Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 217_Setelah Wisuda


Neva satu mobil dengan Mamanya.


Dia mengecek ponselnya. Tidak ada pesan dari seseorang yang dia tunggu. Hanya ada pesan dari teman-temannya dan obrolan grub. Dia mematikan ponselnya lagi kemudian menyandarkan kepalanya.


"Ada apa?" Tanya Mama menyadari jika putrinya sangat galau. Mama memperhatikan Neva sedari tadi yang terus menerus mengecek ponselnya.


Neva menoleh ke arah Mamanya. "Apa aku begitu terlihat galau?" Tanyanya. Dia menatap Mama dengan penasaran. Sebegitu kelihatankah kegalauannya. Kakaknya juga tahu kalau dia sedang menunggu seseorang.


Mama terkekeh dan mengusap pundak Neva lembut.


"Siapa yang kau tunggu? Apa Mama boleh tahu?" Tanya Mama menatap putrinya dengan perhatian.


Neva mengalihkan pandangannya. "Ah, hanya perasaan Mama saja. Aku tidak menunggu siapapun," jawabnya.


"Oke," jawab Mama dengan anggukan.


Tiba-tiba, ponsel Neva bergetar dan menerima pesan baru. Dengan segera dia membukanya. Yess... pekiknya pelan. Wajahnya menjadi cerah dan dia tersenyum di sudut bibirnya. Mama menahan senyum melihat perubahan wajah yang katanya tidak menunggu siapapun itu.


"Gadis, maaf tidak bisa hadir di acara wisuda mu," pesan dari Vano. Hanya itu. Neva sedikit senang meski lebih banyak pada rasa kecewanya. Bukankah dia bilang untuk datang.


"Hahaa... tidak masalah, lagipula aku tidak menunggu mu. Kau jangan Ge-Er ya," balasnya. Satu menit, dua menit, tiga menit dan hingga setengah jam, pesan itu tidak mendapat balasan. Neva kembali menekuk wajahnya. Jahat, batinnya.


Cring, ponselnya menerima pesan masuk terbaru. Dia segera membukanya. Jarinya dengan cepat memencet tombol pada ponselnya. Dia berpikir jika pesan yang masuk ke ponselnya adalah pesan balasan dari Vano tapi ternyata bukan. Pesan dari Raizel.


"Happy graduation day! Nona cantik," isi pesan dari Raizel. Neva tersenyum membacanya. "Maaf tidak bisa hadir," pesannya lagi.


"Terima kasih Raizel," balas Neva. "Haaa itu lebih baik. Jika kau datang... sepertinya akan terjadi kekacauan yang luar biasa," balasnya lagi dengan emot tertawa.


"Apa nanti malam kau ada acara?" Pesan balasan dari Raizel.


"Umm, sepertinya tidak. Kenapa?" Balas Neva.


"Aku akan menjemput mu ke rumah, pukul 20.00. Okey," balasan pesan Raizel.


"Dalam rangka apa nih?" Tanya Neva dalam balasan pesannya.


"Apalagi.... merayakan kelulusan mu lah," balas Raizel. "Aku harus kembali Syuting. Sampai jumpa nanti malam," pesan Raizel lagi.


"Hei, aku belum menyetujuinya," balas Neva segera.


"Kau harus setuju, titik," balas Raizel lagi. "Bye," pesannya lagi mengakhiri chat.


"Dasar," gumamnya pelan dengan menggeleng. Dia tersenyum dan meletakkan ponselnya di pangkuannya.


"Hmm, apa dia yang kau tunggu Nona?" Tanya Mama dengan senyum menggodanya. Neva langsung memutar pandangannya dan menatap Mama.


"Mama kepo," ucapnya dan langsung membuat mamanya tertawa.


Di jalanan yang sama, didalam mobil yang berbeda. Leo membuka ponselnya dan membaca berita harian. Berita yang baru saja di unggah pagi tadi dan beberapa jam yang lalu. Berita yang membuat dirinya terkejut. Kemudian, dia segera keluar dari aplikasi berita online itu. Dia melakukan panggilan telepon pada Asisten Dion dan memerintahkan sesuatu.


"Baik, Boss," jawab Asisten Dion siap. Yuna yang bersandar di bahu Leo mendongak setelah Leo menyudahi panggilannya pada Asisten Dion.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanyanya.


"Tidak ada," jawab Leo dengan mengusap rambutnya. Yuna mengangguk dan kembali bersandar.


