Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 188_Masalah Itu Lagi


"Emmm, maaf aku kedalam dulu," ucap Yuna. Dia melepas genggaman tangannya pada jemari Leo. Kemudian, ia berdiri dan membalik badannya untuk melangkah masuk kedalam. Hufff... dia bernafas lega setelah meninggalkan ruangan itu. Dia menyandarkan punggungnya di sofa dan mengambil toples berisi kopi sangrai. Tak lama, Neva menyusulnya, dan duduk disampingnya.


"Kak Yuna makan apa?" tanya Neva.


"Kopi sangrai," jawab Yuna sambil memperlihatkan toples yang berada di pangkuannya.


"Emang enak? Bukankah sangat pahit?"


"Enak kok, kau mau coba?"


"Hahaaa ngak...," Neva menolak, ia menggerakkan kedua telapak tangannya. Yuna kembali memperhatikan televisi. "Kak Yuna...," panggil Neva pelan.


"Ya?" Yuna langsung menoleh ke arahnya.


"Kakak menyukai kartun Spongebob?" tanya Neva.


Yuna mengangguk, "Iya, kartun itu sangat lucu," jawab Yuna, "Kenapa?" tanyanya.


"Ah, tidak hanya bertanya. Sepertinya... Kak Vano juga menyukai kartun yang satu itu,"


Yuna diam. Matanya memperhatikan Neva, ia menunggu Neva melanjutkan ucapannya.


"Sepertinya kalian berdua memiliki kecocokan," ucap Neva. Yuna sedikit tersentak mendengar ucapan Neva, Neva seperti mengetahui sesuatu, batinnya.


"Mmm, bukankah banyak sekali orang yang menyukai kartun lucu satu itu?" jawab Yuna setelah terdiam beberapa saat.


"Hmmm, benar. Maafkan aku jika memiliki pemikiran yang aneh," Neva sedikit menggaruk kepalanya.


"Apa ada yang mau kau tanyakan Neva?" tanya Yuna. Dia yakin Neva mengetahui sesuatu.


"Tidak ada," jawab Neva.


_Di ruang tamu.


"Selamat sekali lagi atas kehamilan Yuna, Leo...,"


"Jangan sebut namanya," Leo memotong ucapan Vano. Suaranya dingin dan sinis. Awalnya, dia masih bisa menahan rasa cemburunya tapi melihat mereka berdua saling berbicara dan saling tertawa, membuat hatinya begitu terluka. Adegan malam itu, Yuna yang mendatanginya pagi itu, tantangan Vano, deklarasi perang Vano padanya. Ya... Vano begitu terang-terangan kala itu dengan cintanya pada Yuna.


"Leo... kita sama-sama sudah dewasa, kau tahu itu masa lalu,"


"Bagaimana hubungan mu dengannya? Bagaimana kalian melewati hari-hari? Kau bahkan sampai tahu kartun kesukaannya. Sepertinya kau juga tahu band kesuksesannya dan bahkan film favoritnya," Leo bertanya dengan rasa yang begitu menusuk di hatinya. "Kalian tertawa seolah tidak ada aku disini. Apa dia juga tahu apa kesukaan mu? Makanan favorit mu, minuman kesukaan mu, film kesukaan mu, hobi mu. Hubungan seperti apa yang kalian ciptakan?"


"Hubungan itu sudah berlalu dan menjadi masa lalu, Leo. Seperti apa dan bagaimana, itu juga telah berlalu. Aku minta maaf pada mu, untuk yang pernah terlalui dan semua kesalahanku. Ku akui aku salah karena pernah menginginkan dirinya."


"Dan saat ini kau mendekati adikku? Agar kau bisa kembali dekat dengan istriku?"


"Kau terlalu berburuk sangka pada ku Leo. Aku tahu aku salah, dan aku minta maaf. Ku harap kau sudi memaafkan ku. Tentang Neva... ini tidak ada hubungannya dengan Yuna..."


Ketika bibir itu menyebut nama wanitanya, hatinya terasa tergores dan sangat ngilu. Hanya menyebut namanya saja bisa membuat dirinya begitu cemburu. Apakah dia masih waras saat ini? Dia mempertanyakan kewarasannya sendiri.


"Vano..." Leo menatapnya. Ia mencoba menahan semua yang dia rasakan. Dia selalu ingat ucapan Yuna. "Jangan pernah salahkan dia, salahkan aku karena aku yang datang padanya." Jadi dia tidak akan menyalahkan siapapun selain dirinya. Yuna datang pada Vano karena dirinya. Saat ini... Neva menyukai laki-laki yang tidak dia sukai, tapi dia telah berjanji untuk memberikan restunya. Janji pada Yuna dan janji untuk Neva. Dia menyanyangi adiknya, jika kebahagiaan Neva adalah bersama Vano, sebisa mungkin, dia akan menahan dan memendam semua emosi yang berperang dalam dirinya.


