Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 120_Dua Tuan muda 2


"Siapa nama mu?" Vano bertanya dengan terus menatap gadis kecil di depannya yang terus menunduk.


"Neva," gadis kecil itu menyebutkan namanya dengan pelan.


"Lengkap."


"Neva D Nugraha."


Vano tertawa dalam hati. Sialan... umpatnya. Beberapa menit yang lalu, kakaknya yang menghajar wajahnya, sekarang adiknya menabrak mobilnya. Apakah hari ini keluarga Nugraha sedang ingin membuat masalah dengannya?


"Tuan muda Vano... sekali lagi, saya mohon maaf. Saya akan mengganti biaya perbaikannya, atau jika Tuan muda ingin saya mengganti mobil anda, saya akan menggantinya," Neva berkata dengan santun dan masih menunduk.


"Kau sepertinya masih anak-anak. Apa kau masih kuliah?" tanya Vano dan di jawab anggukan oleh Neva. "Kau masih kuliah dan kau berniat mengganti mobil ku? Apa kau tahu berapa harga mobil ku?" Vano bertanya seolah dia tidak tahu siapa Neva. Tentu Neva bisa mengganti mobil Vano.


Neva sedikit mengangkat wajahnya dan melirik Vano sekilas. Ia memikirkan harga mobilnya dan kemudian menghitung semua tabungannya. Mobil Vano yang dia tabrak adalah mobil sport yang harganya akan menguras hampir semua tabungannya, tapi meskipun begitu, dia harus tetap tanggung jawab. Tapi, dia berfikir ulang... jika dia langsung menyetujui saat ini juga, maka akan terlihat sombong.


"Aku... mungkin tidak punya uang untuk mampu menggantinya tapi Kakak ku pasti mampu membelinya," jawab Neva. Dia menyodorkan Kakaknya. Biarlah sang Kakak yang akan maju menyombongkan dirinya.


"Kau punya Kakak?" tanya Vano masih seolah tidak tahu siapa Neva. Neva mengangguk. "Panggil dia kemari."


Neva langsung mengangkat wajahnya dan menatap Vano. Dia tidak berfikir bahwa Tuan muda ini akan langsung meminta untuk memanggil Kakaknya. Neva sedang ngambek saat ini, dia sedang marah sama Kakaknya.


"Mohon maaf Tuan muda Vano. Bukan bermaksud menolak permintaan Tuan muda, tapi... Kakak ku orang yang sangat sibuk, dia tidak punya banyak waktu dan saat ini dia sedang berada di luar negri," Neva berbohong dengan wajah yang meyakinkan. Vano ingin tertawa karena kobohongan Neva. Keluar negri? Hah, mereka baru saja bertemu.


"Ini kartu nama saya dan ini kartu debet saya. Tuan muda Vano boleh memegangnya terlebih dahulu sebelum Kakak ku bisa menemui mu," Neva dengan sopan menyodorkan kartu itu pada Vano.


"Simpan saja. Aku tidak butuh itu, aku hanya ingin bertemu Kakak mu."


Neva menatap Vano dengan frustasi. Menghubungi Kakaknya? Ya ampuun... itu bukan ide bagus. Namun, Tuan muda ini sangat susah untuk di bujuk. Neva kemudian mengambil Hp dari dalam tasnya dan menghubungi Kakaknya. Dengan berbisik, dia menceritakan secara singkat apa yang baru saja dia alami dan meminta sang Kakak segera datang ketempat dimana dia berada.


"Jadi apa dia akan datang?" Vano bertanya setelah Neva memutus panggilannya. Neva mengangguk pelan.


"Kakak ku sebentar lagi datang. Ternyata dia sudah kembali beberapa menit yang lalu, hahaaaa," Neva mencoba tersenyum dengan kebohongannya.


"Bagus," Vano menanggapi. "Bagaimana kau bisa mengenali ku?"


"Aku sering melihat Tuan muda di majalah-majah bisnis." jawab Neva. Vano mengangguk mempercayainya. Sebenarnya... Neva tidak suka majalah bisnis, itu hanya kebohongannya. Dia lebih sering melihat Vano ketika menghadiri undangan pesta yang diadakan para kongklomerat. Menghadiri pesta adalah tugasnya untuk mewakili, karena kedua Kakaknya tidak tertarik untuk itu. Neva sering memperhatikan Vano ketika Vano memberikan sambutan sebagai pembisnis muda yang sukses.


Sepuluh menit kemudian, Leo datang dengan wajah cemas. Dia akan mencincang adiknya karena berani menyetir sendiri dan berakhir dengan menabrak mobil seseorang. Leo belum tahu jika yang ditabrak Neva adalah mobil Vano.


