
Zian keluar dari kamarnya beberapa menit kemudian. Ia hanya memakai celana pendek dan kaos oblong berwarna putih membuat ia terlihat makin tampan. Ia bergegas menuju ke ruang makan untuk menikmati makan siangnya. Hidangan sudah tersedia di meja makan. Ada mujair goreng saos pedas, sayur capcay, dan perkedel jagung yang gurih. Bi Ratih sudah hafal dengan semua makanan kesukaannya.
Karena itu Zian jarang sekali makan di luar walaupun memiliki banyak uang. Ia lebih memilih makanan rumahan daripada harus makan di restoran mewah. Kesederhanaan itulah yang membuat bi Ratih senang dengannya. Ia juga memiliki sifat yang baik. Ia selalu menghormati orang yang lebih tua darinya dan tidak pernah memandang rendah siapa saja yang bekerja di keluarga mereka.
Kekurangan dalam hidup Zian bukanlah tentang harta namun kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya yang jarang ia dapatkan karena kesibukan mereka.
Sejak kecil di saat ia protes dan merengek untuk ikut dengan mereka, selalu saja ditolak dengan alasan semua yang mereka lakukan semata-mata untuk dirinya kelak.
Dan akhirnya sejak berumur 3 tahun ia sudah sering ditinggalkan di rumah hanya ditemani bibi Ratih dan pembantu lainnya. Hal itulah yang membuat bibi Ratih prihatin dengannya. Hingga menganggapnya seperti anak sendiri.
Bahkan di saat ulang tahunnya, hanya kado mewah yang selalu dikirimkan orang tuanya. Padahal setiap anak pasti ingin selalu dekat dengan orang tua mereka. Sayang semua itu tak berlaku di keluarga itu.
Tak banyak yang tahu, Zian merupakan pewaris tunggal dari keluarga terkaya di kota itu. Kekayaan keluarganya bahkan berlipat-lipat di atas kekayaan keluarganya Nayla. Namun ia tidak pernah menyombongkan harta keluarganya seperti halnya Nayla.
Kekayaan itu malah membuatnya kesepian di dalam istana mewah itu.
Beberapa bulan yang lalu, sebelum ia bertemu dengan Tiara sifatnya sangat pemarah. Penyebabnya adalah orang tuanya sendiri yang waktu itu bertengkar hebat di depan matanya hingga tercetus kata berpisah.
Namun karena campur tangan neneknya yang saat ini menetap di Jerman mengancam mereka untuk memboyong Zian ikut dengannya , maka rujuk lah kembali keduanya.
Mereka tahu kalau neneknya sudah berkata seperti itu, jangan harap mereka bisa bertemu lagi dengan anak mereka satu-satunya.
Kedua orangtuanya adalah pebisnis yang handal. Bukan hanya di kota itu, bisnis mereka bahkan merambah ke kota lain hingga ke mancanegara. Mulai dari bisnis otomotif, properti, restoran dan masih banyak lagi.
Keseharian Zian pun berbeda dengan anak-anak muda lainnya di kota itu yang suka nongkrong di cafe-cafe. Dia lebih suka menyendiri menghabiskan waktunya di rumah. Teman satu-satunya yang sering datang ke rumah pun cuma Rio.
\*\*\*\*\*
Selesai makan siang, Zian masuk kembali ke dalam kamarnya. Memutar musik kesukaannya membuat pikirannya menerawang jauh. Mengingat sosok Tiara.
Ah, gadis itu begitu berbeda dari yang lain. Sayang, gue terlambat melihat keunikannya itu. Ilham dengan nekat mendekatinya walaupun sudah memiliki Nayla tunangannya.
Dan gue terpaksa harus merelakan dia dekat dengan temen gue sendiri. Nggak apa-apa selama itu bisa bahagiain dia. Tapi nyatanya sekarang ?
Tiara lebih sering ngeluarin air mata.
apa yang harus gue lakukan ?
Apa gue rebut aja dari Ilham ?
Heemmm
\*\*\*\*\*