
"Meja nomor 115 sayang, kemarilah," jawabnya setelah berkali-kali menarik nafas dan menguasai keadaan. Dia terlanjur berbohong dan dia salah, lebih baik membiarkan Leo masuk dan bertemu dengan Vano dari pada membuatnya salah paham. Dia tidak ada maksud untuk berbohong, awalnya dia hanya tidak ingin Leo merasa khawatir dan merasa cemburu tapi ternyata dia sudah ada di restoran dimana Yuna duduk bersama Vano.
"Okey," ucap Leo dan memutus panggilannya. Yuna memejamkan matanya lagi dan mengambil nafasnya sangat dalam. Dia akan menerima jika Leo akan marah padanya, karena memang dia telah berbohong.
"Apa Kak Lee akan kesini dan bergabung bersama kita?" tanya Neva antusias. Yuna mengangkat wajahnya dan mengangguk dengan senyum. Dia kemudian melirik Vano yang memperhatikannya dengan senyum yang tertahan dibibirnya, ah bukan... tapi tawa yang tertahan di bibirnya. Dia menyadari kegugupan Yuna.
'Ishh... aku ingin menjitak mu, kenapa kau malah mau menertawakan ku?' Yuna memelototinya dengan kesal.
Cring... satu pesan baru masuk di ponsel Yuna.
"Sayang, keluarlah. Aku menunggu di luar."
Pesan dari Leo. Hufff... Yuna Langsung lemas dan sedikit lega membaca ini. Leo tidak jadi masuk kedalam. Yuna kemudian pamit pada Vano dan Neva, ia mengusap pundak Neva pelan.
"Baik-baik ya sayang, jika ada waktu senggang mainlah ke rumah, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu," ucapnya pada Neva sebelum keluar.
"Siap Kakak," jawab Neva.
Yuna berjalan dengan jantungnya yang berdebar kencang. Dia menarik nafasnya dengan dalam dan melangkah keluar. Matanya langsung menemukan Leo yang berdiri disamping mobilnya. Dia tersenyum lebar memperlihatkan giginya setelah melihat Yuna keluar dan menghampirinya. Sementara Yuna melangkah dengan perasaan yang bersalah padanya.
"Sayang," yuna memanggilnya dengan pelan setelah berada didepannya. Tangan Leo terangkat dan membenarkan rambutnya, meletakkan di telinganya dengan perhatian. Sudut-sudut bibirnya meringkuk dan tersenyum.
"Apa makan mu cukup?" tanyanya lembut.
"Hu'um..." Yuna mengangguk. Kedua tangannya melingkar di pinggang Leo, telapak tangannya yang masih terasa dingin memeluk Leo dengan erat. Matanya mendongak untuk menatapnya... "Bukankah kau bilang ingin makan sesuatu? Kenapa tidak jadi masuk kedalam?" tanyanya.
"Hmm, tapi aku ingin memakan mu, apakah sopan jika aku melakukannya di dalam," Leo menggodanya. Dan Yuna langsung menutup wajah Leo dengan telapak tangganya.
"Tuan mesum...," ucapnya dengan malu. Leo mengambil tangannya dan mengenggamnya. Dia merasakan dingin ditelapak tangan yuna tapi dia tidak mengatakan apa-apa, ia membawa Yuna masuk kedalam mobil dan kemudian mengirim pesan pada Neva.
"Segera pulang, supir sudah menunggu di depan," pesannya pada Neva. Tak butuh waktu lama, pesan itu langsung mendapat balasan.
"Baik Kak Lee," balas Neva.
Kemudian, Leo melajukan mobilnya dengan pelan.
Pesan patuh Neva hanya sekedar dipesannya saja, saat ini dia menjadi adik yang tidak manis. Dia ingin memanfaatkan kesempatan bertemu Vano dengan sebaik mungkin. 'Maafkan aku Kak Lee,' bisiknya dalam hati.
Vano mengangkat tangannya dan waiters segera menghampirinya. Dia meminta minuman yang tidak bersoda, dan satu cup ice cream.
"Kau tidak buru-buru bukan?" tanyanya pada Neva.
"Huum, tidak. Hari ini hari santai sedunia," jawab Neva dan tersenyum. Vano memesan ice cream untuknya, dia tahu jika Neva menyukai ice cream.
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang. Neva dengan pelan, menyendok ice cream miliknya dan menyuap ke mulutnya, merasakan lelehan dan dinginnya ice cream di mulutnya. Dia membayangkan adegan difilm dan cerita di komik dan bahkan kisah di dalam novel. Memakan ice cream dengan tidak beraturan kemudian, seseorang akan membersihkannya dengan lembut dan perhatian. Aaahh... tapi dia selalu sempurna dalam memakan ice cream, apa iya dia harus sengaja melakukan adegan membiarkan ice cream sedikit mengenai ujung bibirnya? Dia menyendok lagi dan lagi dengan diam.
"Apa ice creamnya enak?" tanya Vano yang membuat Neva tersadar dengan imajinasinya.
"Eh,..." dia mengangkat wajahnya dan menatap Vano. "Enak," lanjutnya.
