
Yuna berjalan dengan masih menutup matanya. Dia melangkah melewatinya Vano dan Neva. "Maafkan aku," ujarnya sebelum ia menaiki tangga. Tapi dia kembali menghentikan langkahnya, tanpa menoleh dia bilang.
"Buruan menikah, kalian akan bebas melakukannya," ledek Yuna dengan tawa yang tertahan. Kemudian ia segera kabur menaiki tangga.
"Kak Yunaaaaa," Neva sedikit mengencangkan suaranya karena malu dengan ledekan Yuna. Ia langsung menyembunyikan wajahnya didada Vano. Sementara Vano terkekeh dengan ledekan itu. Ia juga merasa sangat malu karena ciumannya dengan Neva kepergok Yuna.
"Kau ceroboh, ini sangat memalukan," protes Neva pada Vano. Vano tertawa ringan, dia menarik Neva dan memeluknya.
"Bagaimana jika kita mengikuti saran kakak ipar?" Vano menggodanya. Neva masih merasa malu, ia tidak memberikan jawaban pada Vano, ia hanya membalas pelukan Vano padanya.
____
40 menit kemudian, di kamar lantai tiga.
Leo membuka pintu kamar itu, lalu duduk disamping Yuna. Melihat Leo telah datang, perawat memberinya salam lalu pamit keluar.
"Kenapa tidak kembali bergabung?" tanya Leo. Dia telah menunggu Yuna dari tadi tetapi Yuna tak kunjung kembali jadi akhirnya dia menyusulnya. Ia memperhatikan Baby Arai yang tidur lelap. Bibirnya sangat seksi saat ia sedikit mengeluarkan lidahnya dan seperti ia sedang mengecap asi. Leo menjadi sangat gemas melihatnya. Ia menunduk dan mencium putranya. Yuna langsung menepuk pundak Leo pelan.
"Daddy, jangan ganggu. Dia baru saja tertidur," ujar Yuna. Mendengar itu, Leo langsung menyingkirkan bibirnya dari pipi Baby Arai. Ia berpindah menatap Yuna.
"Oke, aku ganggu mommynya saja," jawab Leo dan langsung mencium pipi Yuna.
"Ya, ya ... ganggu saja," Yuna terkekeh. Dia membiarkan Tuan suami menciumi pipinya. "Aku sangat lega dan bahagia hari ini," kata Yuna. Dia bahagia karena Vano dan Neva akhirnya resmi bertunangan dan Yuna teramat bahagia karena pada akhirnya Leo sungguh menerima Vano masuk dalam keluarga besarnya. Leo membuka lebar tangannya saat Vano ingin memeluknya, Leo dengan senang hati menerima pelukan itu. Yuna tahu bagaimana sifat Leo. Jika Leo enggan menyentuh Vano bahkan hanya berjabat tangan saja, itu artinya jika Leo masih tidak suka dengan Vano tapi malam ini Leo bahkan memeluknya dengan hangat. "Kau terhebat sayang."
"Apa hubungannya dengan ku?" Leo bertanya dengan heran. Kenapa Yuna malah memujinya.
"Terima kasih sudah memaafkannya," jawab Yuna. Leo menatapnya dengan tajam dan cemberut.
"Kenapa kau yang berterima kasih? Itu seperti kau masih sangat perduli padanya. Membuatku teramat sangat cemburu," ujar Leo. Wajahnya ditekuk dengan suram.
"Hei ...." tangan Yuna terangkat dan mencubit hidung Leo dengan gemas. Tuan suami cemberut dan itu sangat lucu. Setelah mencubit hidung Leo, ia mendekatkan wajahnya, tangannya berpindah di pipi Leo dan dengan pelan ia menempelkan keningnya di kening Leo. "Aku mencintaimu. Hanya mencintai mu, hanya memikirkan mu, hanya perduli tentangmu sayang," ujar Yuna. Tangannya mengusap lembut pipi Leo.
Leo mengangguk pelan. "Harus," jawabnya. Tangannya terangkat dan mengusap pipi Yuna juga. Kening mereka masih saling menempel. Ia tidak ingin ada rasa ragu dalam hatinya pada Yuna. Ia tidak ingin memiliki rasa itu sedikit pun. Perjuangan Yuna untuk kehadiran buah hati mereka tidak bisa dinilai dengan apapun di dunia ini. Dia akan selalu membahagiakan Yuna sepanjang hidupnya. Wanita mulia yang mengandung dan bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk buah hati mereka. Wanita mulia yang tidak boleh ia lukai sedikitpun. Ia menarik Yuna dan mencium bibirnya penuh kasih.
"Aku bercanda," ucapnya setelah menyudahi ciumannya. Tetapi wajah mereka masih sangat dekat. Mata Yuna menatapnya dengan dalam.
"Aku sangat takut ketika kau diam dan salah paham padaku tentang Vano. Aku takut kau tidak percaya pada hatiku sepenuhnya, aku ...." ucapan Yuna terpotong oleh ciuman Leo. Leo tidak ingin membahas sesuatu yang membuat Yuna sedih. Dia memang hanya bercanda tadi.
"Aku percaya," ujar Leo. Kemudian, pintu kamar diketuk pelan. Leo segera menarik wajahnya untuk menjauh dari wajah Yuna. Dengan pelan pintu kamar terbuka dan memperlihatkan seseorang yang tadi mengetuknya. Mama.
"Sayang, Papa dan Kak Dimas menunggu mu, " Mama memberi tahu Leo.
