Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 337_Masa Lalu Yang Tertinggal


"Neva ...." panggil Vano rendah tetapi dengan serius.


"Ya?" jawab Neva.


"Apa kau sudah menemukan jawabannya?" tanya Vano. Mereka melangkah kecil dengan tangan Vano yang masih menggenggam jemari Neva.


"Belum sepenuhnya. Aku belum menemukan jawaban itu," jawab Neva rendah. Dia menatap lurus ke depan. Vano menghela nafasnya. Kisah mereka rumit, dengan masa lalu yang seolah terus mengikuti seperti bayangan setiap gerakan kita. Jika, masih tetap ingin bersama. Hatinya mereka harus yakin, tanpa ada lubang keraguan sedikitpun. Tanpa ada celah curiga sedikitpun. Jangan sampai hubungan mereka malah menyakiti diri sendiri dan orang lain.


"Katakan apa yang ingin kau katakan padaku. Apa yang masih mengganjal di hatimu," ucap Vano. "Aku sudah pernah bilang padamu, untuk tidak memainkan pikiranmu sendiri. Bertanyalah dan aku pasti menjawabnya dengan kejujuran," lanjutnya.


"Aku memang belum menemukan jawabannya tapi aku sudah menyadari kesalahanku Kak. Sungguh aku telah sadar," jawab Neva.


"Lalu?" tanya Vano.


Mereka berdua menghentikan langkahnya. Kemudian, duduk berdampingan dibangku besi. Membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajah.


"Bicaralah," kata Vano. Dia menoleh ke arah Neva. Begitu juga dengan Neva, dia menoleh ke arah Vano. Mata mereka bertemu, dibawah langit malam menyampaikan rindu yang terpendam.


Neva merapatkan bibirnya sebelum dia memberikan jawaban. Genggaman hangat tangan Vano pada jemarinya merayap dan memberi kehangatan juga pada hatinya. Tatapan mata Vano masih mendebarkan jantungnya.


"Seberapa dangkal perasaanmu padaku?" tanya Neva pelan. Vano diam beberapa detik dengan pertanyaan ini tapi kemudian dia segera memberikan jawaban.


"Sangat dalam," jawab Vano. Mata mereka masih saling menatap.


Neva tersenyum tipis. "Kau berdusta," ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya imut. Membuat Vano ingin mematuknya.


"Jadi bagaimana menurutmu tentang perasaanku?" tanya Vano. Neva menarik nafasnya panjang dan menghembuskan dengan lembut. Ia mendongak sebentar kearah langit berbintang. Bintang yang seolah berkedip memperhatikan mereka berdua. Kemudian, Neva kembali menatap lurus kedepan, sesekali memperhatikan kendaraan yang kebetulan lewat.


"Aku berpasrah pada hubungan kita," jawabnya. "Aku tidak memaksa untuk memilikimu. Aku juga tidak memaksa untuk terus bisa bersamamu. Meskipun aku mendamba. Benar, adalah aku yang lebih dulu mencintaimu, aku minta maaf jika aku terkesan memaksakan hubungan kita. Aku minta maaf karena kemarin aku begitu emosi dengan rasa cemburu yang menguasai ku. Emosi yang akhirnya membawaku dalam penyesalan. Emosiku yang membawa kemarahan Kak Lee dan kemarahan mu padaku. Khilafku yang menyakiti hati Kak Yuna begitu dalam, mungkin selamanya aku tidak akan pernah bisa menghapus luka itu. Luka dalam hati Kak Yuna karena ucapanku, aku salah," ucap Neva teratur. Dia menunduk. Jika harus mencium kaki Yuna untuk bisa menghapus luka akibat ucapannya maka dia bersedia melakukan itu. Neva mengangkat wajahnya, kemudian membawa pandangannya pada Vano. Menatap mata laki-laki tampan itu dengan dalam. Dadanya berdegup.


"Akhirnya aku sadar, cintamu begitu dangkal padaku," ucapnya pelan bahkan nyaris seperti gumaman.


"Apa yang membuatmu menarik kesimpulan itu?"


"Kau dengan mudah mengatakan break pada hubungan kita," jawab Neva. Dia mengangkat tangan kanannya yang Vano genggam. Memperlihatkan dua tangan yang saling menggenggam dengan cincin yang melingkar di jari manis Neva.


"Tidak seperti yang kau pikirkan," jawab Vano. "Bukan seperti yang kau kira. Aku sudah bilang padamu bahwa ... kita break bukan karena aku tidak mencintaimu tapi karena agar kita sama-sama saling berfikir tentang apa yang terjadi. Kemarin atau masa laluku, agar tidak ada lagi sebuah pengulangan kecemburuan. Tidak ada lagi perasaan negatif padaku dan pada Yuna," jelas Vano dengan perhatian.


