Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 218_Arti Seratus Tangkai Bunga Mawar Merah


Neva berdiri di samping komedi putar. Sedangkan Raizel pergi meninggalkan dirinya entah kemana.


"Untuk mu," ucap Raizel yang tiba-tiba ada di belakang Neva dan dengan menyerahkan buket bunga mawar merah seratus tangkai di hadapan Neva. Seratus tangkai. Tangan Neva mengulur dan menerimanya.


"Terima kasih," ucapnya dan mencium aroma khas mawar di Indra penciumannya. Raizel mengangguk dengan senyum. Dia sedikit melangkah dan menempatkan dirinya di depan Neva.


"Apa kau tahu itu berapa tangkai?" Tanya Raizel. Matanya menatap lekat ke arah Neva.


"Hmm," Neva mengangkat wajahnya dan mendongak untuk menatap Raizel. Mata mereka bertemu. Menyapa dengan tatapan indah. "Berapa?" Tanya Neva pelan.


"Seratus," jawab Raizel dengan semakin menatap ke dalam mata Neva.


"Seratus?"


"Heem," Raizel mengangguk, "Apa kau tahu arti dari seratus tangkai bunga mawar merah?" Tanya Raizel.


Neva menggeleng pelan, "Hmm, tidak," jawabnya.


Tangan Raizel terangkat dan menyentuh pundaknya dengan lembut.


"Apa kau mau tahu artinya?" Tanyanya.


"Tidak juga," jawab Neva terkekeh.


"Ah," Raizel memekik kecewa dengan jawaban Neva. Seharusnya, Neva menjawab iya saja kan? Agar urusan lancar. "Tapi aku tetap akan memberi tahu mu," ucap Raizel. Tangannya berpindah dan mengambil tangan Neva. Dia menggenggam jemarinya lembut. Mata mereka masih bertemu. Ada debaran yang indah pada jantungnya.


"Arti dari seratus tangkai bunga mawar merah adalah...," Raizel sedikit menarik Neva untuk lebih dekat dengannya. "Maukah kau menjadi kekasih ku, Neva?" Ucap Raizel dengan pelafalan yang indah dari dari bibirnya. Neva terdiam, tangannya terasa dingin dan Raizel yang menggenggamnya hangat. Neva pernah mendengar ini sebelumnya dari Raizel. Raizel pernah mengucapkan ini tapi ini terasa berbeda dan dalam suasana yang berada. Dia terpaku.


"Raizel aku...," Neva mengalihkan pandangannya kemudian menunduk sebentar untuk mengambil nafasnya dengan dalam. Kemudian, dia kembali mengangkat wajahnya dan menatap Raizel. "Raizel kau tahu aku akan pergi," ucap Neva.


"Aku sudah memikirkannya berulang-ulang, sudah mempertimbangkannya berkali-kali. Kau pernah bilang pada ku bahwa ombak tidak begitu terasa ketika kita lebih dalam. Aku___"


"Raizel," Neva memotong ucapannya. Ini yang dia takutkan dari sebuah hubungan dekat. Jatuh cinta dan tidak bisa membalasnya. "Raizel ku mohon, jangan membuat ku berada di sebuah titik dimana aku menyakiti mu," ucap Neva. Dia menatap Raizel, mereka saling membalas pandangan mata.


"Aku menyukai mu, suka dalam artian... ayo kita saling mendukung, kita saling tertawa bersama, saling bercerita bersama tetapi bukan dalam ikatan kekasih. Aku menyukai mu sebagai sahabat ku. Aku tahu ini mungkin menyakiti mu, tapi aku tidak bisa membiarkan mu terus mengharapkan ku. Aku akan pergi, Raizel..."


Raizel mengambil nafas dengan panjang dan mengeluarkannya dengan lembut. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Neva dengan lembut dan sedikit kecewa. Dia tersenyum meski hatinya terluka oleh penolakan.


"Okey..." ucapnya datar.


