Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 369_Kembali Pulang


Dan inilah akhir dari hari ini. Mereka bertiga harus berpisah kembali. Baby Arai yang harus kembali kerumah dan Leo yang masih harus menjalani perawatan.


Tangan kanan Leo mengusap rambut putranya dengan lembut kemudian ia mencium kepalanya.


"Tunggu Daddy pulang ya Nak," ucap Leo. Baby Arai masih asik mengambil salju-salju yang terus jatuh di atas selimutnya.


Yuna beranjak, ia membungkukkan badannya, "Sayang, waktunya pulang," ucapnya pada Baby Arai. Mata jernih Baby Arai menatap wajah Yuna kemudian dia berpaling lagi dan kembali menangkap salju. Kedua tangan Leo mengangkat tubuh Baby Arai dan membuat Baby Arai menghadap ke arahnya. Leo mencium kening, hidung dan pipi anaknya.


"Daddy akan segera kembali pulang, janji. Nanti, Daddy akan bawa mainan yang banyak untukmu, okey. Jagoan. Jangan rewel ya nak," ucap Leo. Tangan Baby Arai menepuk pipi Leo dan kemudian menciumnya dengan dalam. Leo semakin tidak ingin melepaskannya.


"Appaa papaaa. Ddd addd," baby Arai mengigit pipi Leo dengan gemas. Leo tertawa dengan rasa haru dalam hatinya.


"Kau mau mainan apa? Hmm?"


Yuna merayu Baby Arai beberapa menit untuk mengajaknya kembali, tetapi Baby Arai masih enggan untuk ikut Yuna. Dia bahkan menolak saat Yuna ingin menggendongnya.


"Hmm kalau nanti kau tidak kembali, Oma diambil Kakak Zora, hayooo ...." Yuna menakut-nakuti. Nora kesini dengan anaknya. Keluarga Dimas juga akan menghabiskan akhir tahun di negara ini.


Baby Arai tidak mendengarkannya, dia masih asik bermain cilukba dengan Leo. Dia dengan sengaja menyembunyikan wajahnya didada Leo lalu kemudian mendogak. Tawa kecil nan imutnya begitu lucu dan menggemaskan.


Tidak ada cara lain selain mengambil paksa. Dan Baby Arai langsung menangis saat Yuna mengambil paksa dirinya dari pangkuan Leo. Suara tangisnya nyaring dan pilu, tangan kecilnya bahkan sempat mengenggam selimut yang Leo kenakan. Namun pada akhirnya genggaman tangan itu terlepas dan Yuna membawanya menjauh dari Leo.


Sementara perawat yang berjaga dengan sigap membawa Leo kembali ke dalam ruang rawat menggunakan lift khusus.


Hati Yuna nyeri sebenarnya mendenger tangisan anaknya.


"Maafkan Momm sayang," ucapnya sambil mendekap anaknya dan membawanya ke Mama yang sudah menunggu di bawah.


Setelah sampai bawah dan bertemu Mama pun Baby Arai masih menangis, dia tidak bisa dirayu oleh siapapun. Dia menolak ajakan siapapun.


"Hmmm ada badut, apa kau mau lihat badut?" ucap Yuna mencoba menenangkan anaknya. "Waahh badutnya sedang menari sambil meniup balon," ujar Yuna lagi berbohong. Namun kemudian Adel mengeluarkan lipstiknya. Dia membuat bentuk love di ujung hidungnya dan bentuk bulat di kedua pipinya. Hmmm dia juga punya terompet kecil dalam tasnya. Terompet yang tadinya akan dia pergunakan saat selesai potong kue, dia tidak tahu jika acara diadakan di rumah sakit.


"Hmmm berguna juga kau," ucapnya saat mengambil terompet itu. Terompet itu akan memanjang dan seolah menujulur saat ditiup.


Yuna melotot lebar dan menahan tawa saat Adel berjalan kearahnya.


Tanpa kata, Adel meniup terompetnya di depan baby Arai, terompet itu menjulur dan mengenai hidung baby Arai. Awalnya Baby Arai apatis dengan itu tetapi lama-kelamaan dia tertawa dan bahkan bertepuk tangan untuk kelucuan badut Adel. Tangisnya memudar dan sudah lupa pada kesedihan hatinya. Dia kembali tertawa dengan bahagia.


Mama mengusap lengan cucunya dengan lembut dan juga haru. Beliau tahu, jika Baby Arai merindukan Daddy-nya. Neva dan Vano ikut bertepuk tangan, agar Baby Arai semakin tertawa.


___


Di ruangan Leo.


"Bagaimana keadaan mu nak?" Ayah bertanya setelah Leo kembali ke dalam ruangannya. Dokter baru saja memeriksanya.