"Baik Ma, aku akan kembali ke bawah," jawab Leo. Mama mengangguk dengan senyum kemudian kembali menutup pintu.
"Ini sudah malam, kita juga harus kembali,"kata Leo. Yuna mengangguk. Kemudian, Leo menunduk dan mencium Baby Arai, menciumnya berkali-kali, lagi dan lagi, memang jika bibirnya sudah bertemu dengan pipi menggemaskan milik putranya rasanya tidak ingin melepaskan ciumannya. Baby Arai mulai menggeliat lucu karena ciuman daddy-nya, tangannya bergerak mengenai wajah Leo, dan itu semakin membuat Leo gemas. Dia semakin membuatnya terus mencium Baby Arai.
"Daddy kau mengganggu tidurnya," kata Yuna.
"Hmm, biarin," jawabnya. Kemudian dengan masih memejamkan matanya, Baby Arai menangis. Bibir seksinya terbuka dan menangis dengan keras.
Yuna memukul bahu Leo pelan, "Kau pengganggu," katanya.
Leo terkekeh dan malah semakin gemas. Suara tangisan imut Baby Arai menghangatkan hatinya.
"Sini," Leo mengambil Baby Arai dari pangkuan Yuna. Dia berdiri dan menggendong Baby Arai. Dia penuh kasih dia menenangkan putranya agar tidak menangis lagi. Dan memang ia sangat pandai membuat anaknya kembali tenang. Baby Arai pada akhirnya terbangun. Gerakan tangannya lucu, seolah ia ingin menyentuh wajah daddy-nya. Leo dengan sengaja mendekatkan wajahnya pada tangan mungil itu, dia terkadang bercanda membuat gigitan halus ditangan itu.
"Iya," jawabnya. Kemudian, ia memberikan Baby Arai pada Yuna.
"Tunggu aku di bawah," ujarnya.
"Ok, Daddy," jawab Yuna, ia mengecilkan suaranya seolah-olah itu adalah jawaban dari Baby Arai. Kemudian, Leo kembali ke bawah untuk menemui Papanya sekaligus pamit untuk pulang lebih dulu.
Setelah Yuna selesai memberikan asi pada putranya. Ia menggendong Baby Arai dan keluar kamar. Dia berjalan ketempat yang Leo tunjukkan padanya, dia berdiri di sana menunggu Leo. Di teras depan.
Tak lama, seseorang datang. Dia tidak sengaja juga berada di situ.
"Hai," Vano menyapanya dengan bersahabat.
"Hai, Vano" jawab Yuna. Ia menoleh ke arah Vano. Mata mereka bertemu sepersekian detik lalu mereka segera mengalihkan pandangan. Yuna memperhatikan Baby Arai yang menggerakkan bibirnya dengan lucu, seolah ingin memakan sesuatu. Sementara Vano menatap lurus kedepan. Namun kemudian, ia menoleh dan memperhatikan Baby Arai juga.
"Hallo Baby Arai," suara Vano menjadi imut ketika ia menyapa Baby Arai. Tangannya mengulur dan mengusap pipi Baby Arai dengan lembut. "Dia tidak tidur?" tanyanya. Baby Arai menggerakkan kaki dan tangannya. Tangan mungil yang memakai sarung tangan itu bahkan mengenai tangan Vano.
"Dia baru bangun, ciuman daddy-nya membuatnya terbangun," jawab Yuna. "Vano," panggil Yuna rendah.
"Ya," Vano menjawab dengan mengalihkan pandangannya. Ia menatap Yuna dari samping.
"Selamat untuk pertunangan mu," ucap Yuna dengan senyum. Vano mengangguk mendengar ucapan selamat dari Yuna. "Aku turut bahagia dengan ini kawan. Semoga kau selalu bahagia Vano," lanjut Yuna.
Vano mengangguk lagi, "Terima kasih kawan," jawab Vano. "Kau juga harus selalu bahagia," lanjutnya. Kini Yuna yang mengangguk.
"Ya, pasti. Aku teramat bahagia dengan keluarga kecil ku. Memiliki Leo dan juga Baby Arai," jawab Yuna. "Kau harus segera menyusul," lanjutnya dengan tawa kecil.
"Hahaa pasti," Vano ikut tertawa kecil menjawabnya. Tangannya menggenggam tangan mungil Baby Arai.
___________________________
Catatan Penulis π₯° (GaJe)
"Uhum," Thor terbatuk.
"Kenapa Nanas manise?" Tanya Vano. Dia menoleh.
"Selamat atas pertunangannya," Othor senyum cantik pake banget.
"Terima kasih Nanas manis sekali," jawab Vano bahagia.
"Kasih hadiah atuh buat Othornya," Othor memamerkan kedipan mata rayu.
"Hmm, hadiah untuk mu adalah doa dari semuanya, dari pembaca tersayang. Semoga kisah ini bisa menginspirasi, ambil baiknya, buang buruknya. Buang sedihnya, ambil hikmahnya. Semoga kisah ini semakin diminati pembaca, semakin banyak yang baca karya Othor manis dan penuh semangat," ujar Vano dengan doa tulus dari hatinya.
"Uuumm, Aamiin. Terima kasih," jawab othor. "Abang baik banget, sini peluk dulu."
"Umm, sini," Berpelukan. "Terus semangat ya Othor jelek."
Readers dilarang ngiri ya Othor dipeluk bang Vano ππ (Halu banget sih Thor π) Biarin week ππ
Like komen ya kawan tersayang π₯°π Yang punya poin berlebih Vote juga ya ya... Tengkyu mbeb semua... luv luv ππ₯°