Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 324_Sampaikan 2


Yuna dan Vano duduk berhadapan di ruang tamu. Vano menunggu Neva kembali. Dia berencana untuk mengajak Neva jalan malam ini.


Hanya ada Yuna dan Vano diruang tamu saat ini.


Baby Arai dibawa ke kamarnya oleh asisten keluarga Nugraha.


"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Neva? Kapan kalian akan menikah?" tanya Yuna antusias. "Aku tidak sabar kau memanggilku Kakak ipar," gurau Yuna.


"Hhh entahlah, ternyata sangat sulit untuk membujuknya" jawab Vano. Kemudian, dia mengingat sesuatu, "Oh, ada sesuatu untuk mu," kata Vano. Dia merogoh saku jas yang ia kenakan, mengeluarkan sesuatu berwarna kuning. "Untukmu," katanya. Yuna memperhatikan sesuatu ditangan Vano. Dia mengerutkan keningnya dan enggan untuk mengambil barang itu dari tangan Vano.


"Tenang saja ini bukan dariku, ini dari seseorang yang juga menyukai kartun ini," jelas Vano melihat keengganan Yuna.


"Maksudmu?" Yuna menatap Vano tak mengerti.


"Ada seseorang yang juga menyukai Spongebob Dia merasa kekanak-kanakan dan merasa dirinya buruk karena menyukai Spongebob, aku bilang padanya jika dia tidak salah. Dan aku sedikit bercerita tentang mu," jelas Vano.


"Hei kenapa menceritakanku pada orang lain," Yuna memprotesnya.


"Hahaa hanya pada bagian kau menyukai Spongebob, aku tidak bercerita jika kau akan pingsan jika naik wahana ekstrim."


"Hhhmm aku akan membunuhmu jika kau sampai berani menceritakan itu. Hhh dan sebenarnya kau tidak sopan. Seharusnya kau tidak menceritakan apapun tentang ku."


Vano meraih tangan Yuna, tangan mereka bertemu, "Terimalah," ucapnya seraya menyerahkan aksesoris itu ditangan Yuna.


"Hmm sampaikan terima kasih ku untuk temanmu yang mengirim hadiah ini," Yuna menerima hadiah itu.


Vano mengangguk.


"Jika ada kesempatan untuk bertemu dia, aku pasti akan mentraktirnya," ujar Yuna. Vano mengangguk lagi. Kemudian Yuna mengingat sesuatu. "Vano."


"Ya,"


"Aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk mentraktir karyawan mu," ucap Yuna.


"Mentraktir karyawan ku?"


Yuna mengangguk, "Hu'um. Apa kau ingat Kavin? Saat dia salah paham padaku?"


"Ya. Lalu?"


"Ada janji yang ku ucapkan pada waktu itu. Aku berjanji akan mentraktir karyawan mu yang penuh semangat."


"Mereka pasti akan sangat gembira," komentar Vano tapi kemudian dia mengerutkan alisnya. "Kau mau berkunjung ke kantorku lagi?" tanyanya. Dia menatap Yuna.


"Tidak, tidak. Takut mereka salah paham lagi padaku. Selamat siang Nona Yuna, semangat," jawab Yuna terkekeh. Yang juga disambung tawa kecil Vano. Mereka tertawa mengingat betapa gokilnya karyawan-karyawan itu.


"Aku akan memesan paket makan siang online saja untuk mereka."


"Ide bagus," sambung Vano. "Kau bisa mengirimnya besok."


"Menurut mu, apa yang mereka suka?"


"Mereka akan suka dengan apapun yang kau kirim."


"Hmm Ok. Aku pilih paket fried chicken saja. Minumnya ... air mineral saja. Mereka tidak boleh minum cola, itu tidak baik."


"Sesekali boleh Nona," sahut Vano.


"Hei, apa kau masih sering meminumnya?"


"Hahaaa aku tidak lagi meminumnya. Wanita tidak suka pria buncit dan aku tidak ingin cepat keriput," jawab Vano menirukan ucapan Yuna.


"Bagus."


Seseorang yang berdiri sedari tadi dibalik pintu tidak tahan lagi mendengar candaan mereka. Sesuatu yang terasa sangat sakit menghujam jantungnya, menyakiti hatinya. Yuna bahkan sampai tahu apa yang sering Vano minum dan dia bahkan begitu perhatian memperingatkan Vano.


Neva melangkah masuk ke dalam dengan sesuatu yang terasa nyeri didadanya.


"Hai, sore," sapanya dengan senyum yang ia paksakan.


"Kau sudah kembali," jawab Yuna dengan senyum. Dia lega dengan kedatangan Neva.


"Ya. Apa kedatanganku mengganggu kalian?" tanya Neva rendah tetapi terdengar sinis dalam pendengaran Yuna. Ucapan itu seolah sedang menyindirnya.


