Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 164_Tentang Rasa


Neva langsung kembali kerumah setelah kuliahnya selesai. Ia merebahkan dirinya di kasur. Ia membuka pesan pada ponselnya. Ada pesan Vano yang semalam belum dia balas dan saat ini ada pesan baru lagi dari dia.


"Ada festival ice cream tak jauh dari pusat kota, apa kau mau datang?" isi pesannya. Neva membacanya dengan senyum tipis dan kembali tidak membalasnya. Kemudian, ia membuka chatnya pada Leo.


"Kak...," dia mengirim pesan tapi ternyata tidak bisa, nomornya sudah diblokir oleh Leo.


Kenapa kau sampai semarah ini? Aku hanya bercerita tentang perasaan ku pada mu.


Pesan baru, masuk lagi ke ponselnya.


"Kau tidak apa-apa?" pesan dari Vano. Neva tersenyum membacanya dan kemudian membalasnya.


"Hmm iya tidak apa-apa Kak. Maaf baru sempat balas pesan Kakak."


"Apa malam ini kau ada acara? Ayo nonton, ada film horor terbaru dan ini sangat booming."


"Aku lagi ada tugas kelompok Kak. Terima kasih, mungkin lain kali." balasnya.


"Okey," balas Vano singkat.


Sial, Vano tertawa kecil dimeja kerjanya. Ada apa dengan dirinya? Kenapa ketika gadis kecil itu tidak membalas pesannya, dia menjadi merasa kesepian? Apakah ini rasa seorang Kakak yang merindukan adik perempuannya atau apakah ini tentang rasa yang lain?


Neva memperhatikan foto Vano dalam ponselnya, wajah dalam kaca spion, sangat unik.


Kenapa aku begitu naif pada perasaan ku, hingga membuat Kakak ku marah dan bahkan tidak ingin menginjakkan kaki di rumah ini lagi.


Aku sangat naif, aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku, aku juga tidak tahu apakah perasaan ku terbalas atau tidak, Hhh sangat lucu. Aku menyerah pada perasaan ini. Aku tahu dia baik padaku tapi aku juga tahu bahwa sikap baik dan manis belum tentu artinya suka, dan suka belum tentu artinya cinta. Okey lupakan Neva... Sebuah ungkapan yang melegenda sepertinya sangat tepat untuk ku, bahwa... cinta itu tak harus saling memiliki.


Cring... ponsel Neva mendapat pesan baru lagi.


"Dimana kau akan mengerjakan tugas? Biar ku antar," pesan dari Vano. Sudut bibir Neva terangkat namun hatinya terasa sediih. Dia tidak membalasnya. Dan selang tiga puluh menit, ia mendapat pesan baru lagi.


"Kau membacanya dan tidak membalasnya. Apa saat ini kau merasa dirimu lebih sibuk dari pengusaha muda? Hmm?" dan Neva tidak membalasnya lagi.


Sebenarnya apa perasaan mu pada ku Kak? Aku tidak bisa jika hanya menerkanya, aku juga tidak bisa jika hanya merasakan dari sisi ku. Aku juga tak mampu untuk membaca arti tatapan mata mu.


Cring, pesan baru masuk lagi.


"Kenapa kau jadi sangat menyebalkan?"


Neva menghela nafasnya.


"Pukul 19.15 bisa ketemu di festival ice cream?"


"Okey, aku akan menjemputmu," balas Vano. sudut bibirnya berkedut menahan senyum. Kenapa balasan dari gadis ini membuatnya senang.


"Tidak perlu Kak, kita bertemu di festival ice cream aja."


Aku hanya ingin memastikan perasaan mu pada ku. Jika kau punya rasa yang sama pada ku, maka aku akan berjuang untuk mendapatkan restu dari Kak Lee tapi jika ternyata hanya aku saja yang memiliki rasa ini maka aku akan berterima kasih pada mu. Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah meminta untuk menyukai mu, rasa ini... tiba-tiba ada ketika aku sering memperhatikan mu dari kejauhan. Jika....rasa ini hanya milikku saja, maka malam nanti adalah malam yang terakhir aku bertemu dengan mu, selanjutnya aku akan melupakan rasa ini untuk selamanya.


_Neva lebih dulu datang. Ia datang lima belas menit lebih awal.


"Kau dimana?" tanya Vano setelah panggilannya terhubung. Suaranya membuat jantung Neva berdebar, ia hanya diam dan tidak menjawab. "Kau dimana?" Vano mengulangi. Neva melihatnya, namun tidak memanggilnya. Vano yang berdiri diantara keramaian, begitu terlihat bercahaya. Neva masih belum menjawab dan hanya diam memperhatikan Vano dari kejauhan. Hingga mata Vano sendiri yang berhasil menemukannya. "Kau mulai nakal, kenapa tidak menjawab ku?" tanyanya. Mereka saling menatap dari jarak yang jauh. Neva masih diam dan masih tidak menjawab. Kemudian, Vano memutus panggilannya. Ia segera melangkah menuju Neva. Neva memperhatikan setiap langkahnya, mata dan hatinya dipenuhi keindahan menyaksikan laki-laki yang dia sukai berjalan dengan senyum ke arahnya. Jantungnya berdebar.


"Apa kau menunggu terlalu lama?" tanya Vano.


