
Dua hari telah berlalu. Leo dan Yuna sudah kembali ke rumah mereka di Ibu Kota. Leo lagi dan lagi mewanti-wantinya untuk tidak ceroboh dan tidak capek. Kemudian, setelah berdialog mesra dengan calon baby nya, dia segera berangkat ke kantor.
Pada pukul 10.45 Yuna meninggalkan rumahnya. Dia ingin kekantor Leo tapi sebelum itu, ia berhenti di salah satu toko cake.
"Nyonya muda, biar saya yang keluar untuk membelinya," Albar menawari tetapi Yuna menolaknya dengan halus. Dia keluar mobil dan melangkah sendiri untuk membeli cake yang akan dia bawa untuk Leo.
"Hai, Yuna," seseorang yang melihat kedatangannya langsung memanggil dan menghampirinya. Dia bahkan meninggalkan antriannya untuk menghampiri Yuna.
Dia. Yuna mengalihkan pandangannya sebentar lalu ia menatap dengan tajam seseorang yang saat ini sudah berada di depannya.
"Alea," ucap Yuna singkat dengan nada yang tidak lagi bersahabat.
Mereka berdua duduk berhadapan di salah satu meja ditoko cake itu. Yuna diam dalam hati yang begitu berkecamuk. Ingin meneriaki dan memakinya? Tentu saja, tapi dia ingat pesan Leo. Jadi dia hanya diam. Dia tidak ingin mulutnya menjadi kotor.
"Bagaimana keadaan mu, Yuna? Ku dengar, kau baru saja sembuh dari sakit," ujar Alea dengan perhatian. Dia memperhatikan wajah dan ekspresi Yuna yang tampak dingin padanya.
"Aku baik-baik saja," jawab Yuna singkat. Kemudian, hening beberapa saat. Mata Yuna masih menatap Alea dengan tajam, menahan amarah dalam hatinya, menahan sumpah serapah dalam lisannya. Pandangan mata Alea pada Leo, suara manja Alea pada Leo, pesan Alea pada Leo, Yuna ingat itu.
"Yuna, apa kau memblokir nomor ponselku? Aku mencoba mengirim pesan pada mu berkali-kali tapi tidak bisa," tanya Alea masih dengan nada yang bersahabat setelah beberapa saat terdiam.
"Ya, aku memblokir nomor ponsel mu, Alea," Yuna menjawab dengan tenang.
"Kenapa Yuna? Apa aku menyinggung mu?" Alea bertanya dengan cemas setelah mendapat jawaban dari Yuna bahwa memang benar Yuna telah memblokir nomor ponselnya.
"Menyinggung ku? Lebih dari itu Alea." jawab Yuna.
Mendapat jawaban dari Yuna lagi, Alea menelan ludahnya dan mengambil nafas panjang.
"Aku minta maaf jika dengan tidak sengaja aku menyinggung mu, Yuna. Tapi sungguh aku tidak bermaksud untuk menyinggung mu."
"Tidak bermaksud menyinggung?"
Alea mengangguk, "Saat bersamamu, aku dengan hati-hati menjaga setiap sifat dan perkataan ku tapi jika memang pada akhirnya ada sifatku yang menyinggung mu, aku minta maaf," ujar Alea dengan penyesalan.
"Kau pandai menjaga sifat dan perkataan mu tapi kenapa kau tidak pandai menjaga hatimu!!"
Alea tersentak pada kalimat Yuna. Dia termangu dan hanya mampu menatap Yuna. Yuna tahu hatinya? Yuna tahu jika dia mencintai Leo? Batin Alea.
"Aku ... aku tidak mengerti apa maksud mu Yuna," Alea menjawab dengan sedikit menggelengkan kepala.
Sudut bibir Yuna terangkat menjadi senyuman sinis.
Alea menunduk, ia mengigit bibirnya dengan rasa perih di hatinya. 'Yuna sungguh tahu, dia sungguh tahu jika aku mencintai Tuan muda Lee. Apa yang harus ku katakan padanya. Aku sungguh jahat dan sangat keterlaluan padanya tapi ...." Alea mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Yuna. "Tetapi, rasa itu hadir dengan sendirinya. Harusnya aku, Ya ... seperti yang Papa ucapkan padaku. Harusnya aku."
"Yuna," Alea memanggil Yuna dengan pelan. Tangannya mengulur untuk menyentuh telapak tangan Yuna yang berada di atas meja, tetapi itu tidak sampai karena Yuna dengan cepat menarik tangannya. "Aku hanya ingin meminta maaf padamu," ucap Alea pelan karena mendapat penolakan dari Yuna.
