Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 276_Baby Arai


Setelah selesai membisikkan doa dan keagungan Tuhan di telinga putranya. Leo mencium kening putranya dengan sangat lembut dan hati-hati. Hatinya dibanjiri kebahagiaan saat bibirnya menyentuh makhluk imut penyempurna cinta dia dan Yuna.


Setelah selesai semuanya, Leo beranjak dan membuka pintu ruangan dengan pelan. Senyumnya mengembang menyapa semua mata yang sedari siang turut menunggu di luar ruangan. Dia memang sengaja tidak membiarkan siapapun untuk masuk ke ruang bersalin, selain dokter dan perawat.


Ia menatap mamanya yang berdiri tepat di depannya. Mata Mama sembab, Mama ikut stres di luar ruangan karena memikirkan Yuna. Memikirkan bagaimana menantunya melewati persalinan yang begitu lama. Leo menghamburkan pelukannya pada Mama. Ia berterima kasih, Mama yang begitu hebat telah melahirkan dirinya.


Setelah melepaskan pelukannya, Mama langsung memukul lengan Leo dengan kesal. Mama sangat kesal karena tidak di izinkan untuk menunggu Yuna saat melewati proses persalinan. Tanpa bicara, Mama langsung menyingkirkan Leo kesamping lalu masuk ke dalam ruangan.


"Selamat, putra Papa sudah menjadi seorang Ayah," ujar Tuan besar Nugraha pada Leo. Beliau merentangkan tangannya dan memeluk Leo.


Kemudian Kak Dimas, "Selamat Lee," ujarnya setelah memeluk Leo.


Kemudian Neva, "Kak Lee, selamat," Neva menghambur kedalam pelukan kakaknya. "Siapa nama pangeran kecilku?" Tanyanya. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Leo.


"Arai AR Nugraha," jawab Leo dengan senyum sumringah di bibirnya. Semuanya tersenyum dengan rasa bahagia.


"Waww, namanya keren. Baby Arai," Neva bertepuk tangan dengan girang. Lalu dia langsung menyusul mamanya masuk ke dalam ruangan.


Selanjutnya Vano. Mereka tidak saling berpelukan, Leo hanya menjabat tangan Vano. Berjabat tangan adalah kemajuan yang sangat pesat. Mengingat bahwa Tuan muda Leo jarang sekali menjabat tangan seseorang.


"Selamat Leo," Vano berkata dengan senyum.


"Terima kasih Vano," jawab Leo dengan senyum juga. Hubungan mereka sudah membaik. Leo tidak lagi menyimpan dendam atau perasaan tidak suka pada Vano. Dia sudah melupakan semuanya, semua yang pernah terjadi di masa lalu.


Setelah selesai semuanya, Yuna dipindahkan ke ruang rawat. Di ruangan sana sudah dihias dengan tatanan khas kamar anak cowok.


Tuan besar dan Nyonya besar Nugraha begitu bahagia dengan kehadiran cucu keduanya. Seperti biasa mereka langsung menghubungi bagian keuangan dan memerintahkan untuk membagi amal.


Mama tidak membiarkan cucunya tidur di box bayi, beliau memangkunya dengan kebahagiaan yang membuncah. Mata dan hatinya penuh kasih sayang memperhatikan malaikat kecil di pangkuannya. Dengan lembut, beliau membuat kecupan kecil di pipi Baby Arai. Mendapat kecupan itu, baby Arai sedikit menggeliat dan memanyunkan bibirnya.


"Au au dia seksi sekali," Neva berujar dengan senyum lebar dan sangat gemas. Ia juga ingin memangkunya tetapi Mama tidak mau membaginya. Saat ini, Mama ingin menguasai Baby Arai. Mereka semua duduk di sofa dan memperhatikan dengan gemas Baby Arai yang masih terpejam.


Papa mendekatkan wajahnya dan ikut mencium cucu tampan yang baru saja hadir dalam kehidupan mereka. Baby Arai menggeliat lagi.


"Jangan ganggu tidurku," ujar Neva menyuarakan isi hati Baby Rai, ia menepuk lengan papanya pelan. Papa tertawa dan semakin mencium pipi cucunya dengan gemas.


"Eleuh, elueh ... nyenyaknya Baby Rai," ujar Neva setelah Baby Arai kembali tenang. "Bangun doong," kini gantian Neva yang menyerbu pipinya.


"Jangan ganggu Tante," sahut Mama. Mereka asik dengan Baby Arai di sofa.


Neva duduk di samping Vano setelah putus asa tidak berhasil membangunkan Baby Rai.


Tangan Neva terangkat dan mencubit pipi Vano.


"Kenapa mencubit ku?" Tanya Vano. Ia mengambil tangan Neva dan menggenggamnya.


"Pelampiasan karena tidak bisa mencubit pipi keponkaan lucu," jawab Neva. Vano tersenyum lalu memindahkan tangannya di pinggang Neva. Ia menunduk dan berbisik.


"Kita harus segera menikah lalu bikin baby sendiri yang lucu," ucapnya. Neva langsung membatu mendengar bisikan itu. Tidak ada yang melihat tingkah mereka, karena Mama, Papa dan Dimas berfokus pada malaikat kecil yang langsung mampu menguasai hati mereka. Sementara itu, Leo duduk di atas ranjang disamping Yuna.


"Mau makan?" Tanyanya. Ia mengusap pipi Yuna penuh kasih. Ia sangat lega karena Yuna baik-baik saja setelah melewati masa persalinan yang panjang.


"Kamu yang belum makan dari kemarin," jawab Yuna.


"Aku tidak memiliki nafsu makan," katanya. Ia masih terbayang bagaimana Yuna begitu kesakitan selama berjam-jam. Ia mengambil tangan Yuna lalu menciumnya. "Terima kasih sayang," ucapnya dengan tulus. "Kau sungguh luar biasa, aku mencintaimu," ia menunduk dan mencium kening Yuna dengan sepenuh hati. Ia membuat janji pada dirinya, ia tidak akan pernah menyakiti hati istrinya, ia akan membuat istrinya menjadi wanita yang paling bahagia.


"Terima kasih juga untuk mu, sayang," jawab Yuna. Leo menyudahi kecupan manis di kening Yuna. Mata mereka saling menatap dengan lembut. "Terima kasih sudah berada di samping ku saat aku berjuang untuk kehadiran malaikat kecil kita," lanjutnya. Ia menatap mata suaminya dengan haru dan rasa terima kasih yang tak terukur. Leo mengangguk pelan dan kembali mencium tangan Yuna. Cinta ini indah, hanya lewat pandangan mata saja, ia tahu betapa hebatnya cinta yang Leo miliki untuknya. Mereka berdua saling mengangumi satu sama lain.


Pukul tujuh malam, keluarga Mahaeswara datang membesuk. Lalu keluarga besar Nora juga datang untuk membesuk.


___


Catatan Penulis


Terima kasih semuanya yang masih setia menunggu kisah ini 🥰 Padamu SSC 🌹


Jangan lupa jempolnya di goyang Yess... like komen dan vote. Okey. Ilupyu...


Lanjut ... kalian luar biasa 🥰😘