Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 157_Bagaimana Hubungan mu?


"Yuna, hei...," Arnis berteriak dan menepuk pundak Yuna dengan kencang.


"Oh," Yuna dengan linglung menoleh kearahnya.


"Ahh, ya ampun... aku bicara dengan mu dan kau malah asik melamun."


"Maaf. Aku... sedang memikirkan sesuatu."


Ponsel milik Arnis berdering sebelum dia sempat menjawab Yuna.


Dia menatap Yuna dengan sedih setelah mengakhiri telfonnya. "Aku harus segera kembali..., senang bisa mengenal mu Yuna."


"Bukankah jadwalnya masih lima jam lagi? Kenapa kau buru-buru?"


"Ada sesuatu yang harus ku kerjakan sebelum kembali."


Kemudian, mereka berdua keluar dan Arnis pamit pada semuanya.


"Jangan sungkan menghubungi Bro... meski ketika kau butuh saja, haha..." Arnis berbicara pada Vano dan kemudian mereka melakukan toss.


"Aku akan rajin menghubungi mu nona cerewet."


"Hhmmm, baik aku percaya," ucapnya dan memeluk Vano. "Gadis kecil itu sangat imut dan sepertinya cocok dengan mu," bisiknya pada Vano dan segera melepas pelukannya.


"Gadis kecil, aku mendukungmu... semangat," ucapnya pada Neva. Neva tersenyum dan mengangguk meskipun dia tidak tahu arti ucapan Arnis padanya. Yang terakhir adalah Yuna, mereka berpelukan sebentar dan kemudian Arnis melambai pada semuanya.


"Arnis, biar ku antar kau kembali," Vano menawarinya.


"Eit, ingat kataku bro... berhenti jadi cowok manis. Itu menyiksa ku," ucapnya sedih tapi dengan nada bercanda. Dia melirik Neva dan mengedipkan matanya pada Vano. "Sikat Bro..." ucapnya menepuk pundak Vano pelan. Dan setelah itu dia benar-benar melangkah untuk keluar restoran.


Saat ini... hanya ada mereka bertiga. Suasana menjadi sangat canggung, Yuna menunduk, Neva menunduk, Vano mengaduk minumannya dan sesekali menyedotnya. Neva masih merasa deg-degan karena senyuman dan sentuhan tangan Vano di pundaknya. Sementara Yuna sama sekali tidak berani menatap Vano... dia hanya melirik Neva. Dan langsung membayangkan jika Neva sungguh bersama Vano.


'Rasanya sangat rumit, ini membuat ku tertekan. Bagaimana jika Neva tahu kalau Vano pernah punya perasaan pada ku? Bagaimana jika Neva tahu kalau aku juga pernah punya perasaan pada Vano? Aaahh... sungguh membuat ku frustasi. Mereka dijodohkan? TTM ku menjadi adik ipar ku, waaahh sebuah judul yang sangat lucu. Ya ampun... kenapa aku malah memikirkan sesuatu yang aneh?'


"Emm, maaf. Aku permisi ke toilet dulu," Neva berdiri. Yuna segera mendongak dan menatapnya... ke toilet? Itu artinya dia hanya akan berdua bersama Vano?


"Neva, bagaimana jika kita pulang sekarang?" ucap Yuna, tangannya memegang pergelangan tangan Neva. Neva menatapnya sebentar dan kemudian menoleh kearah Vano. Yuna memperhatikan tatapan itu... Yuna merapatkan bibirnya dan menarik nafasnya panjang.


"Okey, silahkan ke toilet," dia melepas pergelangan tangan Neva dan membiarkan Neva ke toilet. Neva... sungguh telah jatuh cinta pada Vano. Yuna menunduk...


"Kenapa kau terlihat tegang Yuna?" Vano memulai kebisuan antara mereka.


"Siapa yang tegang?" jawabnya masih menunduk. "Kau terlalu pandai menebak Tuan muda dan tebakan mu salah," lanjutnya.


"Hei, aku tidak pernah salah dalam menebak, kau yang selalu kalah."


"Ck, okey. Kau selalu menang, tidak... aku pernah menang sekali."


"Hahaaa... sekali? Itu karena aku mengalah pada mu, jadi kau tidak pernah menang Nona."


"Okey, Tuan juara. Kau selalu menang dan aku kalah."


"Ohh, aku senang kau mengakuinya, hahaa."


"Hmm." Yuna mengangguk, dan melihat minuman di depan Vano. "Kau masih sering minum cola?" tanyanya. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Vano.


"Tidak sering, hanya sesekali," jawab Vano mengaduk minumannya tapi dia tidak meminumnya.


