
Pagi hari datang dengan begitu cepat.
Yuna terbangun dan sudah tidak ada Leo di samping nya. Dia bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Leo berada di dapur. Dia sedang membuat susu coklat untuk Nyonya. Dia begitu hafal takarannya. Kemudian, dia menghentikan adukannya ketika telinganya mendengar langkah kaki mendekat.
"Tuan muda Lee, apa ada yang bisa saya bantu?" Suara Alea lembut menawarkan bantuannya. Dia melangkah mendekat ke arah Leo.
"Tidak ada," jawab Leo singkat. Kemudian, dia mengembalikan kaleng susu ke dalam lemari dan kemudian membawa segelas susu ke ruang makan. Tepat saat Leo kembali dari dapur dan di buntuti oleh Alea, ada Yuna yang baru saja sampai di ruang makan, matanya menatap Leo dan Alea secara bergantian.
"Sayang, kau sudah bangun," suara Leo lembut padanya. Leo meletakkan susu coklat di atas meja, tepat di tempat makan Yuna. Kemudian, dia menyiapkan kursi untuk Yuna.
"Terima kasih," ucapnya dengan senyum. Dia mengusap pipi Leo dengan lembut. Mereka bertiga duduk. Leo dan Yuna duduk berdampingan, sedang Alea duduk di seberang mereka.
"Yuna, apa kau mau sayur? Biar ku ambil untuk mu," Alea menawarinya dengan sopan. Yuna tersenyum padanya.
"Sudah ada aku yang akan melayaninya Alea. Kau makan saja makanan mu," ucap Leo terdengar dingin di telinga Alea.
"Sayang," Yuna meletakkan tangannya di paha Leo. Dia menoleh dan menatap Leo. Dia tidak ingin Leo menjadi seseorang yang terlihat begitu angkuh. Tuan muda ini sangat baik. Leo membalas tatapan matanya.
"Yuna," ucapnya. Yuna mengangguk mengerti, dia tidak akan memprotesnya. Leo dengan telaten mengambil sarapan untuknya, menyuap untuknya dan menyeka bibirnya.
Sungguh teramat manis dalam pandangan Alea. Ucapan Papanya menggema di telinganya.
"Seharusnya kamu yang menjadi Nyonya muda Lee, bukan wanita itu. Seharusnya kamu yang mendapat perhatian dan cintanya, bukan wanita itu."
Alea menunduk dan menggeleng pelan. 'Tidak boleh Alea, kau tidak boleh mengharapkan laki-laki di hadapan mu ini. Kau akan sangat menyakiti hati wanita di sampingnya. Tetap lah waras Alea... dia laki-laki yang telah beristri.' Dia menasehati dirinya sendiri dan menghalangi sesuatu di hatinya.
'Papa mu jahat Alea, jangan dengarkan dia,' Alea menarik nafasnya dan terus menasehati dirinya.
"Eh, tidak ada" jawab Alea. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Yuna dan Leo secara bergantian.
"Apa kau tidak suka menu pagi ini?" Tanya Yuna lagi dengan perhatian.
Alea tersenyum padanya, "Ah, tidak. Aku suka. Masakan Bi Sri selalu lezat," jawabnya. Dan kemudian segera mengambil sarapan untuknya.
"Sayang," Yuna menatap Leo dari samping. Bibir seksi itu tengah mengunyah makanan dengan sangat teratur. Tuan suami selalu anggun dalam segala hal. Leo menoleh tapi tidak menjawab.
"Makanlah yang banyak," ucap Yuna. Dia mengusap pipi Leo dengan lembut. Wajah ini terlihat kurang sehat, dia lebih kurus dari sebelumnya. "Lihat lah... pipi mu tidak bisa ku cubit dengan mudah," lanjutnya dengan senyum tetapi sedih. 'Kenapa kau begitu kurus?' Batin Yuna.
Leo mengangguk dengan senyum. Kemudian, Yuna mengambil banyak sayuran untuk nya, lauk pauk, dia memenuhi piring Leo.
"Kau harus menghabiskannya," ujar Yuna dengan ancaman.
"Ini terlalu banyak," jawab Leo merasa putus asa melihat tumpukan makanan di piringnya.
"Tidak perduli. Habiskan atau tidur di ruang belajar," ancam Yuna.
Leo menatapnya dengan senyum menggoda, "Yakin?" Tanyanya dengan langsung menggerakkan tangannya di atas paha Yuna di bawah meja.
"Hupmm," Yuna mengigit bibirnya untuk menahan geli karena gerakan tangan Leo begitu lembut.
"Okey, kita bagi dua," ucapnya kalah.
"Okey," jawab Leo dengan senyum puas.