Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 321_Aku Akan Selalu Baik-baik Saja


Yuna menggendong Baby Arai dan membawanya ke kamar.


"Tuuhh, siapa yang bandel tuuhh," katanya pada Baby Arai. "Daddy bandel," Yuna mencium anaknya.


Leo terkekeh melihat Yuna mengadu pada Baby Arai. Kemudian, Yuna membaringkan anaknya di samping Leo. Tangan dan kaki mungil itu bergerak bersamaan. Suara ocehannya sangat menggemaskan.


"Jangan mau dicium Dek, Daddy bandel," ujar Yuna lagi pada anaknya. Dia menatap kesal kearah Leo.


"Mana yang tidak ingin dicium?" Leo langsung menghadap ke arah anaknya dan menciumnya. Mencium kedua pipi gembulnya, mengigit dagunya pelan dan menggelikitik perut Baby Arai dengan hidungnya. Tawa imut Baby Arai memenuhi ruangan. Leo semakin gemas dan terus membuat sentuhan kecil diperut Baby Arai dengan hidungnya. Dia akan berhenti saat Baby Arai tertawa dan akan mengulanginya lagi saat tawa itu mulai mengecil.


"Baa ... si ganteng," Leo menghujani anaknya dengan ciuman. Tangan Baby Arai bergerak-gerak mengenai wajahnya.



Yuna mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Leo. Mengecek suhu tubuh Leo. Kemudian lebih mendekat dan mencium keningnya.


"Sudah baikan?" tanya Yuna. Suhu tubuh Leo tidak setinggi dini hari tadi.


Leo mengangguk, "Sudah sembuh sayang," jawabnya. "Hanya demam biasa, tidak perlu cemas," Leo mengusap pipi Yuna dengan kasih. Matanya menatap Yuna dengan lembut, kemudian menarik tangan Yuna untuk tidur di sampingnya. "Terima kasih," ucapnya setelah Yuna ada diperlukannya.


"Aku akan menghukum mu jika kau sampai kenapa-napa," Yuna mendongak dan kembali menempelkan telapak tangan dikening Leo.


"Tidak akan, aku akan selalu baik-baik saja," jawab Leo dengan sungguh.



Tenang, bahagia. Hatinya hangat dengan belaian kasih dari istri dan anaknya. Aku akan baik-baik saja, untuk kalian.


Sore harinya.


Punggungnya mulai terasa membaik. Dia turun ke bawah dan duduk di teras samping yang menghadap langsung ke pantai. Dia meminta perawat untuk membawa Baby Arai padanya. Leo memangku anaknya.


"Apa ada lagi yang bisa saya bantu Tuan muda?" tanya perawat sopan. Dia suka saat harus berinteraksi dengan Bossnya yang satu ini.


"Tidak ada, pergilah," jawab Leo.


Perawat kecewa dengan itu, dia pamit dan membungkukkan badannya. Dia melangkah masuk lalu menuju ke dapur. Ikut berkumpul asisten yang lain.


Sinar matahari sore sangat redup, dengan lembayung senja yang perlahan menyapa. Tangan mungil milik Baby Arai menggenggam telunjuk Leo dengan erat. Mata indah bulat milik malaikat kecil menatap wajah Daddy-nya dengan berbinar. Terkadang, mulut kecilnya berujar sesuatu yang lucu.


Senyuman lebar tidak ingin pamit pada bibir Leo, senyum itu terus menghiasi wajahnya dengan perasaan yang sangat bahagia. Dia ingin menyaksikan anaknya tumbuh dengan sehat, dia ingin menuliskan sebuah kisah pada dunia tentang cinta yang ia miliki. Sanggupkah dia menulisnya suatu saat nanti?


"Sayang, minum obat dulu," Yuna datang dan duduk disamping Leo. Meletakkan nampan yang ia bawa. Kotak obat, segelas air putih dan semangkuk kecil cherry. "Aaaa ...." Yuna meminta Leo untuk membuka mulutnya, dan Leo langsung patuh untuk membuka mulutnya.