"Jangan menyentuh ku, pun jika kamu ingin meminta maaf," jawab Yuna. "Kau tahu Leo suamiku, kenapa kau terus saja mengiriminya pesan? Dari mana kau dapatkan nomor ponselnya? Sepertinya kau sangat berusaha dengan itu."
Alea menatapnya, "Sebelumnya, aku minta maaf kepada mu Yuna karena aku memiliki perasaan ini. Tapi kau harus tahu, jika ini bukan mauku. Perasaan ini ada begitu saja dalam hati ku, aku tidak memintanya tapi perasaan ini malah semakin menekanku. Ya, aku mencintai suamimu Yuna. Aku mencintai Leo."
Plak, pada akhirnya tangan Yuna tidak tahan untuk tidak menamparnya. Hatinya teramat sakit, sangat sakit. Ketika mulut itu mengatakan bahwa dia mencintai suaminya. Gendang telinga Yuna bahkan terasa hampir pecah karena mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Alea. Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak. Ia menggenggam telapak tangannya yang baru saja mendarat di pipi Alea. 'Leo hanya milikku.' dia berteriak dalam hati.
Alea diam meskipun dia merasakan sakit dipipinya dan itu bahkan menjalar pada hatinya. Dia diam dan menatap Yuna. Kenapa Yuna menamparnya? Siapa yang patut disalahkan? Dia sendiri yang memberi banyak kesempatan padanya untuk bisa dekat dengan Leo.
"Sekali lagi, aku minta maaf, Yuna," ucap Alea. "Sekali lagi ku tekankan pada mu bahwa perasaan ini ada dengan sendirinya, aku tidak memintanya. Perasaan ini hadir begitu saja dalam hati ku, aku tidak mengundangnya. Perasaan ini hadir untuk Leo dan aku tidak bisa mencegahnya. Apa kau bisa memberi tahuku bagaimana caranya untuk menghapus namanya? Aku juga tersiksa dengan perasaan ini Yuna, tapi sekali lagi, rasa cinta itu datang dengan sendirinya jadi tolong jangan salahkan perasaan ini," ujar Alea.
"Perasaan mu salah Alea," sahut Yuna segera. "Aku tahu cinta datang dengan sendirinya tapi kau salah dalam rasa cinta mu. Kau tahu Leo adalah milikku. Jika kau adalah wanita yang baik, kau tidak akan merayunya dan malah mendekat padanya. Jika kau adalah wanita baik, kau akan mengubur perasaan itu sebelum rasa yang kau miliki padanya semakin tumbuh. Jika kau adalah wanita yang baik, kau tidak akan membiarkan rasamu menjadi penghancur rumah tangga orang lain," lanjut Yuna. Dia masih menggenggam telapak tangannya. Dadanya bergemuruh. Hatinya meneriakkan nama Leo tanpa henti. Alea diam dan memperhatikan Yuna. Mata Yuna berkaca-kaca menatapnya.
"Kau tidak tahu bagaimana aku memperjuangkannya Alea, kau tidak tahu bagaimana rasa sakit untuk mendapatkan cintanya. Kau tidak tau, bagaimana aku bahkan hampir menyerah dan meninggalkannya. Kau hanya melihat sisi ujung yang terlihat begitu indah. Aku tidak begitu saja masuk ke dalam hatinya. Aku berjuang Alea," Yuna berujar kata demi kata dengan kesakitan di hatinya. Perasaan yang tidak bisa disalahkan, kata Alea? Cih, Yuna muak dengan itu. Yuna menunduk sebentar lalu segera beranjak dan melangkah meninggalkan Alea yang terdiam.
Yuna segera masuk ke dalam mobil dan melupakan tujuan utama dia datang ke toko cake itu.
"Jalan," pintanya pada Albar dengan suara yang sedikit tercekat. Mobil melaju dengan perlahan. Yuna memejamkan matanya, hatinya berkecamuk, "Albar," panggilannya dan kembali membuka matanya.
"Ya, Nyonya muda," jawab Albar.
"Tolong percepat lajunya," pinta Yuna.
"Baik," jawab Albar. Dia segera menambah kecepatan laju mobilnya.
Yuna ingin segera sampai di kantor Leo, ia ingin segera bertemu Leo dan memeluknya.
'Leo, aku akan merawat dan menjaga hati mu dengan sangat baik.'
___
Catatan Penulis
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya π
Jan lupa like komen ya kesayangannya Nanas π₯° Yang ada poin Vote juga... ππ Luv luv π₯°ππ Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta πΉ