"Tidak," jawab Neva menggeleng. Kemudian, mereka jalan beriringan. Mencicipi berbagai macam jenis ice cream dari penjuru dunia. Tertawa dan bercerita banyak hal, degupan pada jantungnya semakin tidak beraturan ketika tangan mereka tidak sengaja bersentuhan.


"Sudah puaskah Nona?" tanya Vano setelah Neva menghabiskan cup terakhir.


"Hu'um, sangat," jawabnya dengan mengangguk senang. Tangan Vano mengulur dan dengan lembut menyeka ujung bibirnya. Waktu seolah berhenti detik itu juga, musim seolah tidak akan berganti, bahkan saat ini seolah tidak ada siapapun selain mereka berdua. Neva menatap wajah itu, mata mereka bertemu.


Deg, Vano segera menarik tangannya. Tentang rasa apakah ini? Gadis ini menjadi begitu indah dimatanya.


"Eh, apakah makan ku berantakan?" Neva bertanya dengan canggung.


"Sedikit," jawab Vano dengan menyatukan jari telunjuk dan jempolnya.


Aku tidak tahu apa arti kebersamaan ini untuk mu. Apakah rasa ku terbalas oleh mu atau tidak.


Mereka berjalan beriringan dengan canggung dan hening.


"Kak, terima kasih untuk hari ini. Aku... sangat bahagia," ucap Neva. Dia menghentikan langkahnya. Vano menatapnya dan mengangguk.


"Ayo, ku antar pulang."


"Terima kasih Kak, tapi supir sudah menunggu ku," jawab Neva dan menunjuk mobilnya yang sudah terparkir menunggunya.


"Okey," ucap Vano. Tangannya terangkat dan mengusap rambut Neva dengan lembut. Neva mendongak untuk menatap wajah tampan didepannya. Kemudian, tangan itu dengan pelan dan lembut berpindah untuk menyentuh pipinya, mengusapnya dengan lembut.


"Hati-hati," ucap Vano.


"Hu'um," jawab Neva mengangguk dengan senyum. Dia kemudian pamit dan melangkah menuju mobilnya. Ia memejamkan matanya, merasakan detak jantungnya yang begitu cepat.


Bagaimana sebenarnya perasaan mu pada ku? Sifat mu membuat ku bingung. Jika tidak punya perasaan pada ku harusnya jangan begini, ini hanya membuat ku terlalu berharap karena termanja oleh sifat manis mu.


Neva menoleh ke arahnya sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil. Tangan itu melambai padanya dan dia membalas lambaian itu.


"Selamat malam Kak...," ucapnya pelan dan segera masuk kedalam mobil. Mobilnya melaju dengan sedang menuju tempat yang ia minta


Aku tidak mungkin menanyakan langsung padanya kan? Itu sangat lucu. Aku juga tidak mungkin tiba-tiba menyatakan perasaan ku padanya, itu sangat aneh. Agrrhh... apa yang harus aku lakukan? Ketika aku ingin menyerah dan melupakan rasa ini kenapa perasaan ini malah semakin indah. Menyerah? Tidak? Menyerah? Tidak? Ini akan mudah jika Kakak jelek itu menyetujuinya. Apa yang membuatnya tidak suka? Itu karena dia belum tahu bagaimana baiknya Kak Vano.


_Yuna berjalan keruang tengah, ia mengenakan kaos casual lengan pendek dan hot pant. Rambutnya dikuncir kebelakang. Kaki jenjang, ramping nun mulus itu melangkah menghampiri seseorang yang tengah duduk di sofa kulit diruang tengah. Sebenarnya irama langkahnya biasa saja tapi tidak untuk sepasang bola mata yang memperlihatkannya, setiap langkahnya mengandung godaan yang memabukkan.


"Sayang, anggur di kulkas ternyata habis ya? Hanya tinggal apel," Yuna membawa dua buah apel merah di tangannya, dan duduk disamping Leo. Dia menggigitnya satu dan memberikan satu untuk Leo, namun Leo segera menaruhnya di atas meja. Yuna meliriknya, dia ingin bertanya 'Kenapa ditaruh? Apa kau tak mau?' namun itu hanya dalam hatinya saja karena sebelum pertanyaan itu dia ucapkan, Leo lebih dulu menyerbu bibirnya dan mengambil gigitan apel dari mulutnya. Tidak sampai disitu, Leo masih saja menyerbunya dengan ciuman yang bertubi-tubi. Hingga... apel ditangan Yuna terjatuh begitu saja kelantai. Tangan Yuna melingkar di lehernya, ia memejamkan matanya. Dengan lembut, Leo menarik ikat rambut Yuna hingga terlepas, rambut Yuna menjadi tergerai dan sedikit berantakan. Tangan Leo menyusup di rambut panjangnya, dan kembali menciumnya.


Tapi beberapa detik kemudian, Leo menghentikan aksinya karena mengetahui gerbangnya terbuka. Seseorang yang sudah hafal sandinya segera masuk dan mengetuk pintu.


Yuna segera mengambil tissue dan membersihkan bibir Leo yang basah. Ia juga segera merapikan rambutnya kembali.


"Muach," dia mencium pipi Leo dan kemudian beranjak untuk membukakan pintu.