
Leo mengatur nafasnya dengan lembut. Pelan dan teratur. Mengambil nafasnya dalam kemudian mengeluarkannya dengan halus. Dia terbatuk kecil beberapa kali, suara batuk yang ia tahan agar Yuna tidak sampai mendengarnya.
Setelah rasa sesak itu sedikit mereda, ia mengambil sesuatu dari dalam laci lemarinya. Kemudian, keluar kamar dan menuruni tangga. Pada lima tangga terakhir, dia terkejut karena ternyata Neva masih ada di rumahnya. Neva duduk di sofa di ruang tengah dengan masih sesenggukan.
"Kau masih disini?" tanya Leo setelah selesai menuruni semua anak tangga.
Neva mengangguk pelan, dia menatap kakaknya. Kemudian, berdiri dan menghampiri Leo.
"Aku tidak akan pulang sebelum Kak Lee memaafkanku," jawab Neva.
"Kembalilah. Kau tidak bersalah padaku," ucap Leo. Dia berjalan menuju dapur meninggalkan Neva. Neva diam membuntutinya dari belakang. "Kembalilah," ucap Leo sedikit terbata karena nafasnya yang masih sedikit sesak. Dia ingin Neva segera pergi dari rumahnya agar tidak ada yang melihat saat dia kesakitan.
"Kak aku minta maaf," ucap Neva lagi dengan lirih.
Leo mengangguk. Sejujurnya dia tidak ingin bicara apapun. Satu kalimat saja rasanya sulit untuk keluar dari mulutnya saat ini.
"Aku akan meminta maaf pada Kak Yuna. Aku janji akan selalu menjaga lisan dan pikiranku," ucap Neva yang dijawab anggukan pelan oleh Leo. Ada obat dikantongnya tetapi Leo tidak mengeluarkannya, dia tidak ingin Neva melihatnya.
"Kembalilah," ucapnya lagi dengan sangat pelan. Dia mengambil segelas air dan duduk di ruang makan.
"Kenapa terus saja menyuruhku kembali. Kau belum bilang jika kau memaafkanku," ucap Neva mulai dengan nada manjanya pada Leo. Dia duduk di bangku makan depan Leo.
"Kau tidak bersalah padaku. Kembalilah pulang Neva. Aku ingin segera istirahat," Leo memaksakan suaranya sebiasa mungkin.
"Kak Lee sakit?" Neva menatap Leo yang terlihat pucat.
"Aku hanya lelah seharian tidak tidur," jawab Leo. Neva mengangguk dan menyetujui untuk segera kembali.
"Sekali lagi aku minta maaf," ucap Neva. Dia lalu berdiri dan menempatkan dirinya di samping Leo, duduk disamping Leo dan memeluknya. "Aku menyayangimu. Aku minta maaf sudah begitu menyinggung kak Yuna. Aku dibutakan rasa cemburu saat aku melihat Kak Yuna berbincang dengan dia."
Leo diam. Dia menyatukan giginya dengan erat untuk menahan rasa sakit yang menyerangnya. Punggungnya terasa sangat menusuk hingga rasanya menembus jantungnya. Menyakiti dada dan semua anggota tubuh lainnya.
Neva melepaskan pelukannya. Dia menatap Leo.
"Kak, kau berkeringat," ucapnya. Dia mengambil tissue diatas meja dan mengusap kening Leo dengan perhatian. "Kak Lee---"
"Aku lelah. Kembalilah Neva, kita bicara lagi besok. Okey," Leo mengangkat tangannya untuk diletakkan di kepala Neva dan membuat usapan halus disana. Kemudian, Leo beranjak dan dengan membawa segelas air putih, dia kembali ke dalam kamarnya. Duduk di sofa kamarnya dan segera meminum obatnya.
"Hhhh," dia menghela pelan dan menyandarkan punggungnya di sofa. Memejamkan matanya sejenak.
