
Neva mendongak menatap Vano. Bibirnya bergetar. Laki-laki ini sungguh menguncupkan kata ini di depan orang tuannya. Bukan hanya di depan orang tuanya tetapi di depan keluar besarnya. Neva tidak mampu berucap apa-apa, ia membisu dalam tangis bahagianya. Hingga pada akhirnya ia mengangguk.
"Yess," jawabnya.
Kini, mata Vano yang berkaca-kaca. Kemudian menetes dengan perlahan, ia segera menyekanya. 'Yess' jawaban Neva membuat hatinya begitu bahagia. Dia tidak ditolak, dia diterima sebagai calon suaminya. Tangan Vano mengulur dan meraih tangan Neva. Ia mengambil cincin dan memakaikannya untuk Neva. Kemudian, ia membawa tangan Neva pada bibirnya, ia menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan. Ada rasa lega dalam hatinya, ia berterima kasih dalam kecupannya.
Air mata Neva tidak terbendung, ia semakin menangis.
Vano memegang pipi Neva dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap air mata itu dengan lembut.
"Jangan menangis," ucapnya pelan. Suaranya tercekat. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Neva mengangguk lalu menghambur ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu," ucap Neva dalam isaknya.
"Aku sangat mencintaimu," jawab Vano. Pada akhirnya, satu tetes air mata menetes di pipinya. Ia meninggalkan kecupan dirambut Neva dan kembali memeluknya.
Mama menyeka air matanya, beliau sangat bahagia dan bersyukur bahwa putrinya menerima Vano. Tangis bahagia seorang Ibu. Tuan Nugraha mengusap punggung istrinya dengan perhatian.
"Pa, putri kecil kita sudah dewasa," ucap beliau dengan suaranya yang serak karena menangis. Tuan Nugraha mengangguk dengan rasa haru dalam hatinya. Beliau memeluk istrinya dengan hangat.
"Ya, sebentar lagi kita melepasnya," ujar beliau pelan. Mama mengangguk dengan sesenggukan.
Yuna memeluk Leo, menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Ia turut bahagia dengan ini, Vano, Neva ... dua sosok yang ia sayangi. Vano, Neva ... ia menggumam dalam tangisnya.
'Betapa kisah kalian sangat rumit karena aku,' Yuna menyeka air matanya berkali-kali. Tangan Leo menyentuh pipinya, mengusapnya dengan lembut tetapi tidak mengatakan apa-apa. Pandangan matanya menatap lurus kedepan, memperhatikan dua insan yang saling berpelukan disana.
'Adikku,' ucapnya dalam hati. Ia sangat bahagia, adik kecilnya yang manja kini telah beranjak dewasa dan telah menemukan laki-laki pilihannya. Ia sesekali menahan nafasnya. Yuna mendongak dan mencium pipi Leo dengan lembut.
"Mereka bahagia," ucap Yuna pelan. Leo mengangguk tanpa kata. Kemudian satu air matanya menetes, ia segera menyekanya. Tidak boleh terbawa suasana, ucapnya dalam hati. Ia menunduk dan mencium kening Yuna. Yuna kembali menangis. "Kisah rumit benar-benar berakhir bukan?" Tanyanya. Leo mengangguk pasti.
"Ya," jawabnya. Kedua tangannya memeluk Yuna. 'Ini akan mudah untuk kita. Aku, kamu, adikku dan dia. Aku berjanji untuk menekan semua egoku. Aku berjanji untuk kalian yang wanita yang paling istimewa untuk ku.' pada akhirnya dia menyembunyikan wajahnya dipundak Yuna dan membiarkan air matanya menetes. Dia mengingat bagaimana dia pernah mengucapkan sesuatu yang sangat menyakitkan pada Neva. Dia yang begitu egois menghancurkan hati adiknya sendiri.
Disana, Vano melepaskan pelukannya dan menatap wajah Neva.
"Jangan melihat ku," tolak Neva. Ia segera menunduk menyembunyikan wajahnya. Tangannya dengan sibuk mengusap air matanya. Vano sedikit menurunkan kepalanya dan berbisik.
"Gadis, terima kasih."
Neva menghentikan tangannya yang masih menyeka sisa air matanya. Ia mengangguk pelan.
"Tidak ada alasan untuk menolak mu," jawabnya. Vano mengambil tangan Neva lagi dan mengenggamnya. Kemudian, mereka berdua datang kepada Papa dan Mama. Neva menghambur kedalam pelukan keduanya.
"Selamat sayang," ucap Mama.
"Selamat putri kecil Papa," ucap Papa. Neva mengangguk. Lalu Vano memberi salam pada keduanya.
"Uuhh, adik Kak Dim udah gede," ujar Dimas. Ia merentangkan kedua tangannya. Dan Neva langsung memeluknya.
"Kak Dim," panggil Neva.
"Hmm."
