
Leo menyetir mobilnya sendiri, di luar masih gelap meskipun hujan sudah mulai reda.
"Sayang, kita mau kemana?" tanya Yuna.
"Kesuatu tempat"
"Kemana?"
"Nanti kau akan tahu."
"Okey, jadi sekarang kau jadi Tuan misterius nih?"
"Hmmm, sedikit," jawab Leo. Dia dengan kecepatan sedang mengendarai mobilnya melewati padatnya lalu lintas Ibu Kota. Kemudian, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah masuk jalan tol yang senggang.
Yuna diam dan hanya menerka. Kemana gerangan Tuan suami akan membawanya. Mobil mereka sudah meninggalkan Ibu Kota selama satu jam dan Leo masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat ini... mereka melewati pantai yang indah, pantai yang tenang, mobil itu lewat begitu saja. Lima belas menit kemudian, dia membelokkan mobilnya dan berhenti didepan sebuah gerbang yang menjulang tinggi.
"Sampai," ucap Leo dan menoleh kearah Yuna. Yuna menatapnya sebentar dan kemudian melihat ke depan. Melihat gerbang tinggi menjulang seperti gerbang pada dongeng-dongeng kerajaan.
"Ayo," Leo mengajaknya keluar dan menggandeng tangannya. Tanpa banyak tanya, Yuna mengikutinya. Gerbang itu perlahan terbuka dengan sendirinya tanpa memencet apapun. Sensornya mengenali wajah yang Leo program pada gerbang ini, hanya ada dua wajah yang bisa dengan mudah keluar masuk ke dalam. Selebihnya... akan menjalani pemeriksaan terlebih dahulu.
"Waww..." Yuna menggumam takjub. Mereka berjalan bergandengan. Leo membawanya berjalan menapaki jalan yang sedikit panjang dan kemudian berbelok, ia menghentikan langkahnya.
Yuna menarik tangannya dari genggaman tangan Leo dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Dia tidak tahu harus berucap apa. Sebuah kastil bak negeri dongeng berada di depannya. Kastil itu menjulang dan berada dipinggir pantai, bagian bawah kastil menggunakan kaca-kaca yang dipasang dengan teknik suspended, sehingga dari kejauhan kastil ini seperti melayang diatas awan.
"Ini milik mu," Leo berbisik di telinganya. Yuna langsung memutar pandangannya, dia menatap Leo merasa tak percaya. Leo mengangguk meyakinkannya, bahwa yang ada dihadapannya sekarang adalah miliknya.
Leo mengajaknya berjalan mendekat dan disambut lusinan pengurus kastil ini. Mereka memperkenalkan diri masing-masing. Kemudian, Leo menggandengnya menaiki tujuh tangga untuk menuju pintu utama.
Sama seperti gerbang tadi, pintu dengan patuh segera terbuka. Yuna menapakkan kaki kanannya untuk masuk untuk yang pertama kalinya dalam kastil ini. Ubin pertama yang dia injak adalah marmer hitam yang di lapisi dengan berlian yang dipotong sempurna membentuk bunga Lily putih. Melambangkan kesucian, ketulusan, kemurnian dan juga pengabdian.
"Ini hanya sebuah bangunan yang ku berikan padamu. Kau harus tahu bahwa cinta ku tidak bisa di ukur dengan hanya sebuah bangunan," Leo memeluknya dari belakang ketika mereka telah sampai dilantai paling atas dan menyaksikan laut dari tempat mereka berdiri.
"Rasanya... aku seperti seorang Cinderella. Gadis kampung yang beruntung mendapatkan hati pangeran yang punya segalanya. Sayang... terima kasih," ucap Yuna penuh haru. Leo mendekapnya dengan hangat. "Kapan kau membangun ini?" tanya Yuna.
"Setelah kembali dari rumah orang tua mu."
"Setelah kita bertengkar?"
"Bukan," jawab Leo. Yuna mengingat-ngingatnya.
"Kunjungan pertama kita ke rumah Ayah?" tanyanya. Leo mengangguk. Yuna melepaskan pelukan Leo dan memutar badannya, ia menghadap dan menatap mata Leo. "Apa saat itu kau sudah jatuh cinta pada ku?" tanyanya pelan. Bibir Leo berkerut, dia sedikit memicingkan matanya untuk berfikir sejenak.
"Aku tidak tahu..." jawabnya dan membalas pandangan Yuna padanya. "Aku hanya ingin membangunnya untuk mu," lanjutnya. Yuna langsung menghambur kedalam pelukannya. Dia tersenyum dengan sangat bahagia... 'Syal rajut warna putih itu adalah bukti jika saat itu kau mulai jatuh cinta pada ku, namun kau tidak menyadarinya.'
Malam harinya... mereka berkejaran dan tertawa di pinggir pantai. Kemudian, Leo kembali menggendong Yuna dipunggungnya. Dia bercerita bahwa siang itu dia melihat Yuna duduk bersama Vano dan bagaimana perasaannya waktu itu. Yuna menjelaskan padanya bahwa pertemuan itu karena ajakan Arnis.
"Kau menyakiti perasaan mu dengan pemikiran mu sendiri Tuan suami" Yuna menyandarkan dagunya dipundak Leo. "Kau juga menyakiti hati mu dengan pemikiran mu sendiri. Seharusnya kau bertanya pada ku, seharusnya kau marah saja padaku, seharusnya kau menegur ku. Agar aku tahu dimana letak kesalahpahaman kita. Jika kau diam, aku tidak akan pernah mengerti karena aku tidak bisa membaca apa yang tersimpan di hati mu," Yuna memeluknya.
"Jadi... kenapa kau berbohong? Jika aku tidak melihat mu secara langsung apa akhirnya aku akan tahu kalau kalian bertemu? Bukankah ada Neva disitu? Bukankah kau satu meja dengannya karena ajakan Arnis. Jadi kenapa kau berbisik ketika menjawab telfon dari ku?"
Yuna diam. Dia tidak sengaja berbohong karena dia tidak ingin membuat Leo khawatir dan merasa cemburu. Dia tahu bagaimana Leo begitu tidak menyukai Vano jadi itulah kenapa akhirnya dia berbohong, ia tidak ingin Leo dan Vano bertemu. Jadi sebenarnya... siapa yang dia lindungi?
Dia memikirkan alasan kenapa dia berbisik ketika menjawab telepon dari Leo? Benar... disitu ada Neva, kenapa dia harus berbisik seolah menyembunyikan sesuatu. Kenapa dia menjadi gugup ketika mengetahui Leo sudah ada didepan restoran.
"Kau menjaga hati dan perasaan Vano, Yuna...," ucap Leo. Yuna tertegun beberapa saat mendengar itu. menjaga hati dan perasaan Vano. Ia memejamkan matanya, sungguhkah? Dia berbisik agar Vano tidak mendengar percakapannya dengan Leo. Apakah sebenarnya dalam alam bawah sadarnya, rasa itu masih ada untuk Vano? Apakah rasa itu belum sepenuhnya terhapus. Dia bahkan tidak berani menatap mata Vano. Dia juga membiarkan foto Vano masih tetap ada dalam ponselnya.