
Mobil Vano berhenti pelan di depan kampus Neva. Suasana pagi sudah ramai.
"Mau ku antar kedalam?" tanya Vano menawari Neva.
"Tidak perlu, ini bukan yang pertama untuk ku. Hahaaa ini tidak menegangkan seperti saat pertama masuk SMA," jawab Neva.
Vano mengangguk dengan senyum.
"Emm, aku keluar dulu," ujar Neva. Dia menatap Vano.
"Ok," jawab Vano. Dia membuka kunci pintu mobil. Tangan kanan Neva mengulur, isyarat untuk meminta tangan kanan Vano. Vano segera menyambut uluran tangan Neva. Tangan mereka bertemu, lalu Neva membawa tangan Vano pada keningnya lalu pipi dan bibirnya. Tangan itu seperti mengitari wajah Neva.
"Aku belajar dulu sayang," ucapnya dengan senyum setelah selesai mencium tangan Vano.
Sudut bibir Vano terangkat membentuk senyuman bahagia. Ini sangat manis. Tangan kirinya terangkat untuk di letakkan di kepala Neva. Mengusap rambut Neva dengan lembut. Vano mendekatkan wajahnya lalu dengan pelan mencium pucuk kepala Neva. Bibir itu mengecup lembut kening Neva. Pagi indah dan manis untuk mereka berdua.
"Semangat sayang," ucap Vano. Mata mereka bertemu, saling menatap dengan cinta.
Neva mengangguk, "Terima kasih," jawabnya. Kemudian, dia keluar dari mobil. "Bye," katanya. Tangannya melambai.
Mobil Vano perlahan menjauh meninggalkan area kampus.
"Hallo selamat pagi Nona Neva," sapa seorang cewek. Lalu entah ada berapa lagi yang menyapanya. Siapa yang tidak kenal Neva, putri konglomerat, pernah ada gosip dengan artis papan atas dan saat ini dia adalah calon menantu dari keluarga Mahaeswara. Takdir terlalu berlaku baik padanya, pikir beberapa orang.
______
Di markas besar, Papa dan Leo tengah bersiap untuk terbang ke pulau M. Asisten Dion baru saja sampai dan langsung memberikan dokumen yang Leo minta tadi malam.
Kemudian mereka terbang ke pulau M. Leo langsung menyalakan ponselnya begitu dia sampai di bandara pulau M. Dia membuat panggilan pada Yuna.
"Sayang, aku sudah sampai," katanya. Ketika Leo melakukan perjalanan, dia selalu mengabari Yuna. Agar sang istri tidak khawatir tentangnya. Sesibuk apapun Leo, dia pasti menyempatkan waktu untuk menghubungi Yuna.
Ya, dia menempatkan istrinya sebagai prioritas. Tidak ada kata sibuk untuk menanyakan kabar wanitanya, tidak ada kata tidak sempat untuk memberi kabar pada wanitanya.
Yuna mengucap syukur disana, karena perjalanan suaminya lancar. Kemudian, setelah bertukar beberapa kata, Leo memutuskan panggilannya.
Tuan besar Nugraha dan putra keduanya Leo J Nugraha disambut dengan khusus oleh rekan bisnis mereka. Kemudian, mereka tenggelam dalam kesibukan hari ini.
____ Malam harinya. Tuan besar Nugraha dan Leo J kembali menghadiri sebuah meeting penting dan juga jamuan makan malam.
Leo duduk dengan tenang. Seperti biasa dia diam dan memperhatikan, dia hanya akan bicara mengenai inti dari apa yang perusahaan Nugraha inginkan. Dia hanya bicara seperlunya tetapi mencakup semuanya.
Tak lama, Leo mengambil ponsel dari saku jasnya. Dia mengirim pesan pada Yuna.
"Sayang, maaf aku pulang terlambat. Kita masih di luar kota saat ini," pesan Leo pada Yuna.
"Semangat Daddy. Menunggu mu pulang," balas Yuna. Leo mengerutkan bibirnya sedih.
"Mom udah makan?"
"Belum. Ku pikir kau akan pulang petang, jadi aku menunggumu,"
"Jangan telat makan sayang, si kecil bergantung pada mu."
"Iya, aku akan segera makan setelah ini," balas Yuna.
"Jangan lupa minum susu."
"Siap Bosque," jawab Yuna dalam pesannya.
"Love," balas Leo dengan emot cinta. Selesai. Pesan mereka cukup sampai di situ. Leo kembali fokus pada apa yang telah dibahas.
__________
Sementara disana, di rumah besar keluarga Nugraha, Neva berbincang-bincang dengan mamanya. Dia bertanya, apakah menikah itu akan membuat kita menjadi terkekang.
Mama terkekeh mendengar pertanyaan putrinya. Beliau menjelaskan dengan perhatian bagaimana kehidupan seorang wanita setelah menikah.
Neva mengangguk mengerti. Tapi memang ada banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menuju ke jenjang pernikahan.
"Jangan terlalu sering menolaknya, bagaimana jika nanti dia malah ragu dengan mu karena kau selalu menolak untuk menikah dengannya," ujar Mama.
"Aku bukan menolaknya Ma, aku hanya belum siap untuk waktu dekat ini. Dia bilang, dia bakal sabar menunggu kok," Neva membela diri.
"Mama apaan sih," ucapnya kesal setengah mati. Dia tidak bisa membayangkan jika Vano tergoda wanita lain lalu meninggalkan dirinya.
