Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 181_Juliet Rose


Pagi hari sebelum sarapan ketika Neva baru saja selesai mandi. Mama meminta izin untuk masuk ke kamarnya.


"Apa kau sungguh serius dengan keinginan mu untuk melanjutkan kuliah di luar negeri?" tanya Mama setelah duduk di sofa. Neva yang belum selesai menyisir, melangkah menuju Mama dan duduk di samping Mama. Dia menatap Mama dan mengangguk.


"Iya, Neva serius," jawabnya.


"Apa ada alasan lain? Kenapa tiba-tiba kamu ingin kuliah di luar negeri?"


"Tidak ada, aku hanya ingin mandiri dan lebih banyak pengalaman," jawab Neva. Mama mengambil sisir dari tangannya lalu menyisir rambut putrinya dengan perhatian.


"Bukan karena Kakak mu kan?" tanya Mama rendah. Dalam hatinya Mama masih menyimpan banyak pertanyaan dan kekhawatiran tentang Leo, Neva dan Vano. Apa yang mereka sembunyikan darinya?


"Bukan. Kak Lee tidak ada hubungannya dengan keputusan ku ini," jawab Neva meyakinkan Mamanya.


"Baik, Mama akan membahas ini dengan Papa. Apa kau sudah memilih Universitas yang kau inginkan?"


Neva mengangguk.


Setelah selesai sarapan. Gadis itu segera berangkat menuju kampus. Ia duduk di bangku penumpang.


"Jam berapa kau pulang? Aku akan menjemput mu," sebuah pesan dari Vano.


"Hari ini ada bimbingan Kak dan setelah itu ada diskusi bareng temen-temen jadi aku tidak aku kapan aku pulang. Selamat pagi Kak Vano, selamat menjalani segala aktifitas," balasnya, kemudian ia menonaktifkan ponselnya. Ia menggenggamnya. Kepalanya bersandar dan matanya terpejam.


"Aku benar bukan... dengan aku menjauh maka akan semakin mudah untuk melupakan mu, semakin mudah untuk bisa menghapus rasa ku pada mu. Aku benar bukan... aku hanya tidak ingin egois dengan perasaan yang ku miliki. Kalian bertiga adalah orang-orang yang begitu ku kasihi, aku tidak ingin melihat tatapan luka yang kalian pendam.


Aku benar bukan... dengan aku menjauh, aku tidak akan sering bertemu dengan mu," Dia langsung membuka matanya ketika menyadari kalimat terakhirnya. Tidak akan sering bertemu... dia segera mengaktifkan ponselnya kembali dan langsung membuka chatnya pada Vano.


"Kau sudah berjanji untuk tidak menghindar dari ku. Hubungi aku kapan saja kau ingin kembali, aku akan menjemput mu."


Neva menyunggingkan bibirnya tipis membaca pesan itu. Dia ingin menghabiskan hari-hari sebelum ia pergi ke luar negeri dengan indah.


"Apa itu berarti... kau akan mentraktir ku ice cream Tuan muda?" balasnya.


"Tidak hanya mentraktir mu, jika kau mau... aku bahkan akan memborongnya untuk mu." balas Vano.


"Waww... hati ku meleleh," balas Neva dengan emot terkagum. Vano tertawa ringan di seberang sana.


___Di kastil pinggir pantai.


"Sayang, apa ada yang kau inginkan saat ini?" tanya Leo sambil duduk di sebelah Yuna. Di balkon kamar mereka. Balkon yang langsung menghadap kepantai. Yuna sedang menata bunga di dalam Vas saat ini. Tangannya begitu mahir menatanya.


"Tidak ada," jawabnya tanpa menghentikan tangannya. Matanya tidak pernah bosan menyaksikan bunga indah ini, bunga yang ia terima dari tangan sang pujaan hati. Bunga dengan ungkapan cinta yang begitu mendalam.


"Sayang," panggilannya pada Leo.


"Ya," Leo menatap wajahnya sedari tadi meskipun ia tak dapat balasan dari Yuna.


"Apa nama bunga ini?" tanyanya.


"Juliet Rose," jawab Leo. Tangannya mengulur dan mengusap rambut Yuna dengan lembut, "Kau suka?" tanyanya.


Yuna mengangguk, "Sangat suka," jawabnya dengan seuntai senyum dibibirnya, "Namanya sangat bangus, sangat cocok untuk bunga seindah ini," lanjutnya. Leo tersenyum puas dengan jawaban Yuna. Dia bahagia jika Yuna menyukai apa yang dia berikan.


Sttt... Nyonya muda tidak tahu berapa harga Bunga di hadapannya ini. Dia pasti akan menggila jika mengetahui harganya. Harga bunga itu setara dengan satu unit perumahan elit di Ibu Kota. Dan Si-Boss habiskan hanya untuk membeli Juliet Rose.