"Ya, kau pandai mencari calon suami adik," katanya dengan senyum lebar. Ia mengusap punggung Neva dengan perhatian. Kemudian, Neva berpindah pada Nora. Mereka berpelukan sesat. Lalu ... Neva berdiri dengan tegak, ia menatap Leo lalu dengan pasti membawa langkahnya pada kakak yang sangat dia sayangi. Dia berdiri di depan Leo, matanya kembali berair. Ia semakin mendekat untuk segera memeluk kakaknya tetapi tangan kanan Leo mengulur dan memberinya isyarat untuk jangan mendekat.
"Jangan memelukku," tolaknya. Ia mengalihkan pandangannya dan memeluk Yuna. "Aku tidak ingin memeluk mu, aku hanya ingin memeluk istriku," ucap Leo.
"Kau ...." Neva memanyunkan bibirnya dan langsung duduk di samping Leo. Kedua tangannya memeluk Leo, ia menyandarkan kepalanya di pundak kakaknya. "Jika kau tidak ingin memeluk ku, biarkan aku yang memelukmu Kakak," ucapnya. Leo menolak untuk memeluknya karena ia tidak ingin terbawa suasana. Tapi pada akhirnya, ia melepaskan pelukannya pada Yuna dan membalas pelukan Neva padanya. Tangis Neva kembali pecah dalam dekapan kakaknya.
Leo menahan nafasnya, ia menahan sesuatu yang mencoba membuatnya menjadi sosok melankolis.
"Adik bandel," katanya dengan menepuk punggung Neva pelan. "Bandel," katanya lagi dan masih menepuk punggung Neva. Neva mengangguk.
"Terima kasih, Kak Lee," ucapnya dengan sesenggukan. Leo mengangguk, ia mencium kening Neva dengan rasa yang bercampur dalam hatinya.
"Selamat adik kecil," ucapnya pelan.
Setelah acara yang menyentuh itu selesai. Kini acara makan malam pun dimulai. Semua duduk pada tempatnya masing-masing.
"Na," Adel memanggil Yuna dengan berbisik. Yuna menoleh ke arah Adel. "Alat makan mana yang harus ku pakai terlebih dahulu?" tanyanya.
"Dari kanan ke kiri," jawab Yuna dengan berbisik pula. Adel mengangguk mengerti.
Makan malam keluarga besar berlalu dengan sangat hidmat. Seperti biasa, Leo yang menyeka bibir Yuna setelah selesai makan.
Kemudian, acara kembali santai. Tuan Nugraha berbincang-bincang dengan Ayah Yuna, Dimas, Vano dan Leo. Tapi tak lama, Leo beranjak dan berjalan menuju Yuna yang tengah asik di taman out dor bersama yang lain. Ia duduk di samping Yuna dan mengusap perutnya dengan lembut.
"Hallo Paman," ucap Mama sambil melambaikan tangan mungil milik baby Dim.
"Sini," tangan Leo mengulur dan mengambil Baby Dim dari pangkuan mamanya. Baby Dim menatap Leo dengan pandangan mata yang lucu, mata bulatnya berkedip dengan pelan. Kemudian, tangan mungilnya terangkat dan menyentuh wajah Leo. Menepuk-nepuk nya dengan terus menerus.
Semuanya tertawa melihat itu.
"Hei," Leo mengambil tangan mungil itu dari wajahnya lalu mengigitnya pelan. "Nyam, nyam," ujarnya. Kemudian dia mencium pipi gembul milik Baby Dim. Dia bahagia dan menambah rasa ketidak sabarannya untuk segera menggendong buah hatinya sendiri.
Yuna mendekatkan dirinya dan mencium baby Dim dengan gemas.
"Muach muach," dia mencium berkali-kali.
"Sayang, aku juga ingin ciumanmu," bisik Leo sangat pelan dan hanya Yuna saja yang bisa mendengarnya. Yuna dengan sengaja tidak menghiraukannya. Ia asik mencium baby Dim dan melakukan cilukba. Namun kemudian, Leo dengan kecepatan kilat mencuri cium dipipinya. Astaga ... Tuan suami, kenapa kau tidak menunggu jika kita sampai rumah nanti? Yuna menatapnya dan sedikit melotot. Leo nyengir memamerkan giginya.
____
Catatan Penulis
Hallo Sahabat Sebenarnya Cinta π Terima kasih udah setia dengan kisah ini. Jangan lupa like koment vote ya kesayangan Nanas. π₯°π Terima kasih π₯° Vote yang banyak ya (yang punya poin lebih) Semoga SC semakin diminati pembaca. π
Aku padamu selalu. Maaf jika kadang aku tidak sempat membalas komentar Sahabat semuanya, tapi pasti aku baca dan like. π₯°ππ Jangan pernah bosan buat selalu komen ya kesayangan. luv luv π₯°
PLAGIAT JANGAN MAMPIR SINI π π€