
Vano berdiri diatas balkon kamarnya. Kedua tangannya masuk kedalam saku celana pendeknya. Hembusan dingin angin malam membelai wajah tampannya, menggoyangkan sedikit rambutnya. Ia menatap kedepan dan sesekali menatap langit malam yang tanpa bintang. Kenapa Dewa Amor seolah menjauh darinya, kenapa bahkan Cupit seolah tidak pernah berpihak padanya.
Mencintai seseorang yang telah termiliki adalah sesuatu yang tidak adil. Tuhan memberinya cinta namun tidak memberinya kesempatan. Pupus begitu saja.
Sekarang, ketika detak jantung itu mulai kembali memiliki sesuatu yang lain, jalannya tetap terhubung pada jalan yang pernah terlalui. Dia ingin jalan yang lain, jalan yang tidak terhubung dengan sesuatu yang begitu menyakitinya. Tapi... kenapa detak jantung ini membawanya kembali dan kembali pada jalan itu. Jalan yang terhubung dengan sesuatu yang ingin dia hindari.
Cring...
Ponselnya mendapat pesan baru.
"Bro...," pesan dari Arnis. Arnis menyertakan foto dirinya yang berada di dalam mobil dan membuka kaca mata sebelahnya. Latar belakang foto itu adalah tempat dugem paling terkenal di tempat tinggal Arnis.
"Kau dimana?" balas Vano
"Diluar," balasnya dengan menyertakan emot melet.
"Kau sudah berjanji pada ku untuk tidak lagi keluar malam."
"Maaf khilaf, tapi ini, aku meminta izin pada mu kan? Calon suami ku, hahaa," balas Arnis lagi dengan emot tawa terbahak-bahak. Bibir Vano terbuka dan dia tertawa oleh balasan itu. Arnis ini... selalu narsis. Kemudian, Vano membuat panggilan telepon padanya.
"Ampuuun," Arnis langsung berteriak setelah dia mengangkat panggilan dari Vano.
"Aku akan menghubungi polisi untuk menangkap mu."
"Jangan-jangan," suara Arnis terdengar ketakutan. "Janji tidak akan nakal lagi Boss, sungguh," lanjutnya.
"Jadi, apa alasan mu keluar malam ini?"
"Kau wanita... jangan menjadi liar," suara Vano kesal padanya. Arnis tertawa renyah mendengar ini. Pijar dalam hatinya tidak meredup, pijar itu masih ada hingga saat ini, dan bahkan saat ini cahayanya semakin terang.
"Terima kasih untuk perhatiannya, calon suami. Hahaaa," ucapnya di sambungan telfon. Pipinya memerah dengan ucapannya sendiri. "Aku tidak sedang keluyuran kok," lanjutnya sebelum Vano menjawab apapun. "Aku menjemput Papa di bandara. Foto yang kau terima tadi adalah foto ketika aku melewati kawasan itu dan aku iseng berhenti di sana dan mengambil gambar untuk mu. Terima kasih sudah bikin aku baper tengah malam Vano," klik... dia segera memutus panggilan setelah menghentikan kalimatnya, dia bahkan tidak memberi kesempatan pada Vano untuk menjawab satu kata pun.
"Hhh, dasar...," gumam Vano dengan bibir tersungging. Dia menatap langit sebentar lalu berbalik dan menutup pintunya. Ia mengistirahatkan punggungnya di atas kasur empuknya.
Cring... ponselnya mendapat pesan baru. Pesan dari Arnis. Dia mengirimkan foto dirinya dengan sang Papa konglomerat batu bara. Mereka tengah di bandara. Foto itu untuk membuktikan bahwa dirinya tidak berbohong pada Vano.
"Gadis baik," balas Vano.
"Tentu," balas Arnis dan dia cepat mengirim pesan lagi sebelum Vano mengetik huruf apapun. "Karena aku ingin menjadi wanita yang layak untuk seseorang, aku akan berusaha. Hehee...,"
"Hmmm," balas Vano singkat. Dan chat selesai.
Kemudian, Vano membuka chatnya pada Neva, ada tanda online.
Saat itu... Neva baru saja kembali dari gazebo setelah berbicara empat mata dengan Kakaknya. Dia baru saja menjatuhkan dirinya di kasur dan menyalakan ponsel miliknya. Dia juga sedang membuka chatnya pada Vano, membuka chatnya dan membaca pesan mereka.
"Kau belum tidur?" Vano mengirim pesan padanya. Itu langsung membuat Neva duduk, seperti ada yang menarik paksa dirinya untuk langsung duduk. Dia memperhatikan layar ponselnya dengan bimbang, sekitar tiga menit dia masih saja memelototi ponselnya tanpa mengetik apapun dan akhirnya dia membalasnya.
"Belum," hanya itu.
Dan Vano tidak membalas lagi. Dia berfikir jika Neva tidak nyaman dengannya jadi dia tidak membalas lagi.
Sementara Neva terus saja mengecek ponselnya, ia menunggu sebuah balasan. Namun, hingga fajar menyapa tak ada balasan sama sekali dari seseorang yang dia tunggu. Menunggu itu sungguh melelehkan.