"Dia sering kecewa sama kamu. Yang ditunggu akan kalah sama yang sudah siap," lanjut Mama yang membuat Neva berteriak memanggil mamanya.
"Maamaaaa ...." Neva menggoyangkan lengan mamanya. "Mama jangan membuatku takut," ucap Neva. Dia menatap mamanya dengan tajam.
"Jika kau sering menolaknya, dia mungkin akan enggan untuk mengutarakan niatnya lagi," jawab Mama. Wajah Neva berubah suram, dia menekuk wajahnya. Dia menjadi sangat pusing memikirkannya.
"Dia tidak akan meninggalkan ku Mama," ucap Neva dengan pelan. Dalam hati, dia merasa sangat khawatir. Apa yang mamanya katakan itu benar.
"Hmmm, ok, ok," ujar Mama. "Jangan biarkan dia pergi gadis."
Neva menyandarkan kepalanya di bahu mamanya.
"Jangan berpikir terlalu jauh, menikah itu membawa kebahagiaan bukan yang lain, syaratnya hanya satu temukan pasangan yang tepat maka hari-hari mu akan dipenuhi dengan kebahagiaan," ujar Mama halus. Tangan lembut beliau mengusap lengan Neva.
_______
Malam hari pukul 23.00 Leo dan papanya telah menyelesaikan meeting penting dan jamuan makan malam itu. Mereka berdua keluar dari ruangan di salah satu hotel berbintang.
Kemudian, mereka kembali terbang ke Ibu Kota. Butuh waktu dua jam untuk sampai ke Ibu Kota. Leo menyandarkan punggungnya di tempat duduk, kakinya menyilang dan matanya memperhatikan jendela kaca pesawat.
Apa kau sudah tidur sayang? Atau sedang bergurau dengan Baby Arai.
Batin Leo. Dia sangat rindu istri dan anaknya.
"Besok pagi kita meeting di markas besar. Dimas akan datang," ujar Papa menyadarkan Leo. Leo mengangguk sebagai tanggapan.
"Kau bilang, Kiara sempat menemui mu?" tanya Papa memastikan lagi. Tadi pagi, sebelum keberangkatan mereka ke pulau M, Leo sempat bercerita tentang dia yang mengasingkan Kiara.
"Dia meminta untuk tidak menyerang keluarganya," jawab Leo.
"Hhh," papa tersenyum sinis. "Seharusnya mereka berkaca. Jika Tata tidak mengetahui niat jahat Kiara lalu mengganti file-file, apa yang akan mereka buat terhadap kita?" ujar Papa. Leo merapatkan bibirnya dan menoleh ke arah papanya.
"Aku minta maaf Pa," ucap Leo. Tuan besar Nugraha menoleh ke arah Leo. Dia menepuk lengan putranya pelan.
"Tidak apa-apa, bukan salahmu. Tentang Kiara yang berkhianat padamu, itu bukan salahmu. Kesalahanmu bukan disitu tetapi pada cinta buta yang kau miliki. Kau yang memaafkannya dan bahkan mengemis cinta padanya saat dia meninggal mu," ujar Tuan besar Nugraha dengan teratur. "Itu masa lalu terbodoh yang kau lakukan nak."
Leo mengangguk, dia mengakui jika dirinya memang sangat bodoh karena cinta butanya.
"Keputusan mu sangat bagus, Papa setuju," komentar Tuan besar Nugraha atas keputusan Leo mengirim Kiara ke pulau terpencil. Beliau mengambil nafasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Alea pergi dari Ibu Kota, begitu juga dengan Kiara. Papa berharap, tidak ada lagi yang mengusik ketenangan rumah tangga mu," ujar beliau.
"Aamiin," Leo mengamininya. Tuna besar Nugraha tersenyum. Beliau ingin anak-anaknya terus bahagia. Kemudian, beliau mengingat sesuatu.
"Bagaimana dengan punggung mu? Apa kau pernah merasakan sesuatu? Seperti ... nyeri misalnya," tanya Tuan besar Nugraha dengan perhatian. Sudah sejak lama beliau ingin menanyakan itu tetapi selalu saja lupa jika sudah bertemu dengan Leo. Cidera punggung Leo saat itu sangat parah, meskipun sudah melakukan operasi dan terapi tetapi beliau masih khawatir jika dikemudian hari terjadi sesuatu pada Leo.
"Aku tidak merasakan apa-apa," jawab Leo.
Papa mengangguk dengan senyum, "Syukurlah," ucap beliau. Lalu menunduk sebentar untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan. "Biar bagaimanapun, punggung mu pernah cidera. Kau harus selalu hati-hati," pesan beliau dengan kelembutan suara khas seorang Ayah.
Leo mengangguk, "Aku tidak pernah lagi menjalani olahraga yang berat," jawab Leo.
"Ya, jangan mengangkat sesuatu yang berat," sambung Tuan besar Nugraha.
"Istriku tidak berat," sambung Leo. Papa tertawa mendengarnya.
"Kau bahkan melakukannya dipagi hari," ledek papa.
"Papa mengacaukan segalanya," tukas Leo kesal. Dia menoleh ke arah papanya. Papa tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Leo.
_______
Catatan Penulis
Terima kasih yang udah dengan sabar menunggu kelanjutan kisah ini π₯°π
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang π₯° Pada mu π₯° luv luv.
Maaf klo ada tulisan yang typo ya π