapi Yuna segera berdiri dari duduknya. Leo mengambil nafasnya dalam. Benarkan, dia ketahuan berbohong dan Nyonya marah.
"Hmmm pantas saja kau menontonnya, ternyata sedang bernostalgia. Maaf mengganggumu," ucap Yuna dengan kesal dan sakit dalam hatinya.
"Itu berita acak," jawab Leo. "Aku tidak sengaja menontonnya."
Yuna berjalan meninggalkannya dan langsung naik ke atas ranjang nya. Dia memeluk guling dan memejamkan matanya.
"Ok, maaf aku berbohong," Leo ikut naik ke atas kasur. Dia duduk di atas ranjang di depan Yuna. Yuna langsung mengubah posisinya membelakangi Leo. "Aku selalu bingung saat kau bertanya sesuatu yang menyangkut tentang Kiara. Aku jujur, kau cemburu lalu ngambek. Aku tidak jujur, sama salahnya dan kau marah padaku. Kiara sudah jauh dari kita, dia sudah---"
"Wah, wah, wah ... sepertinya kau sangat suka menyebut namanya," sahut Yuna. Dia membuka matanya.
"Suka apanya?!" jawab Leo mulai kesal juga pada Yuna. Dia menjadi serba salah saat ini.
"Suka menyebut namanya," jawab Yuna.
Leo menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Mencoba mencari cara agar Yuna tidak marah. Kemudian, dia ingat jika saat ini Yuna tengah haid di hari pertama, jadi memang emosinya bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat galak.
"Menurut mu, aku harus bagaimana?" tanya Leo pelan. Dia adalah laki-laki yang maha mengalah dengan istrinya. Dia bukan suami takut istri tetapi suami yang maha ingin menjaga hati istrinya. Dia tidak ingin menyinggung hati Yuna. Dia hanya ingin istrinya selalu bahagia.
"Bohongi aku terus saja, Leo. Aku tidak keberatan," jawab Yuna kesal. Jawaban yang berkebalikan dengan hatinya. "Lakukanlah."
"Aku tidak bermaksud untuk membohongi mu," ucap Leo. "Sudah ku jelaskan tadi."
Yuna bangun dari tidurnya dan melangkah menuju pintu.
"Mau kemana?" tanya Leo. Dia langsung menghentikan Yuna. Dia segera memeluk Yuna dari belakang.
"Lepaskan, aku mau tidur di kamar Baby Arai. Aku tidak mau disini."
"Kenapa begitu? Tidak boleh."
"Kau menyebalkan. Aku benci."
"Ok, aku salah. Lepaskan," Yuna mencoba melepaskan tangan Leo yang melingkar di pinggangnya. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Leo. Semakin berbicara semakin dia kesal. Semakin banyak penjelasan dan mendenger Leo menyebut nama seseorang itu membuat emosinya semakin bertambah.
Leo menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya dengan cepat.
"Kau tahu jika aku hanya mencintai mu, Yuna. Itu hanya masa lalu. Kurang bukti apa jika dihatiku hanya ada kamu."
"Pembohong."
"Apa kau ingin membelah dadaku lalu memeriksanya?" Leo mencoba bergurau. Namun tidak ada tanggapan dari Yuna. Mereka diam beberapa saat.
"Lepaskan," ucap Yuna rendah.
"Tidak akan."
"Daripada kita berdebat dan aku semakin kesal lebih baik kita diam dulu," ucap Yuna.
"Ya sudah tidak perlu berdebat," jawab Leo.
"Kau membuatku kesal, Leo."
"Kau membuatku tergila-gila, Yuna."
Yuna diam tidak menjawab lagi.
"Ayo kembali," ajak Leo.
"Biarkan aku tidur di kamar Baby Arai."
"Tidak akan. Kau mau ke kasur atau aku akan menggendong mu."
"Kau baru saja sembuh," sahut Yuna segera. "Jangan ceroboh untuk menggendong ku."
