
Siang hari pada jam istirahat. Vano bergegas membawa mobilnya menuju rumah tuan besar Nugraha. Dia membawa buah tangan untuk Nyonya besar Nugraha. Sesampainya di sana, seperti biasa, ia mengetuk pintu dengan pelan dan tidak memencet bel di dinding. Neva yang sudah tahu kedatangannya segera melangkah ke depan untuk membukakan pintu.
Vano dengan senyum khasnya menyapa gadis didepannya dengan ramah, "Selamat siang, Nona," ujarnya.
"Siang," jawab Neva dengan senyum. Matanya menatap laki-laki didepannya dengan kerinduan di hatinya. Seperti inikah rasa rindu itu? Rindu yang padanya seakan tidak pernah padam.
"Saya pengantar paket. Bisa bertemu dengan Nona Neva?" Mata lembut Vano membalas pandangan gadisnya. Mata mereka bertemu dengan romantis.
Neva mengangguk pelan dengan senyum tertahan di bibirnya, "Ya, saya sendiri," jawabnya.
"Selamat paket cinta komplit telah datang," ujar Vano dalam suara yang bahagia.
Senyum Neva semakin merekah, pipinya merona. Namun belum sempat ia memberikan jawaban, Dimas yang baru saja memarkirkan mobilnya di halaman, langsung melangkah menuju mereka.
"Hai," sapa Dimas pada Vano.
"Selamat siang Kak Dimas," jawab Vano. Ia membungkukkan sedikit badannya. Kemudian mereka berdua berjabat tangan.
"Kenapa diluar, silahkan masuk," ajaknya sambil menepuk lengan Vano. "Kenapa membiarkannya diluar?" Dimas berkata pada Neva.
Neva mengangguk dan mempersilahkan Vano untuk masuk, "Silahkan Kak," ucapnya.
Dimas langsung masuk ke dalam, dia membiarkan Vano dan Neva berdua di ruang tamu.
"Kau mau makan siang dimana?" Tanya Vano setelah mereka duduk berdampingan. Neva tersenyum dan menatapnya.
"Bagaimana jika kita makan siang di rumah saja," jawab Neva.
"Di rumah?"
Neva mengangguk, "Hu'um, aku ...." Neva menggantung ucapannya, ia dengan malu-malu bilang jika ia sudah masak untuk Vano.
"Hmm, calon istri idaman," ucap Vano. Tangannya mengulur dan mengusap pundak Neva dengan lembut.
Neva sedikit menunduk dan tersipu, "Tapi aku tidak tahu itu enak atau tidak di lidah Kak Vano," katanya.
"Aku yakin pasti enak," ujar Vano.
"Semoga," jawab Neva. Kemudian, ia mengajak Vano untuk masuk ke dalam.
"Selamat siang Tante, Kak Dimas, Kak Nora," sapanya ramah pada keluarga Neva yang sudah berada di ruang makan.
"Siang, silahkan duduk," jawab Mama. Vano duduk bersebelahan dengan Neva.
"Ini masakan Neva," ujar Mama mempromosikan masakan Neva pada Vano. Vano mengangguk dengan senyum.
"Hmm, tidak sabar untuk mencicipinya," kata Vano dengan memperhatikan masakan yang terhidang di meja. Ia kemudian menoleh ke arah Neva. "Sepertinya berat badan ku akan naik nih," katanya.
"Aku tidak akan menyukaimu lagi jika kau buncit," jawab Neva tanpa menoleh ke arah Vano. Ia tertawa kecil.
"Hei, jangan bahas buncit. Itu perutku," sahut Kak Dimas.
"Ups," tangan Neva menutup mulutnya. Ia masih tertawa kecil, "Tidak bermaksud Kak," kata Neva. Kemudian, mereka makan siang dengan tenang.
Vano tidak langsung kembali ke kantor tetapi ia diajak ngobrol santai oleh Kak Dimas di taman depan. Mereka berdua bermain catur. Tak lama, Neva datang dengan menggendong Baby Dim. Ia duduk di samping Vano. Dan tepat saat itu, ponsel milik Dimas berdering, panggilan masuk dari temannya.
"Maaf saya angkat telepon dulu," kata Dimas pada Vano. Kemudian, ia segera beranjak dan menerima panggilan.
"Aiiii ... lucunya," Vano mengusap pipi gembul milik baby Dim. "Gemeshin ...." ujarnya lagi sambil mencubit gemas pipi gembul itu. "Gemeshin lagi yang mangku," segera setelah mengatakan itu, tangannya berpindah ke pipi Neva dan mencubitnya.
"Auuu," Neva memekik dan langsung memukul bahu Vano dengan kencang.
Vano tertawa mendapat pukulan itu, dan dengan sengaja malah mengulanginya lagi, "Gemeshin, gemeshin," kedua tangannya mencubit pipi Neva.