"Raizel...," Neva menatapnya. "Kau tidak kecewa bukan?" tanya Neva dengan khawatir.


"Kecewalah, pertanyaan mu ada-ada saja. Mana ada di tolak tidak kecewa," jawab Raizel.


"Hmm, kita berteman seperti biasanya," ucap Neva.


"Ya," Jawab Raizel. Tangannya masih menggenggam jemari Neva. "Ayo ku antar pulang segera, atau kedua Kakak mu akan mencincang ku," lanjut Raizel. Dia menggandeng Neva untuk keluar dari area. Namun, Neva menahannya.


"Ayo mengabadikan momen ini," ucapnya. Raizel langsung menoleh ke arahnya.


"Mengabadikan momen apa? Momen kau menolak ku?" ucapnya kesal tetapi manis.


"Hei, bukan itu...," Neva menggoyangkan tangannya yang masih dalam genggaman Raizel. "Kau bilang, ini acara untuk merayakan wisuda ku bukan? Jadi jangan cemberut dong..." Neva tersenyum manis dan mencoba untuk membuat Raizel tersenyum lagi.


Raizel terdiam sejenak. Benar, ini adalah acara untuk merayakan wisuda Neva. Kenapa malah berakhir dengan kecewa.


"Hiii...," Dia nyengir dan memamerkan giginya di depan Neva.


"Bagus," ucap Neva. "Bagaimana jika kita naik Komedi putar dulu?" Ajak Neva.


Raizel memicingkan matanya, "Tidak," jawabnya. "Aku ingin pulang dengan selamat," lanjutnya. Dia mengingat ancaman Dimas padanya.


"Aku yang akan menjelaskan pada mereka, Kau tenang saja. Ayo...," jawab Neva. Dan akhirnya Raizel menyetujui. Sebelum mereka naik ke atas komedi putar, mereka terlebih dahulu membuat beberapa foto bersama. Neva memamerkan buket bunga mawar di tangannya.


"Bunga mawar seratus tangkai...," ucapnya ke arah kamera ketika membuat Vidio.


"Dia menolak ku...," sahut Raizel dengan mencubit pipinya. Mereka tertawa bersama.


Kemudian, mereka naik Komedi putar dengan bersebelahan. Tangan satunya berpegangan pada pegangan panjang di kepala kuda, sedangkan tangan yang satunya saling terkait dan bergandengan.


"Yuhuuu...," seru Raizel dengan tawa.


"Yeyyyy...," seru Neva dengan bahagia.


Setelah puas bermain di komedi putar. Raizel mengantar Neva pulang. Mobil nya melaju sedang melewati kepadatan lalu lintas Ibu Kota. Lalu, dia berhenti di sebuah toko cake milik salah satu artis Ibu Kota.


Raizel mulai memasang kaca matanya dan mengambil jaket gendut yang ada di jok belakang.


"Kau mau cake?" Tanya Neva.


"Aku akan membelinya untuk mu. Untuk Mama mu dan Kakak mu. Cake apa yang mereka suka?" Jawab Raizel sekaligus bertanya.


"Hei, kau tidak perlu membelikan untuk mereka," jawab Neva.


"Hei, itu tidak sopan. Jadi cake apa yang mereka suka?" jawab Raizel sekaligus bertanya lagi.


"Biar aku saja yang membelinya," ucap Neva. "Aku takut kau ketahuan," lanjutnya dengan tawa kecil. Kemudian, Raizel memberinya kartu ATM dan menyebut angka pin-nya. Neva mengangguk.


Kemudian, Neva keluar untuk membeli cake. Dan tak lama dia kembali ke dalam mobil lagi.


"Terima kasih," ucapnya dengan menyerahkan kartu ATM itu kembali pada Raizel. "Emmm... ini untuk mu," Neva menyerahkan cake kecil pada Raizel. Cake berbentuk panda.


"Untuk ku?"


"Iya," jawab Neva. Tangan Raizel mengulur dan menerimanya.


