Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 90. Tersesat


Setelah makan siang, seluruh siswa dan guru beristirahat.


Kegiatan dilanjutkan lagi pada pukul empat sore.


" Selamat sore anak-anak sekalian !" ucap pak Dirman membuka kegiatan.


" Sore paaaak !" jawab anak-anak serempak.


" Masih semangat kan ?"


" Masiiiih !"


" Bagus, sore ini kita akan mengadakan permainan mencari jejak. Yang berhasil mendapatkan bendera terbanyak, maka kelompok itulah yang menjadi pemenangnya.


Sekarang bapak akan membagi kalian ke dalam beberapa


kelompok ".


Pak Dirman dibantu oleh beberapa guru mulai membentuk kelompok.


Setiap kelompok berjumlah 10 siswa. Karena dipilih secara acak, akhirnya kelompok Tiara terpisah.


Tak lupa pak Dirman menjelaskan peraturan permainan dan rute yang akan dilalui. Tanda-tanda sudah dipasang di setiap lokasi pencarian.


" Mendapatkan bendera atau tidak, semua harus kembali ke tenda paling lambat pukul enam sore. Siap anak-anak?"


" Siap Paaak !" jawab mereka serempak.


Setelah semua grup telah siap, pak Dirman membunyikan peluit yang tergantung di dadanya pertanda kegiatan segera dimulai.


Seluruh siswa yang terdiri dari 10 kelompok itupun mulai bergerak masuk ke dalam area pepohonan untuk mencari rute yang telah ditentukan.


Siswa yang ikut camping kali ini tidak terlalu banyak. Mungkin karena alasan tidak mendapatkan ijin dari orang tua ataukah alasan klasik lainnya, entahlah. Yang jelas jumlah tenda yang ada saat ini sebanyak 20 tenda.


Kembali lagi ke balik pepohonan di depan sana.


Tiara menoleh ke segala arah berusaha mencari rute dan letak bendera yang disembunyikan. Begitu juga teman-teman yang sekelompok dengannya.


Waktu bergulir begitu cepatnya, tanpa terasa sudah hampir setengah jam mereka masuk ke dalam hutan.


" Hore ! aku dapat satu !" terdengar teriakan senang dari kelompok sebelah.


" Duh, kok kelompok kita belum ada yang ketemu benderanya ya ". ucap putus asa seseorang yang tak jauh di depannya.


" Yaa mau gimana lagi coba, kita kan udah usaha tapi emang belum ketemu ". balas yang lainnya.


Sementara anggota kelompok lainnya hanya diam saja seraya terus berjalan mencari. Hingga tanpa disadari, jarak antara anggota yang satu dengan lainnya mulai terentang.


Tiara sendiri lama kelamaan mulai terpisah dari kelompoknya.


Namun tak menyurutkan semangatnya ditambah lagi tak jauh dari tempatnya, nampak beberapa siswa yang sebaya dengannya.


Sebenarnya, wajah mereka agak asing baginya tapi tak terlalu dipedulikan karena itu hal wajar menurutnya. Karena dia sendiri tak ingat dan juga tidak begitu kenal dengan siswa dari kelas lain.


" Mungkin saja itu siswa dari kelas yang lain ". gumamnya pelan. Ia terus melangkahkan kakinya menyusuri rute yang nampak beda dengan yang dijelaskan oleh pak Dirman.


Ia mulai gelisah mencari papan penanda rute, namun tak ditemukan juga. Matanya mulai liar menoleh ke kanan kiri mencari teman kelompoknya. Namun hanya suara mereka yang terdengar di kejauhan.


" Haloooo adakah kelompok anggrek di sini ?" teriaknya mencoba menghubungi teman-teman kelompoknya.


Namun tidak ada sahutan.


Ia mencoba lagi berteriak memanggil anggota kelompoknya, namun hasilnya nihil. Tak ada satupun yang menjawab teriakannya.


Langit perlahan mulai berubah gelap. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Rasanya ingin menangis di saat sendiri seperti ini.


Tiara terduduk lemas.


Dikerahkan otaknya untuk berpikir jalan keluar dari tempat itu.


Beberapa saat kemudian


Krek.


Sontak ia menoleh ke belakang ketika mendengar suara ranting kering patah.


\*\*\*\*\*