Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 301_Terlambat


"Tidak. Tabrak dan bunuh saja aku dengan tangan mu, Lee," jawab Kiara lantang.


"Kau menantang ku?"


"Aku sangat bahagia jika bisa mati ditangan mu Lee," jawab Kiara yakin tetapi dengan ekspresi wajah yang begitu sedih. Matanya sembab, itu karena dia menangis berhari-hari. Bahkan rasanya air matanya telah habis. Namun menatap wajah Leo, membuat matanya kembali berair. Genangan air mata itu menetes dengan deras. Jika dia harus mengiba untuk bisa bertemu dengan Leo maka dia akan mengiba. Dia bahkan rela mati untuk bisa bertemu dengan dan berbicara dengan Leo.


"Jangan gila Kiara. Menyingkirlah," Leo masih berteriak padanya. Kiara menangis dengan histeris, dia hanya ingin berbicara pada Leo. Kenapa sangat sulit. Pengguna jalan mulai memperhatikannya. Leo bersiap menjauhkan mobilnya dari Kiara. Dia memundurkan mobilnya.


"Jika kau tidak mau berbicara dengan ku, maka aku akan langsung berbicara pada wanita itu," ancam Kiara. Wanita itu, dia adalah Yuna. Kiara tidak mau menyebut nama Yuna, dia juga tidak mau menyebut Yuna sebagai istri Leo. Dia paling pintar mengancam Leo. Biar bagaimanapun mereka telah lama bersama-sama, Kiara masih sangat hafal bagaimana Leo.


Pada akhirnya, Leo menyetujui untuk berbicara dengan Kiara. Dia mengirim pesan pada Yuna.


"Maaf sayang, aku pulang terlambat. I love you," isi pesannya pada Yuna.


Mereka berdua, Leo dan Kiara duduk berseberangan di sebuah meja di restoran. Leo memesan tempat yang tertutup. Dia tau Kiara akan menangis-nangis, gadis ini sedari dulu memang manja dan cengeng. Dia tidak ingin menjadi tontonan pengunjung jadi dia memilih tempat khusus.


Betapa senangnya Kiara karena pada akhirnya dia bisa satu meja dengan Leo, karena pada akhirnya dia bisa berbicara empat mata dengan Leo. Dia akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.


Kiara menangis tersedu-sedu didepan Leo, dia sangat terpuruk. Dia bahkan merasa jika dirinya lebih baik mati. Dia bercerita dengan sangat menyedihkan. Leo diam dan membiarkannya. Hingga Kiara menyudahi tangisnya. Tangannya menyeka air matanya. Kemudian, dengan pelan ia mengangkat wajahnya.



Kiara ingin menatap wajah Leo dengan puas, dia ingin menatap wajah Leo sesuka hatinya.


"Aku tidak punya banyak waktu hanya untuk mendengarkan ocehan sampah mu," ucap Leo dengan sinis. Kiara diam dan masih menatapnya. Ucapan sinis Leo bahkan terdengar merdu di telinganya.


"Lee," suaranya lembut tetapi lemah ketika memanggil nama itu. Dia seolah sangat teraniaya. "Kau boleh marah padaku Lee, kau bahkan boleh mengambil nyawa ku tapi ku mohon jangan hancurkan keluarga ku," ucapnya dengan pilu.


"Apa kau juga memikirkan hal yang sama saat kau menyetujui papa mu lalu menghianati ku? Menghianati keluaga ku," Leo membalikkan ucapan Kiara.


"Aku minta maaf tentang hal itu Lee. Kau sudah memaafkannya bukan? Kenapa kau mengungkitnya."


"Ya, memang seranganku bukan untuk balas dendam pada apa yang telah kau lakukan terhadapku dulu. Aku tidak memiliki semangat jika itu alasannya," Leo menjawab dengan suaranya yang masih sinis. Pandangan matanya tajam dan mencekam. Dia mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja dengan pelan tetapi teratur. Kemudian, dengan senyum sinis di ujung bibirnya dia bilang.


"Alasan yang sesungguhnya adalah, agar kau menyingkir dan tidak lagi hadir dalam kehidupan ku."


"Kau terlalu naif Lee. Kau tidak ingin aku hadir? Sungguh aku sudah tidak ada lagi dalam hati mu? Berapa tahun kita bersama? Berapa tahun dia menggantikan ku? Apa kau ingat ketika kau sakit, ketika kita belajar sepeda bersama. Kita bahkan semalaman merayakan hari kelulusan SMA kita," Kiara dengan suaranya yang sedih terus bercerita tentang kenangan mereka dimasa lalu.


