
Ilham sampai di depan tempat tinggalnya Tiara.
" Assalamualaikum . . . " ucapnya.
" Waalaikum salam . . "
terdengar jawaban dari dalam rumah. Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah.
" Cari siapa nak ?" tanyanya dengan ramah.
" Maaf tante, tiara nya ada nggak?"
" Oh Ara barusan aja tidur siang, katanya lagi ngantuk banget.Penting banget ya biar Tante bangunin aja ".
" Oh nggak usah tante biarin aja. Kalo gitu titip salam aja buat Tiara, aku pamit pulang. Terimakasih tante, assalamualaikum . . "
" Waalaikum salam ".
Jujur Ilham merasa tidak puas kalau belum melihat sendiri keadaan Tiara tapi mau bagaimana lagi. Ia sudah berulang kali mencoba menelpon gadis itu namun tak diangkat.
" Semoga kamu baik-baik aja Ra ". gumamnya lirih sambil melangkah pergi.
Tiara yang sedari tadi menguping pembicaraan Ilham dan tantenya menutup tirai jendela kamarnya kembali setelah bayangan Ilham tak terlihat lagi.
Tanpa ia sadari, keinginannya untuk tidak merepotkan orang lain dengan masalahnya malah membuat orang yang dekat dengannya jadi khawatir khususnya Ilham.
Setelah berpikir panjang lebar akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Ilham sekedar memberi tahu keadaannya sekarang ini.
" Halo kak . . . "
" Ra' kamu nggak apa-apa kan ?" suara Ilham terdengar tak sabaran di seberang sana.
Tiara jadi senyum - senyum sendiri membayangkan raut wajah Ilham saat ini. Ah senangnya ada yang perhatian banget kayak gini.
" Ra' . . . ?
" Iya kak, Ara nggak apa-apa kok. Em . . maaf nggak langsung ngabarin kakak tadi ".
terdengar Ilham menarik napas berat di seberang sana.
" Kakak marah ya sama Ara ?"
" Marah sih nggak, kamu tahu nggak kakak khawatir banget dari tadi pas dengar cerita dari Hesti soal kejadian itu. Makanya kakak langsung datang ke rumah kamu. Syukurlah kalo kamu nggak apa-apa. Emangnya tadi kamu nggak lihat siapa yang ngerjain kamu kayak gitu ?"
" Nggak sempat lihat tuh soalnya kejadiannya cepat banget. Eh tadi Ara dengar ada yang ketawa gitu tapi buru-buru menghilang waktu Hesti dan Dhilla mulai nyamperin Ara ".
" Gitu ya, hem . . . sepertinya mereka emang sengaja buat ngerjain kamu. Ara tenang aja ya nanti aku cari tahu siapa pelaku dan dalangnya ". ujar Ilham terdengar menahan kekesalannya.
" Nggak usah kak, biarin aja ". Tiara tahu apa yang bakal terjadi kalau Ilham tahu siapa pelakunya.
" Terserah kakak deh". jawab Tiara akhirnya karena tidak mau berdebat lagi.
" Dan satu lagi Ra, kalau ada masalah apapun cepat kasih tahu kakak ya. Kita sudah jadian kan ? jadi mulai sekarang berbagilah denganku susah dan senangnya kamu". Ucap Ilham dengan nada yang dalem banget. Bikin Tiara makin klepek-klepek jadinya.
Ah, kalau saja saat ini Ilham bisa melihatnya.
Saking senangnya Tiara sampai berguling-guling di kasur empuknya. Wajahnya seakan menghangat mendengar barisan kalimat paling manis yang pernah ia dengar itu.
" Kamu ngerti kan Ra ? Ra ?"
" Eh iya kak . . . "
" Besok sekolah nggak ?"
" Sekolah dong ".
" Jam tujuh aku jemput ya ".
" Oke ".
" Bener ya ?"
" Iya kakak sayang ".
Sontak Tiara menutup mulutnya yang mendadak jadi agresif itu.
Ilham juga kaget plus senang mendengarnya.
Dia mulai menggoda Tiara.
" What ? nggak dengar, coba ulangi lagi !"
" Apanya ?"
" Yang terakhir tadi".
" Ampun kak keceplosan, hehehe ". wajah Tiara sudah memerah digoda seperti itu.
Ilham bisa membayangkan wajah kekasihnya saat ini yang pasti sudah salah tingkah banget. Untungnya jauh kalau saja ada di depannya pasti sudah dipeluk dari tadi, hehehe.
"Ya udah, sekarang kamu istirahat ya sayang " balas Ilham.
" Kakak juga ya, bye ".
" Bye ".
\*\*\*\*\*