
"Kehilangan mu," jawab Vano yang langsung membuat wajah Neva memerah. Dia mengambil saru sendok ice cream dan memberikannya pada Vano.
"Hadiahmu," ucapnya.
"Apa lagi?" tanya Neva.
"Tidak ada. Hanya itu," jawab Vano.
Neva mengangguk angguk. Dia mengambil satu sendok ice cream lagi dan menyuap kedalam mulutnya.
"Aku sangat bersyukur atas kondisi Leo yang semakin membaik," ucap Vano.
"Huum," Neva mengangguk. "Dia harus segera membaik, atau kita gagal nikah," lanjut Neva. Vano melebarkan matanya dan mengetuk kening Neva pelan.
"Sembarangan, tidak ada gagal nikah," ucap Vano. Dia menyesap minuman hangatnya.
"Jika Kak Lee tidak segera sembuh lalu Papa Mahaeswara tidak sabar menunggu, bukankah itu artinya kita selesai?"
"Tidak akan. Kau pikir begitu mudah untuk membuatku melepas mu?"
"Mudah saja," jawab Neva. Dia menatap Vano. "Kau memiliki banyak teman wanita, kau tampan, kau mapan, banyak idola wanita, mudah bagimu untuk melepas lalu melupakan ku," ucap Neva.
Vano membalas tatapan mata Neva dengan tajam, dia kesal. Obrolan macam apa ini?
"Kenapa kau berfikir aku akan menyerah saat Papa tidak sabar menunggu."
"Seorang anak harus patuh pada orang tuanya."
"Lalu melepasmu dan kita berakhir?" tanya Vano dengan kesal. "Malam ini kau menyebalkan Neva," ucap Vano. Dia tidak memberi kesempatan pada Neva untuk menjawabnya. Vano segera membuka dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkan di atas meja. Tanpa kata, dia bergegas keluar dari kedai ice cream itu.
"Hei, mau kemana?" tanya Neva tetapi tak ada balasan. Neva segera menyeka bibirnya dan kemudian mengejar Vano.
Langkah Vano cepat hingga Neva harus berlari untuk mengejarnya.
"Marah?" tanya Neva saat ia telah sampai di belakang Vano.
"Ya," jawab Vano jujur. Dia masih melangkah cepat.
"Bukankah itu sesuatu yang mungkin?" jawab Neva. Tak ada jawaban. "Jangan marah," ucap Neva.
"Jangan mengikuti ku seperti anak ayam. Aku akan ke club dan mencari wanita cantik disana. Oh ... disana bahkan banyak wanita seksi," sahut Vano dengan sengaja.
"Hei, mana boleh begitu," sahut Neva.
"Bukankah itu mau mu?"
"Tidak, siapa yang bilang begitu?" jawab Neva. Tangannya mengulur dan melingkarkannya di pinggang Vano. Ia menghentikan langkah Vano dan memeluknya dari belakang, "Jangan marah."
"Marah."
"Jangan."
"Kesal."
"Jangan," jawab Neva.
"Sebel."
"Boleh. Se-Bel, Seneng Betul. Asiiik," jawab Neva dengan senyum lebar.
"Apaan," sahut Vano menahan seyum. Dan Neva langsung mengendurkan pelukannya. Dia melompat dan dengan sigap sang pemilik punggung langsung menangkapnya. Neva melingkarkan tangannya di leher Vano.
"Jangan cari wanita lain," ucap Neva. Vano berjalan dengan menggendong Neva di punggungnya.
"Bukankah aku mapan dan tampan? Kenapa tidak mencari banyak wanita saja, pasti menyenangkan," jawab Vano. Neva memukul pundaknya.
"Itu jika kita putus, kau jangan macam-macam saat masih bersamaku," jawab Neva. "Tidak, tidak ada jika. Kita akan bersama."
"Nah, itu kau tahu. Tidak ada jika. Kita akan bersama," jawab Vano. "Pokoknya setelah Leo sehat dan kembali ke negara I, kita segera menikah. Ok."
Neva mengeratkan pelukannya dan mencium pipi Vano.
"Bagus."
Setelah puas jalan-jalan mereka berdua pulang.