Perlahan... mobil yang Mama tumpangi masuk melewati pagar yang menjulang tinggi. Di susul dengan mobil Dimas. Sementara Leo mampir terlebih dahulu untuk membeli Pizza.


"Mohon maaf, Nona Nyonya besar, ada seseorang yang izin meminta untuk bertemu. Dia bilang, suruhan dari Nyonya Mahaeswara," ucap Security dengan sopan menghampiri Nyonya Nugraha setelah Nyonya besar keluar dari mobil.


"Ya, silahkan," jawab Nyonya besar lembut.. Beliau melirik Neva dan tersenyum. Kemudian, terlihat seseorang datang dengan membawa buket bunga ditangannya. Dia adalah asisten pribadi Nyonya Mahaeswara.


"Selamat siang, Nyonya besar," ucapnya ramah setelah sampai di depan Nyonya Nugraha. Dia membungkukkan badan untuk Nyonya besar.


"Siang," jawab Nyonya Nugraha ramah. Kemudian, asisten Nyonya Mahaeswara memberi tahu maksud kedatangannya. Dia diperintahkan untuk mengantar hadiah pada Neva.


"Selamat atas wisudanya, Nona," ucapnya pada Neva, lalu memberikan buket bunga pada Neva.


"Terima kasih," jawab Neva. Kemudian, asisten Nyonya Mahaeswara juga memberikan amplop coklat. "Terima kasih," ucap Neva lagi menguncupkan rasa terima kasihnya.


"Saya pamit dulu, Nyonya Nugraha, Nona, Tuan muda," ucapnya pamit dengan membukukan badan.


"Sampaikan terima kasih saya untuk Nyonya Mahaeswara," ujar Nyonya Nugraha dengan ramah.


"Baik, Nyonya," jawab Asisten itu. Kemudian pamit dan kembali.


"Waahh... ada kiriman hadiah," ujar Dimas. Neva mengangguk. Dimas merangkul pundaknya dan mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tengah. Dengan Neva yang duduk bersebelahan sama Mama lalu Dimas yang duduk di seberang mereka.


Neva meletakkan buket bunga di atas meja dan kemudian membuka amplop coklat yang baru saja dia terima.


"Wah... wah... apa ini?" Neva membuka amplop coklat hadiah dari Nyonya Mahaeswara. Mama menggeser duduknya untuk lebih dekat ke arah Neva. Neva mengeluarkan semua yang ada di dalam amplop coklat itu.


"Tiket nonton bioskop gratis selama satu tahun, tiket wisata keliling negara ini, voucer belanja tanpa batas di sebuah butik ternama Ibu Kota. Voucer belanja di sebuah toko Tas bermerk internasional dan satu lagi... vouncer perawatan kecantikan selama satu tahun. Waaahhh...," Neva menjejer semuanya diatas meja.


"Hmmm, Nyonya Mahaeswara sangat murah hati," ucap Mama dengan senyum menggoda Neva. "Sepertinya dia berharap kamu jadi menantunya," lanjut Mama. Dimas yang belum tahu tentang itu langsung menatap Mama dan Neva secara bergantian.


"Waah, Mama serius atau bergosip nih?" Tanya Dimas dengan penasaran.


"Hmmm, bagaimana Adik? Kak Dim nanya tuh," jawab Mama pada Neva dengan tawa kecil.


"Apaan sih Mama," Neva menyenggol lengan mamanya.


"Adik kecil pintar nyari cowok" ucap Dimas dengan bercanda. "Kak Dim setuju lho. Vano laki-laki dewasa, dan mapan. Cocok," lanjut Dimas. Dia mengacungkan jempolnya.


"Mama bohong Kak, jangan percaya. Mama penggosip," jawab Neva.


Kemudian, langkah kaki Leo dan Yuna terdengar. Mama segera mengalihkan pembicaraannya. Mama tahu Leo tidak menyukai Vano.


"Kak Dim, bagaimana perkembangan cucu Mama," tanyanya pada Dimas. Dan Dimas menceritakan kelucuan Baby-nya. Awalnya Nora ingin ikut ke acara wisuda Neva tetapi ternyata itu berbarengan dengan jadwal imunisasi si kecil.


Leo dan Yuna datang dengan membawa tentengan. Pizza...


"Yeyy...," Neva langsung menyambutnya.


"Sini sayang," Mama melambai pada Yuna dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Sementara Leo duduk di samping Dimas. Dia memperhatikan buket bunga dan voucer yang berjejer.