Tangan Yuna mengulur dan memberikan obat kemulut Leo, kemudian memberinya minum. Tangannya kembali mengulur untuk menyentuh kening Leo, kembali mengecek suhu tubuh suaminya. Leo tersenyum lebar yang kemudian disusul kekehannya.


"Berapa kali kau mengeceknya sayang?"


"Hmm aku tidak ingin kecolongan lagi. Kau pembohong," jawab Yuna kesal. Malam itu, dia sudah menduga jika Leo sedang tidak enak badan, tetapi Leo selalu bilang baik-baik saja. Leo bahkan menyalahkan lampu yang redup.


Leo mengangkat anaknya dan mencium pipi menggemaskan itu. Wanginya membuat dia ingin berlama-lama di sana. Baby Arai tertawa kecil mendapat ciuman Daddy-nya. Dan Leo semakin bersemangat untuk menghujani anaknya dengan ciuman.


Yuna mengambil Cherry dan memakannya. Kemudian dia memberi satu untuk Leo.


"Kau mau," canda Leo pada Baby Arai setelah ia selesai mengunyah.


"Mau," Yuna yang menjawabnya. Leo terkekeh dan menoleh ke arah Yuna, menatap Yuna dengan menggoda.



Leo meletakkan Baby Arai dibox bayi. Dan memberinya mainan. Kemudian, tangannya mengambil dua cheery, satu untuknya sendiri dan satu lagi untuk Yuna. Tangannya mengusap dagu Yuna dengan lembut.



Leo menarik Yuna, membuat bibir mereka bersatu, saling bertukar buah cherry dalam mulut.


"Nakal," ucap Yuna setelah Leo menyudahi ciuman. Tangan Leo mengusap bibir Yuna yang kotor karena buah cherry.


"Mau yang lebih dari ini sayang?"


"Hahhh kau mulai kambuh, Tuan mesum."


______________


Malam hari di kota yang berbeda.


Vano tengah menikmati malam terakhirnya di kota itu. Dia berjalan memperhatikan begitu banyak jajanan, aksesoris, fashion dan masih banyak sekali macamnya.


Saat ini, dia melewati kedai ice cream, bibirnya terangkat membentuk senyuman, dia ingat gadisnya.


"Aku harus kesini lagi dengan mu lain kali," gumamnya. Dia kembali melangkah dan berhenti di sebuah toko aksesoris. Dan kemudian, seseorang menyapanya.


"Selamat malam Tuan muda Vano. Masih ingat saya?" seseorang dengan senyum ramah berdiri di samping Vano.


"Hmm gadis yang dipesawat waktu itu," jawab Vano.


"Hehee iya. Nadia," ujar seseorang itu menyebutkan namanya.


"Malam Nadia," Vano menjawab sapaan Nadia.


"Maaf, Tuan muda Vano bersama siapa?" tanyanya lagi.


"Sendiri," jawab Vano.


Nadia memperhatikan sekeliling, "Mencari hadiah untuk Nona Neva?" tanya Nadia menyadari.


"Boleh saya bantu?"


"Ya, tentu saja. Aku paling tidak bisa mencari hadiah untuk wanita," jawab Vano.


"Melihat Nona Neva beberapa kali di televisi, sepertinya dia gadis yang lembut," Nadia memberi saran beberapa hadiah untuk Neva. Namun pada akhirnya, Vano sendiri yang menentukan.


"Terima kasih, atas sarannya Nadia," ujar Vano. Sebagai ucapan terima kasih, dia akan mentraktir Nadia makan tetapi dengan halus Nadia menolaknya. Bukan tidak ingin, sebenarnya sangat ingin sekali, kapan lagi ditraktir dan makan malam bersama idolanya tetapi saat ini dia harus segera kembali karena ada acara keluarga.