Saat mereka kembali, ada Yuna yang duduk di ruang tengah. Dia menyambungkan acara TV negara I. Ia ingin menyaksikan konser live band kesukaannya.
Awalnya, Yuna bersama Adel, mereka berbincang dan bercerita banyak hal tapi kemudian Adel mendapat panggilan telepon dari pacarnya. Jadi, dia kembali ke kamar terlebih dahulu.
"Hai, Kak Yuna belum tidur?" tanya Neva setelah ia duduk di ruang tengah.
"Hmm? Iya belum," jawab Yuna. Dia menoleh ke arah Neva dan Vano yang saat ini duduk di sofa lain di sampingnya. Kemudian, ia memperhatikan televisi sebentar. "Aku pamit masuk ke dalam dulu," ucap Yuna rendah dengan senyum.
"Eh, kok malah masuk kedalam Kak? Aku bawa cemilan nih. Yuk, habiskan bersama," kata Neva.
"Aku sudah sangat kenyang, sisakan saja untuk ku. Akan ku makan besok pagi hahaaa," jawab Yuna dengan senyum lebar. Dia kemudian berdiri. "Bye ... selamat malam," ucapnya pamit lalu segera meninggalkan ruang tengah. "Aku tidak mau menjadi obat nyamuk," ledeknya sebelum ia benar-benar meninggalkan ruang tengah.
"Haaa sekali-kali Kak Yuna harus merasakan itu," sahut Neva dengan tawa kecil.
___________________
Waktu telah terlewati detik demi detik dengan begitu lambat. Ini adalah hari terakhir Leo dirawat, tepat pada tanggal 30 Desember dia di izinkan untuk kembali pulang, hanya harus menjalani terapi ringan dan pemeriksaan rutin untuk benar-benar membuat dirinya kembali sehat seperti semula.
Yuna mengirim pesan pada dokter William, mengabarkan bahwa Leo sudah membaik dan di izinkan pulang.
"Dokter William, hari ini Leo sudah diizinkan untuk kembali pulang. Sekali lagi, terima kasih atas kebaikan dokter," pesan Yuna pada dokter William. Dan tak lama setelah pesan itu terkirim ponsel Yuna langsung mendapat panggilan telepon dari dokter William.
"Mari bertemu Yuna," ucap dokter William setelah panggilannya terhubung. Yuna mengerutkan keningnya tak mengerti.
"M- maksud dokter?" tanya Yuna. Saat ini Leo tengah menjalani pemeriksaan akhir sebelum ia benar-benar pulang.
"Ya, Ayo bertemu Yuna," ucap dokter William. Yuna semakin mengerutkan keningnya.
"Bertemu dengan anda?"
"Tentu dengan ku, siapa lagi."
"Ta- tapi---"
"Ajak dia menemuiku," ucap dokter William memotong ucapan Yuna.
"Menemui dokter? Sekarang?" tanya Yuna heran.
"Iya," jawab dokter William.
"Tapi Leo baru sembuh dokter. Dia baru hari ini diperbolehkan pulang. Mohon maaf, bisakah kita bertemu dilain hari?"
"Tidak," jawab dokter William tegas. Kemudian, dia menjelaskan pada Yuna jika dia terus mengawasi kondisi Leo hingga detik ini, dan bahkan dia yang sebenarnya mengizinkan Leo untuk kembali pulang. Karena saat operasi itu telah ia setujui maka Leo adalah pasiennya hingga benar-benar sembuh. "Jadi tidak perlu khawatir akan kondisi suamimu. Nanti ada kursi roda khusus untuknya," lanjut dokter William."
Yuna mengangguk samar dalam rasa ragu di hatinya. Panggilan berakhir.
Dokter telah selesai menjalankan pemeriksaan. Kini Leo sudah siap untuk pulang. Kak Dimas, Vano, dan Papa sudah menunggu diluar.
"Sayang," panggil Yuna pada Leo.
"Ya?"
"Kita harus bertemu dengan dokter William, sekarang," ucap Yuna.
"Sekarang?"
Yuna mengangguk.
_____________
Catatan penulis π₯°π
Seperti biasa ya... jangan lupa goyang jempolnya. Like komen ya kawan tersayang π₯° Tengkyu π