Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 268_Keluarga Besar 2


Dua keluarga telah bertemu, mereka saling menyapa, berbincang dengan ramah sebelum acara makan malam di mulai. Lima menit berlalu tapi Vano tidak juga menampakkan dirinya.


Neva kesal padanya, telat adalah hal yang sangat memalukan, apalagi ia akan memperkenalkan Vano pada keluarganya. Seharusnya dia datang lebih awal bukan malah telat. Neva gondok setengah mati. Papa, Kak Dim, Kak Lee adalah laki-laki yang sangat menghargai waktu. Bagaimana bisa seseorang ini malah telat.


"Kakak dimana?" Tanya Neva setelah panggilannya tersambung.


"Aku masih di jalan," jawab Vano dengan nada merasa bersalah, "Jalanan sangat macet, sayang. Aku minta maaf," lanjutnya.


"Jalanan Ibu Kota tidak pernah tidak macet Kakak," Neva kesal padanya.


"Aku sudah berangkat lebih awal," jawab Vano.


"Terserah," Klik. Neva memutus panggilannya. Wajahnya ditekuk dengan bibir yang cemberut.


Nora bercengkrama dengan Yuna, ia bercerita pengalamannya saat melahirkan. Lalu di sambung dengan cerita Mama saat melahirkan Leo dan Neva. Tentu juga dengan cerita Ibu sambung Yuna saat melahirkan Viona. Nenek hanya sesekali menyahut, beliau memperhatikan wanita-wanita yang istimewa ini. Namun semuanya terdiam saat


alunan instrumen piano mengalun merdu dalam lagu Bukti by Virgoun. Nada-nada yang lembut dan begitu indah membuat hati begitu tenang.


Lampu utama mulai padam, digantikan dengan lampu berwarna pelangi, redup, indah, melankolis dan romantis.


Leo lebih dulu berdiri, ia menuju kearah Yuna. Mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Yuna dengan lembut. Kemudian, ia menuju ke arah Neva, mengajak Neva untuk berdansa. Lau Dimas ikut berdiri, ia mengajak Nora untuk berdansa. Sementara baby Dim ada pada baby sitter mereka. Kemudian, Tuan Nugraha tak mau kalah beliau mengajak Nyonya Nugraha untuk berdansa. Begitu juga dengan Ayah dan Ibu, mereka juga melakukan dansa. Hanya tinggal Yuna, Nenek, dan Adel yang masih duduk. Mereka bertiga memperhatikan pasangan yang begitu romantis dalam dekapan masing-masing.


"Na, menurut mu mana yang lebih seru?" Adel tiba-tiba bertanya dengan berbisik. Tapi nenek bisa mendengar bisikannya.


"Perbandingan apa?" Tanya Yuna. Ia menoleh ke arah Adel. Adel merangkul pundaknya.


"Instrumen piano ini dengan cendol dawet?" Tanyanya dengan senyum lebar. Dia sudah bersiap untuk goyang asolole lagi. Sementara Yuna langsung menggerakkan tangannya lalu langsung menyanyikan yel-yel itu dengan pelan. Tentu saja, dia tidak ingin menganggu acara dansa malam ini dengan goyang cendol dawet.


"Cendol cendol, dawet-dawet," Adel menyambungnya. Kemudian mereka berdua melakukan toss.


"Nenek jadi sedih," ujar Nenek ikut menyahut. Beliau mengingat karya-karya Sang legendaris yang sudah berpulang. Adel dan Yuna seketika menelan tawanya dan berganti dengan wajah dan hati yang sedih. Mereka bertiga berpelukan.


"Mari berdo'a untuk beliau," ucap Nenek. Yuna dan Adel mengangguk. Kemudian, mereka bertiga dengan menunduk memanjatkan doa untuk sang legendaris.


"Aamiin," ucap mereka menyudahi. Yuna dan Adel menatap Nenek. Lalu mereka saling lirik.


"Jangan sedih lagi Nek," ucap Yuna. Tangannya terangkat dan memeluk pundak Nenek, begitu juga dengan Adel.


"Kenapa Nenek masih bersedih?" Tanya Adel pelan.


Nenek menjawab dengan pasti, "Teringat mantan."


"Astagaaaa ...." Yuna dan Adel menepuk kening dengan tawa yang pecah. Mereka cekikikan karena mendengar jawab sok kece Nenek.


Di altar dansa. Mereka saling menggenggam tangan.


"Apa kau tidak jadi mengundangnya?" Tanya Leo pada Neva.


"Jadi, tapi dia telat. Dia keterlaluan bukan?" Jawab Neva sekaligus bertanya. Leo mengangguk.


"Jika aku jadi kamu, aku tidak akan memaafkannya," kata Leo memprovokasi.


"Ya, aku juga tidak akan memaafkannya," jawab Neva.


"Cari laki-laki lain," sahut Leo segera. Neva menghentikan gerakan kakinya, mereka berdua berhenti.


"Kakak pikir itu mudah," ucap Neva.


"Sangat mudah, kau cantik," jawab Leo. Neva cemberut mendengar jawaban Kakaknya.


"Lupakan saja," Leo membujuknya.


"Kakak apaan sih. Aku mencintai dia. Titik."


Lalu instrumental berganti dengan lagu Perfect by Ad Sheeran. Alunan instrumen yang begitu indah. Lalu seperti hujan, kelopak bunga mawar merah turun dari atas dengan perlahan. Neva menengadahkan telapak tangannya, telapak tangan itu langsung dipenuhi bunga-bunga. Dalam sinar redup nan romantis, jatuhnya kelopak-kelopak ini begitu menawan. Waw ... dia menggumam dalam hati. Dia menoleh ke arah Kakaknya, ia ingin bilang sesuatu tetapi itu tidak sampai keluar dari bibirnya. Karena indra pendengarannya menangkap suara yang begitu ia kenal.