Neva segera berdiri setelah melihat Kakaknya berjalan dari pintu masuk. Dia melambaikan tangannya. Leo segera menghampirinya dengan wajah marah namun cemas.


"Kau adik nakal..." Leo berdiri di depan Neva dan langsung menjewer telinganya.


"Auuu...," Neva memegangi telinganya. "Kak Lee, aku terluka dan kau malah menganiaya ku," Neva memprotesnya dengan sedih dan Leo segera melepaskan jewerannya.


"Kening mu...," Leo memperhatikan kening Neva.


"Tidak apa-apa, ini hanya luka ringan," jawab Neva.


Neva sedikit mengangkat tangannya untuk menunjuk seseorang yang duduk tepat di sebelah Leo. Leo segera menoleh mengikuti petujuk Neva dan dia langsung shock setelah melihat bahwa orang itu adalah Vano. Dia segera kembali berpaling dan menatap Neva.


"Aku bukan Kakak mu, urus saja urusan mu sendiri, gadis nakal," ucap Leo arogan dan bersiap melangkah pergi, namun Neva dengan cepat menahan tangannya.


"Kak Lee... Aku minta maaf," Neva berkata dengan sedih. "Tolong aku...,"


"Ganti saja mobilnya dan jangan berurusan dengan dia lagi. Sepertinya tabungan mu cukup untuk membeli ganti mobilnya."


"Kakak... kau adalah laki-laki paling tampan di dunia ini. Apa kau tega menghancurkan masa depan adik mu sendiri? Uang mu sangat banyak, kenapa kau begitu tega membiarkan adik mu menguras tabungannya."


"...," Leo kehabisan kata-kata. Neva ini... 11:12 dengan Yuna.


"Setelah ini, aku akan mentraktir Kak Lee, aku bahkan akan mencium pipi mu, atau bahkan aku akan mencium kaki mu jika perlu," Neva menarik lengan Leo. "Kak... ku mohon bantu aku. Setelah ini, aku akan menjadi adik yang manis untuk mu, aku janji."


Vano sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Dia menjadi sangat iri pada Leo, kehidupan Leo sangat menyenangkan di matanya. Leo punya Yuna dan punya adik yang lucu seperti Neva, pasti sangat menyenangkan. Neva menjadi tidak sependiam dan sesopan tadi ketika berhadapan dengan Leo, dia menjadi adik kecil yang manja. Itu sangat manis, dia menempatkan dirinya dengan baik.


Leo kemudian melangkah dan duduk di sebrang Vano. Neva memperhatikan mereka berdua, dan dia menyadari bahwa ujung bibir Kakaknya berdarah, kondisi itu juga terjadi di ujung bibir Vano. Namun Neva enggan untuk menerka-nerka.


"Keluarlah, tunggu aku di mobil," perintah Leo. Neva mengangguk dan membungkukkan sedikit badannya pada Vano.


"Sekali lagi, saya mohon maaf," ucapnya pada Vano dan kemudia segera keluar. Dia bernafas lega jika Kakaknya sudah turun tangan.


Leo mengeluarkan cek dan memberikannya pada Vano. Dia menaruh di atas meja tepat di depan Vano.


"Kau bebas menulis nominal yang kau inginkan Vano," ucap Leo.


"Apa kau pikir, aku begitu miskin hingga aku membutuhkan uang mu hanya untuk membeli sebuah mobil?"


Leo menganguk dengan senyum sinis dan bersiap untuk berdiri. "Karena kau sudah menolaknya jadi urusan mu dengan adikku selesai. Aku tetap akan meninggalkan cek itu untuk mu. Semoga kita tidak bertemu lagi."


"Dimana Yuna?" tanya Vano. Pertanyaan yang sedari tadi ingin dia tanyakan, Yuna sama sekali tidak bisa di hubungi.


"Kenapa aku harus memberi tahu mu?"


"Karena aku perduli padanya. Jika kau tidak mampu membuat Yuna bahagia, lepaskan dia."


"Aku tidak akan melepaskannya."


"Aku akan mengambilnya dari mu, Leo."


"Itu tidak akan mudah, sebaiknya kau menyerah saat ini juga."


"Tidak akan. Aku pasti mampu mengambilnya dari mu."


"Dia milik ku. Kau... tidak akan pernah bisa mengambilnya dari ku, dalam mimpi sekalipun."


"Hahaaaa... kau terlalu PeDe Leo. Kita lihat saja... aku bisa mengambilnya dari mu."