Leo mendekatkan dirinya dan kemudian mencium pipi Yuna.


"Aku akan sibuk minggu-minggu ini," ucapnya. Ia merangkul Yuna penuh kasih. "Aku tidak akan bisa menemani mu makan siang."


Yuna menghentikan tangannya lalu menoleh untuk menatap Leo.


"Tidak apa-apa sayang. Jangan khawatirkan apapun." Yuna mengusap pipinya.


"Kau harus selalu mengingat janji mu, bahwa kau tidak akan ceroboh dalam hal apapun."


"Iya, aku janji," ucap Yuna sambil memegang kedua telinganya. Ia menjadi sangat imut dengan ekspresi muka yang lucu. Leo tersenyum melihatnya dan mematuk bibir merah muda Yuna.


"Akan ada Alea yang menemani ku, jadi kau tidak perlu khawatir aku akan kesepian," ucap Yuna.


Leo mengangguk. "Apa kau sudah merasa cocok dengannya?"


"Hu'um... dia sangat baik dan sangat menyenangkan."


Setelah berbincang-bincang di balkon kamar. Mereka pergi ke pantai. Saling bergandengan tangan dan sesekali memeluk pinggang.


Mereka duduk di atas pasir putih. Menyaksikan pantai dengan ombaknya yang tenang, menyaksikan burung-burung camar yang berterbangan.


Yuna perlahan beranjak dari duduknya, ia melangkah dan menuju bibir pantai, Leo segera menyusulnya.


"Jangan main air," cegahnya. Ia memegang lengan Yuna.


Dengan pelan, Yuna menarik lengannya dan berlari...


"Ayo bermain air sayang...," ucapnya dengan berteriak. Ia terus berlari... hingga kakinya menciptakan cipratan-cipratan pada bajunya.


Leo kesal melihat itu. Dia segera mengejar Yuna. Baru saja si Nyonya berjanji untuk tidak ceroboh tapi saat ini seolah dia tidak memiliki janji apapun.


"Yuna... jika kau tidak berhenti sekarang juga, aku akan menghukum mu," Leo berteriak padanya. Dia berlari mengejar Yuna.


"Hentikan aku jika kau bisa Tuan suami," balas Yuna berteriak. Dia semakin mempercepat langkahnya dan Leo semakin kesal dengannya. Si Nyonya masih saja suka membantahnya.


Sekuat apapun Yuna berlari tetap saja, langkah kaki Leo lebih cepat darinya. Setelah begitu dekat tangannya mengulur dan langsung menangkap Yuna.


"Tertangkap," ucapnya. Ia mendekap Yuna dalam pelukannya. Yuna tertawa terbahak-bahak karena tertangkap. Kemudian, dia mendorong Leo hingga terjatuh, ia yang masih dalam pelukan ikut terjatuh bersama. Basah... mereka berdua menjadi basah. Leo menatapnya dengan sangat kesal. Ia segera berdiri dan membawa Yuna ke pinggir. Yuna memakai baju warna putih saat ini... jadi ketika baju itu basah, sesuatu yang berada di dalamnya terlihat sangat jelas. Bra warna hitam itu sangat menggoda. Kulit putih Yuna membuatnya kontras dan semakin terlihat sangat seksi.


Hati Leo melunak begitu saja, dia bahkan sudah lupa omelan yang sudah di ujung bibir yang ingin ia sampaikan pada Yuna. Omelan itu tiba-tiba sirna, di gantikan rasa tergiur dengan sesuatu yang di tangkap oleh matanya.


Tangannya berpindah di tengkuk Yuna dan langsung mencium bibirnya. Ia mencium bibir itu dengan rakus. Yuna memejamkan matanya, dan membalas ciuman itu. Tangan Leo membuka kancing bagian atas baju Yuna, satu, dua, ia menurunkannya sedikit hingga pundak Yuna terbuka. Bibirnya yang basah mulai turun, tangannya yang hangat mulai menjelajah.


"Ummm... sayang, hentikan," Yuna mencoba mendorongnya, tetapi tidak berhasil. Bibir basah itu semakin liar.


"Auu....auu... aahh kaki ku." Yuna memekik kesakitan. Dia berakting agar Tuan suami menghentikan aksinya. Ini di alam bebas dan dia tidak nyaman dengan ini meskipun tidak ada siapapun di pantai ini selain mereka berdua.


"Kenapa?" Leo langsung cemas menatapnya.


"Kaki ku kram," Yuna memberi alasan.


"Kaki mana yang sakit?" Leo langsung jongkok di hadapannya dan menyentuh kaki kanan Yuna.


