Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 375_Selamat Datang Kembali


Mobil yang Leo tumpangi perlahan parkir dihalaman rumah. Mama yang sadar akan kedatangannya, segera melangkah keluar dan dengan tangannya sendiri beliau membukakan pintu untuk kedatangan putranya.


Leo duduk di kursi roda, masih di halaman rumah. Matanya menatap Mama yang berdiri di depan pintu menyambutnya. Dia tersenyum.


Yuna mendorong kursi roda pelan menuju kerumah. Langkah kaki, helaan nafas, dan degupan jantungnya mengungkapkan syukur tiada henti. Leo kembali ke rumah dalam keadaan sehat.


Yuna menghentikan langkahnya saat mereka sampai di depan Mama. Mata Mama berkaca-kaca menatap putranya. Beliau membungkuk dan langsung menghamburkan pelukannya pada Leo. Mama menangis haru dalam rasa syukur mengagungkan kebesaran Tuhan yang maha baik. Leo membalas pelukan mamanya dan mengusap lembut punggung Mama.


"Selamat datang kembali Nak," ucap Mama. Beliau melepaskan pelukannya dan menatap Leo. Kedua tangan mama memegang pipi Leo. "Sehat selalu Nak, panjang umur. Semoga kesakitan mu kemarin adalah pelebur dosa yang pernah kau perbuat. Sakit yang membuatmu mampu memaknai syukur akan nikmat dari Nya," ujar beliau. Leo mengangguk dan mengamini dalam hati. Kemudian, Mama mencium kening Leo penuh kasih seorang Ibu. Mama memejamkan matanya dan berdo'a dalam hati. Do'a untuk kesehatan dan keselamatan putranya.


"Papa dan semuanya sudah menunggu di dalam," ujar Mama setelah kembali berdiri. Beliau melangkah kearah Yuna.


"Boleh Mama yang mendorongnya?" tanya Mama pada Yuna. Yuna tersenyum dan mempersilahkan.


"Silahkan Ma," jawab Yuna. Kemudian mereka berjalan ke dalam ke ruang keluarga.


Ada Papa, Dimas, Nora, Vano dan Neva.


Mereka semua tersenyum bahagia menyambut kedatangan Leo. Dimas berdiri dan langsung memeluk adiknya.


"Selamat datang kembali, Lee. Sehat, sehat, okey," ucap Dimas. "Leo J itu harus hebat, jangan sakit lagi," lanjut Dimas lagi. Dia meninju pelan lengan Leo.


"Pasti Kak, Terima kasih," ucap Leo. "Kakak makin buncit saja," ledek Leo dan langsung meninju pelan perut Dimas. Dimas tertawa lebar, membuat pundaknya naik turun karena tawanya.


"Ciri-ciri laki-laki makmur dan bahagia," jawab Dimas dengan Pe De.


"Kak Dim, kurang olahraga," jawab Leo.


"Siapa bilang, aku sering olahraga. Di kasur hahaaaaa ...." jawab Dimas lagi. Dan semua ikut tertawa.


Kemudian Papa berdiri dari duduknya dan menghampiri Leo. Memeluk putranya dengan kasih.


"Jaga diri dengan baik, anak muda," ujar papa. "Istrimu cantik, jika kau sampai kenapa-napa, banyak yang akan mengantri untuk menggantikan mu," gurau papa. Beliau tahu ancaman terbesar Leo adalah Yuna.


"Aku pasti akan selalu baik-baik saja, tidak boleh ada yang mengharapkan istriku," jawab Leo dengan senyum lebar.


Kemudian Neva yang berdiri dan memeluk kakaknya.


"Sayang Kakak," ucapnya. Lalu mencium pipi Leo.


"Adik hebat," jawab Leo dengan mengusap punggung Neva.


Kemudian, Vano yang berdiri. Dia melangkah mendekat dan berdiri di depan Leo.


"Selamat datang kembali dan tetap sehat Leo," ucapnya. Leo mengangguk.


"Terima kasih," jawab Leo. "Aku sudah berjanji untuk datang di pernikahan nanti, jadi aku harus menepati janjiku," lanjutnya. Kini Vano yang mengangguk.


Kemudian, Nora yang datang menghampiri.


"Sehat selalu Lee," ucapnya pada Leo.


"Terima kasih," jawab Leo. Kemudian, mereka kembali duduk dan berbincang santai. Sementara Leo menanyakan keberadaan anaknya.


"Dia sudah tidur, ada di kamarnya," jawab Mama. Leo pamit pada semuanya dan menuju kamar anaknya dengan diantar Mama. Sementara Yuna pamit untuk beristirahat.


Baby Arai tidak lelap di atas ranjang dengan posisi tengkurap.



"Dia baru saja diam dari tangisnya," ujar Mama. Kemudian dengan pelan dan sangat hati-hati Mama membalik badan Baby Arai agar tidak tengkurap. "Dia rebutan minta digendong Mama dengan Kak Zora," lanjut beliau.