Dalam instrumen piano Perfect Ad Sheeran suara itu terdengar. Bibirnya membaca setiap kalimat yang tertulis di kertas lusuh itu dengan indah. Ia seperti sedang membaca puisi cinta.


"Cinta dalam hati, cinta dalam diam, adalah sama. Unik, seunik perasaan yang tiba-tiba menyusup tanpa kita sadari dan entah kapan menjadi begitu indah.


Aku mengangumi mu, telah lama aku memendam rasa ini untuk mu. Terkadang aku ingin kamu tahu tentang ini, namun terkadang aku ragu. Dan pada akhirnya aku tetap memilih diam.


Aku tahu, aku hanya setitik embun diantara banyaknya air hujan yang menyejukkan mu, aku tahu kau terlalu tinggi untuk ku gapai. Namun aku tidak pernah berhenti bercerita pada Tuhan tentang perasaan ku padamu. Aku berharap ada takdir yang indah untuk kisah cinta ku, aku ingin Tuhan menyatukan perasaan ku pada mu dengan caranya yang indah.


Namun jika takdir ku tak mengarah padamu, aku akan tetap berterima kasih, karena dimatamu, aku menemukan debaran dijantung ku, sesuatu yang halus yang tak ku mengerti sebelumnya."


Neva terdiam dengan perasaan haru dalam hatinya. Itu adalah kata-kata yang ia tulis untuk Vano kala itu. Itu adalah ungkapan hatinya yang tidak tersampaikan, dulu. Ia mengingat bagaimana ia mengagumi Vano dengan diam lalu bertemu dengan tidak sengaja.


Leo menarik langkahnya mundur. Ia duduk di samping Yuna dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Yuna. Pun dengan semua yang melakukan dansa, mereka semua kembali untuk duduk.


Seseorang berdiri dengan gagah di depan sana. Sorot lampu redup membuatnya terlihat semakin indah. Pelan tetapi pasti, ia membawa langkahnya menuju Neva.


Sepasang bola mata Neva menatapnya dengan pandangan mata yang indah.


Vano telah sampai padanya, berdiri tepat didepan matanya. Jantungnya berdegup. Ini tentang sesuatu yang tak teraba, seperti angin yang tak bisa ditangkap oleh Indra kita. Ini juga tentang sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh bahasa biasa. Ia hanya bisa dirasa, mendebarkan jantung menggetarkan sukma.


Tangan Vano meraih tangannya, menggenggam jemari Neva dengan lembut. Mata mereka saling bertemu.


"Gadis, aku berharap bahwa aku adalah takdir indah yang kau ceritakan pada Tuhan," ucap Vano lembut dengan sepenuh hati. Neva mengigit bibirnya untuk melawan rasa haru dalam hatinya. Rasa kesalnya sudah hilang dari tadi, dari saat ia mendengar suara Vano.


Vano melepaskan genggaman tangannya. Ia sedikit menggeser badannya dan kemudian membungkuk untuk memberi salam pada semuanya.


"Di hadapan orang tuamu, Kakak mu. Aku ingin menghapus ragu dalam dalam hati mu," ucap Vano. "Gadis, aku mencintaimu. Aku ingin bilang ini padamu bahwa kau adalah Sebenarnya Cinta yang ada di dalam kalbuku. Gadis, menikahlah denganku. Mari bersama dalam ikatan suci yang Tuhan ridhoi," ucapnya dengan sepenuh hati. Jantungnya berdegup dari tadi, matanya menatap Neva dengan indah dan penuh kelembutan.


Yuna tersenyum dengan penuh haru melihat mereka berdua. Ia memeluk Leo. Sementara Adel memeluk Nenek. Ayah dengan Ibu, Papa dengan Mama, Dimas dengan Nora. Mereka diliputi kebahagiaan menyaksikan ini.


Tangan Vano mengambil sesuatu dari saku jas yang ia kenakan. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Ia membukanya di depan Neva.


Melihat benda berbentuk lingkaran dengan hiasan permata diatasnya membuat Neva semakin tersentuh. Dia menahan air matanya agar tidak jatuh, ia menahan rasa haru dalam hatinya dengan sangat.


"Gadis, jadilah istriku," pinta Vano dengan ketulusan dihatinya. Dan pada akhirnya tangis Neva pecah saat ia mendengar kalimat itu dari bibir Vano. Tangannya terangkat dan segera menyekanya.


Neva mendongak menatap Vano. Bibirnya bergetar. Laki-laki ini sungguh menguncupkan kata ini di depan orang tuannya. Bukan hanya di depan orang tuanya tetapi di depan keluar besarnya. Neva tidak mampu berucap apa-apa, ia membisu dalam tangis bahagianya. Hingga pada akhirnya ia mengangguk.


"Yess," jawabnya.


_____


Catatan Penulis


Cieee Neva ... uhum. 🀭


Hallo Sahabat Sebenarnya Cinta πŸ’– Terima kasih udah setia dengan kisah ini. Jangan lupa like koment vote ya kesayangan Nanas. πŸ₯°πŸ™ Terima kasih πŸ₯° Vote yang banyak ya (yang punya poin lebih) Semoga SC semakin diminati pembaca. πŸ™


Aku padamu selalu. Maaf jika kadang aku tidak sempat membalas komentar Sahabat semuanya, tapi pasti aku baca dan like. πŸ₯°πŸ™πŸ™ Jangan pernah bosan buat selalu komen ya kesayangan. luv luv πŸ₯°