"Jangan menyentuhnya, itu membuatnya terasa semakin sakit," ucap Yuna dengan alasannya lagi. Dia sangat pandai berakting dalam hal ini. Dia pandai membuat Leo cemas.


"Jadi apa yang harus ku lakukan?" tanya Leo. Ia mendongak.


"Gendong aku kembali ke kastil," Yuna mengulurkan kedua tangannya. Leo segera berdiri dan dengan perhatian membenarkan baju Yuna. Kemudian, ia menggendong Yuna di punggungnya. Ia berjalan membawa langkahnya.


Angin pantai yang sangat sejuk membuat dirinya sedikit merasa dingin. Ia semakin mendekap Leo.


"Sayang," panggilannya.


"Hhmm."


Yuna mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Leo. Kemudian, ia menyandarkan dagunya di pundak Leo. Perlahan, ia membuat suara.


"Dil Mera har baar yeh sunne ko beqaraar hai. Kaho na pyaar hai. (Hati ku gelisah setiap kali ingin mendengarnya. Katakanlah bahwa kau cinta)


Kaho na pyaar hai. (Katakanlah bahwa kau cinta)"


"Haan, tumse pyaar hai, Ki tumse pyaar hai. (Ya aku mencintai mu, bahwa aku mencintai mu)" Leo menyahutnya. Itu membuat Yuna sangat terkejut dalam kebahagiaan.


"Hai, tuan suami... kau bisa lagu India?" Yuna sedikit tertawa ketika menanyakan ini. Dia tidak habis pikir jika ternyata Leo bisa menyahutnya.


"Kau sering memutarnya," jawab Leo. Yuna tersenyum lebar dan menciumi pipi Leo tanpa henti.


"Aku mencintai mu Tuan tampan," bisiknya tepat di telinga Leo.


"Aku juga mencintai mu Nyonya ceroboh," jawab Leo. Ia terkekeh.


Setelah sampai di kamar, Leo menurunkannya di sofa sementara dia segera masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat.


"Apa kaki mu masih sakit?" tanyanya menghampiri Yuna. Ia duduk di lantai dan memegang kaki kanan Yuna, ia meletakkan kaki Yuna diatas pahanya dan memijitnya dengan pelan dan lembut. Ini sangat menyentuh hati Yuna, dia menjadi merasa bersalah karena membohongi suaminya tentang kakinya yang terasa kram.


"Sayang, itu sudah sembuh. Kau tidak perlu memijitnya," ucap Yuna. Leo mendongak dan menyudahi pijatannya. Ia berdiri...


"Kau basah, mandi dan ganti baju mu. Aku sudah menyiapkan air hangat." ucapnya. Yuna mengangguk dan berdiri tapi dia tidak segera menuju kamar mandi melainkan memeluk Leo.


"Kenapa?" Leo mengusap rambutnya dengan perhatian.


"Tidak ada, hanya ingin memeluk mu saja," jawabnya. Ia mendongak dan langsung disambut kecupan manis pada bibirnya. Tangan Leo masuk kedalam rambutnya dan memeluk pinggangnya erat. Dia dengan sangat cepat melepaskan baju warna putih yang sempat tertahan tadi. Matanya termanjakan oleh lekuk tubuh milik Yuna. Ia membawa Yuna ke kamar mandi dan menggila di bawah guyuran shower yang hangat.


__Pukul tujuh malam. Di ibu kota.


Mobil milik Vano parkir tepat di depan gerbang sekolah SMAnya dulu. Ia bersama Arnis saat ini, Arnis yang baru saja datang siang tadi. Dia masih berharap pada laki-laki satu ini, cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Ternyata memang benar bahwa cinta pertama itu sangat sulit untuk di lupakan, dia hampir lima kali memiliki berganti pacar namun tetap Vano yang paling indah di hatinya. Biarkan saja dia terus menolak, setelah di kejar terus menerus pasti akan lelah juga dan pasti akan memberinya kesempatan, begitu pikir Arnis. Dia akan bersaing dengan adil untuk mendapatkan Vano, tidak masalah jika Neva mendapat dukungan dari Nyonya Mahaeswara, yang terpenting adalah Vano. Selama dia jomblo maka siapapun boleh mengejarnya.


Mereka keluar mobil dan berjalan menuju gerbang sekolah.


"Ngapain kesini?" tanya Vano. Dia mendongak menatap gedung sekolah SMA-nya dulu.


"Nostalgia," jawab Arnis. Tanpa persetujuan, ia menarik tangan Vano untuk menuju ke pagar dinding sebelah sekolah.


Vano tertawa kecil setelah Arnis melepaskan genggaman tangannya. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh gadis ini.


Arnis melihat sekeliling dan langsung menemukan bangku kecil tak jauh darinya. Dia segera menariknya.