"Sejujurnya aku tidak menyukai mu, sangat tidak suka tapi aku kalah karena adik ku begitu menyukai mu."


___


"Hati-hati Kak...," Neva melambaikan tangannya dan memperhatikan mobil Vano yang perlahan menjauh.


Ia kemudian kembali masuk ke dalam. Sudah tidak ada Leo diruang tengah, tapi masih ada Yuna di dapur. Dia sedang mengisi gelas dengan air hangat.


Neva memperhatikannya dari belakang dengan diam-diam. Sponge....bob... dia melafalkan nama kartun itu dengan pelafalan yang menekankan pada bibirnya. Kartun kotak satu itu yang ia lihat tergeletak di atas meja kerja Vano siang itu.


"Jadi... teman yang dia maksud adalah Kak Yuna?" batin Neva. Dia kemudian membalik badan dan menuju kamar. Ia merebahkan dirinya dan memejamkan matanya. Tawa Yuna... tawa Vano... ekspresi wajah muram Kakaknya....


"Kak Lee..., aku sungguh menyerah dan berhenti. Kau tidak perlu lagi menyimpan dan menahan apa yang kau rasakan. Kita berempat tidak akan mudah."


_Yuna membuka pintu kamar pelan dan dia tidak menemukan Leo. Ia meletakkan gelasnya di atas meja.


"Sayang, apa kau didalam?" tanyanya. Ia mengetuk pintu kamar mandi pelan.


"Iya," jawab Leo singkat. Tangan Yuna memegang gagang pintu dan mencoba membukanya, ah sial... pintunya dikunci. Ia berdiri menunggu Leo di depan pintu kamar mandi. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka dan Leo keluar dengan menggunakan jubah handuk, rambutnya berantakan dengan wajah yang begitu bersih. Momen rambut berantakan setelah mandi adalah salah satu momen wajah ter-imutnya. Mata Yuna meleleh, dia ingin segera menghancurkan wajah imut itu tetapi dia menahannya. Sepertinya... Tuan tampan sedang marah padanya.


"Ngapain berdiri di sini?" tanya Leo sambil melangkah melewati Yuna. Dia hanya melihat sekilas wajah Yuna. Dan dia segera mengganti baju.


"Hmm," jawab Leo singkat tanpa membuka mulutnya, ia juga tidak menoleh ke arah Yuna.


"Sayang, apa kau marah?" tanyanya dengan suara yang masih pelan. Leo tidak memberi jawaban, ia membalik badan dan menatap Yuna tetapi tidak mengatakan apa-apa. "Aku minta maaf, aku tidak bermaksud...,"


"Sudah malam, tidurlah," ucap Leo. Ia mengusap perut Yuna sebentar dan melangkah pergi. Ia keluar kamar. Yuna membuntutinya dengan langkah pelan. Dia tahu kemana Leo pergi... Ruang belajar. Leo menghilang di balik pintu.


"Sayang, boleh aku masuk?" tanyanya. Dia mengetuk pintu pelan. Tak ada jawaban. Dia mengetuk lagi dan mengulangi pertanyaannya, masih tak ada jawaban. Mengulangi lagi dan lagi.


Leo berdiri di balik pintu. Ia memejamkan matanya. Terbayang tawa Yuna dan Vano dalam gelap pandangan matanya. Dia tidak bisa begitu gokil seperti Vano, dia tidak bisa membuat Yuna menjadi melucu seperti yang Vano lakukan, dia adalah laki-laki yang kaku dan dingin. Membuat wanitanya tertawa saja dia tidak bisa. Nyatanya... Yuna bahkan tidak merasa bahagia dengan bunga yang ia dapatkan dengan susah payah. Perih... terasa sangat perih.


"Sayang...," suara Yuna masih memanggilnya. "Aku akan terus berdiri di sini jika kau tidak membuka pintu," ujar Yuna. Leo selalu kalah dengan ancaman ini. Dan dengan pelan... pintu itu terbuka. Mata mereka saling menatap satu sama lain dengan sayu. "Maafkan aku," ucap Yuna. Leo hanya menatapnya dan tidak mengucapkan apa-apa. Kemudian, ia membawa Yuna kekamar.


Ia memeluk Yuna dengan emosi yang bercampur.


"Sayang," panggil Yuna. Ia mendongak dan menatap Leo. "Aku minta maaf," ucapnya. Leo menunduk dan memaksakan senyumnya.


"Tidurlah...," ucapnya. Dia mengusap rambut Yuna lembut.


"Sayang, ku mohon jangan salah paham tentang tadi, aku...,"


"Aku bilang tidur..." Leo menatapnya tajam, suaranya tinggi. Yuna mengigit bibirnya.