"Menganggu apanya," Vano yang menjawab. "Aku menunggumu dari tadi," lanjut Vano. "Sini," dia meraih tangan Neva dan membuatnya duduk di sampingnya. "Dari mana?" tanya Vano.


"Mengantar Mama," jawab Neva. Dia sedikit melirik sesuatu yang Yuna genggam. "Apa kau sudah lama?" tanya Neva pada Vano. Dia menoleh ke arah Vano.


"Hmm, lumayan. Aku mengantar sesuatu," jawab Vano. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel milik Neva.


"Aaa ... jadi ternyata ponselku tertinggal," seru Neva dengan senyum. Dia menerima ponsel miliknya dari Vano. "Pantas saja, aku tidak menemukannya dimanapun," lanjutnya. "Terima kasih sayang sudah mengantarnya."


"Huum. Tapi seharusnya aku membiarkannya dirumahku," jawab Vano terkekeh.


"Jangan doong," ucap Neva.


"Uhum," Yuna terbatuk kecil. Vano menoleh ke arahnya, tetapi tidak dengan Neva. "Maaf aku permisi dulu," ucap Yuna. Kemudian, dia berdiri.


Vano mengangguk mempersilahkan.


"Apa kau ada acara malam ini?" tanya Vano pada Neva setelah Yuna masuk ke dalam. Tangannya merangkul pundak Neva.


"Kenapa?"


"Ayo jalan," ajak Vano. Neva mengerutkan keningnya.


"Umm, aku harus mengerjakan beberapa tugas," jawab Neva.


"Maaf," ujar Neva. Dia menatap mata Vano dan mengusap pelan pipinya. "Bagaimana jika besok?"


"Ok baiklah," jawab Vano. Kemudian, mereka berbincang-bincang seru di ruang tamu. Dan Vano pamit saat matahari mulai pamit.


Setelah mengantar Vano, Neva membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah. Dia melangkah ke ruang tengah. Tepat, ada Yuna disana. Neva mengambil nafasnya panjang kemudian menghampiri Yuna.


"Kak Yuna," panggilannya datar.


"Ya," jawab Yuna. Dia menatap Neva.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Ya, silahkan," jawab Yuna.


"Bagaimana hubungan Kak Yuna dengan dia?"


"Vano?"


"Ya, siapa lagi," suara Neva terdengar ketus. Juga dengan tatapan matanya pada Yuna. Yuna merapatkan bibirnya dan menarik nafasnya panjang.


"Kita berteman," jawabnya.


"Teman? Teman yang saling jatuh cinta?" kejar Neva dengan pertanyaan-pertanyaan yang bergejolak dalam hatinya.


"Maksudmu apa Neva?" tanya Yuna pelan.


"Maksudku? Jadi tolong jawab, apa kalian berdua saling mencintai? Apa Kak Yuna mencintai dia?"


"Itu masa lalu, Neva," jawab Yuna rendah.


"Hahh. Masa lalu ... masa lalu yang menjijikkan," ucap Neva dengan menekan kata menjijikkan. Ucapan yang langsung menghujam jantung Yuna hingga kedasarnya. Yuna diam dan terus memperhatikan Neva.


"Sebenarnya, aku mulai kesal dengan semua ini, aku menahannya sedari dulu. Rasa kecewaku, rasa kesalku, dan banyak sekali rasa yang tidak ku mengerti," entah apa yang Neva pikirkan. Dia sedang dikuasai api cemburu saat ini. Panas dihatinya mengalahkan logikanya selama ini.


"Aku tidak tahu dan tidak paham kenapa wanita yang telah menikah bisa memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Aku juga tidak mengerti bagaimana seorang wanita yang telah menikah bisa dengan mudah membagi hatinya. Bukankah itu menjijikkan? Aku tidak tahu bagaimana hubungan kalian berdua sebelum ini. Bola-bola coklat itu, gurauan kalian malam itu. Dan ternyata Kak Yuna bahkan sering datang ke kantor dia. Hahaa bukankah Kak Yuna sudah memiliki suami? Kenapa malah rajin kekantor laki-laki yang kau sebut sebagai teman. Untuk apa? Memperlihatkan pesonamu? Bukankah itu seperti wanita murahan. Dan sore ini ... kalian ngobrol berdua dengan sangat bahagia," Neva tidak pernah memiliki rasa seperti ini. Rasa yang begitu menyakiti hatinya. Dia sangat kesal melihat Yuna yang berbicara dengan tawa bersama Vano.


Jantung dan hati Yuna tercabik-cabik mendengar ucapan Neva. Neva seperti melukis sebuah luka yang begitu hitam pada hatinya. Namun mungkin Neva benar dan Yuna yang salah.



Yuna diam, dia tidak menjawab sepatah katapun ketika Neva mengeluarkan semua yang dia rasakan. Bukan karena Yuna mengaku bersalah dan tidak memiliki tanggapan tetapi dia hanya tidak ingin berdebat dengan Neva. Yuna memilih diam dan membiarkan Neva dengan segala yang Neva pikirkan tentangnya. Menjijikkan? Murahan?