"Apa ini?" Tanyanya. Dia mengambil satu hadiah dari Nyonya Mahaeswara. Mama menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Beliau khawatir jika Leo tidak menyukai hadiah dari Nyonya Mahaeswara. Mama berharap untuk kali ini, Neva berbohong, untuk menjaga perasaan Leo yang tidak menyukai Vano. Mama tidak tahu dan bingung harus berada di pihak siapa.


"Hadiah dari Nyonya Mahaeswara," jawab Neva jujur. Ya, dia menjawab dengan jujur. Tidak ada yang dia sembunyikan dari Kak Lee nya. Sekecil apapun itu. Sedari kecil, Kakak Lee adalah tempat di mana dia butuh teman cerita dan sandaran.


Mendengar jawaban jujur Neva, Mama langsung menatap Leo dengan seksama, beliau khawatir dengan tanggapan Leo dengan hadiah ini.


"Oh," jawab Leo datar dan mengembalikan voucer belanja ke atas meja. Mama bernafas lega karena Leo tidak memperlihatkan ekspresi kesal apa lagi marah, meskipun tanggapannya datar.


"Mana hadiah untuk ku?" Tagih Neva pada kedua Kakaknya.


Leo mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. Kemudian, dia meletakkannya di atas meja.


"Huwaaa...," Neva segera mengambilnya. Kartu debit berwarna emas. "Aku akan menghamburkannya," ucap Neva dengan semangat.


"Terserah, itu milik mu," jawab Leo.


"Terima kasih Kak Lee, aku mencintai mu," ucapnya. "Kak Dim," Tagihannya pada Dimas. Dimas juga mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kunci sepeda.


"Wawww...," Neva menerimanya.


"Ada di garasi," ucap Dimas. Dan Neva langsung beranjak dari duduknya. Dia melangkah menuju garasi dan langsung menemukan sepeda unik dengan perpaduan warna abu-abu dan hitam. Sepeda The G3.


Sepeda lipat elektrik yang semua perangkat elektroniknya tersembunyi dalam rangkanya yang terbuat dari magnesium.


Sepeda ini memiliki desain minimalis dan cantik.


**** Menjelang senja.


Papa baru kembali. Mobilnya parkir di halaman. Beliau keluar dari mobil setelah sang asisten membukakan pintu untuknya.


Papa melangkah ke dalam dan langsung mencari keberadaan Leo.


"Ada di taman samping bersama Yuna," jawab Mama mendapat pertanyaan dimana keberadaan Leo. Papa mengangguk dan segera melangkah pasti menuju taman samping. Beliau percaya pada Leo tetapi omongan temannya itu mengusik pikirannya. Papa akan menghukum Leo dengan tangannya sendiri jika omongan temannya itu terbukti benar. Papa mempercepat langkahnya, beliau tidak sabar ingin bertanya langsung kepada putranya.


Namun, langkahnya terhenti ketika Papa telah sampai di pinggir danau diujung jembatan berbentuk naga. Beliau memperhatikan Leo yang dengan manja tidur dipangkuan Yuna sambil memejamkan matanya dan sesekali bergidik dengan tawa kecil karena rasa geli di telinganya.


Papa, kemudian memperhatikan Yuna yang dengan perhatian membersihkan kotoran di telinga Leo. Dan Yuna yang sesekali memukul lengan Leo karena Leo yang tidak mau tenang.


"Diam... sebentar lagi," ucap Yuna. Dia memukul lengan Leo.


"Itu geli sayang," jawab Leo sambil bergidik.


Sudut bibir Papa melengkung membentuk sebuah senyuman lega dan hangat. Dia percaya Putranya, sangat percaya. Beliau tidak akan menanyakannya. Ucapan temannya itu akan dia buang dan menganggap bahwa dia tidak pernah mendengarnya.


Pelan, Papa membalikkan badannya dan melangkah untuk kembali. Putranya bahagia dengan wanita yang tepat. Itu membuat hati Papa sangat tenang. Kemudian, beliau mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Awasi dia," perintahnya setelah bertukar beberapa kata pada seseorang yang berada di seberang.


"Baik," jawab suara seseorang di seberang sana.


Setelah pukul enam malam. Papa kembali terbang ke luar kota.


____Malam hari. Pukul 19.00 Neva kembali mengecek ponselnya tetapi tidak ada balasan dari Vano.


"Aku kesana," pesan baru dari Raizel. Neva segera membalasnya.


"Hei, kau bilang pukul 20.00 dan sekarang baru pukul 19.00," send.


"Aku menyelesaikan syuting lebih cepat. Aku sudah di jalan sekarang," balas Raizel.