"Aku menerima jika kau marah padaku, aku juga menerima jika kau tidak ingin dulu bertemu dengan ku tapi tidak harus dengan break," jawab Neva. "Seberapa dangkal perasaanmu padaku, hingga kau dengan mudah mengatakan break?"


Vano diam, dia menatap mata gadis didepannya yang berkaca-kaca.


"Akhirnya aku sadar, kau tidak sesayang itu padaku," ucap Neva dengan tercekat.


"Gadis," panggil Vano lembut. Dia melepaskan genggaman tangannya dan beralih untuk mengusap pipi Neva.


"Mari kembali menanyakan seberapa dalam rasa yang kita miliki, seberapa besar keinginan untuk masih terus bersama," ucap Neva.


Vano diam. Dia merasakan detak jantungnya yang berdegup tak beraturan. Dia mencintai gadis didepannya ini, sangat mencintainya tetapi entah kenapa terkadang bayang Yuna mengusiknya. Bukankah ini tidak adil buat Neva?


Ini tidak baik, ini tidak benar. Di sisi gelap dia begitu kejam karena masih ada sedikit rasa itu. Meskipun sedikit, seharusnya rasa itu tidak ada padanya.


________


Di Negara A.


Mobil keluarga Nugraha parkir di halaman rumah mereka disana. Nyonya besar lebih dulu masuk ke dalam dengan membaca cucunya. Kemudian disusul Leo, Yuna, Dimas dan Tuan besar Nugraha.


"Selamat, istirahat sayang. Besok kita langsung ke rumah sakit," ujar Mama. Tangan beliau mengusap-usap lengan Leo lembut.


"Selamat istirahat juga Ma," jawab Leo. Kemudian, Yuna mengambil anaknya dari gendongan Mama.


"Nanti, setelah ASI, kembalikan ke Mama," pinta Mama.


"Kamu ini," Tuan Nugraha yang langsung menjawabnya.


Yuna tersenyum, "Baik Ma," jawabnya. Kemudian, mereka berpisah dan menuju kamar masing-masing. Saat ini, waktu sudah tengah malam.


Setelah masuk ke dalam kamar, Leo segera membersihkan dirinya. Sementara Yuna duduk di sofa memberi anaknya ASI. Tangan Yuna dengan lembut membuat pijitan dikaki Baby Arai.


"Kau lelah?" tanyanya sambil menatap mata jernih anaknya. "Kita harus semangat dan terus berdo'a untuk kesembuhan Daddy, okey," sambungnya. Tangannya masih memijat lembut kaki Baby Arai.


Tak lama kemudian, Leo keluar dari kamar mandi dan langsung mengganti bajunya. Setelah itu dia menghampiri Yuna. Leo membungkuk untuk mencium pipi Baby Arai.


"Ummmm, bau acemmm," guraunya. Kemudian dia beralih mencium pipi Yuna. "Ummm bau acem juga."


"Aaaah, mentang-mentang sudah mandi," ucap Yuna sambil menarik kerah baju Leo dan langsung mencium pipinya.


"Sana mandi. Air hangat sudah ku siapkan," kata Leo. Saat ini, Baby Arai sudah selesai ASI. "Sini, sayangku," kedua tangannya mengambil Baby Arai dari pangkuan Yuna. Lalu menghujaninya dengan ciuman. "Biar aku yang mengantarnya ke Mama," ucap Leo. Yuna mengangguk. Kemudian, dia beranjak dan menuju kamar mandi.


Setelah ASI, Baby Arai mulai menguap. Tangannya dengan lucu mengarah mengucek matanya pelan. Leo berdiri dan menggendong anaknya. Menimang dan membuat tepukan halus dipantat anaknya hingga Baby Arai tertidur dalam dekapan hangatnya.


Kemudian, Leo keluar kamar untuk memberikan Baby Arai pada Omanya.


Saat Leo kembali masuk ke dalam kamar, Yuna masih belum keluar kamar mandi.


"Wanita kalau mandi sangat lama," ucapnya dengan senyum lebar. Dia menjatuhkan dirinya di ranjang dan mengambil ponselnya tapi kemudian, ia merasakan sesuatu yang keluar dari hidungnya. Darah.


_________


Catatan penulis πŸ₯°


Yuhuuuuuu Up bonus nih.... 😍😍


Jangan lupa like koment vote ya kawan tersayang πŸ₯° padamu. Terima kasih πŸ₯°πŸ™


Kan kan kan... Othor kasih bonus πŸ˜‰


Terima kasih udah penuh semangat nunggu kisah ini. Ilupyu.....