"Ku rasa kau tidak perlu menceritakan itu. Aku tidak lagi mengingatnya. Kau juga tidak perlu bersusah payah untuk menemui ku," sahut Leo. Dia menatap Kiara.


"Simpan ratapan mu itu Kiara. Seharusnya kau ingat bahwa semua yang terjadi adalah karena dirimu sendiri, kau yang mencampakkan ku. menyakiti ku. Kau sendiri yang menjadi penyebab rasa benci dihatiku."


"Aku minta maaf pada mu Lee. Aku sungguh menyesal. Aku meninggalkan mu agar kau aman dari papaku, aku meninggalkan mu karena aku begitu mencintaimu. Itu karena aku terlalu mencintaimu Lee. Aku bahkan rela bersandiwara dengan Nick agar kau aman. Tapi ternyata aku yang tersakiti. Ternyata aku tidak sanggup jika harus tanpamu," Kiara menangis histeris. Dia tidak Leo menolaknya. Leo harus kembali padanya, menjalin kasih yang sempat terputus. Kiara beranjak dari duduknya lalu bersimpuh di kaki Leo. "Ku mohon maafkan aku, Lee. Aku menyesal dan aku bersumpah tidak akan membuat mu kecewa padaku. Ku mohon, kembalilah padaku," dia mengiba dengan sangat pilu. Tangisannya terdengar begitu menyakitkan, tangisannya terdengar sangat menyesakkan. Dia terisak-isak.


"Aku bisa mati jika tanpa mu Lee. Ku mohon maafkan aku, aku janji akan memperbaiki semuanya, aku akan mengabdikan seluruh hidup ku hanya untuk mu," Kiara menangis tersedu-sedu. Dua orang itu memegang lengannya dan dengan kasar melepas pelukan Kiara pada Leo.


Tangan Leo dengan anggun membuka kancing jas yang ia kenakan, "Kau menantang ku untuk membunuh mu bukan? Aku pasti akan melakukannya jika kau sampai berani menyentuhnya," ucap Leo dengan tatapan mata iblisnya. Dia membuka jas miliknya lalu membuangnya.


"Kirim dia ke pulau terpencil dan pastikan tidak menginjak Ibu Kota lagi," titahnya bak raja yang mengeksekusi. Suaranya rendah tetapi mencekam. Leo J dengan segudang kharismanya.


"Baik Boss," jawab dua orang itu. Kiara berteriak dan berontak dengan sekuat tenaganya. Tapi percuma.


_____


Mobil Leo parkir dengan pelan, lalu dia segera keluar. Dia melangkah ke rumah.


Pintu rumahnya terbuka sebelum tangannya mampu memegang gagang pintu. Ada seseorang yang tersenyum cantik di balik pintu. Senyuman yang menghangatkan hati Leo. Tangan Leo mengulur, ia meraih tengkuk Yuna dan langsung mencium bibirnya. Menciumnya dengan dalam, ia memejamkan matanya.


Yuna menjinjitkan kakinya, ia memejamkan mata. Kedua tangannya melingkar di leher kokoh Leo. Bibir mereka saling terpaut, lembut dan dalam. Merasakan hangat nafas yang membelai wajah.


Kemudian, Leo mengangkat Yuna dan membawanya ke dalam.


"Turunkan," pinta Yuna. "Aku ambil air hangat dulu," ucapnya. Leo menatapnya sebentar, mencium bibir Yuna lagi kemudian menurunkan Yuna.


Dia menaiki tangga dan langsung menuju kamarnya. Hatinya begitu damai, matanya di penuhi kelembutan saat indra penglihatannya menemukan malaikat kecilnya terlelap.



Dia dengan sangat hati-hati menyentuh tangan Baby Arai, lalu menunduk dan mencium tangan mungil itu.


_______


Catatan Penulis πŸ₯°


Terima kasih untuk sahabat semuanya 😍 πŸ₯° yang masih setia menunggu kisah ini.


Terima kasih untuk dukungannya πŸ™ aku padamu πŸ₯°


Jangan pernah bosan buat like komen ya kesayangan nanas πŸ₯° Luv luv.


Tentang tempat visual yang mungkin berbeda dari apa yang dijabarkan dalam tulisan mohon dimaklumi ya, nyari visual yang tepat ditempat nya nggak nemu2 πŸ™πŸ™ Fokus aja ama wajah orangnya. Terima kasih.


Mohon maaf jika Author ada salah kata. πŸ™πŸ₯°