"Terima kasih," ucapnya dengan senyum.


____Pukul 21.16 Yuna kembali ke kamar setelah berbincang-bincang dengan Mama.


Yuna sudah mandi dan kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Dia membuka YouTube dan menonton video band idolanya. Hingga beberapa lagu dan Leo masih belum kembali dari ruang belajar bersama Kak Dimas. Kemudian, Yuna menonton Spongebob di YouTube. Hingga beberapa episode dan Leo masih belum kembali. Kemudian, Yuna meletakkan ponselnya dan mengambil buku dongeng. Dia membacanya dengan penuh kasih, tangannya mengusap perutnya dengan lembut. Hingga dia menyelesaikan satu buku dongeng dan Leo masih belum kembali.


"Baby, apa cara berdongeng Mommy tidak enak??" ucapnya.


Dia melirik jam dinding yang menggantung, pukul 23.00. Dia mengambil ponselnya lagi dan mengirim pesan pada Leo.


"Tuan suami, apa kau berencana untuk tidur di ruang belajar?" send.


Leo langsung membuka pesan dari Yuna dan segera membalas pesannya.


"Sebentar lagi selesai sayang," send.


"Aku akan mengunci kamar sebentar lagi, dalam sepuluh detik. Selamat malam Tuan suami," balas Yuna. Membaca balas pesan dari Yuna, Leo segera memegang perutnya.


"Ogh... aduh," ucapnya dengan sedikit meringis.


"Kenapa?" Tanya Dimas langsung menoleh ke arahnya.


"Perutku tiba-tiba sakit. Mules," jawabnya dan segera menggeser tempat duduknya.


"Oke. Ini juga sebentar lagi selesai," ujar Dimas. Dan Leo segera pamit untuk kembali ke kamar.


"Selamat malam, Kak," ucapnya pada Dimas. Kemudian dia segera keluar dari ruang belajar.


Dikamar, setelah mengirimkan pesan, Yuna segera meletakkan ponselnya di atas meja dan kemudian dia bangkit dari duduknya. Dia beranjak dan segera melangkah menuju pintu. Klik... dia menguncinya. Oke. Kunci sudah ada di tangan.


Tepat setelah itu, pegangan pintu bergerak. Yuna yang masih berdiri di depan pintu tersenyum lebar.


"Siapa?" Tanya Yuna berpura-pura.


"Aku membawa paket untuk mu," jawab Leo.


"Paket?"


"Ya, bukalah," pinta Leo. Dan, Klik... Yuna membuka kunci. Kemudian, dia membuka pintu. Leo menyapanya dengan senyum tetapi Yuna menyambutnya dengan cemberut. Dia memperhatikan Leo yang berdiri di depan pintu.


"Paket apa?" Tanyanya setelah memperhatikan Leo yang tidak membawa apa-apa. Leo melangkah mendekat dan meraih tangannya.


"Maaf," jawab Leo dan kemudian beralih memeluk pinggang Yuna dan mencium keningnya. "Kau belum tidur?" Tanyanya.


"Aku menunggu mu, tapi kau seperti hampir tenggelam di ruang belajar," jawabnya dengan masih mengerucutkan bibirnya.


"Maaf," ucap Leo meminta maaf. "Maaf sayang," ucapnya lagi. Kemudian membawa Yuna ke tempat tidur.


"Sayang," panggil Yuna rendah setelah mereka berdua berada di atas tempat tidur.


"Ya," jawab Leo. Dia membuka piyama Yuna dan mananggalkannya, dia mengusap perut Yuna dengan lembut. Kemudian, menciumnya dan meletakkan telinganya dengan hati-hati di perut Yuna.


"Menurut mu, kenapa Vano tidak hadir di acara wisuda Neva?" Tanya Yuna pelan. Dia tidak tahu harus berbagi rasa penasarannya pada siapa lagi selain pada Leo.