Leo tersenyum, mendekat.


Leo pelan meninggalkan kecupan di pipi dan kening anaknya.


"Daddy pulang sayang," ucapnya pelan. Dia berada di kamar Baby Arai beberapa menit. Kemudian Mama menyuruhnya untuk segera istirahat.


Leo masuk ke dalam kamarnya tepat saat Yuna selesai mengganti baju. Dia segera menghampiri Leo.


"Aku bisa berdiri sendiri sayang," ucap Leo. Kemudian dia berdiri dari kursi rodanya.


"Hati-hati," ucap Yuna. Dia memegang lengan Leo.


"Kau sudah mandi?" tanyanya dan langsung memeluk Yuna. Mencium rambut Yuna yang masih basah dengan dalam.


"Sudah," jawab Yuna. Dia membalas pelukan Leo, menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Mendengarkan degup jantung yang indah. Mereka saling merindu.


"Rambutmu masih basah," ucap Leo. Dia melepaskan pelukannya.


"Ya, aku belum sempat mengeringkannya," jawab Yuna. Dia menggandeng Leo dan membuatnya duduk di sofa. "Kau mau minum? Atau mau buah? Biar ku ambil untuk mu," tanya Yuna. Dia mengusap janggut Leo. Ada bulu-bulu tipis disana.


"Tidak," jawab Leo. Dia menyandarkan punggungnya di sofa dan mengambil nafasnya dengan dalam. Lega. Dia bersyukur dengan kondisinya saat ini. "Aku tidak menyangka jika dokter William adalah Willy," ucap Leo.


"Kisah kalian sangat mengharu, indah dan penuh makna," jawab Yuna. "Tuhan mempertemukan kalian dengan caranya yang indah."


"Dia hebat," ucap Leo. "Dan lagi, aku tidak menyangka jika dia menyimpan tulisan itu hingga saat ini," lanjut Leo. Wajah Yuna seketika berubah masam. Dia menatap Leo dengan cemberut.


"Apa yang biasanya kau tulis untuk Kiara?" tanyanya. Mendapat pertanyaan Yuna, Leo langsung menoleh ke menatapnya.


"Kenapa jadi bahas dia?"


"Kau sering memberinya kata cinta lewat tulisanmu," jawab Yuna kesal.


"Tidak perlu diungkit. Kau pasti akan ngambek setelah ini," jawab Leo. Yuna jelas kesal jika membahas mantan Leo tetapi dia sendiri yang malah mengungkitnya. Wanita, memang susah dimengerti.


"Berarti sesuatu yang indah bukan?" Yuna menatap Leo tajam.


"Aku harus menjawab bohong atau jujur?" tanya Leo balik. Dia menggeser duduknya dan menyelipkan jarinya di rambut Yuna. Yuna menghindar. Dia menyingkirkan tangan Leo dari rambutnya. "Aku bahkan belum menjawabnya, kau sudah kesal duluan. Bagaimana jika aku sungguh menjawabnya, bisa-bisa aku tidak dapat jatah darimu," ujar Leo. Dia beranjak dan berjalan ke kamar mandi.


"Menyebalkan," gumam Yuna kesal. Beberapa saat kemudian dia ikut beranjak dari duduknya dan menyusul Leo. Dia bermaksud membantu membersihkan punggung Leo. Menyabuninya dengan lembut.


Pelan, tangan Yuna memutar gagang pintu dan ia masuk ke dalam. Jantungnya hampir melompat keluar saat ia menemukan Leo yang sudah bersiap untuk masuk ke dalam bathtub.



"Uhukkkkk," Yuna terbatuk menatapnya.


"Kenapa?" tanya Leo. Dia melepaskan semua pakaiannya.


"T- t-tidak ada. A- aku ...." Yuna tiba-tiba tergagap. Wajahnya memerah.


"Kemari," kata Leo.


___________________


Catatan Penulis πŸ₯°πŸ™


Hallo ... Sahabat Sebenarnya Cinta (SSC 🌹)


Tidak terasa, SC udah ada disini selama satu tahun. Terima kasih udah setia bersama othor πŸ₯°πŸ™ Do'akan semoga SC semakin diminati pembaca πŸ™ Dan semoga diminati produser film. Aamiin aamiin aamiin ya Allah 🀲.


375 episode πŸ˜‚πŸ˜‚ panjangnya 🀣🀣 Jika mungkin Author lain menjadikannya dua season dalam dua novel. Tapi beda dengan Othor SC yang menjadikan dua season dalam satu novel. Jadinya panjaaaaaang sepanjang jalan kenangan bersama doi, 🀭 Terima kasih buat semua sahabat yang terus mendukung SC πŸ₯°πŸ™ Semoga kebaikan kalian dibalas Tuhan yang maha esa πŸ₯°πŸ™ Sukses selalu untuk mu kawan.


Jangan lupa like komen ya kawan tersayang πŸ₯° padamu luv.