"Ok," balas Neva. "Eh apa aku boleh mengajak Lula? Teman ku yang fans berat mu itu," balas Neva lagi.


"Tidak," balas Raizel.


"Bukankah kau bilang ini untuk merayakan wisuda ku? Semakin banyak orang, semakin bagus dong," send. Tapi tidak ada balasan lagi. Neva mengerucutkan bibirnya. Kemudian, dia turun kebawah dan menemui Mama yang tengah bersantai bersama Yuna di ruang tengah.


"Ma...," panggilnya setelah duduk di samping mamanya.


"Ya?" jawab Mama.


"Raizel akan kesini menjemput ku," ucap Neva. Mama dan Yuna langsung kompak menoleh ke arahnya.


"Kalian?" Mama bertanya dengan mengerutkan alisnya. Yuna menatap Neva dengan penasaran.


"Ini bukan kencan...," ucap Neva segera menjelaskan.


"Tapi tatapan mata Mama menanyakan itu," balas Neva. Yuna masih menatap Neva. Dalam hatinya dia bertanya. Kenapa Vano tidak hadir di acara wisuda Neva? Bukankah itu kesempatan yang sangat bagus dan tepat untuk lebih dekat dengan keluarga Nugraha.


Neva sudah kembali ke atas untuk bersiap. Dia kembali mengecek ponselnya. Sama. Tidak ada balasan dari Vano.


Tak lama, Mama mengetuk pintunya.


"Ya, Ma," jawabnya. Mama membuka pintunya pelan dan sedikit masuk ke dalam kamar.


"Raizel udah datang," ujar Mamanya. Neva mengangguk.


"Baik, Ma," jawabnya.


_Di ruang tamu.


Raizel duduk dengan tegang. Di depannya... ada dua Laki-laki yang memperhatikannya dengan pandangan yang tajam. Dia sudah menyapa kedua laki-laki itu dengan sangat ramah tetapi dua laki-laki ini masih begitu menakutkan.


"Jadi kau mau membawa Neva kemana?" Dimas bertanya pada Raizel.


"Ke... ah hanya untuk merayakan kelulusannya saja Kak," jawab Raizel.


"Kemana?" Tanya Dimas lagi. Dia tidak puas dengan jawaban Raizel. Raizel memejamkan matanya sebentar lalu memberikan jawaban.


"Ke tempat Ice skating di pusat kota, Kak," jawab Raizel.


"Kau bilang, kau mau merayakan kelulusannya. Kenapa ke tempat Ice skating?" Kejar Dimas dengan pertanyaannya.


"Itu... em," Raizel mencari jawaban. Tapi bukankah seharusnya si kakak sudah tahu jika dia akan memberi kejutan dengan caranya bukan dengan cara orang-orang dewasa dengan segala aturannya.


"Hai...," sapa Neva yang berjalan ke arah mereka dan berdiri di samping tempat duduk Dimas. Raizel membeku beberapa saat ketika melihat Neva. Cantik. Sungguh cantik. Namun, dia segera mengkondisikan matanya, mengingat pandangan dua laki-laki di depannya.


"Apa aku membuat mu menunggu lama Raizel?" Tanya Neva.


"Tidak," jawab Raizel dengan lega karena dengan datangnya Neva berarti dia akan segera terbebas dari pandangan mata meyeramkan milik dua laki-laki itu.


"Hei, apa kalian membuatnya ketakutan?" Tanya Neva pada Dimas dan Leo.


"Tidak," jawab Dimas dan Leo dengan kompak. Neva mengangguk.


"Dia Raizel. Artis papan atas paling terkenal saat ini," Neva memperkenalkan Raizel pada kedua Kakaknya. "Kita... teman," lanjutnya. Kemudian, dia menatap Raizel, "Ayo," ucapnya. Raizel mengangguk dengan senyum. Kemudian, dia pamit pada Dimas dan Leo.


Neva mencium pipi kanan kiri Dimas dan kemudian Leo.


"Apa dia menghubungi mu?" Tanya Leo berbisik. Neva menggeleng pelan.


"Dia hanya meminta maaf karena tidak bisa hadir, itu saja," jawab Neva. Dia tahu 'Siapa' yang di maksud Leo.


Leo mengangguk dan melepaskan pelukannya. Kak Dimas memberi syarat untuk membawa Neva keluar.


"Baik Kak," jawab Raizel patuh.


Kemudian, Neva dan Raizel pamit untuk keluar.


Perlahan mobil milik Raizel menjauh dari halaman rumah Neva.


