Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 350_Rela Membagi Untuknya



"Ku mohon jangan sakit lagi, ku mohon, ku mohon Leo," ucap Yuna terbata. Tangannya memeluk Leo dengan erat. "Jangan tinggalkan aku lagi, jangan pernah," lanjutnya. Air mata Leo semakin menetes mendengar ucapan Yuna. Dia mengangguk berkali-kali.


"Aku tidak akan meninggalkan mu," jawab Leo. Dia mencium rambut Yuna penuh kasih. Beberapa menit mereka berpelukan didepan pintu. Papa tidak mengganggunya. Beliau masih diam dihalaman rumah. Begitu juga dengan Mama, beliau diam di ruang tamu membiarkan dua insan saling berpelukan melepas rindu. Beliau lega karena pada akhirnya Leo diizinkan untuk kembali pulang.


"Dimana Baby Arai?" tanya Leo tanpa melepaskan pelukannya.


"Ada di dalam. Tadi di lantai atas," jawab Yuna. "Aku akan mengambilnya dan membawanya turun," lanjut Yuna. Leo mengangguk dan mencium rambut Yuna sekali lagi sebelum ia melepaskan pelukannya. Yuna menggandeng tangannya dan membawa Leo masuk. Ada senyum bahagia Mama yang menyambut Leo. Kedua tangan mama merentang dan langsung memeluk putranya.


"Sehat terus sayang. Jangan lagi membuat kami khawatir. Sehat terus ya nak," Mama mencium pipi Leo dengan tangis bahagia.


Leo membalas pelukan mamanya. "Terima kasih untuk do'a Mama," ucap Leo tulus. Kemudian, setelah saling berpelukan. Mama mengajak Leo untuk masuk ke dalam. Beliau sudah menyiapkan kamar untuk Leo. Dua jam sebelum kepulangan Leo, Papa lebih dulu mengabari Mama.


"Baby Arai ada di atas Ma?" tanya Yuna.


"Ada di kamarnya sendiri sayang," jawab Mama. Kamar Baby Arai ada di lantai bawah. Leo tersenyum dan langsung melangkah menuju kamar anaknya. Perasaannya semakin tidak sabar untuk bertemu, semakin dekat langkahnya, semakin berdegup kencang jantungnya. Dia sangat rindu anaknya.


Pelan, kakinya masuk kedalam kamar Baby Arai. Air mata bahagia menggenang di pelupuk matanya saat sepasang bola matanya menatap malaikat imut miliknya. Baby Arai yang langsung menyambutnya dengan tawa kecilnya.



"Sayang," ucapnya dengan kerinduan yang teramat, dengan kebahagiaan yang membanjiri hatinya. Kemudian, tanpa kata dia langsung memeluk anaknya, menciumnya berkali-kali tanpa henti.


Sementara Yuna di ajak Papa kedalam ruang kerja milik Papa. Beliau memberitahu Yuna semua larangan dan apa saja batasan gerakan Leo, apa saja yang bisa membahayakan Leo.


"Kau sendiri tahu bagaimana suamimu itu," ujar Papa. "Dia selalu semaunya sendiri, tidak memikirkan kondisinya, tidak memikirkan keadaannya. Papa percaya kau bisa menekan egonya menyakiti dirinya sendiri. Ini untuk kesembuhannya. Dia harus sehat sebelum operasi sumsum itu dilakukan, atau tidak ada harapan lagi," jelas Papa.


Yuna mengangguk paham dan mengerti. Dia akan merawat Leo dengan sangat baik. Hati Yuna belum sepenuhnya lega, hatinya masih digenggam kecemasan.


Kemudian, Papa memperkenalkan dua perawat yang akan membantu merawat Leo di rumah. Dua perawat yang akan mengecek kondisi Leo setiap jamnya.


____________________


Pagi hari di Ibu Kota.


Neva sedang berenang pagi ini, sementara Dimas duduk di bangku disamping kolam renang. Dia tengah melakukan panggilan telepon dengan papanya.


"Anak itu memang keras kepala tentang keadaannya sendiri," komentar Dimas. Mereka tengah membicarakan Leo. Papa tertawa kecil diseberang sana membenarkan ucapan Dimas.


"Papa sudah bercerita pada Yuna semuanya. Sepertinya hanya dia yang mampu menekan keegoisan adikmu," sambung Papa. Dimas mengangguk setuju.


"Bagaimana perusahaan?" tanya papa kemudian. Mereka berdua membicarakan bisnis setelah itu.


Beberapa saat kemudian, Neva telah selesai. Dia memakai jubah handuknya dan duduk disamping Dimas.


"Kau ingin bicara dengan Papa?" Dimas menawari. Neva mengangguk antusias. Dia langsung menerima ponsel dari tangan Dimas.


"Pa, bagaimana keadaan Kak Lee?" tanyanya langsung. Papa menjelaskan seperti yang sudah-sudah.


"Jika harus, dan perlu boleh ambil sumsumku, Pa," ucap Neva dengan kesungguhan.


