
Meskipun perasaan Leo sudah membaik tetapi dia tidak bisa memejamkan matanya. Banyak sekali pikiran-pikiran yang mengganggunya. Vano ... sungguh akan menjadi adik iparnya? Mimpi itu ... adegan itu, Vano dan Yuna yang memiliki hubungan, tantangan Vano padanya. Dia menatap Yuna yang terpejam lalu dengan pelan meninggalkan ciuman di keningnya.
"Dengan dia yang menjadi bagian dari keluarga besar, itu artinya kalian akan sering bertemu," batinnya dalam hati. "Kenapa perasaan bimbang itu kembali muncul? Aku telah memahami dan berdamai dengan semuanyaa yang telah berlalu, kenapa tiba-tiba perasaan bimbang kembali mengusik?"
Leo beranjak dari ranjang dan membasuh wajahnya di kamar mandi. Ia memperhatikan wajahnya di kaca. Bimbang, khawatir dan takut menelusup ke dalam dirinya. Namun ia kembali berfikir dan memahami. Neva pada akhirnya memilih jalan ini adalah karena restunya.
"Akan baik-baik saja, pasti selalu baik-baik saja," Leo berbicara sendiri pada dirinya.
_____
Pagi hari. Leo duduk di sofa di balkon kamarnya. Ia menyesap teh hijau hangat.
"Apa kau tidak tidur setelah mimpi itu?" Yuna bertanya setelah ia duduk di samping Leo.
"Ya," jawab Leo. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja. Kemudian, tangannya mengulur dan membenarkan rambut Yuna. Dengan hati-hati, ia meletakkan di telinga Yuna. Matanya menatap wajah Yuna yang terlihat begitu merona pun tanpa make up apapun. Yuna baru saja selesai mandi, wajahnya sangat bersih. Leo menurunkan kepalanya dan mencium bibir Yuna singkat.
"Istri cantikku," ujarnya dengan kekaguman di seluruh dirinya. Yuna tersenyum, ia mendekat dan membalas ciuman singkat Leo.
"Suami tampanku," Yuna berkata dengan penuh senyum. Mata mereka bertemu lalu Yuna menyandarkan kepalanya di dada Leo.
"Apa mimpimu sangat buruk?" Tanya Yuna. Dia tidak pernah menemukan Leo dalam keadaan tidur yang tidak tenang dan bahkan seolah banyak luka dan kebencian dalam ekspresi wajahnya semalam.
"Sangat," jawab Leo. Tangannya mendekap Yuna.
"Mimpi hanya bunga tidur," ucap Yuna.
"Semoga bukan pertanda," jawab Leo. Yuna mengangguk. Yuna tidak ingin menanyakan seperti apa mimpi buruk itu.
Leo kemudian melepaskan pelukannya dan beranjak. Tak lama dia kembali dengan membawa lipstik dan pensil alis milik Yuna. Ia duduk di samping Yuna dan langsung menghadap ke arah Yuna. Tangannya memamerkan apa yang ia bawa.
"Ada apa dengan lipstik dan pensil alis ku?" Yuna bertanya dengan heran. Keningnya berkerut menatap Leo. Ia berpikir jika Leo akan melakukan challenge panco untuk membuktikan seberapa kuat seorang wanita melindungi makeup miliknya.
'Biarkan saja patah, aku akan membelinya lagi,' batin Yuna dengan arogan.
Leo membuka penutup lipstik itu lalu kembali memamerkannya pada Yuna.
"Sini, dekatkan wajahmu," pinta Leo. Yuna semakin mengerutkan alisnya. Namun dengan patuh ia mendekatkan wajahnya.
Leo mulai memakaikan lipstik pada Yuna. Yuna sedikit memanyunkan bibirnya.
"Kau mau mendandaniku?" Yuna menarik mundur wajahnya.
"Hu'um," jawab Leo dengan anggukan. Yuna tersenyum lebar. Dia yakin Leo akan mengerjainya. "Sini," pinta Leo. Yuna mendekatkan wajahnya lagi. Lalu lipstik itu kembali memoles bibir Yuna. Lalu setelah selesai dengan lipstiknya, Leo mengambil pensil alis dan mencoret pipi Yuna dengan tiga garis di masing-masing pipi Yuna.
"Tarrraaa ...." Leo bertepuk dengan puas. "Nyonya jelek," ujarnya dengan tawa.