Syaraf sum-sum tulang belakangnya mengalami kerusakan. Ini adalah efek dari kecelakaan yang ia alami kala itu. Kerusakan sum-sum tulang belakang bisa mengakibatkan kelumpuhan permanen dan bahkan berpotensi menyebabkan kematian. Itulah sebabnya mengapa cedera pada saraf tulang belakang perlu mendapatkan penanganan medis segera mungkin.
Perlahan, Leo membuka sedikit matanya dan menghembuskan nafasnya dengan sangat halus. Sesak dalam dadanya mulai berkurang. Dia sudah bisa bernafas dengan teratur.
Berapa saat kemudian, rasa nyeri di punggungnya juga berangsur membaik nafasnya mulai lega. Dia mencoba duduk dengan benar. Kedua tangannya mengusap wajahnya yang lelah.
Kemudian, Leo beranjak dan berjalan menuju box Baby Arai. Mengusap lengan dan pipi anaknya dengan halus. Kemudian, membuat kecupan lembut di pipi Baby Arai.
__ Disana, di jalanan Ibu Kota. Neva menyetir mobilnya dengan pelan. Kemudian sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Bibirnya menyunggingkan senyum tetapi ada rasa ngilu juga dalam hatinya. Dia ingat ucapan Leo jika ternyata Vano pernah menantang untuk mengambil Yuna. Itu berarti, rasa yang Vano miliki pada Yuna begitu dalam, hingga Vano bahkan mendeklarasikan perang pada sang pemilik wanita.
Neva memakai earphone nya kemudian dia menggeser tombol hijau pada ponselnya. Suara seseorang langsung terdengar disana.
"Sedang apa?" tanya Vano.
"Mikirin kamu," jawab Neva. Vano tertawa diseberang sana.
"Asiiik," jawab Vano. "Sepertinya aku memenuhi pikiranmu gadis," ucap Vano.
Neva mengangguk, "Iya. Semuanya tentang kamu," jawab Neva. Vano tersenyum lebar disana.
"Dimana sekarang?" tanya Vano.
"Di jalan."
"Di jalan?"
"Hu'um. Aku baru saja dari rumah Kak Lee," jawab Neva.
"Hmm kenapa tidak mengajakku kesana?" ucap Vano.
"Lain kali kita kesana bersama," jawab Neva rendah. "Emmm, bisa ketemu?" tanya Neva.
"Ya. Dimana? Tadi sore juga aku menawarimu untuk jalan tapi kau menolak," ujar Vano.
Neva mengangguk, "Maaf," katanya. Kemudian, mereka janjian bertemu di danau teratai.
Neva melakukan pelan mobilnya kearah sana. Hampir satu jam kemudian, dia telah sampai. Dia memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Vano belum sampai saat ini. Neva tetap diam dan menunggunya di dalam mobil. Dia memikirkan banyak hal. Tak lama, matanya melihat sebuah mobil yang tak asing baginya. Bibirnya melengkung dengan senyum lebar lalu dia segera keluar dari dalam mobilnya.
Vano turun setelah memarkirkan mobilnya. Dia berdiri di samping mobilnya dan dengan senyum dia memperhatikan Neva yang juga berdiri di samping mobilnya. Vano melangkah kaki menuju Neva. Pun dengan Neva, dia melangkahkan kaki untuk menuju Vano.
Mereka bertemu, saling menatap dan memperhatikan. Dan Neva langsung menghambur ke dalam pelukan Vano.
"Kau baru saja menangis?" tanya Vano menyadari mata sembab Neva. Neva mengangguk sebagai jawaban. "Menangis kenapa?"
_____________
Catatan penulis π₯°π
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang π₯° Padamu kesayangan luv luv π₯° Terima kasih.
*Ilustrasi/visual diambil dari internet dan aplikasi Pint, jadi jika ada kesamaan gambar tokoh harap maklum ya. ππ
Bersambung ... nantikan Up selanjutnya Ya ππ