"Senang bisa mengenal Tuan muda Vano secara langsung. Anda orang yang sangat menyenangkan," ujar Nadia. Kemudian dia mengingat sesuatu. "Hmm oh ya. Ini ...." Nadia menyerahkan sesuatu dari tangannya pada Vano. Dia baru saja membelinya tadi.



"Salam saya untuk teman Tuan muda. Saya sangat bahagia karena ternyata ada orang lain yang juga suka dengan kartun satu ini. Mohon sampaikan salam saya untuknya," ucap Nadia dengan antusias.


Vano memperhatikan aksesoris kecil di tangannya. Spongebob.


"Hmm, akan ku sampaikan padanya," jawab Vano. "Aku mewakilinya mengucapkan terima kasih untuk ini," lanjut Vano.


Nadia mengangguk dengan senyum lebar, dia bahagia. "Terima kasih sekali lagi, Tuan muda. Saya pamit," Nadia membungkukkan badannya pamit pada Vano. Mereka berpisah. Vano menggenggam pemberian Nadia ditangannya. Membawa langkahnya menjauh dari keramaian. Dia berjalan dengan menatap lurus ke depan dan sesekali menunduk. Kemudian, dia berhenti. Menunduk beberapa detik memperhatikan sesuatu di tangannya. Bibirnya tersenyum tipis lalu kembali mengangkat wajahnya dan melihat kearah yang lain.



Dia membuka matanya lebar, membuka pikirannya lebar, dan menutup hatinya. Dia mencoba bertanya pada hatinya, "Masihkah rasa itu ada?"


Dia segera menggeleng. Tidak.


Vano kembali dan duduk di balkon kamarnya, dia membelai ponselnya dan membuat panggilan Video pada Neva.


"Hai ...." sapa seseorang dengan senyum ceria disana. Vano tersenyum melihat itu.


"Sudah makan?" tanyanya.


"Sudah," jawab Neva.


"Besok jadi ketemu Mama?"


"Jadi," jawab Neva. "Aku akan belajar bikin cake tiramisu kesukaan mu dari Mama Mahaeswara," lanjut Neva. Vano terkekeh.


"Cake tiramisu buatan Mama selalu gagal," kata Vano. Dia ingat mamanya beberapa kali membuat cake tiramisu dan selalu gagal.


"Oh ya?" Neva melebarkan matanya yang kemudian disusul tawa kecil. Vano tersenyum, tangannya mengusap layar ponselnya perasaan yang bercampur.



"Sayang," panggilannya pelan.


"Ya," jawab Neva.


"I love you," ucap Vano dengan sepenuh hati. Wajah Neva memerah dan menambah rasa rindu dalam hatinya.


_____________


Catatan Penulis πŸ₯°


Pertanyaan Readers.


Anis.


Kenapa Leo bisa membuatku tergila-gila.


#tanyaLeo


Jawab.


Leo..... "Aku tidak tahu. Tanya Author saja."


Author... "Eh, kok aku?" sambil nunjuk diri sendiri.


Pada akhirnya, Leo dan Othor berdebat. Uhumm ...


Fika.


Jadi kapan mau terima lamaran nya babang Vano? kalo gamau yaudah buat aku aja wkwk.


#TanyaNeva


Jawab.


Neva .... "Jawabannya ada di bab Manja Kak. Hmm ada kata hatiku disitu. Terima kasih."


Chita


kk author udah pnya pacar blom


#tanya author


Jawab.


Author... "πŸ˜„πŸ˜‚πŸ˜† Hahaaa ... pacar? Nggak ada pacar, mantan ada tuuhh 🀭🀭 Aihh jadi inget doi πŸ™ˆ"


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯°πŸ˜˜ Luv luv Terima kasih πŸ™ Buat yang ingin juga bertanya silahkan sertakan tagar ya. #Tanya. Pertanyaan cuma sampai Kamis depan πŸ₯°πŸ™


*Ilustrasi/visual diambil dari internet dan aplikasi Pint, jadi jika ada kesamaan gambar tokoh harap maklum ya. πŸ™πŸ™