"Apa-apaan kau," Yuna memprotesnya. Dia tau jika dia didandani seperti kucing. Yuna langsung merebut pensil alis miliknya dari tangan Leo lalu membuat coretan juga dipipi Leo. Selesai. Mereka berdua menjadi sepasang kucing.
"Kenapa mencoret pipiku juga?" Leo memprotes.
"Tentu saja, kasihan kucing betina jika tidak ada pasangan," jawab Yuna dan Leo langsung mengangkat kedua tangannya lalu membentuknya seolah-olah jari-jarinya adalah cakar kucing jantan.
"Meong," ucapnya dan langsung menyerbu Yuna. Membuat Yuna bersandar di sofa. "Kucing jelek, aku akan memangsamu," kata Leo dengan sorot mata kelaparan. Dia langsung menurunkan kepalanya dan mengigit leher Yuna.
"Hahaa ... jadi kau kucing apa Vampir?" Yuna tertawa renyah karena mendapat gigitan di lehernya.
"Apa kau tau perbedaan mu dengan kucing?" Tanya Yuna. Leo menggeleng.
"Tidak," jawab Leo.
"Kalau kucing suka mencuri ikan, kalau kamu ... mencuri hatiku," ucap Yuna yang membuat Leo langsung tertawa terbahak-bahak. Dia mengigit pipi Yuna dengan gemas.
"Sepertinya kau terkontaminasi Neva," kata Leo.
"Ooo tidak bisa, aku beda dengannya," tolak Yuna dengan tawa.
____
Malam harinya.
Meja panjang elegan itu sudah penuh dengan alat makan yang tertata dengan rapi. Dua keluarga sudah berkumpul. Mereka duduk di tempatnya masing-masing dengan hidmat.
Acara perundingan akan di bahas setelah makan malam selesai.
Leo hanya sesekali memakan makanannya, dia lebih tertarik untuk memperhatikan kemana arah pandangan mata Vano. Mimpinya semalam seolah menghantuinya. Bayang-bayang masa lalu mengusik hatinya. Melihat Vano duduk di antara keluarga besarnya membuatnya tidak nyaman tapi kemudian, ia membawa pandangannya pada Neva. Matanya lembut menatap adik perempuannya. Kemudian, dia menunduk.
Setelah selesai makan malam, keluarga Nugraha menyampaikan apa yang sudah di sepakati kemarin. Karena memang keadaan saat ini tidak memungkinkan untuk keluar negeri maka dengan senang hati keluarga Mahaeswara menerimanya. Tidak masalah diadakan dimana, yang terpenting adalah acara yang hikmad dan segera. Acara pertunangan diadakan tiga hari lagi.
Setelah acara selesai, Tuan besar Mahaeswara dan Nyonya besar Mahaeswara pamit untuk kembali. Sementara Vano masih di rumah Leo. Dia tengah mengobrol dengan Neva di taman samping kolam renang. Mereka merundingkan tentang waktu untuk mengambil cincin pertunangan besok.
"Bolehkah aku memiliki rasa tidak sabar?" Tanya Vano setelah selesai membahas waktu.
"Sifat sabar harus selalu dimiliki," jawab Neva.
"Tapi saat ini, rasanya aku tidak sabar untuk segera menikah dengan mu," ucap Vano. Matanya yang menatap lekat kedalam mata Neva itu berkedip halus. Neva mengalihkan pandangannya dengan senyum tertahan. Dia
"Kau ini," ucap Neva dengan masih mengalihkan pandangannya.
"Aku serius," ujar Vano.
"Kau bilang, kau akan sabar menunggu ku seribu tahun lagi, kenapa sekarang tidak sabar?"
"Sabar menunggu mu, tidak sabar untuk memiliki mu," jawab Vano. Neva tertawa kecil dan memukul bahunya.
"Saahh ...." Neva bercanda. Dia membiarkan Vano memiliki rasa tidak sabar itu.
"Ok. Sah," jawab Vano dengan senyum lebar. Dia mencubit pipi Neva.
_______
Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta π yang masih setia menunggu kisah ini π₯° padamu kesayangan π
Maaf Upnya telat ya.
Sebenarnya Cinta masuk dalam bacaan pembaca elit lho, boleh doong kasih pendapatnya tentang novel ini dikolom komentar disana ππ₯°π Terima kasih mbeb kesayangan Nanas. Ilupyu full.
Jangan lupa jempolnya digoyang. Luv luv.