
Pagi hari, Leo mendapat panggilan dari sang Papa. Beliau memintanya untuk datang ke markas besar mereka. Meeting pagi di mulai, dan mulai besok Dimas akan pindah keluar pulau, memegang kantor cabang yang baru di sana. Itu artinya semua yang ada di Ibu kota dan sekitarnya adalah dalam kuasa Leo. Itu sangat bagus, dengan begitu, dia lebih mudah untuk menyerang seseorang.
Disisi lain, Yuna berkumpul dan ngobrol ringan bersama teman-teman memasaknya dulu. Rasanya sangat lama mereka tidak bertemu.
Seseorang yang tidak sengaja berada disitu, terus memperhatikannya. Dia duduk tak jauh dari Yuna dan teman-temannya, ia memakai kaca mata hitam dan blazer berwarna merah muda. Hatinya dipenuhi kebencian melihat tawa Yuna, hatinya dipenuhi amarah. Andai Yuna tidak hadir dalam hubungannya maka dia pasti akan sangat bahagia saat ini, andai Yuna tidak ada di dunia ini, maka dia akan bersama selamanya dengan laki-laki pujaannya. Dia sangat benci, benci dengan wajah yang terlihat bahagia itu. Laki-laki yang dia cintai harus menjadi miliknya, harus. Bagaimanapun caranya.
"Sayang, aku ada kelas melukis. Maaf tidak bisa ke kantor." Yuna mengirim pesan pada Leo.
"Iya," balas Leo singkat.
Setelah berpisah dengan teman-temannya, Yuna menghabiskan dua jam di kelas melukisnya. Dia keluar ketika jam ditangannya menunjukkan pukul 13.45.
Seseorang telah menunggunya di sebrang jalan di depan tempat dia melukis. Dia diam di dalam mobil dan hanya memperhatikan saja.
Dia satu sisi seseorang lagi memperhatikan dengan jarak yang tidak jauh. Matanya di penuhi kelembutan ketika melihat Yuna keluar, bibirnya langsung otomatis melengkung membentuk senyuman. Dia sudah menunggu satu jam disitu, tepat ketika mobil disebrang jalan juga memarkirkan mobilnya. Mereka pria-pria tampan yang menjadi penguntit sejati saat ini.
Yuna tidak langsung menghubungi supirnya, dia lebih dulu duduk di depan, dibangku di pinggir jalan. Ia menyalakan ponselnya dan mengirim pesan pada Leo.
"Sayang, kau pulang jam berapa hari ini?" pesan itu langsung terkirim dan terbaca.
"Jam sembilan."
"Apa? Kenapa sangat malam?"
"Ada yang harus di kerjakan."
"Aku akan menemanimu."
"Kau mau menemani ku atau menggoda ku?" Yuna tertawa ringan membaca balasan dari Leo, kemudian dia mengiriminya emot cium. Dia sangat asik melakukan chat pada Leo, hingga dia tidak sadar jika seseorang telah duduk di sebelahnya.
"Nona cantik, apa kau sendirian?" sapanya. Yuna segera menoleh dan langsung menampakan wajah terkejut, ia tersenyum dan langsung memeluknya.
"Kau curang... sejak kapan kau ada disini?"
"Satu jam yang lalu, aku menunggu mu di situ." dia menjawab dan menunjuk mobil miliknya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Coklat hangat," ucapnya.
"Hmm, terima kasih, sayang," Yuna menerima minuman dari tangan suaminya dan perlahan menyesapnya sedikit demi sedikit.
Leo memperhatikan mobil yang terparkir di seberang jalan. Kapan dia akan berhenti memperhatikan Yuna? Kapan dia akan menyerah? Sungguhkah dia akan terus bertahan dan mengharapkan Yuna? Sungguhkah dia akan terus mendeklarasikan perang pada Leo? Leo sangat tidak suka seseorang memperhatikan istrinya. Hanya dia, hanya dia yang boleh.
"Sayang, apa kau sungguh akan pulang jam sembilan?"
"Tidak, aku pulang sesuai jadwal." jawabnya. Tangannya terangkat dan mengusap rambut istrinya dengan perhatian.
"Bagus," Yuna tersenyum senang.
"Apa kau mau ku antar pulang?"
"Tidak usah, kau segera kembali ke kantor dan segera selesaikan pekerjaan mu."
Seseorang yang berada di dalam mobil di sebrang jalan itu, tersenyum dalam diam, hatinya kembali terluka. Biar bagaimanapun perasaannya telah salah, dia mencintai seseorang yang telah termiliki. Pelan, dia melajukan mobilnya menjauh dari area itu.
Leo bernafas lega melihat mobil itu telah pergi.
"Sayang...," Leo mendekatkan diri dan memanggilnya. Mendapat panggilan, Yuna segera menoleh... Cupp, bibir mereka langsung bertabrakan. Rasa coklat hangat terasa di bibir Leo, dengan pelan, lidahnya segera menjilat sisa coklat yang masih menempel di bibirnya.
"Tuan suami, harap jaga etika anda. Ini di pinggir jalan, okey."
"Tapi aku tidak tahan untuk tidak mencium mu," jawabnya menatap mata Yuna dengan dalam. Itu membuat Yuna tersipu, wajahnya memerah.
"Kau... Tuan genit," Yuna mencubit pinggangnya.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah Leo tidak kembali ke kantor tetapi langsung membawa Yuna untuk pulang ke rumah. Dia menghujani istrinya dengan cinta yang menggebu, ia memanjakan istrinya dengan pemujaan kelembutan sentuhannya.
Kemudian, setelah memastikan istrinya tertidur, dia lembur semalaman di ruang belajar, ia menyelesaikan dokumen yang akan segera dia luncurkan. Pukul setengah empat pagi, dia baru selesai dari kesibukannya. Lalu dia kembali ke kamar dan memeluk Yuna penuh kasih.
"Sayang, aku tidak akan membiarkan seseorang terus mengharapkan mu. Kau adalah milik ku, selamanya akan seperti itu," bisiknya dengan perasaan posesif. Ia mencium kening istrinya dan kemudian memejamkan matanya.