"Huff, rasanya lebih menegangkan dari pada omelan sutradara dan Mak Cuti," ujar Raizel bernafas dengan lega.


"Hahaaa, mereka baik kok," ucap Neva dengan tawa ringan.


"Yaa...," Raizel mengangguk.


"Eh, mau kemana kita?" Tanya Neva.


"Hmm, Rahasia dong," jawab Raizel.


"Aku paling benci nih kalau rahasia-rahasia begini," ujar Neva.


"Nggak seru lah, kalau udah tahu duluan," jawab Raizel.


"Okey," ucap Neva mengangguk. Dia mengambil ponselnya dan mengecek chat sebentar kemudian menekan tombol off.


Beberapa menit kemudian, Raizel memarkirkan mobilnya di sebuah tempat ice skating paling terkenal di Ibu Kota. Neva memperhatikan dari dalam mobil.


"Ice skating?" Tanyanya. Alisnya berkerut.


"Yup," jawab Raizel. Dia kemudian mengambil kotak di jok belakang. Lalu membukanya. "Pakailah, agar kau tidak dingin," ucapnya seraya memberikan jaket pada Neva. Jaket yang dia cari dan memilihnya hampir empat hari. Dia telah mengira-ngira ukuran untuk tubuh Neva.


Neva menerimanya. "Terima kasih, Raizel," ucapnya dan kemudian memakaikannya. "Pas," ucapnya setelah selesai memakai jaketnya. Jaket berwarna merah muda berpaduan dengan warna putih begitu cocok di tubuhnya. Raizel menatapnya dan tersenyum puas karena pilihannya tepat.


"Sini," pinta Raizel. Neva merapikan rambutnya dan mendekat, dia tahu Raizel ingin apa.


Dengan pelan dan perhatian, Raizel memakaikan topi rajut untuk Neva. Namun sebelum itu, dia melirik jepit rambut indah yang Neva kenakan.


"Selesai," ucapnya setelah selesai memakaikan topi rajut untuk Neva.


"Hmmm, terima kasih Raizel," ucapnya. Kemudian dia mengarahkan kaca spion pada wajahnya. "Apa aku cantik memakai ini?" Tanyanya.


"Jelek," jawab Raizel. Dan Neva langsung meninju bahunya. Raizel tertawa ringan.


"Ayo," ajaknya.


"Eh, kau tidak memakai kaca mata?" Tanya Neva. Dia menahan Raizel untuk tidak segera turun.


"Aman," jawab Raizel mengacungkan jempolnya. Dia sudah membooking tempat ini dan mengamankannya.


Neva mengangguk, "Ok," ucapnya.


Kemudian, mereka berdua keluar dari mobil. Dan Neva langsung di sambut oleh Bro supir dan asisten Raizel. Mereka berdua membawa balon bertuliskan happy graduation dan boneka toga.


"Selamat Nona Neva," ucap Bro supir dan asisten Raizel.


"Terima kasih, Kakak," ucap Neva dan menerima balon dan boneka toga. Kemudian, Raizel mengajaknya untuk masuk ke dalam.


"Kau tidak bilang jika ada mereka," ujar Neva.


"Mereka hanya penjaga keamanan," jawab Raizel. Neva mengangguk mengerti. Raizel harus selalu aman, dari apapun dan yang pasti dari gosip.


Masuk ke dalam area... Neva di sambut dengan seorang pelayan wanita yang memberinya perlengkapan ice skating.


Setelah memakaikannya, dia dan Raizel mulai berdiri di atas ice.


"Apa kau bisa?" Tanya Raizel.


"Tentu saja. Kau jangan meremehkan ku," jawab Neva dan langsung meluncur. "Kejar aku jika bisa," ucapnya berteriak.


"Siap atau tidak siap aku akan mengejar mu...," Dan Raizel langsung meluncur untuk mengejarnya.


Neva langsung mempercepat gerakannya. "Kau tidak akan bisa mengejar ku," ucap Neva dengan mengencangkan suaranya.


"Kita lihat saja," jawab Raizel. Dan dia semakin mempercepat langkahnya. Neva bergerak dengan sangat lincah di atas es. Raizel menyusulnya dan semakin mempercepat gerakannya. Tangannya mengulur dan masih belum sampai.


"Hahaaa... sudah ku bilang, kau tidak akan bisa," ucap Neva dengan tawa. Dia berbelok arah dan Raizel menghadangnya dari depan. Hup... Tangannya mencoba meraih Neva tetapi Neva masih bisa menghindar.