"Hahahaaa... ternyata masih ada yang suka kabur," ujar Arnis dengan tawa. Ia kemudian, naik keatas bangku kecil itu.


Tanpa di minta, Vano langsung memegangi bangku itu agar tidak bergerak.


"Jangan mengintip. Aku akan membunuh mu jika kau berani mengintip," Arnis memperingatkannya. Saat ini ia memakai rok model a-Line Skirt. Tadinya dia berfikir ini akan membuatnya terlihat feminim tapi dia lupa bahwa tempat yang akan di kunjungi adalah gedung sekolah SMA-nya dulu. Dan rok ini malah membuatnya repot.


"Iya, kau tenang saja," jawab Vano terkekeh. "Aku bukan pria mesum," lanjutnya.


Tak butuh waktu lama, Arnis sudah berhasil memanjat pagar dinding sekolah, ia sudah berada di dalam area sekolah saat ini. Kemudian, disusul Vano yang juga melompati pagar dinding sekolah.


Mereka berjalan ke arah halaman sekolah dan duduk di bangku taman sekolah di sebelah lapangan basket.


"Kau tidak pernah datang ketika di undang Reuni sekolah tapi kau malah mengunjungi sekolah malam hari begini," Vano tertawa kecil.


"Heheee, waktunya selalu tidak tepat." jawab Arnis nyengir. Lalu mereka ngobrol santai hingga hampir satu jam.


"Vano...," panggil Arnis.


"Ya."


"Bagaimana jika aku menunggu mu?" tanya Arnis pasti. Ia menatap langit ketika menanyakan itu. Dia menyambung lagi sebelum Vano menjawab, "Hahaa... aku memalukan ya? Aku wanita dan nembak kamu duluan sedari SMA, aku wanita dan mengejar mu."


"Tidak apa-apa." jawab Vano dengan senyum, "Terima kasih sudah menyukai ku kawan. Aku menghargai mu." Vano mengangkat tangannya dan meletakkannya di pundak Arnis, ia merangkulnya, "Ada ikatan yang juga Indah selain ikatan cinta. Persahabatan. Aku menyayangi mu sebagai sahabat ku, aku menyayangi mu sebagai saudara ku."


"Hmmm, okey tak apa jika aku tidak memiliki kesempatan sama sekali. Aku cukup bahagia karena bisa mengenal mu, aku bahagia karena memiliki perasaan ini pada mu."


"Arnis, aku minta maaf karena tidak bisa membalas perasaan mu."


"Kenapa harus meminta maaf, cinta tidak bisa dipaksakan."


"Hmm... meski begitu, aku merasa keterlaluan pada mu."


"Hei... kau lebay," Arnis meninju bahunya. Kemudian, mereka tertawa. Kita sahabat.


"Jadi... apa kau sudah membuka hati mu untuk wanita lain? Atau kau masih memikirkan wanita sialan yang membuat mu patah hati itu?"


Tepat setelah Arnis selesai menguncupkan pertanyaannya, ponsel Vano bergetar. Satu pesan masuk. Vano segera menarik tangannya dari pundak Arnis, lalu mengambil ponsel di sakunya.


"Apakah tawaran untuk menjemput ku masih berlaku?" isi pesan masuk di ponsel Vano. Pesan ini membuat sudut bibir Vano terangkat. Pesan dari Neva.


"Tunggu aku," balasnya.


"Baik," balas Neva.


Vano menggoyangkan ponselnya pelan di depan Arnis. Tangan Arnis mengulur dan mengambil ponsel itu dari tangan Vano, kemudian membaca chat yang baru saja berlangsung. Dia tertawa kecil.


"Waw... waw, gadis kecil ini. Okey kau beruntung gadis... aku mengalah pada mu, hahaaa." ucap Arnis. Ia mengembalikan ponsel Vano.


"Ayo ku antar pulang lebih dulu," Vano menawarinya.


"Dasar gila." Arnis meninju bahunya, "Dia menunggu mu, ngapain masih berfikir untuk mengantar ku pulang."


"Tidak ada protes. Ayo ku antar kembali ke hotel."


Mereka keluar dari halaman sekolah dengan memanjat lagi.


"Segeralah temui dia, aku bisa kembali sendiri," ucap Arnis ketika mereka telah berada di luar. "Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama. Bahagia terus kawan." Arnis mendorong Vano untuk segera masuk kedalam mobil.


"Aku akan memesan taksi untuk mu."


"Tidak perlu... aku bisa melakukannya sendiri. Aahh buruan-buruan," Arnis kembali mendorongnya. Dan akhirnya Vano benar meninggalkannya.


Arnis menatap mobil yang perlahan meninggalkan dirinya dengan sedikit senyum dan beberapa luka dihatinya.


"Aku patah hati." Gumamnya pada malam.