Yuna mengigit bibirnya dengan semua itu. Tak apa, lanjutkan kekesalanmu padaku, sampaikan semuanya, batin Yuna.


Bahkan jika saat ini seluruh dunia menghakiminya, Yuna tidak akan membuka mulutnya untuk membela dirinya. Pun jika dia benar.


Ya ... dia bukanlah uang dan harta yang bisa membuat semua orang bahagia. Sebaik apapun dia, seindah apapun tuturnya, itu tidak akan berpengaruh pada orang-orang yang membencinya, jadi ... dia memilih untuk diam dan membiarkan orang lain membencinya.


Sakit hati, tentu saja. Dia manusia pemilik hati. Hatinya lembut dan mudah layu tetapi dia adalah Yuna yang telah terbiasa tersenyum dalam isaknya. Dia adalah Yuna Ibriza, yang terbiasa tertawa dalam luka hatinya.


Yuna tetap diam hingga Neva berhenti dengan sendirinya dan bahkan hingga Neva meninggalkannya.


Yuna mengambil nafasnya panjang dan mengeluarkannya dengan sangat pelan. Dia beranjak dan menuju kamar anaknya.


"Terima kasih," ucapnya pada asisten. Kemudian asisten itu pamit keluar.


Yuna mengusap tangan anaknya yang terlelap. Dia tersenyum menyaksikan malaikat kecilnya.


"Sayang, apa kau ingin pulang?" tanya Yuna pada anaknya. Tangan kanannya mengusap pipi Baby Arai dengan lembut. "Hhhmm, sepertinya Mommy yang ingin pulang," ucapnya lagi. Suaranya tercekat dengan luka dalam hatinya. Ucapan Neva terus berputar dalam pikirannya.


Yuna membelai ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Leo tetapi panggilannya tidak terhubung. Ponsel Leo tidak bisa dihubungi sedari pagi. Yuna menunduk sebentar. Kemudian segera menghubungi Albar.


Yuna kembali menatap malaikat kecilnya, "Pulang Yuk," bisik Yuna pelan. Dia mencium anaknya. Kemudian dengan pelan dia menggendong Baby Arai dan langsung melangkah keluar. Dia sedikit berlari meninggalkan rumah ini. Dia tidak sabar ingin pulang kerumahnya. Dia tidak tahu kapan Leo kembali. Dia bahkan tidak sabar menunggu Albar datang. Yuna melangkah meninggalkan rumah itu dan berjalan kaki dengan menggendong anaknya. Hatinya terluka dengan sebuah ucapan yang baru saja dia dengar. Ucapan yang rasanya langsung mampu menenggelamkan dirinya kedasar jurang. Ucapan yang mencabik hatinya.


Dia salah, iya dia salah dalam mengambil sikap. Dia salah dimasa lalu. Ya, seharusnya dia dan Vano tidak saling mengenal. Seharusnya dia tetap menjadi Yuna yang terkurung. Ya, mungkin itu lebih baik. Yuna terus berjalan dengan mendekap erat buah hatinya. Tidak ada air mata yang jatuh dipipinya. Dia diam membisu.


Albar dari jauh melihat Nyonya mudanya berjalan langsung menghentikan mobilnya tepat di samping Yuna. Tanpa banyak tanya, dia segera membukakan pintu untuk Yuna. Raut wajah sedih Yuna terlihat begitu jelas. Namun Albar diam dan segera membawa mobil untuk kembali kerumah bossnya.


__________


Leo kembali setelah pukul 19.30


Tuan besar Nugraha keluar lebih dulu. Sementara Leo masih tetap berada di dalam mobil. Dia menyandarkan kepalanya.


Sayang maafkan aku. Batinnya. Leo tidak tahu bagaimana cara memberitahu keadaannya pada Yuna tanpa membuat Yuna terluka.


Kenapa bahkan hingga detik ini aku belum mampu membuatmu benar-benar bahagia bersamaku. Seberapa pun aku mencoba untuk membuatmu bahagia, nyatanya hanya tangis yang kau dapatkan. Sayang, maafkan aku.



Tangan Leo pelan membuka pintu mobil. Dia dengan sangat berat menurunkan kakinya, dia dengan sangat sedih membawa langkahnya masuk kedalam rumah. Dia tidak tahu jika Yuna sudah meninggalkan rumah itu beberapa jam yang lalu.


____________


Catatan Penulis πŸ₯°πŸ™


πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί


Sesi tanya jawab sudah berakhir kemarin ya kawan tersayang πŸ₯° Terima kasih untuk antusias nya. Maaf buat beberapa pertanyaan yang belum terjawab 😊


Jangan lupa like komen ya kawan tersayang πŸ₯° Terima kasih πŸ™ Padamu.


*Ilustrasi/visual diambil dari internet dan aplikasi Pint, jadi jika ada kesamaan gambar tokoh harap maklum ya. πŸ™πŸ™