Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 64. Toko Roti


Pukul 09.00 WIT


Tiara, Ika dan kak Nia bersiap menuju ke kantor Pelni untuk membeli tiket kapal laut. Ketiganya naik angkutan umum seperti biasa. Karena jarak dari rumah lumayan jauh, Tiara bersandar di jok mobil sambil menikmati pemandangan kota Sorong dari sisi jendela.


Kejadian kemarin melintas kembali di benaknya. Bahagia rasanya diperhatikan oleh kak Zian seperti itu.


Sebelum berpisah, kak Zian memakaikan gelang cantik di tangannya.


" Apa ini kak?" tanya Tiara sambil menatap sekilas wajah tampan itu.


" Pakai aja, gelang ini nggak boleh dilepas tanpa izin dari gue!" jawab Zian dengan suara lembut namun ada ketegasan di sana.


Kedua tangan kekarnya sibuk memakaikan gelang di tangan mungil itu.


Tiara mengangguk mengerti. Ia memberanikan diri menatap manik mata cowok di depannya seolah sedang memastikan sesuatu yang belum diyakininya.


Duh . . . jangan bilang aku jadi nyaman dengan perhatiannya. Batin Tiara sambil mengusap wajahnya seraya membetulkan posisi duduknya.


" Ayo lagi mikirin apa tuh?" goda kak Nia melihat tingkahnya.


" Hehehe . . . nggak kak ". elak Tiara terkekeh.


" Dari tadi kakak lihat melamun aja pake senyum - senyum sendiri lagi".


" Oh, itu . . Ara cuma ingat kejadian kemarin waktu di warung bakso. Semuanya jadi gugup gitu, norak plus lucu banget ".


" Iya kak, pentolan sampe menggelinding gitu, saos tomat jadi tumpah ah, pokoknya memalukan". sambung Ika dengan mimik lucunya.


" Hahaha. . kalian aja yang lebay. Padahal Erwin santai aja di depan sambil menikmati baksonya".


" Oh iya Ra' kemarin Erwin nanya-nanya banyak tentang Ara loh". bisik kak Nia.


Kebetulan Tiara duduk bersebelahan dengannya. Kak Nia tahu Ika juga naksir berat sama Erwin. Tapi dari gerak-gerik cowok itu kemarin, sepertinya ia menyukai Tiara bukannya Ika.


" Oh ya?"


" Katanya hari ini dia juga rencananya mau ke tempat yang sama dengan kita".


Kak Nia hanya mengangkat bahunya.


Mobil yang ditumpangi mereka pun berhenti di tempat tujuan.


Tiara celingukan mencari sosok Erwin saat mereka sudah masuk ke dalam ruangan pembelian tiket. Namun sosok yang dicari tak ada di antara beberapa orang yang sudah berada di tempat itu. Iapun bernafas lega.


Beberapa menit kemudian


Ting .


Pesan masuk di handphonenya.


" Tiara, boleh nggak datang ke toko Aneka? ada yang mau gue omongin sama lo. Penting banget, please !" (Erwin)


Hah? kok dia tahu nomor handphone aku? pasti kerjaan kak Nia nih.


" Please Tiara ! ini terakhir kalinya gue bisa ngomong sama lo ".


pesan masuk lagi.


Duh ! gimana dong ?


Di depan sana Kak Nia masih berurusan dengan petugas loket.


Ah, nggak apa-apa. Paling bentar aja aku udah balik lagi ke sini. Pikirnya.


" Oke!" balas Tiara.


" Dek, nanti kalau ditanyain kak Nia bilang aja aku lagi ketemu teman ya. Deket dari sini tempatnya. Nggak lama kok, ya". pamitnya ke Ika yang hanya dibalas dengan anggukan tak peduli.


Tiara bergegas menuju ke tempat yang dimaksud. Tak lama sampailah dia di depan sebuah toko yang menjual roti dan aneka kue. Di samping toko itu disediakan tempat duduk dan meja untuk pengunjung.


Tempat itu agak tertutup dengan tanaman hias yang menjalar di bagian depan dinding kacanya. Sehingga diperlukan ketelitian untuk bisa melihat keadaan di dalamnya.


\*\*\*\*\*