"Jadi aku harus bagaimana untuk bisa membawa mu keatas tempat tidur?"
Yuna menghela nafasnya dan menyetujui untuk kembali ke atas ranjang.
"Jangan marah lagi," ucap Leo. Dia mematikan lampu utama kemudian memeluk Yuna. Yuna diam tidak menjawabnya. Dia tidak ingin berdebat lagi. Dia mengambil nafasnya dengan dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Ia melakukan itu berkali-kali. Mungkin benar, ini hanya karena dia tengah pms jadi rasanya begitu mudah meledak emosinya.
"Mandi," ucap Yuna. Leo mengangguk patuh lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama dia keluar dan mengganti bajunya. Kemudian, kembali merebahkan dirinya di samping Yuna. Menaikkan selimut dan memeluk Yuna hangat.
_____________________
Di sana. Di negara I. Di sebuah pulau terpencil. Jauh dari hingar bingar perkotaan yang tengah berpesta kembang api.
"Kau sangat tega terhadap ku, Lee. Kau lupa pada semua janji yang telah kita buat. Aku hampir gila disini karena kesepian. Mereka semua primitif, mereka tidak selevel dengan ku. Aku muak."
"Aku menyesal karena melepaskanmu. Seharusnya, aku tetap bersamamu apapun yang terjadi saat itu," Kiara berbicara sendiri pada malam yang selalu menyakitkan untuknya. Dia pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya tapi kemudian dia berpikir ulang untuk melakukan itu. Dia tidak ingin Yuna menang karena kematiannya. Jika dia masih hidup, paling tidak dia masih bisa berjuang untuk bisa pergi dari pulau ini. Atau jika kesempatan itu tidak ada, dia masih bisa berdoa untuk agar Yuna lebih dulu mati darinya lalu Leo kembali ke dalam pelukannya, selamanya.
"Hahaaa ... ambillah wanita itu dari dunia ini. Tenggelamkan dia kedasar laut, dia pantas menjadi santapan ikan, hahaaaa," dia menyumpahi Yuna dengan semaunya.
______________________
Pagi harinya. Di negara A.
"Hmmm, segarnya yang baru selesai mandi," ucap Yuna. Pagi ini, dia sendiri yang memandikan anaknya. Baby Arai dengan riang berceloteh dan langsung tengkurap saat mata bulatnya melihat Leo masuk dan mendekat ke arahnya.
"Oooo add uuu," Baby Arai sangat bersemangat.
"Hai, pakai baju dulu," ujar Yuna. Leo langsung duduk dan memangku anaknya. Sementara Yuna memainkan baju.
"Dia sudah tidak mau diam," ucap Yuna. "Mainan juga cepat bosan."
"Aku aktif dan pintar Momm," jawab Leo membuat suaranya menjadi kecil. Leo tersenyum menatap Yuna. Yuna tidak ngambek dan marah padanya lagi.
"Tarra, selesai. Si ganteng semakin keren," seru Yuna setelah selesai memakaikan baju Baby Arai dan menyisir rambutnya. Dia mencium anaknya yang masih berada di pangkuan Leo.
"Sayang beri aku ciuman juga," Leo menyodorkan pipinya.
"Kau dihukum," jawab Yuna tidak mau mencium Leo.
"Di hukum kenapa?" Leo bertanya dengan sedih.
"Di hukum karena kau berbohong," jawab Yuna.
"Aku sudah minta maaf dan menyesal."
"Tetap saja, aku tidak mau menciummu."
Kemudian asisten rumah tangga menghampiri mereka berdua. Memberi tahu jika sarapan sudah siap.
_______________________
Catatan Penulis π₯°π
Sun jempol ya kawan tersayang π₯° Like komen Vote. Yg punya poin banyaaakkk boleh doong di vote vote Abang Leo, Vano n Williamnya. Tengkyu ππ
Luv luv.
Bersambung ....