"Apa yang kau ucapkan. Kau masih muda, jalan mu masih panjang. Itu tidak akan terjadi," jawab Papa.


"Aku rela membagi separuh hidupku untuk Kak Lee, Pa," ucap Neva lagi. Dimas menghela nafas kemudian merangkul pundak Neva.


"Kita semua menyayangi dia. Kita juga rela membagi separuh hidup kita untuknya. Untuk kesembuhannya. Kau tidak perlu memikirkan sejauh itu gadis kecil," ucap Dimas perhatian. "Jika memang harus dan Papa tidak memungkinkan, masih ada aku," lanjut Dimas. Neva menyandarkan kepalanya di bahu Dimas. Jika Papanya tidak bisa maka tingkat kecocokan lebih tinggi adalah padanya, karena Dimas dan Leo berbeda Ibu.


"Apa kau ingin jalan-jalan? Yuk," ajak Dimas. Tapi dijawab gelengan kepala oleh Neva.


"Aku tidak ingin kemana-mana," jawab Neva. Dia beranjak dan meninggalkan Dimas. Dimas tersenyum getir melihat Neva seperti itu. Kemudian, dia mencari nama dalam ponselnya.


"Kemarilah," ucapnya setelah panggilannya terhubung.


"Baik Kak," jawab suara di seberang sana.


Beberapa jam kemudian, saat Neva tengah merenung di balkon kamarnya, dia melihat seseorang melambaikan tangannya dari seberang jalan. Jika tidak teliti, sebenarnya tidak begitu terlihat, karena terhalang pohon.


"Hai ...." teriak seseorang itu yang tidak didengar oleh Neva. Namun Neva tahu apa yang seseorang itu ucapkan, dia tahu dari gerakan bibir.


Neva bangkit dari duduknya dan melambaikan tangannya. Dia mencari posisi yang pas agar bisa melihat dengan jelas seseorang itu.


Seseorang orang itu melompat sambil melambai seperti anak kecil yang menemukan ibunya setelah terpisah. Neva tersenyum dan ikut berteriak.


"Sedang apa kau disitu?" teriaknya. Teriakan yang tidak terdengar.


"Gadis ... aku merindukan mu ...." seseorang itu tidak menjawab pertanyaan Neva tetapi berkata lain. Dia berkata dengan ejaan bibir yang lambat, jadi Neva bisa tahu apa yang dia ucapkan. Neva tersenyum. Sedang apa Vano disitu? Batinnya. Mereka seperti backstreet.


"Sedang apa kau disitu?" teriak Neva lagi tetapi dengan gerakan bibir yang lambat.


"Merindukanmu," jawab Vano dengan teriak. "Kemarilah," dia melambaikan tangannya. Neva mengerutkan alisnya bingung. Jika ingin bertemu, kenapa tidak langsung datang kerumah saja.


Kemudian, ponsel Neva bergetar. Ada satu pesan masuk dari Vano.


"Turun dan temui aku di jalan seberang. Jangan lama, aku tidak punya waktu banyak," Neva membaca pesan itu dan langsung menoleh ke arah Vano dengan pandangan yang semakin bingung. Ada apa? Batinnya. Dia menunjukkan ponsel di tangannya, tanda bahwa dia bertanya. Apa pesanmu benar?


Vano mengangguk dan melambaikan tangannya, meminta Neva untuk segera turun dan menemuinya. Melihat itu, Neva langsung membalik badan dan berlari keluar kamarnya. Dia kemudian berjalan keluar. Dia melangkah menuju jalan di seberang kamarnya. Ada Vano yang dari kejauhan tersenyum melihatnya melangkah mendekat.


"Apa yang terjadi?" tanya Neva penasaran setengah mati. Vano tidak menjawabnya. Sebagai gantinya, dia membuka pintu mobil dan meminta Neva untuk masuk. Kemudian, Vano segera melajukan mobilnya.


"Ada apa?" tanya Neva lagi.


"Seru kan?" Vano balik bertanya.


"Seru? Apanya?" Neva bertanya lagi tapi kemudian dia segera menyadarinya dan tertawa. "Hahaa ... ok sangat seru," ucapnya.


"Aku sering ada disana, memperhatikan mu," ucap Vano yang membuat mata Neva terbuka lebar.


"APA?!!" dia menghadap ke arah Vano. "Kau ...."


"Hahaaa iya," Vano terkekeh. Wajah Neva menjadi merah padam. Pasalnya dia sering membiarkan pintu kamar menuju balkonnya terbuka saat dia mengganti baju. Dia tidak tahu jika ternyata letak kamarnya bisa diperhatikan lewat seberang jalan. Bagaimana jika itu terlihat? Aaaa ... dia berteriak malu dalam hati.


________________


Catatan penulis πŸ₯°πŸ™


Maaf Up siang πŸ™ Senin hari yang sibuk. Senin sampai Jum'at sibuk RL πŸ™ Sangat di usahakan Up setiap hari πŸ₯°


Maaf kalau ada salah kata atau typo2 ya πŸ₯°πŸ™


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯° Terima kasih. Kalian luar biasa. Luv luv.