"Tidak tahu," jawab Leo singkat.


"Kau tidak mengancamnya bukan?" Tanya Yuna. Leo menatapnya.


"Ya, aku mengancamnya, bahkan mencelakainya. Membuat dia tidak bisa hadir di acara wisuda Neva," jawab Leo sadis.


"Sayang, aku serius. Aku melihat ekspresi gelisah di wajah Neva. Dia menunggu Vano bukan? Aku tahu kau tidak mungkin melakukan itu," ucap Yuna. Tangannya mengusap rambut Leo.


"Bagaimana jika aku sungguh melakukannya?" Tanya Leo lagi, kali ini dengan penekanan. Dia mengangkat kepalanya dan merebahkan dirinya di samping Yuna. Yuna langsung menghadap ke arahnya dan memeluknya.


"Aku percaya kamu tidak melakukan itu. Aku tahu segala bentuk ekspresi dan sifat mu," jawab Yuna.


Leo menunduk dan mencium keningnya. Tangannya mengusap rambut Yuna dengan kasih. Dia tersenyum dengan lebar.


"Apa selain menjadi Nyonya Leo, kau juga menjadi pakar ekspresi?" Tanya Leo dengan tawa ringan.


"Hmm, ini kepandaian seorang istri. Namanya... ilmu belahan jiwa," jawab Yuna dengan senyum lebar.


"Oh ya?"


"Hu'um," Yuna mengangguk. Dia sedikit mendongak dan sedikit keatas menyamai Leo dan mencium pipinya.


"Jadi... bagaimana kesimpulan mu," ujar Leo. Dia bilang jika dia yang mengacam dan memcelakai Vano agar tidak bisa hadir di acara wisuda Neva tetapi Yuna tidak mempercayai itu, jadi dia bertanya dengan penasaran.


Yuna mencium pipi Leo lagi sebelum memberi jawaban kesimpulannya.


"Sayang aku mencintai mu," ucapnya. Leo tersenyum dan membalas ucapan cintanya. "Satu...," Yuna mulai memberikan analisanya.


"Di dalam gedung wisuda, kau beberapa kali memperhatikan sekitar seolah mencari seseorang, dan kau juga sering memperhatikan Neva yang duduk di barisan depan. Jika kau melakukan sesuatu pada Vano... kau akan tenang di dalam gedung dan hanya mengenggam tangan ku saja. Jika kau melakukan sesuatu pada Vano, kau akan tenang karena kau sudah tahu jika dia tidak akan datang karena ulah mu," Yuna berucap dengan teratur menyampaikan apa yang dia pikirkan. Ya... dia yakin Leo tidak mencelakai Vano hingga membuat Vano tidak bisa hadir di acara wisuda Neva.


"Bagaimana jika ketidaktenangan ku di dalam gedung adalah karena takut rencana ku gagal untuk mencegahnya datang?" Tanya Leo lagi. Yuna menatapnya dengan tajam.


"Kenapa kau mencoba meyakinkan ku untuk berpikir jika kau adalah laki-laki yang jahat?"


"Hhaa ... ok lanjutkan pemikiran mu Nyonya pintar," ucap Leo.


"Dua ... jika kau mencelakai Vano dan membuatnya tidak bisa hadir ... kau tidak akan mengambil nafas mu dengan berat ketika Neva memeluk mu. Jika kau mencelakai Vano dan pada akhirnya dia tidak bisa hadir maka kau akan bernafas dengan lega dan tersenyum dengan menang," jawab Yuna mengutarakan pikirannya lagi. Itu membuat Leo terkekeh dan mencubit pipinya.


"Lanjutkan," ujarnya.


"Tidak ada, itu sudah cukup jelas untuk membuat ku yakin jika kau tidak melakukan apa-apa," jawab Yuna.


Leo tersenyum bahagia dan mendekapnya.