Mata bulat imut milik Baby Dim menyaksikan mereka berdua dengan polos. Ia bahkan ikut menepuk wajah Neva. Andai ia sudah mengerti maka mungkin saja ia akan jadi jomblo teraniaya yang berada di tengah diantara dua insan yang tengah kasmaran.
___
Lalu Ayah mencium kening Yuna dengan sebuah doa yang beliau panjatkan dengan tulus.
Leo sendiri yang mengantar mereka ke bandara. Lalu ia segera kembali setelah pesawat mengudara.
Yuna berada di kamar saat Leo kembali, Leo sudah berpesan agar ia tidak naik turun tangga. Jadi ketika Leo kembali, ia tidak membukakan pintu untuknya.
Setelah masuk ke dalam rumah, Leo tidak langsung naik ke atas tetapi ia berbelok ke dapur dan membuat susu coklat kesukaan Yuna. Ia selalu suka dengan aktifitas ini, ia suka melayani istrinya. Dengan rasa kasih dalam hatinya ia melakukannya dengan begitu tulus. Ia memiliki kebahagiaan tersendiri saat ia melakukan sesuatu untuk istrinya. Semua hal tentang Yuna adalah rasa bahagia dalam dirinya.
Leo melangkah pelan menaiki tangga lalu langsung menuju kamarnya. Ia meletakkan susu coklat diatas meja kemudian duduk di samping Yuna.
"Sedang apa?" Tanyanya. Ia meninggalkan kecupan lembut di rambut Yuna.
"Menulis surat," jawab Yuna. Leo mengerutkan alisnya.
"Surat?" Tanya Leo tidak mengerti.
"Huum," jawab Yuna. "Surat untuk mu," lanjut Yuna. Alis Leo semakin berkerut. Surat untuknya.
"Untuk ku?" Tanyanya menunjuk diri sendiri.
Yuna mengangguk, "Ya."
Tangan Leo terangkat dan mengusap rambut Yuna dengan hati-hati.
"Katakan saja, kau tidak perlu menuliskannya," ujar Leo penuh kasih. Ia menunduk dan mencium kening Yuna dengan pelan.
"Semakin kesini, tiba-tiba aku memiliki ketakutan," ucap Yuna. Suaranya berubah sedih saat mengucapkan itu. Leo langsung menangkap kedua pipinya dan mengarahkan pada wajahnya.
"Apa yang membuat mu takut?" Tanyanya dengan cemas. Hatinya menjadi begitu khawatir. Ia sedih melihat wajah Yuna yang tiba-tiba berubah menjadi begitu muram.
"Dari pertama aku membuka mata di dunia ini, aku tidak bisa melihat Ibuku," ucapnya. Tangan Leo langsung membekap mulutnya. Kemudian dia langsung memeluknya.
"Jangan pikirkan itu, ku mohon," ucap Leo. Ia tahu kemana arah pembicaraan Yuna. "Kau sehat, Baby kita sehat. Ok," lanjutnya. Yuna mengangguk dalam pelukannya.
___
Pagi hari setelah sarapan, Leo melakukan konfirmasi dari ruangannya. Sementara Yuna melakukan olahraga ringan di taman depan. Namun tak lama, Leo menyusulnya, ia duduk di bangku sambil memperhatikan Yuna yang jalan santai mondar-mandir.
"Pelan-pelan," ujar Leo. Yuna mengangguk. Lalu berjalan ke arah Leo dan berdiri di depannya. Tangan Leo langsung memeluknya, ia mencium perut Yuna dengan lembut.
"Apa ada yang kau rasakan?" tanyanya. Ini adalah pertanyaan yang sama yang Tuan muda tanyakan pada Yuna dari bangun tidur hingga detik ini. Yuna sedikit ragu untuk mengatakannya. Dia tahu bagaimana Leo akan over jika dia kenapa-kenapa. Dia tidak merasakan sakit pada perutnya, hanya saja perutnya terasa sangat kencang seperti saat ia makan dengan sangat kenyang. Bukan, ini lebih dari itu.
"Emm, tidak ada," jawabnya. Ia kemudian duduk di samping Leo. Menyandarkan kepalanya di pundak Leo. Angin pagi masih begitu sejuk.
"Sayang," Yuna memanggil dengan suara yang pelan. Tangan Leo mengambil tangan Yuna lalu menggenggamnya.
"Kenapa?"
"Pengorbanan seorang wanita adalah ketika ia melahirkan buah hatinya," ucap Yuna. Ia menatap langit, menyaksikan awan yang bergerak dengan sangat lambat. "Aku telah siap dan pasrah," lanjutnya.
"Semua akan baik-baik saja," jawab Leo dengan suaranya yang tenang. Padahal sejujurnya ia begitu cemas. Ia telah membaca banyak buku tentang bagaimana rasa sakit ketika wanita mengalami kontraksi saat proses melahirkan. Ia tidak bisa membayangkannya.
____
Catatan Penulis
Maaf Upnya telat ya kawan tersayang π₯°π
Jangan lupa like koment dan vote nya yach. Luv luv. Ilupyu full ama Sahabat Sebenarnya Cinta π