
Tiara berlari sekencang-kencangnya menjauhi rumah kontrakan orang tuanya. Tak dipedulikan tatapan aneh orang lain yang dilewatinya. Tujuannya hanya satu, pergi sejauh mungkin.
Tapi harus kemana? Bahkan uang sepeserpun ia tak punya. Kali ini ia benar-benar hampir gila. Rasanya ingin membawa pergi mamanya dari neraka itu tapi ia tak berdaya.
Tiara terus berlari tak tentu arah. Hingga tiba-tiba . . .
Bruk.
Tanpa sadar ia menabrak seseorang di depannya. Matanya yang sembab tak memperhatikan jalan yang dilaluinya.
" Ma. . ma . . maaf nggak sengaja". ucapnya terbata. Ia menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan wajahnya yang kini basah dengan air mata.
Ia berniat melanjutkan langkahnya namun sosok didepannya seakan sengaja menghadangnya. Dengan terpaksa ia mendongak melihat siapa sosok itu. Ia kaget dan malu memperlihatkan kondisinya yang kacau di depan orang yang dia suka.
Secepatnya ia ingin pergi dari situ namun Ilham malah memeluknya. Ilham seakan paham dengan apa yang baru saja menimpanya.
Sejenak Tiara merasakan kedamaian di sana.
Namun ia cepat tersadar dengan posisinya saat ini. Iapun segera menjauhkan diri dari Ilham.
" Kak, maaf Ara pergi dulu".
" Ikut aku !" ujar Ilham tak mempedulikan ucapan Tiara barusan.
Ilham memegang erat tangan Tiara dan membawanya ke arah motornya yang tadi diparkir di tepi jalan.
" Kita mau kemana kak?" tanya Tiara tak mengerti
" Udah ikut aja cepat naik !".
Tiara pun mengikuti permintaan Ilham.
Ilham segera membawa Tiara ke tepi pantai yang agak jauh dari kota.
Setelah tiba di tepian pantai . . .
" Sekarang kamu boleh teriak sekencang-kencangnya sepuasnya kamu.
Biar semua sesak di hati kamu perlahan menghilang". ucap Ilham dengan lembut.
Tiara mengerti dengan maksud Ilham.
Iapun segera berteriak " Papa ! Ara benci sama papa !!! Benciiiiii !!!
Ilham membiarkan Ara berteriak sepuasnya. Mengeluarkan semua isi hatinya. Ia hanya memandangi tingkah Tiara dari bebatuan tempatnya duduk.
Ada apa dengan gadis ini?
Sepertinya ia sudah terlalu banyak menderita di umur semuda ini. Batin Ilham.
Dengan penuh perhatian ia terus memandangi Tiara. Ia merasa was-was jangan sampai Tiara mencoba hal-hal yang aneh. Terjun ke laut misalnya. Beberapa saat kemudian Tiara menghentikan teriakannya walaupun air matanya belum benar-benar mengering. Dia hanya mematung di tempatnya berdiri. Pandangannya jauh ke depan. Entah apa lagi yang dipikirkannya. Melihat itu, Ilham segera berjalan mendekatinya. Merangkul bahu mungil itu.
" Udah teriak-teriaknya?" tanya Ilham sambil tersenyum lembut.
" Iya kak..makasih ya udah ngajakin Ara ke sini". Tiara mencoba tersenyum.
Wajahnya pun sudah tak muram lagi seperti tadi
" Iya, sama-sama Ra ". balas Ilham sambil menghapus air mata yang masih membasahi pipi lembut itu dengan jemarinya.
Tiara ingin menyandarkan kepalanya ke bahu Ilham namun tak bisa karena badannya yang mungil. Ilham yang mengerti dengan keinginannya lalu menyandarkan kepala Tiara ke dadanya yang bidang.
Entah kenapa di saat seperti ini, Tiara benar-benar butuh seseorang sebagai tempatnya bersandar dan berlindung. Lama kelamaan iapun tak merasa canggung lagi berdekatan dengan Ilham. Yang ada hanyalah rasa nyaman.
Sebenarnya jauh di lubuk hatinya, ada rasa bersalah mengingat status Ilham yang sudah bertunangan tapi untuk saat ini ia lebih memilih memprioritaskan hatinya dulu. Untuk beberapa saat keduanya membiarkan semua kerinduan mengalir lewat pelukan hangat mereka. Tepian pantai menjadi saksi pertemuan itu.
Setelah cukup lama berdiri, keduanya pun menuju ke bebatuan yang ada di pinggir pantai. Tiara akhirnya menceritakan semua masalah yang menimpa keluarganya. Ilham mendengarkan dengan penuh perhatian. Dalam hatinya ia berjanji akan membahagiakan Tiara nantinya.
\*\*\*\*\*