"Terima kasih sudah mempercayai ku, Yuna. Bahkan ketika aku mengatakan bahwa akulah dalang di balik ketidak hadiran Vano di acara wisuda Neva, kau tetap mempercayai ku,' ucapnya.


"Karena aku tahu kamu sayang. Tuan suami yang angkuh dan sombong sesungguhnya itu hanyalah bungkus luar mu. Tuan suami yang terlihat tidak perduli apapun itu juga hanya bungkus luar mu," Yuna membalas pelukannya. "Jadi... kau jangan mencoba untuk meyakinkan ku bahwa kau laki-laki yang jahat," lanjut Yuna.


"Hmmm," Leo mengusap keningnya dan meninggalkan ciuman disana. Dia menaikkan selimut menutupi tubuh Yuna. Tangannya mengusap perut Yuna dengan penuh kasih. "Tidurlah," ucapnya.


"Kau belum menjawab ku," ucap Yuna.


"Menjawab apa?"


"Menurut mu, kenapa Vano tidak hadir?" Yuna mengulangi pertanyaannya. Kemudian, Leo mengambil ponsel miliknya dari atas meja di samping ranjangnya dan membuka berita online. Dia memberikannya kepada Yuna.


Yuna menerima ponsel Leo dan membaca berita itu.


___Di sana, di kamar Neva.


Neva merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah mengambil satu tangkai bunga mawar merah dari seratus tangkai yang Raizel berikan padanya. Dia memutar-mutar tangkainya. Dan kemudian tersenyum sendiri jika mengingat ketika dia bermain ice skating dan menabrak Raizel hingga membuat dirinya terjatuh di atas tubuh Raizel. Lalu gelembung-gelembung sabun yang indah dan seratus tangkai bunga mawar merah.


Kemudian, dia mengambil ponselnya.


"Apa kau sudah tidur?" Dia mengirim pesan pada Raizel. Dan langsung mendapat balasan.


"Aku tidak bisa tidur, hati ku sakit," balas Raizel cepat.


"Hei... cowok tampan, pangeran sejuta wanita. Kita masih bisa bertemu, masih bisa saling cerita dan masih bisa main bersama," balas Neva.


"Itu akan berjalan lancar sebelum kau memiliki pasangan," balas Raizel. "Setelah kau memiliki pasangan, kau akan lebih sibuk dengan dia. Kau akan menurutinya untuk tidak bertemu dengan ku jika dia keberatan dengan hubungan yang kau sebut dengan sahabat," balas Raizel lagi. Neva terdiam membaca balasan ini.


"Aku akan mengenalkan mu pada dia dan kalian menjadi sahabat juga," balas Neva setelah beberapa saat terdiam.


"Males," bales Raizel dengan emot melirik dengan kesal.


"Hahaaa, okey baiklah Raizel paling tampan," balasnya. "Selamat malam," lanjutnya.


_____


Hallo... Yuuk kenalan.


Pangeran sejuta wanita. Artis terimut kita.... Raizel. R. A. I. Z. E. L. Raizel. Bukan Azriel ya... bukan.



Uuuhhh imutnya.


"Aku boleh cubit pipinya nggak?" Tanya Nanas pada Raizel yang sekarang ada di depannya.


"Apa sih yang nggak buat Nanas?" jawab Raizel. Dia memejamkan matanya dan kemudian menyodorkan pipinya.


"Uuhhh, manisnya," ucap Nanas. "Nggak jadi nyubit deh, usap-usap lembut aja."


Pembaca dilarang ngiri. πŸ˜‹


Yuhuuu... Kangen Bang Vano ya?? 😎


Kangen nanas juga nggak?? πŸ˜‰πŸ˜Œ


Jempol di goyang ya gaes... biar olahraga. Sun manjah jempol dan koment, okey. Muach.... luv luv. 😘😘


Oh iya. Siapa yang suka ngerumpi cantik?? Yukk gabung di Grup F.A queen. Kita ngobrol-ngobrol manjahh. Okey. πŸ₯°πŸ˜˜