Sesi makan ice cream berlalu begitu saja dan Neva memakannya dengan sempurna tanpa membuat ice cream tercecer sedikitpun di bibirnya.
Kemudian, mereka keluar bersama... dan hujan turun begitu deras.
"Dimana supir mu?" tanya Vano setelah mereka berada di luar.
"Tadi di situ...," Neva menunjuk ke sebuah tempat parkir, tapi saat ini supir dan mobilnya tidak ada. Dia segera membuat panggilan pada supirnya. Dan dengan sedih dia memutus panggilan.
"Supir pulang dan mengantar Mama? Ahh... bukankah ada tiga supir di rumah? Kenapa malah menarik supir yang ku bawa?" dia menggerutu pelan.
"Kenapa? Apa supir mu meninggalkan mu?"
"Mmm, tidak. Dia sedang keluar sebentar," jawab Neva bohong. Dia tidak ingin seperti sedang mengambil kesempatan agar Vano mengantarnya, makan ice cream bersamanya itu sudah cukup.
"Kau pernah berkata seperti ini sebelumnya dan ternyata supir mu meninggalkan mu," ujar Vano menatap Neva dari samping.
"Heheee... dia di tarik Mama untuk kembali, menyebalkan," Neva tertawa kecil. Kemudian, Vano melepas jaketnya dan menjadikannya payung untuk dirinya dan Neva.
Neva berkedip dengan cepat, dia menjadi sangat dekat dengan Vano, dia bisa dengan jelas mencium aroma wangi parfum Vano, lengannya bahkan bersentuhan dengan lengan Vano.
"Aku akan mengantarmu. Aku akan menghitung sampai tiga dan kita harus segera berlari ke mobil, kau mengerti?" ucap Vano dan dijawab anggukan oleh Neva. Kemudian, mereka berdua berlari bersama dibawah guyuran hujan yang begitu deras.
Jantung Neva berdebar kencang, debarannya begitu kuat hingga membuatnya memegangi debaran itu. Dia tersenyum dan merasa sangat bahagia, ini... sangat indah. Tidak mendapatkan moment saat makan ice cream tapi mendapatkan moment saat kembali menuju mobil. Apakah ini alasannya kenapa orang-orang menyukai hujan? Apakah ini alasannya, kenapa hujan begitu romantis.
__ Malam hari di rumah Leo.
"Sayang, kau baru saja kembali kenapa sudah begitu sibuk?" Yuna dengan manja duduk dipangkuan Leo dan menyimpan data-datanya kemudian segera mematikan laptop. Leo melingkarkan tangannya di pinggang Yuna dan mencium lehernya dengan lembut.
"Apa kau sudah ngantuk?" tanyanya dan menyandarkan dagunya dipundak Yuna.
"Hu'um, tapi aku tidak bisa tidur jika kau masih sibuk disini," jawab Yuna.
Dan Leo langsung membawanya ke kamar. Seperti biasa, Leo yang menyiapkan air hangat untuknya, dan menggendongnya untuk mandi sebelum mereka tidur.
Yuna langsung tertidur pulas begitu dia selesai mandi dan memeluk suaminya.
Leo sedikit merenggangkan pelukannya, dia membenarkan poni Yuna dengan sangat hati-hati.
"Kenapa kamu berbohong Yuna? Apa kau masih menyimpan perasaan untuknya? Apa aku masih menyakiti mu? Apa aku masih belum bisa menebus kesalahanku?" Matanya menatap Yuna dengan lembut namun penuh dengan kesedihan. Hatinya tersayat dan sangat pilu.
Dia datang di restoran itu tepat setelah Arnis keluar dan Neva pergi ke toilet. Dia bisa dengan mudah menemukan keberadaan Yuna karena aplikasi canggih di ponselnya yang terhubung langsung dengan ponsel milik Yuna. Awalnya, dia ingin memberi kejutan pada Yuna dengan tiba-tiba datang menjemputnya, dia bahkan sudah membeli coklat yang tidak dia temukan di kota itu, coklat berlapis emas dua puluh empat karat.
Tapi ternyata, dia yang mendapat kejutan. Yuna tengah bersama Vano dan mereka mengobrol dengan tawa. Yuna duduk berhadapan dengan Vano dan mereka ngobrol begitu asik. Hatinya terasa sakit melihat itu, Yuna bertemu dengan Vano... kenapa Yuna bahkan tidak mengingat permintaannya untuk tidak bertemu dengan Vano.
Leo mengecup keningnya dan memeluknya. "Yuna... apa aku masih menyakiti mu? Apa ada kelakuan ku yang membuat mu kecewa dan terluka. Kenapa kau masih menemuinya? Kenapa kau berbohong pada ku?" Dia menggumam dengan rasa sakit dalam hatinya. Dia bahkan merasa ketakutan setiap detak jantungnya, bagaimana jika Yuna meninggalkannya lagi? Vano... bisa membuat Yuna jatuh cinta dan tidak mustahil untuk mengambil Yuna darinya. Dia menjadi begitu lemah dengan rasa cinta dalam hatinya, dia bukan menjadi dirinya yang bisa dengan angkuh pada lawannya, dia menjadi lemah ketika memikirkan bahwa pandangan mata Yuna bukan hanya untuknya.