"Hahaa... kau payah Raizel," Neva tertawa terbahak-bahak melihat Raizel yang hampir terjatuh. Raizel berdiri dengan tegak, matanya memperhatikan dan memperhitungkan gerakan yang akan Neva buat. Disana... iya. Di ujung sana nanti, Neva akan berbelok. Pikirnya. Dia segera meluncur lagi dan mengejar Neva.


Tepat di ujung, dan Neva benar langsung berbelok. Dan Raizel sudah ada di depannya ketika dia berbelok.


Brukk... Neva terjatuh dengan posisi yang tidak tepat. Dia berada di atas tubuh Raizel. Hening beberapa saat dan bahkan waktu seolah berhenti.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Raizel pelan yang langsung menyadarkan Neva.


"Aaaaa..." Neva langsung berteriak dan segera menyingkirkan dirinya dari tubuh Raizel. Dia duduk. "Kenapa kau tiba-tiba muncul di hadapan ku?" Ujarnya dengan menunjuk. Ya ampun... memalukan. Pikirnya. Dia baru saja menindih tubuh Raizel.


"Itu trik Nona," jawab Raizel setelah dia bangkit dan duduk di depan Neva.


"Kau membuat ku terkejut," ucap Neva. Kemudian, ada banyak sekali gelembung sabun yang bertebaran dan menyapa mereka berdua. Ini... sangat indah. Neva mendongak dan melihat dengan takjub gelembung-gelembung sabun yang bertebaran. Tangannya menengadah dan sesekali memeletuskan gelembung sabun.


Raizel memperhatikannya dari senyum mengembang. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto Neva dengan diam-diam.


"Raizel, apa ini ide mu?" Tanya Neva tanpa menoleh ke arah Raizel. Dia masih asik dengan bola-bola gelembung sabun yang melayang.


"Tentu saja, siapa lagi," jawab Raizel. "Kau suka?" Tanyanya. Neva mengangguk dan kemudian menoleh ke arahnya.


"Sangat suka. Terima kasih, Raizel," ucap Neva. Raizel mengangguk dengan senyum. Kemudian, dia berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Neva berdiri lagi.


Tangan Neva menyambut uluran tangan Raizel. Tangan mereka saling menggenggam. Raizel menariknya untuk berdiri dan ketika Neva telah berdiri, mereka berdua menjadi sangat dekat. Posisi Neva yang mendongak membuat wajahnya begitu dekat dengan wajah Raizel. Adegan slow yang membuat mereka merasakan hangat hembusan nafas yang membelai wajah masing-masing. Dengan gelembung sabun yang menghujani mereka.


Neva langsung menunduk dan segera menarik tangannya.


Suasana menjadi sedikit canggung. Namun Raizel segera menarik tangan Neva lagi dan menggenggamnya.


"Ikut aku," ucapnya.


"Kemana?" Tanya Neva. "Ini sudah hampir satu jam," lanjutnya.


"Sial, kenapa jam begitu cepat berputar. Bukankah kita baru saja sampai?" Raizel mengomel dengan kesal. Kemudian, dia mengajak Neva untuk keluar dari area ice skating. Masih dalam satu gedung, Raizel mengajak Neva ke area bermain.


Tidak ada waktu untuk bermain. Seharusnya mereka bermain-main terlebih dahulu tetapi waktu yang di berikan kedua laki-laki di ruang tamu itu sangat singkat.


Komedi putar itu berputar dengan lampu warna warni yang menghiasnya. Tidak ada yang menaikinya. Seharusnya ada mereka berdua disana tetapi tidak ada waktu lagi. Neva harus kembali tepat waktu atau Raizel tidak boleh bertemu dengan Neva lagi.


Neva berdiri di samping komedi putar. Sedangkan Raizel pergi meninggalkan dirinya entah kemana.


"Untuk mu," ucap Raizel yang tiba-tiba ada di belakang Neva dan dengan menyerahkan buket bunga mawar merah seratus tangkai di hadapan Neva.


___


Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )


Maaf menunggu lama kawan. Ini Thor kasih bab yang panjang banget. 3.100 kata lho. Waww.


Selamat membaca kesayangannya Thor. Semoga puas Up hari ini. 🥰


Kemana bang Vano? Kenapa dia?


Hayooo kenapa.🤗✌️


Seperti biasa yachh. Terima kasih untuk semua pembaca kesayangannya Thor. Yang like dan komen terimakasih sangat, nggak juga nggak apa-apa. 😍🥰😘 Luv 🥰