"Aku minta maaf dan kau belum menjawabnya," ucapnya pelan dan kemudian menunduk.


"Saat ini kau minta maaf pada ku? Kau akan begini lagi besok dan besok setelah bertemu dengannya. Kau berceloteh, bercerita dan tertawa bersamanya seolah tidak aku disamping mu, mata mu seolah tidak melihat ku, pikiran mu seolah melupakan ku." Leo melepaskan pelukannya dan menggeser tubuhnya untuk sedikit menjauh dari Yuna.


"Aku, tidak ada maksud untuk itu sayang. Sungguh," Yuna menatap Leo dengan sedih.


"Lalu apa maksud mu?"


"Aku hanya... berusaha untuk mencairkan suasana canggung saat itu," jawab Yuna pelan.


"Niat yang bagus... dan itu membuat ku tahu jika dia mengetahui banyak tentang mu, apa kau juga tahu banyak tentang dia? Hmm? Benar-benar kompak."


Yuna diam, dia hanya menatap Leo dan mengigit bibirnya dengan kuat. Matanya terasa panas tetapi dia terus merayunya untuk tidak mengeluarkan setetespun air mata. Dia salah... dia salah... dia salah.


"Kenapa diam? Hhmm? Kau tidak berniat untuk menceritakannya padaku? Sepertinya kebersamaan kalian begitu indah. Ceritalah... aku siap mendengarnya. Tentang kartun itu... tentang kelucuan yang kalian buat, tentang masakan mu yang sangat dia sukai, atau tentang apa?"


"Aku..."


"Diam dan tidurlah Yuna. Aku sudah sangat menahannya," suara Leo tinggi dan bahkan itu seperti membentaknya. Yuna mengangguk dan dengan pelan beranjak dari kasur. Ia menatap keatas sebentar dan segera membuka pintu.


"Kau mau kemana?" Leo segera berdiri. Yuna tidak menjawab dan langsung melangkah keluar dengan berlari. Leo membanting semua yang ada di meja samping ranjangnya. Ia segera menyusul Yuna. Ia turun ke bawah dan tidak ada Yuna di manapun, ia kembali keatas dan menuju kamar Yuna dulu. Ia meraih gagang pintu dan mencoba membukanya. Terkunci. Itu berarti... Yuna berada di dalam. Leo berjalan kembali ke kamar dan segera kembali untuk membuka pintu yang terkunci.


Gelap... itu yang pertama kali ia tangkap dalam matanya. Ia segera menyalakan lampu. Ia mengambil nafasnya dalam setelah melihat Yuna duduk di lantai dengan menekuk kakinya di samping ranjang.


Pelan, ia melangkah menuju Yuna dan duduk didepannya. Yuna menunduk, ia tidak berani menatap wajah itu saat ini. Ia menyembunyikan wajahnya begitu rapat, dia masih mengigit bibirnya dengan sangat kuat.


Leo berkali-kali menarik nafasnya, berkali-kali menenangkan hatinya. Ini bukan yang pertamakali mereka bertengkar karena Vano, bukan pertama kali mereka bertengkar karena kisah yang telah lalu, bukan pertama kali saling menyakiti karena sesuatu yang menjadi bayangan.


Benar yang dikatakan oleh Neva. Kita memang tidak menapaki masa lalu tetapi ia akan terus menjadi bayangan yang mengikuti. Ini mungkin akan terus terjadi lagi dan lagi, akan mengulang lagi dan lagi, masalah yang sama lagi dan lagi.


Ternyata... mereka tidak bisa mengatasinya, ternyata mereka tidak mampu menahan sesuatu yang berkecamuk di hati masing-masing.


'Mereka? Mereka... atau hanya aku saja?' batin Leo. Ia mendekat dan mendekap tubuh Yuna.


"Maafkan aku," ucapnya. "Maafkan aku," ulangnya dengan berbisik. Yuna menggeleng.


"Jangan minta maaf pada ku. Aku yang salah." Jawab Yuna dengan masih menyembunyikan wajahnya.


"Aku minta maaf karena aku membentak mu,"


"Itu bukan apa-apa dan aku tidak apa-apa. Kau bahkan boleh memukulku, jika kau mau."


"Apa yang kau ucapkan,"


"Tidak masalah jika itu membuat mu tidak lagi mencurigai ku. Aku diam kau menuduh ku, aku bicara kau membentak ku. Aku tahu aku aku salah, aku pernah memiliki hubungan dengannya. Dan tidak perduli seberapa kali aku meminta maaf kau tetap saja akan selalu curiga pada ku jika aku berbicara dengannya."


"Sekarang... aku bahkan takut mencintai mu Yuna."