"Aku pernah bilang pada mu, jangan sering minum cola, itu tidak baik untuk tubuh mu."


"Aku bilang tidak sering, hanya sesekali."


"Kau berbohong Tuan muda, wajah mu mengatakan kau sering minum cola."


"Hahahaaaa... ya ampun, aku lupa jika kau lebih dari seorang peramal dalam urusan ini," ucapnya. Yuna tertawa mendengarnya, suasana tidak kaku dan tegang lagi, mereka saling tertawa.


"Hhmmm, benarkah?"


"Yaaa... tentu saja."


"Banyak wanita yang menyukai ku. Hanya kamu saja yang tidak menyukai ku," ucapnya. Mata mereka bertemu. Yuna segera mengalihkan pandangannya.


"Hei... itu karena kau tidak lebih tampan dari suami ku. Ohh suami ku yang paling tampan... emm, membayangkannya saja membuat hati ku meleleh."


"Hei, hentikan memuji suami mu. Itu membuat ku frustasi," ucapnya dengan canda dan tawa kecil. Yuna juga tertawa dengan itu, mereka tidak memikirkan perasaan yang pernah ada, mereka hanya berbicara sebagai teman.


"Vano...," Yuna menatapnya dengan serius.


"Hmm."


"Bagaimana hubungan mu dengan Neva?" tanyanya. Dia ingin tahu... apakah Vano punya perasaan juga pada Neva atau tidak. Yuna tidak ingin Neva kecewa apalagi terluka... jika Vano tidak memiliki perasaan apa-apa pada Neva mungkin saat ini masih sempat untuk membuat Neva tidak patah hati terlalu dalam.


"Hubungan?"


"Hu'um, aku beberapa kali melihat kalian berdua, aku juga tahu kau mengantarnya pulang malam itu. Dan... aku juga baru tahu jika dia sering ke kantor mu. Maafkan aku jika terlalu ikut campur tentang perasaan mu Vano. Tapi dia adalah adik ipar ku, dan kau adalah sahabat ku. Aku... ingin kalian baik-baik saja. Aku ingin kalian bahagia. jika... jika kau memiliki perasaan padanya, aku akan mendukung kalian. Tapi..."


"Mm... maaf lama," Neva tiba-tiba hadir sebelum Yuna menyelesaikan kalimatnya dengan sempurna. Yuna menoleh ke arahnya. Wajah Neva berseri, Yuna tahu... Neva habis membenarkan make up-nya. Tepat setelah itu ponselnya berdering.


'Tuan suami, you are my everything'


"Sayang, kau dimana?" suara serak nun lembut langsung terdengar dari sebrang sana.


"Kak Lee?" tanya Neva dengan suara kecil. Yuna menjawabnya dengan anggukan.


"Apa acara dengan Papa sudah selesai?" Yuna menjawab dengan malah balik bertanya, dan dengan suara yang berbisik.


"Sudah. Satu jam yang lalu. Kau dimana? Apa kau masih di salon?"


"Aku ada di restoran tak jauh dari situ," jawab Yuna masih berbisik.


"Sayang, kau bersama siapa sekarang?"


"Hhh??" pertanyaan Leo membuatnya kaget. Bersama siapa?


"Kau bersama siapa? Kenapa berbicara dengan berbisik, apa ada orang lain di depan mu?"


"Hhh?? t... t-tidak. Tidak ada, aku... hanya bersama Neva." Yuna merasa gugup dan malah membuatnya berbohong.


'Kenapa... Leo seolah tahu jika ada seseorang selain Neva bersama ku saat ini? Sungguhkah dia hanya menebak dari suara ku yang berbisik. Aaahhh... aku hampir pingsan karena berbohong.'


"Sayang, aku akan menjemput mu."


"Hmm, iya."


"Apa kau sudah selesai makan?"


"Hmm, sudah."


"Aku sudah ada di depan restoran yang kau maksud."


"A...Ap-APA? Ka-kamu di depan?" mata Yuna langsung melebar mendengar itu, suaranya menjadi gagap, dan dia hampir sekarat. Leo sudah ada didepan?


"Sayang, apa kau tidak apa-apa? Kenapa suara mu terdengar gugup?"


"Tidak, apa-apa. Aku... segera keluar," Yuna bersiap berdiri.


"Aku lapar dan ingin memakan sesuatu, kau di meja nomor berapa? Aku kesana...," ucap Leo yang membuat Yuna hampir sekarat di tempat. Masuk? Yuna menepuk keningnya dan memejamkan matanya. Dia menjadi sangat frustasi dengan ini, tangannya menjadi sangat dingin. Ada Vano disini bersamanya dan dia baru saja berbohong.