"Baik Ayah, ini sudah lebih baik dari sebelumnya," jawab Leo. Ayah mengangguk dan mendo'akan kesembuhan Leo. "Terima kasih sudah berkenan untuk datang kesini, Ayah. Dan maaf belum bisa membawa Yuna dan Baby Arai berkunjung ke rumah," ucap Leo. Ayah tersenyum menatap putra menantunya. Dalam hati beliau sangat bersyukur memiliki menantu seperti Leo.


"Tidak apa-apa Nak, jangan pikirkan itu. Yang terpenting adalah kau harus segera sembuh," ucap Ayah. Mereka bertukar kata hampir setengah jam dan kemudian Papa mengajak Ayah untuk makan malam. Mereka pamit pada Leo untuk kembali lebih dulu.


Karel lebih dulu menghampiri Leo sebelum ia ikut kembali.


"Malam Karel," jawab Leo dengan senyum. "Terima kasih sudah hadir disela jadwalmu yang padat."


Karel tersenyum lebar, "Sama-sama. Aku bersyukur menjadi salah satu orang yang hadir hari ini. Ku pikir, kalian sudah melupakanku," ucap Karel dengan tawa kecil. Ketika waktu senggang, dia berusaha untuk berkunjung ke rumah Leo tetapi selalu saja tidak jodoh untuk bertemu.


"Kau seperti kakak laki-laki buat Yuna, mana mungkin kita melupakan mu."


Karel tersenyum dan sekali lagi mengucapkan terima kasih. Setelah berbincang beberapa kata, kemudian dia pamit untuk ikut kembali Tuan besar Nugraha.


Setelah dari rumah sakit, Tuan besar Nugraha menjamu semuanya di restoran. Mereka makan malam disana. Kecuali Yuna yang memutuskan untuk menemani Leo. Baby Arai tertidur saat mereka kembali, jadi itu mudah untuk membawanya kembali tanpa Yuna.


____________


Setelah acara makan malam Neva dan Vano tidak ikut kembali kerumah. Mereka akan jalan-jalan terlebih dahulu.


Salju masih turun, meskipun tidak sebanyak tadi. Warna putihnya indah saat terkena pancaran lampu hias warna warni di sepanjang jalan. Seperti bias pelangi yang mempesona. Dua tangan saling bergandengan dengan bahagia. Mereka menyusuri jalanan panjang di antara banyak orang yang juga menikmati salju malam ini.


Kemudian, langkah mereka terhenti pada sebuah kedai ice cream.


"Cuaca dingin seperti ini, kau masih sangat suka ice cream," ucap Vano setelah mereka duduk di dalam kedai. Ada satu mangkok ice cream di depan mereka.


"Huuum," Neva mengangguk dengan sendok yang masih menempel di mulutnya. "Dingin tidak mengurangi kelezatan ice cream," lanjutnya setelah menghabiskan ice cream dalam mulutnya. Kemudian, ia memberi suapan pada Vano. Vano membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Neva.


"Ini adalah ice cream lezat, pada musim salju aku sering kesini bersama bersama Kak Lee, kita akan berlomba makan ice cream. Hhaaa. Saat lomba makan, Kak Lee tidak akan pernah menjadi juara. Dia begitu anggun menyantap makanannya," kata Neva.


"Kalian sangat dekat."


"Hu'um. Sangat dekat. Kak Lee adalah orang pertama yang mengusap air mataku saat aku menangis, dia yang menggendongku saat aku lelah berjalan, dia yang tidak akan tidur saat aku demam," kenang Neva. "Dan maaaaasih banyak lagi. Apa kau tahu ... Kiara bahkan pernah cemburu padaku, hahaaa."


Vano ikut tertawa kecil, "Kenapa cemburu padamu?"


"Ya, dia selalu tidak suka saat Kak Lee lebih perhatian padaku dari pada dia. Dan aku akan semakin sengaja untuk membuatnya kesal, hahaaa."


"Dasar Kau ...." Vano mengacak rambut Neva. "Jadi kau tidak takut dengan Kiara?" tanya Vano.


"Tentu saja tidak," jawab Neva.


"Film horror tidak takut, Kiara tidak takut, cicak tidak takut, sebenarnya apa yang kau takutkan?"


"Aku?? Aku takut saat Kak Lee marah padaku," jawab Neva. "Kalau kamu?" Neva balik bertanya. "Apa yang kau takutkan?"


"Kehilangan mu," jawab Vano yang langsung membuat wajah Neva memerah. Dia mengambil saru sendok ice cream dan memberikannya pada Vano.


"Hadiahmu," ucapnya.


__________________________


Catatan penulis πŸ₯°πŸ™


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯° padamu terima kasih. Maaf kalau ada typo-typo ya πŸ™ Sun manjah jempol okey.